VIRAL

MEDIAKEPRI.CO.ID – Beberapa hari terakhir, sebuah foto yang memperlihatkan pemberitaan surat kabar soal Pegadaian yang menerima gadai produk Tupperware viral di media sosial dan di grup-grup percakapan Whatsapp.

Salah satunya diunggah oleh akun @TitisAyuningsih.

Sementara, di grup-grup percakapan, foto pemberitaan surat kabar itu disebarkan secara berantai.

Tak sedikit yang bertanya-tanya soal informasi detil mengenai gadai Tupperware ini.

Kompas.com mengonfirmasi informasi ini kepada Marketing Executive PT Pegadaian (Persero) Kanwil V Manado Marco Maramis, Kamis, 9 Agustus 2018 malam.

Ia membenarkan program gadai Tupperware.

Marco mengatakan, program ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah dan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang membutuhkan dana cepat.

Program ini menyasar seluruh area yang termasuk dalam wilayah V Manado, dan sudah dilaksanakan di hampir seluruh cabang di wilayah itu.

“Itu meliputi area Palu, Gorontalo, Manado, Papua, dan Papua Barat. Untuk penerimaan barang tersebut lebih baik nanti datang ke kantor cabang Pegadaian bukan di unit, ” kata Marco.

Namun, kata dia, ada beberapa outlet yang belum melakukan program ini karena masih ada kendala teknis, terutama soal tempat penyimpanan barang.

Maksimal pinjaman uang gadai Rp500.000 Marco menjelaskan, produk Tupperware dipilih karena dianggap mempunyai nilai ekonomis yang lumayan.

Selain itu, banyak rumah tangga yang menggunakan produk ini.

Program gadai Tupperware masuk dalam program gadai prima dengan maksimal uang gadai yang bisa diterima adalah Rp500 ribu.

“Gadai prima dengan bunga 0%, gadai prima itu pinjaman maksimalnya Rp500 ribu. Kalau mau lebih dari itu bisa menggunakan produk gadai yang lain,” ujar Marco.

Tupperware yang dapat digadaikan harus dalam kondisi baik dan lengkap, bisa baru atau second. “Kalau misal rantangan ya lengkap,” ujar Marco.

Persyaratan gadai ini cukup mudah, hanya dengan datang membawa produk Tupperware yang akan digadaikan ke kantor cabang dan Kartu Tanda Penduduk.

PT Pegadaian Kanwil V, kata Marco, juga telah melakukan sosialisