NARKOBA

NARKOBA

Selasa | 07 Agustus 2018 | 16:08

Duh Anak SD Jadi Bandar Sabu

MEDIAKEPRI.CO.ID, Makassar – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengaku prihatin seorang anak sekolah dasar (SD) menjadi bandar narkoba jenis sabu. Mereka meminta sekolah lebih mengawasi anak didiknya.

“Sebenarnya ada Dinas Kesehatan yang bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan kita lakukan rencana dan kegiatan strategis narkoba dan AIDS di semua SKPD, termasuk di Dinas Pendidikan,” kata Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal alias Daeng Ical di Makassar, Selasa, 7 Agustus 2018.

Khusus di Dinas Pendidikan, Pemkot Makassar telah memberikan pembekalan khusus kepada guru bimbingan dan konseling (BK) untuk melakukan monitoring langsung kepada anak didik mereka di sekolah.

“Kita latih mereka untuk bimbingan konseling anak-anak murid jika terjadi perubahan perilaku dan sikap untuk misalnya anak-anak baik baik tiba-tiba dia suka menyendiri,” terangnya.

Untuk kasus yang melibatkan anak SD yang menjadi bandar narkoba di wilayah Tallo, Daeng Ical mengatakan mengaku sangat prihatin atas kejadian ini.

“Tentunya kami sangat prihatin atas kejadian ini. Bandar kan dulu mensasar usia-usia produktif sekarang mereka masuk ke anak-anak sekolah hingga sekolah dasar,” terangnya.

“Kita intensifkan lagi kepala-kepala sekolah untuk melakukan razia ke anak-anak didiknya,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tio Pakusadewo divonis oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sembilan bulan rehabilitasi. Ia pun mengucap syukur saat mendengar hal tersebut.

“Alhamdulillah bersyukur. Saya hanya bisa bersyukur pada Allah SWT”

Kepada anak-anak saya, teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, SMP, SMA, kuliah. Allahu Akbar! Makasih banyak,” ucapnya usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 24 Juli 2018

“Saya nggak punya apa-apa untuk membalasn.ya,” lanjutnya.

Tio Pakusadewo menyebut, masalahnya yang menimpanya ini menjadi sebuah pelajaran berharga dalam hidupnya. Aktor kawakan itu bahkan memiliki janji kepada dirinya sendiri agar tidak mengulangi kesalahannya lagi.

“Iya dong (jadi pelajaran). Pasti dong. Saya punya janji untuk diri saya sendiri,” pungkasnya.

Tio bakal menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Cibubur, Jakarta Timur. (***)

sumber: detik.com

NARKOBA

Minggu | 01 Juli 2018 | 17:06

Ini Artis yang Ditangkap Polisi Terkait Kasus Narkoba

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tim Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat meringkus presenter Reza Bukan karena kedapatan memakai narkoba jenis sabu.

“Kami telah melakukan penangkapan terhadap seorang yang berprofesi sebagai presenter dan artis, atas nama DE alias RB, Deron Eka alias Reza Bukan,” ujar Kasat Narkoba Polres Jakarta Barat, AKBP Erick Frendriz, dalam konferensi pers di Kantor Polres Jakarta Barat, Ahad, 1 Juli 2018

Reza Bukan ditangkap di rumahnya, Perumahan Casa Jardin, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Sabtu, 30 Juni 2018 dini hari.

Reza dicokok setelah pulang kerja dari satu stasiun televisi.

Polisi menemukan barang bukti 3 paket narkoba seberat 0.19 gram.

“Barang buktinya dapat dilihat di depan, 3 paket beserta alat-alatnya, ada bong, sedotan, korek,” ujar Erick. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Artis Jennifer Dunn mendapat vonis 4 empat tahun penjara dan denda Rp 800 juta, dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin 25 Juni 2018.

Saat mendengar vonis itu, Jennifer Dunn pun menunjukkan ekspresi kaget.

Hal itu diceritakan oleh kuasa hukum Jennifer Dunn, Pieter Ell.

Pieter mengungkap bagaimana reaksi kliennya terhadap putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Menurut Pieter, Jennifer terkejut mendengar dirinya divonis empat tahun penjara dan denda Rp 800 juta.

“Pasti kaget, ekspresinya macam-macam,” ungkap Pieter saat ditemui usai .

Pieter juga menceritakan reaksi Jennifer sesaat setelah vonis itu dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Jakarta Selatan Riyadi Sunindyo Florentinus.

“Tadi awalnya itu di dalam setelah putusan itu tiba-tiba menoleh ke kami tim kuasa hukum. Seolah tidak percaya dengan putusan,” ujar Pieter.

Untuk sementara pihak Jennifer masih pikir-pikir untuk langkah yang akan diambil berikutnya.

“Nanti kita lihat putusan lah. Mudah-mudahan ada yang berubah. Kita akan nyatakan sikap paling lama tujuh hari dari sekarang. Empat tahun itu kan sama saja dengan piala dunia berikut,” paparnya.

Dua Hal Memberatkan

Sebelum menjatuhkan vonis pada artis peran Jennifer Dunn, Ketua Majelis Hakim Riyadi Sunindyo Florentinus mengungkap dua hal yang memberatkan hukuman Jennifer.

Yang pertama, Jennifer dinilai sudah beberapa kali terlibat kasus narkoba.

“Yang memberatkan, terdakwa pernah dihukum dengan narkotika. Dan sebelum nya juga sudah bersinggungan dengan narkoba,” ujar Ketua Majelis Hakim Riyadi Sunindyo Florentinus di Ruang Sidang Utama, Pengadilan Jakarta Selatan, Senin 25 Juni 2018.

Berikutnya, sebagai publik figur Jennifer yang dikenal masyarakat dinilai memberikan contoh yang buruk.

“Melihat animo media di persidangan, terdakwa mengaku sebagai ibu rumah tangga, tetapi semua orang dianggap tahu bahwa terdakwa adalah publik figur,” kata Riyadi.

“Maka dengan perbuatan terdakwa yang berhubungan dengan narkotika, dikhawatirkan menjadi contoh yang tidak baik di masyarakat,” imbuh Riyadi.

Tak hanya hal-hal yang memberatkan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan juga mengungkap hal yang meringankan dari persidangan Jennifer.

“Hal meringankan, terdakwa bersikap sopan di persidangan, terdakwa menyesali perbuatannya, terdakwa mempunyai tanggungan berupa suami dan juga anak,” ujar Riyadi. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Jennifer Dunn mengaku telah membuang bong, yang ia gunakan bersama rekannya Tya untuk mengonsumsi sabu-sabu karena lantaran takut ketahuan suaminya, Faizal Harris.

Hal itu diungkapkan Jennifer dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 14 Mei 2018.

Ternyata saat penggerebekan, di kolong kamar tidur Jennifer polisi menemukan sedotan bekas sabu-sabu.

“Kayaknya ini (sedotan) terjatuh deh,” kata Jennifer.

Mendengar jawaban itu, Hakim Riyadi Sunindyo Florentinus lantas kembali mencecar Jennifer.

“Tapi keterangan saudara di sini ‘cara saya memindahkan sedotan hingga berada di kolong tempat tidur, yang saya letakkan di selipan antara kayu tempat tidur dan kasur kami. Karena takut suami saya tahu’,” kata Riyadi membacakan BAP milik Jennifer.

“Iya benar pak, jadi saya panik mendengar mobil suami saya dan sedotan terjatuh lalu saya selipin,” Jennifer berkilah.

Majelis hakim pun meminta Jennifer untuk kembali menegaskan.

“Berlanjut-lanjut saudara ini. Sedotan itu tadi Anda bilang jatuh, kalau terselip itu memang sengaja disembunyikan berarti,” ungkapnya.

“Iya karena tahu terjatuh, lalu saya selipkan,” jawab perempuan yang akrab disapa Jeje itu.

Jennifer pun menerangkan “Pas suami saya mau sampai. Sebelumnya dia kan telepon, dia bilang mau sampai dan minta dibukakan pagar. Pas saya bukakan, ada gerobak sampah, saya lempar (buang),” paparnya.

Jennifer didakwa tiga pasal sekaligus yakni Pasal 114 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 1 jo Pasal 132 ayat 1, dan pasal 127 ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Dari pasal tersebut Jennifer diancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jember – Seorang wanita penjual minuman keras (miras) golongan A tanpa disertai cukai resmi di Jember, ditangkap Unit Reserse Kriminal Polsek Sumbersari.

Dalam penangkapan tersebut, petugas juga menemukan 6 butir pil ineks, peralatan untuk mengkonsumsi sabu dan timbangan elektrik.

Kanit Reskrim Polsek Sumbersari Ipda Eko Yulianto, mengatakan, penangkapan terhadap tersangka bernama Santi Wildani, warga Dusun Sumberwadung, Kecamatan Silo itu, dilakukan di kamar kos di Jalan Karimata Gang Golgota, Kecamatan Sumbersari Sabtu, 28 April 2018

“Dari informasi yang didapatkan dari warga, petugas segera melakukan tindakan penangkapan tersangka saat berada di kamar kosnya,” ujar Eko.

Saat ditangkap, tersangka sempat mengelak dan berbelit-belit bahkan juga hendak kabur saat didatangi petugas. Namun setelah didesak dan disertai bukti yang ada, tersangka tak dapat lagi mengelak.

Dalam penggeledahan yang dilakukan petugas, didapati barang bukti 10 botol miras golongan A berbagai merek, peralatan hisap sabu, uang hasil penjualan, dan 6 butir pil ineks.

“Tersangka juga target penangkapan polisi karena menjual minuman keras golongan A berkadar minimal 40 persen tanpa izin dan tidak disertai pita cukai resmi,” tegas Eko.

Dari pengakuan tersangka, lanjut Eko, miras tersebut dijual kepada para mahasiswa di lingkungan kampus dan Jember kota. Miras dan inex itu diperoleh tersangka dari seorang pemasok di Bali.

“Untuk menguatkan bukti tambahan, polisi juga melakukan tes urine kepada tersangka. Dari tes tersebut, diperoleh hasil, urine tersangka positif mengandung metafitamin dan zat lainnya,” ungkap Eko.

Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 pasal 114 junto pasal 112 tentang pengedaran dan pemakaian narkotika. Dengan ancaman penjara 15 tahun.

“Sementara untuk penjualan miras, akan dijerat dengan pasal tindak pidana umum. Saat ini polisi melakukan pengembangan kasus, karena diduga tersangka merupakan anggota jaringan penjual minuman keras golongan A bajakan, dan pengedar pil ineks di wilayah Jember,” pungkas Eko. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jember – Sepasang remaja di Jember diamankan polisi di Jember, Jumat, 27 April 2018 dini hari.

Pasangan remaja berinisial MK dan AE itu ditangkap karena kedapatan menenggak minuman keras oplosan di halaman belakang sebuah Madrasah Tsanawiyah di Kecamatan Umbulsari.

Kapolsek Umbulsari, AKP Sunarto menceritakan, keduanya diamankan polisi yang sedang melakukan patroli dinihari.

“Anggota kami memergoki sepasang muda mudi sedang berduaan di tempat sepi. Setelah didekati, ternyata mereka sambil pacaran sedang melakukan pesta miras oplosan di belakang sekolah itu,” terang AKP Sunarto.

Kepada polisi, MK mengaku adalah siswa SMA dan AE adalah siswi SMP.

Minuman keras yang minum adalah alkohol 70 persen dicampur dengan suplemen energi.

Barang bukti yang berhasil diamankan diantaranya adalah, satu botol plastik kosong air mineral besar bekas oplosan alkohol 70 persen, botol plastik kosong bekas kemasan alkohol 70 persen, dan tiga sachet plastik bekas minuman suplemen.

Agar tidak meresahkan masyarakat, kedua tersangka digelandang ke Polsek Umbulsari, keduanya melanggar pasal 492 KUHP tentang mabuk di muka umum.

Karena keduanya masih pelajar, polisi tidak melakukan penahanan badan, tetapi hanya dikenakan wajib lapor. Orang tua pelaku dipanggil dan keduanya menjalani pembinaan dan rehabilitasi.

“Karena pelaku ini adalah di bawah umur dan termasuk tipiring, jadi harus wajib lapor kita panggil orang tuanya, kita terangkan ini lo anak anda kepergok, biar para orang tua lebih intens mengawasi anaknya, selanjutnya pelaku dibina dan direhabilitasi” pungkas AKP Sunarto. (***)

sumber: surya.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Badan Narkotika Nasional kembali mengungkap kasus peredaran narkotika jaringan Malaysia-Indonesia.

Dalam pengungkapan ini, BNN menyita 20 kilogram narkotika jenis sabu bersama tiga orang tersangka yang menjadi kurir.

Pengungkapan diawali dengan menangkap dua tersangka di SPBU Jalan Lintas Timur, Kecamatan Ukui, Kabupaten Palalawan, Riau.

Dari tangan kedua tersangka, petugas menyita sabu seberat 10 kilogram yang disembunyikan di rangka mobil. Lalu, polisi menangkap satu tersangka lain di rumah kawasan Dumai, Pekanbaru dan menemukan 10 kilogram sabu.

Menurut rencana, narkoba akan diedarkan ke Lampung dan Jawa, dan diketahui dikendalikan peredarannya oleh Warga Negara Indonesia di Malaysia. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Mantan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi), Gatot Brajamusti diputus bersalah atas kasus asusila terhadap anak di bawah umur. Pembacaan vonis digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa 24 April 2018.

“Menyatakan terdakwa Gatot Brajamusti alias Aa Gatot Brajamusti telah terbukti secara sah dan meyakinkan terdakwa melakukan tindak pidana pembujuk anak melakukan persetubuhan dan lain-lainnya,” kata Ketua Majelis Hakim Irwan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,Selasa, 24 April 2018.

Majelis memvonis Gatot dengan hukuman sembilan tahun penjara, dan denda Rp200 juta dalam kasus perbuatan asusila anak di bawah umur. Gatot dinyatakan terbukti bersalah telah menyetubuhi anak berinisal CT, yang pada saat kejadian belum genap 17 tahun.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 9 tahun dan denda Rp 200 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar, maka diganti pidana kurungan 6 bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Irwan membacakan surat putusan.

Gatot kemudian diberikan waktu satu minggu untuk menanggapi vonis tersebut. Hari ini sesungguhnya Gatot diagendakan masih harus menjalani sidang kasus kepemilikan senjata api dan satwa liar. Akan tetapi, sidang beragenda tanggapan JPU atas pleidoinya harus ditunda.

Sebelumnya, pria yang akrab disebut Aa Gatot itu tersandung kasus pelecehan seksual. Gatot dilaporkan dua orang perempuan pada September tahun lalu. Salah satu korban berinisial CT masih berusia 16 tahun saat itu.

Kedua perempuan tersebut mengaku diperkosa Gatot setelah dicekoki asfat, yang belakangan diketahui merupakan narkotik jenis sabu.

Dalam kasus asusila ini majelis hakim menilai Gatot terbukti melanggar Pasal 81 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP. (***)

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Sebanyak 11 warga Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat tewas usai menenggak minuman keras oplosan. Total jumlah korban miras oplosan 27 orang, sebagian masih dirawat di RS Cikopo, Cicalengka.

Dari informasi yang dihimpun detikcom, Minggu (8/3/2018) dalam kejadian itu, 11 orang dinyatakan tewas, sembilan orang masih dirawat, enam orang dipulangkan ke rumahnya masing-masing dan satu orang dirujuk ke RS Hasan Sadikin.

“Meninggal 11 orang, masih ada beberapa yang kritis dan beberapa orang yang dirawat,” kata Humas RSUD Cikopo Cicalengka Evi Sukmawati di Ruangan UGD.
Baca juga: Sejumlah Warga Dikabarkan Tewas, Toko Miras di Cicalengka Digeruduk

Pihaknya masih belum dapat memberikan data pasti. Pasalnya masih ada pasien yang dirawat. “Kami belum dapat berikan data lengkap, yang jelas dari 27 itu, 11 orang tewas,” ungkapnya.

Evi menambahkan, penyebab kematian korban diduga telah mengkonsumsi minuman keras dengan kandungan alkohol tinggi.

“(Hasil pemeriksaan) katanya ada kandungan alkohol konsentrasi tinggi dan zat lain yang ditambahkan,” ujar Evi.

Dari seluruh korban yang dirawat, Evi menyebutkan ada sejumlah korban yang sudah bisa pulang dan dinyatakan sehat.

“Ada beberapa pasien yang pulang, kurang lebih lima orang. Masih dirawat 10 orang, satu kritis lagi ditangani di ruangan intensif dan ada yang dirujuk satu orang ke RSHS,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kepala BNN Irjen Heru Winarko menyebut ada 26 jaringan narkotika yang menjadi target BNN saat ini. BNN tak segan menindak tegas anggota-anggota dari 26 jaringan itu.

“Target kita ada 26 kurang lebih sindikat jaringan narkotika yang kita coba terus lakukan pemberantasan dan tentu kalau mereka melawan kita tindak tegas,” kata Irjen Heru di gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Senin, 26 Maret 2018.

Heru menjelaskan sebagian dari 26 jaringan itu masih berkaitan dengan jaringan narkoba Freddy Budiman. Ada pula sebagian yang sudah berkembang menjadi jaringan baru.

Heru menerangkan para jaringan-jaringan itu bekerja dengan sangat rapi, saling menutup jaringan satu dengan yang lain. Mereka terkadang saling kerja sama dalam mengedarkan narkoba.

“Memang jaringan ini cukup kompleks mereka saling menutup dan kerjasama tergantung kepentingan mereka, ini yang kita lihat dan kita harus jeli lihat ini,” jelasnya.

Menurut Heru, ke depan semua harus siap menghadapi ancaman peredaran narkoba yang semakin lama semakin berkembang. Heru mengatakan BNN akan terus berkoordinasi dengan seluruh instansi dalam memerangi narkoba.

“Ke depan kita semua, kita juga koordinasi dengan semua instansi-intansi yang ada,” ucapnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ternyata Dhawiya yang kini dalam tahanan Polda Metro Jaya lantaran narkoba sudah dijenguk keluarga sebanyak dua kali. Menurut pengakuan ibunda, Elvy Sukaesih, Dhawiya selalu meminta maaf dan ridho kepadanya.

“Pertama Dhawiya nangis, terus dia bilang, ‘mama, adik minta ridhonya, maafin ya, ma. Aku sudah ngecewain mama, maafin Dhawiya, mama’. Pastinya dia juga menyesal,” ujar Elvy di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin 26 Maret 2018.

Menurut sang kakak, Fitria Sukaesih, Dhawiya adalah korban narkoba. Memang diakui kepadanya, sang adik menggunakan narkoba untuk menurunkan berat badan. Namun kini, Dhawiya sadar perbuatannya salah.

“Dhawiya juga korban, ini bukan maunya dia untuk seperti itu, di kehidupan ini dengan segala tipu dayanya harus bisa disikapi dengan baik. Kita semua pasti sedih kenapa ini bisa terjadi. Dia bilang awalnya itu dia terobsesi untuk buat kurus, cuma itu awalnya,” timpal Fitria Sukaesih dalam kesempatan yang sama.

Kendati demikian, Elvy pun selalu menasihati sang anak bahwa narkoba itu tak pandang bulu.

“Aku bilang masih banyak jalan yang lain, banyak sekali memang kita lihat korban narkoba itu, nggak muda, nggak tua, bisa menimpa siapa aja, yang sakit semua yang jadi korban semoga bisa direhab,” ungkap Elvy.

Yang membuat Elvy Sukaesih makin sedih juga adalah mengenai status Dhawiya yang belum menikah. Ia berharap masalahnya cepat selesai.

“Tapi kan Dhawiya belum menikah, masih ada amanat juga sama papanya makanya Insya Allah doain supaya cepat selesai, supaya bisa beraktivitas kembali, bisa tenang,” pungkas Elvy Sukaesih. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pekanbaru – Dinding penjara tidak membuat jera RWF (29). Meski baru divonis 10 tahun, pria ini memesan ganja 800 gram yang diselundupkan dalam box speaker dari balik bui.

Penyelundupan ganja ini dibongkar oleh Polres Indragiri Hilir (Inhil) Riau. Kapolres Inhil, AKBP Christian Rony mengungkapkan RWF tercatat sebagai penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II A Tembilahan Ibukota Inhil.

“Napi ini baru divonis pengadilan hukuman 10 tahun penjara dalam kasus narkoba. Dari dalam penjara, dia masih bisa pesan ganja,” kata Rony, Sabtu 24 Maret 2018.

Rony menjelaskan, kasus pengiriman paket ganja dari Pekanbaru tujuan penghuni LP ini diungkap pada Jumat 23 Maret 2018.

Melalui Kasatres Narkoba, AKP Bachtiar, mendapatkan informasi akan ada pengiriman ganja lewat jasa pengiriman paket. Dari informasi tersebut, tim melakukan penyelidikan di lapangan. Seseorang inisial Ah, (31) datang ke tempat loket ekspedisi untuk mengambil paket tersebut.

“Ketika Ah diamankan dengan barang bukti satu paket dalam bentuk box, langsung dilakukan pemeriksaan. Setelah paket dibuka, ternyata kotak speaker itu di dalamnya ada dua paket ganja seberat 800 gram,” kata Rony.

Saat dilakukan pemeriksaan, kata Rony, Ah mengaku hanya diperintahkan untuk mengambil paket tersebut. Ah menyebut dia diminta mengambilkan paket tersebut untuk diberikan RFW yang ada di LP.

“Ah mengaku dia tak tahu apa isi paket tersebut. Menurut yang menyuruhnya bahwa paket dari Pekanbaru itu hanya berisikan pakaian,” kata Rony.

Dari keterangan Ah yang hanya diperintahkan, kata Rony, akhirnya tim mendatangi LP. Setelah berkoordinasi pihak LP, akhirnya dilakukan penggeledahan di sel RWF. Satu unit HP disita dari RWF.

“Padahal sepekan yang lalu saat RWF sidang kasus narkoba, dia juga kedapatan membawa sabu. Kepemilikan sabu masih diproses, sekarang terlibat lagi dalam kepemilikan ganja,” kata Rony.

“Kini RFW dan Ah, masih kita amankan di Mapolres untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut,” tutup Rony. (***)

sumber: detik.com

Hasil pemeriksaan, Jennifer Dunn dinyatakan normal

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Usai berkas dinyatakan lengkap oleh kejaksaan, pagi ini Kamis 15 Maret 2018 sekitar pukul 10.45 WIB, Jennifer Dunn (Jedun) jalani pemeriksaan kesehatan di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. Hal ini dilakukan sebelum dia dibawa ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Pantauan Republika, di ruang tunggu Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, pihak dari Bidokkes Polda Metro Jaya memeriksa tekanan darah Jedun. Jedun pun tampak menggunakan make up, namun wajahnya terus tertunduk.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, kondisi Jedun normal. “Sebelum diserahkan (ke kejaksaan), dilakukan pemeriksaan dokter, hasilnya yang bersangkutan normal,” ujar dia saat ditemui di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, Kamis 15 Maret 2018.

Dengan kondisinya yang dinyatakan normal, kepolisian siap menyerahkan tersangka dan barang bukti. Ada pun barang bukti yang diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan berupa pipet dan ponsel.

Untuk diketahui, Polda Metro Jaya menangkap artis Jennifer Dunn di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan pada 31 Desember 2017 malam. Jennifer diamankan lantaran kepemilikan shabu-shabu sebanyak 0,5 gram yang diperolehnya dari tersangka FS.

Selain barang bukti sabu, polisi juga memiliki barang bukti berupa percakapan Jedun dengan FS. Bahkan pengakuan FS, Jennifer telah memesan sabu sebanyak 10 kali sepanjang 2017. Sedangkan Jennifer sendiri membantah.

Menurutnya, dia hanya tiga kali memesan shabu kepada FS. Penyidik telah mengkonfrontir Jennifer dengan FS .

Saat itu, usai dilakukan konfrotir tersebut, kasus Jedun pun sudah memasuki tahap pemberkasan. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polres Metro Jakarta Barat menangkap pengedar Narkoba jenis baru, Pentylone. Pentylone tersebut berbentuk kapsul sehingga bisa langsung diminum atau dilarutkan dengan air putih.

“Ini mengakibatkan adanya stimulan, kemudian halusinasi, euforia berlebihan dan insomnia,” ucap Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Barat, Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat, seperti dikutip dari detikNews.

Dihubungi oleh detikHealth melalui pesan singkat, dr Hari Nugroho dari Institute of Mental Health Addiction And Neurosience (IMAN) menjelaskan Pentylone sejenis stimulan yang masih derivat dari cathinone dan termasuk new psychoactive subtances (NPS) meski zatnya bukanlah zat yang baru. Di banyak negara zat ini tergolong dalam golongan I zat psikotropika.

“Efeknya mirip dengan zat-zat stimulan lainnya, misalnya bikin paranoia, agitasi atau susah tidur,” ujar dr Hari.

Master Candidate in Addiction Studies di King’s College London ini menjelaskan tentu saja riset awal mengenai zat tersebut digunakan untuk tujuan mencari pengobatan.

“Tapi kemudian seperti biasa para bandar-bandar narkoba, memanfaatkan publikasi-publikasi ilmiah tersebut dengan cara yang salah, ‘meracuni’ masyarakat dengan memasarkannya sebagai narkoba,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

Tersangka berusaha melarikan diri dan melawan petugas.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang bandar narkoba asal Malaysia bernama NG Eng Aun alias Piter tewas tertembak petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) di wilayah Siantan, Pontianak, Selasa 13 Maret 2018.

“Pada saat akan dilakukan pengembangan terhadap tersangka Piter, yang bersangkutan berusaha melarikan diri dan melawan petugas. Petugas BNN terpaksa melakukan tindakan tegas dan terukur kepada pelaku Piter,” kata Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari di Jakarta, Rabu 14 maret 2018.

Selanjutnya pelaku dibawa ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan pelaku meninggal dunia. “Saat ini dia berada di RSUD Soedarso Pontianak,” ungkapnya.

Penangkapan tersebut berdasarkan informasi masyarakat tentang adanya penyelundupan narkotika jenis sabu kristal dan ekstasi dari Kuching, Malaysia ke Indonesia.

Penyelundupan melalui perbatasan tidak resmi Sanggau Kalimantan Barat.

Selanjutnya petugas BNN gabungan dengan Petugas Bea Cukai melakukan penyelidikan di Lintas Trans Kalimantan. Kemudian petugas BNN dan Bea Cukai melakukan penangkapan terhadap tersangka Edy Aris alias Haris yang menggunakan mobil Toyota Calya dengan nomor polisi KB-1437-SN.

“Ditemukan barang bukti narkotika jenis sabu kristal sebanyak dua kilogram dan ekstasi 30 ribu butir,” ujarnya.

Selanjutnya berdasarkan keterangan tersangka Edy diketahui bahwa yang memerintahkannya adalah seseorang bernama Piter warga negara Malaysia,” kata Deputi.

Diketahui Piter menginap di Hotel Haris. Selanjutnya Pieter ditangkap, karena melawan dan mencoba melarikan diri. Piter pun kemudian tewas tertembak petugas. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bangka – Pengadilan Negeri Pangkalpinang kembali menggelar Sidang kasus narkoba, Selasa, 26 februari 2018, saat dipersidangan hakim anggota(Hotma E.P Sipahutar) sempat tertawa lebar saat mendengarkan jawaban dari terdakwa yang menyatakan bahwa dia masih awam jadi hukum diringankan sedangkan bandar besar boleh dihukum mati.

“Dalam Tindak pidana narkoba, baik pemakai, penjual maupun perantara akan tetap di usut sesuai hukum yang berlaku, tidak ada perbedaan kasta,” ujar Hotma didalam persidangan dengan tegas.

Sementara itu, fitri sempat diamankan oleh pihak kepolisian saat bertransaksi narkoba di kuburan cina.

Sidang yang beragendakan pemeriksasan saksi tersebut, dipimpin oleh ketua majelis hakim Iwan Gunawan serta didampingi oleh hakim anggota Corry Oktarina, Hotma Sipahutar serta JPU (Hidajaty).

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam sesuai Pasal 114 ayat (1) UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 112 ayat (1) UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Senada dengan itu, Herman selaku saksi dan anggota kepolisian itu menyebutkan bahwa dia menyamar untuk membeli narkotika jenis sabu kepada fitri.

“Kita bertemu dijalan pasir padi, lalu menuju perkuburan cina. Terdakwa sempat menurunkan saya disebuah warung bakso dijalan padang baru lalu kembali menjemput,” ujar herman saat persidangan di PN pangkalpinang.

Herman juga menambahkan, ia membonceng terdakwa kembali mengendarai sepedamotor milik nya menuju ke daerah Pantai Pasir Padi.

“Terdakwa juga mengatakan bahwa barang (paket narkotika jenis sabu) sudah ada didalam kotak (dash board) motor,” tambah Herman.

Di sisi lain, anggota kepolisian yang lain telah membuntuti fitri hingga menangkap lalu menggeledah di jalan pasir padi. (***)

sumber: tribunnews.com

NARKOBA

Kamis | 08 Maret 2018 | 16:15

ALAMAK!! Anak Ketua BNN Ini Ditangkap Terkait Sabu

MEDIAKEPRI.CO.ID, Maros – Arjab Ajib Mattotorang (31) ditangkap terkait kasus sabu. Hal itu membuat orang tuanya, Harmil Mattotorang kaget. Harmil merupakan Wakil Bupati Maros yang juga Ketua BNN Kabupaten Maros.

“Kami serahkan saja kepada polisi, apakah dia bisa direhab atau tidak. Karena polisi jauh lebih tahu apakah dia membutuhkan rehab atau tidak. Kami akan mengikuti aturan hukum yang ada,” kata wakil Bupati Maros, Harmil Mattotorang, saat dikonfirmasi detikcom, Rabu 7 Maret 2018.

Hermil yang juga sebagai Ketua Badan Narkotika Kabupaten ( BNK) Maros sekaligus Ketua Partai Nasdem Maros ini mengaku mengetahui kasus anaknya dari media. Saat hendak berangkat, ia sempat bertemu dengan anaknya di rumah. Dalam keseharian, anaknya itu diakui tidak sering keluar rumah.

“Kemarin saya ingin berangkat ke Jakarta, dia ada di rumah. Begitupun dalam kesehariannya. Tiba waktu makan malam, kami selalu makan malam bersama,” terangnya.

Arjab Ajib Mattotorang ditangkap oleh Direktorat Narkoba Polda Sulsel diduga terkait Narkoba. Ia diamankan bersama tiga orang lainnya, dengan Barang Bukti 10 gram sabu-sabu.

“Iya sudah A1 itu. Ditangkap sekitar pukul 04.30 Wita dini hari. Diamankan oleh Direktorat Narkoba Polda Sulsel,” kata Kabid Humas Polda Sulsel, Dicky Sondani kepada detikcom, Rabu 7 Maret 2018

Dicky mengatakan, Penangkapan itu berawal dari informasi masyarakat bahwa sering terjadi penyalahgunaan Narkoba jenis sabu di jalan Cemara, Kecamatan Turikale, Maros, Sulsel. Rumah itu merupakan rumah milik mertua Ajib yang sudah tidak ditinggali.

“Anggota subdit II Dit res narkoba melakukan penyelidikan dan penangkapan di alamat tersebut di rumah kosong dan menemukan 4 pelaku. Saat di lakukan penggeledahan badan, ditemukan 1 sacset di kantong celana salah satu pelaku dan menemukan 1 buah alat bong,” lanjutnya.

Tiga orang rekan Ajib ini masing-masing, Ajib, Yusri, Haeril dan Haerul. Saat ini, mereka masih menjalani pemeriksaan intensif di ruang penyidik Ditresnarkoba Polda Sulsel. “Keempatnya masih menjalani pemeriksaan,” pungkas Dicky.

Diketahui, Ajib merupakan salah seorang ASN yang bertugas di Badan Keuangan Pemkab Maros. Sementara salah seorang rekannya, Yusri juga merupakan ASN yang bertugas di Satpol PP Maros. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Jennifer Dunn adalah salah satu dari sederet artis Indonesia yang terjerat kasus narkoba.
Jennifer Dunn diamankan di kediamannya, di Kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Ia diciduk penyidik Polda Metro Jaya pada Minggu 31 Desember 2018 lalu.

Hampir dua bulan berlalu, bagaimana kabar kasus yang menjerat artis yang sudah tiga kali tersandung narkoba itu?

“Dalam waktu dekat ini mudah-mudahan (berkas kasus Jennifer Dunn dinyatakan lengkap atau P21),” ujar Kasubdit 1 Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Calvijn Simanjuntak, di Mapolres Metro Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Ia mengatakan, penyidik telah menyerahkan berkas perkara Jennifer ke pihak kejaksaan.

Pada akhir Januari lalu, berkas tersebut dikembalikan oleh Tim Jaksa Peneliti Kejati DKI kepada penyidik Ditresnarkoba Polda Metro Jaya.

Namun pada tepatnya 19 Februari, penyidik mengirimkan lagi berkas kasus Jennifer ke kejaksaan untuk pengkajian.

“Berkas udah diserahkan, kami tinggal tunggu kejaksaan apakah sudah dinyatakan lengkap (P21) atau tidak,” kata Calvijn.

Mengenai kondisi Jennifer Dun yang menghuni tahanan Ditresnarkona Polda Metro Jaya, menurut Calvijn, Jennifer baik-baik saja secara fisik dan psikologi.

“Di dalam (tahanan), baik baik aja,” katanya.

Ia juga sempat membuat video meminta untuk diobati saja dan tidak ditahan.

Namun baru-baru ini beredar foto dirinya sedang berpose bersama beberapa wanita di dalam tahanan.

Ia bersama beberapa wanita itu tampak mengenakan daster dan berpose bersama.

Jedun pun terlihat bahagia di dalam ruangan tersebut.

Ia berpose menjulurkan lidah sambil menutup mata.

“Kalo Sekwat yang ini enaknya namanya apa ya???

Hayuks kasih nama buat sekwat yang satu ini dungs gaesss
.
Kasih usul ke minceu yaks
Ditunggu,” tulis akun Lambe Turah, dikutip TribunnewsBogor.com, Selasa 27 Februari 2018.

Dari postingan itu, banyak netter yang mempertanyakan ekspresi Jedun.

Sebab, meski ditahan, ia terlihat sangat bahagia dan tidak tertekan.

Ia masih bisa berpose seperti itu di dalam tahanan. (***)

sumber: tribunnews.com

NARKOBA

Jumat | 02 Maret 2018 | 11:02

Artis Cantik Ini Diamankan BNN Terkait Narkoba

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Satu lagi artis yang terjaring karena narkoba. Kali ini menimpa pedangdut seksi Cupi Cupita.

Cupi diamankan Badan Narkotika Nasional (BNN). Belum diketahui narkoba apa yang digunakan.

“Lagi lagi penyanyi artis cupi cupita dan sahabatnya telah dibawa dan diperiksa kesatuan narkoba BNN,” tulis pesan singkat yang didapat detikHOT, Jumat 2 Maret 2018.

Hari ini rencananya BNN akan menggelar konferensi pers terkait Cupi Cupita. “Hari ini di kantor pusat BNN Cawang pkl 15.00 wib akan digelar preskon perihal tersebut. Ttd Deputi BNN,” katanya lagi dalam pesan tersebut.

Ini sudah kesekian kali artis terjerat narkoba. Sebelumnya ada Rizal Djibran, Fachri Albar, dan Roro Fitri yang bermasalah karena kasus tersebut. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Unit Reskrim Polsek Sawahan Surabaya menyita 400 botol minuman keras (miras) berbagai merek dari eks lokalisasi Dolly.

Miras sebanyak itu, disita dari tiga toko yang berlokasi di daerah eks lokalisasi Dolly.

Polisi menggelar operasi cipta kondisi (cipkon) selama dua pekan terakhir di bulan Februari 2018.

“Sebanyak 400 botol miras itu kami sita dari tiga toko di jalan Jarak dan Petemon daerah eks lokalisasi Dolly,” tutur Kapolsek Sawahan Surabaya, Kompol Dwi Eko, Rabu 28 Februari 2018

Menurut Dwi Eko, di Jl Jarak ada dua toko yang dilakukan razia dan menemukan ratusan botol miras produksi pabrik aneka merek.

Sedangkan saat razia di Jl Petemon, polisi menemukan ratusan botol miras oplosan dan cukrik.

“Miras di jalan Petemon itu merupakan home industri. Ada cukrik dan miras oplosan yang ditempatkan ke botol kemasan,” terang Dwi Eko.

Ratusan botol miras tersebut disita, lantaran dijual secara bebas kepada masyarakat.

Padahal, setelah dilakukan pemeriksaan dan pendataan, miras tersebut tak memiliki izin edar.

“Ini merupakan tindak kejahatan tipiring. Miras ini meruapkan sumber dari awal tindak kejahatan, karena sering kali pelaku mengawali dengan minum miras,” cetus Dwi Eko.

Barang bukti yang disita dari eks lokalisasi Dolly, rencananya langsung dimusnahkan begitu pemiliknya menjalani sidang tipiring di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kediri – Erwin beserta anak kandungnya Diki Wahyudi dibekuk anggota Satnarkoba Polres Kediri. Bapak dan anak asal Tulang Bawang, Lampung ini harus berurusan dengan polisi karena terlibat kasus peredaran narkoba.

Keduanya ditangkap saat akan mengedarkan narkoba jenis sabu seberat 200 gram di seputaran Terminal Bus Pare. Mereka tengah mengantarkan pemesanan narkoba kepada pembeli.

Kapolres Kediri AKBP Erick Hermawan mengaku, pengungkapan tersebut berawal saat Satreskoba Polres Kediri mendapatkan informasi terkait rencana transaksi jual beli sabu dalam skala besar di wilayah Kediri.

“Begitu kedua pelaku turun dari bus mereka langsung kita ringkus. Kami geledah, ternyata kami dapatkam 200 gram sabu yang disimpan di celana dalam rangkap dua,” kata Erick dalam press realase, Kamis 22 Februari 2018.

Kepada petugas, pelaku mengaku mendapatkan barang terlarang ini dari Pulau Natam yang dipesan dari salah seorang warga Kediri. Pemesan barang haram itu kini tengah dalam pengejaran petugas kepolisian.

Tersangka Diky mengaku, baru sekali menerima tawaran menjadi kurir narkoba. Pengantin baru ini tergiur dengan upah yang dijanjikan sebesar Rp 10 juta untuk satu kali jasa mengantarkan ke pemesan.

Sementara itu, pada Februari ini Satreskoba Polres Kediri telah mengungkap 20 laporan dengan total tersangka 23 orang. Selain sabu sebesar 200 gram, terdapat 16 ribu butir pil dobel L juga telah disita sebagai barang bukti. (***)

sumber: inilah.com

NARKOBA

Selasa | 03 Oktober 2017 | 0:05

Buwas Harap Penggantinya di BNN dari TNI

MEDIAKEPRI.CO.ID, Makasar – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso berharap lembaga yang dipimpinnya itu bisa tampil lebih “garang” di masa depan dengan sosok penggantinya dari institusi TNI.

“Di masa saya sekarang ini, saya sudah membawa dua perwira aktif TNI menjadi bagian dari BNN. Keduanya menjadi Kepala BNK dan di masa mendatang, kalau bisa berharap pengganti saya juga harus dari TNI,” ujar Budi Waseso, di Lapangan Karebosi Makassar, Senin 2 September 2017.

Ia mengatakan, alasan dirinya memasukkan TNI ke BNN itu tidak lain karena bahaya gempuran narkoba yang mengancam bangsa ini. Waseso mengaku, penanganan narkoba itu bukan saja menjadi tanggung jawab polisi maupun BNN melainkan semua lapisan masyarakat termasuk TNI.

“Begini, kita tahu bersama tugas TNI itu apa. Mereka ini tugasnya adalah berperang dan bapak presiden sendiri sudah bilang kalau Indonesia ini sudah darurat narkoba. Nah, kalau begitu halnya berarti TNI bisa terlibat langsung memerangi para bandar-bandar besar,” katanya.

Hanya saja, dirinya mengakui jika pelibatan TNI dalam memerangi dan memberantas narkoba itu sangat rentan dengan kemungkinan akan adanya serangan balik dari sisi hak asasi manusia (HAM).

“Contoh, saat kita mencoba menghukum mati bandar besar di Indonesia Fredy Budiman itu, lihat saja reaksi dari aktivis-aktivis HAM itu. Freddy ini juga sampai mati tidak menyesal melakukan itu dan merusak generasi muda bangsa ini. Makanya, pelibatan TNI ini sangat rentan, tapi kita tetap berusaha melindunginya dengan payung hukum yakni dengan melibatkannya ke dalam BNN,” katanya.

Di hadapan para Panglima Komando Utama (Pangkotama) itu, Budi Waseso juga menyampaikan pujian kepada Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang begitu tegas dengan permasalahan narkoba dihadapi bangsa ini dan mendukung penuh upaya BNN.

Karenanya, dengan pelibatan TNI ke dalam institusi BNN itu, dirinya berharap bangsa ini bisa terbebas dari jeratan narkoba dengan semakin kencang peran dari TNI memburu para bandar narkoba tersebut.

“Urusan hukum biarlah menjadi urusannya polisi, BNN, kejaksaan dan pengadilan. Teman-teman TNI fokus saja pada perang dan eksekusi saja para perusak bangsa ini karena para bandar adalah pengkhianat bangsa. Saya punya daftarnya dan kejar saja mereka semua itu sampai dapat,” kata Budi Waseso.

Sumber : Republika

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 17,54 kilogram di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Dari pengungkapan kasus narkotika jenis sabu tersebut, petugas BNN menembak mati dua Warga Negara Malaysia yang berusaha kabur saat hendak ditangkap.

Seperti yang dilansir oleh tribun, Saat gelar barang bukti dan tersangka kasus penyelundupan tersebut di halaman kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (23/8/2017), Kepala BNN, Komjen Budi Waseso menunjukan kartu identitas dua orang pelaku Warga Negara Malaysia kepada wartawan.

“Kita temukan adalah KTP dari warga negara Malaysia beserta SIM-nya juga. Engga terbalikan kan bendera Malaysianya. Orangnya yang terbalik. Dia jungkir balik nih ditembak petugas kami,” ucap Budi Waseso.

Dari keterangan yang disampaikan Budi Waseso, para pelaku ditangkap pada Minggu 6 Agustus 2017.

Mereka diantaranya Warga Negara Inbdonesia R (24) dan AL (19), sedangkan Warga Negara Malaysia yakni LUH alias Ape dan CKH alias Ahoe.

“Petugas mengamankan R selaku kurir saat dalam perjalanan menuju Pontianak. Dari R disita 17,54 kilogram sabu,” kata Budi Waseso.

Pria yang akrab di sapa Buwas ini menjelaskan modus yang digunakan pelaku sendiri yakni menyamarkan paket sabu di dalam barang kebutuhan sehari-hari dan sembako.

Para pelaku mengunakan jalur darat dengan melintasi perbatasan dari Kuching, Malaysia ke Pos Lintas Batas Jagoi Babang, Kalimantan Barat.

Selain itu, petugas juga mengamankan komplotan lainnya di kawasan Pontianak.

Mereka berinisial MY, DZ (42), dan TF (35).

Buwas pun menerangkan bahwa penyelundupan narkotika jenis sabu ini juga melibatkan oknum narapidana yang berada di dalam Lapas.

“Yang membuat kita miris, sudah melibatkan WN Asing atau Malaysia ditambah didukung oknum yang ada di Lapas,” katanya.

Dikatakan dia, seorang pelakunya atas nama Tedi Fahrizal (TF) bertindak sebagai pemodal yang ditahan di Rutan Klas II Bengkayang.

‘Dikurung di penjara tapi bisa keluar masuk mengedarkan di luar. Bahkan Lapas jadi rumah tempat tinggal aman,” kata Buwas.***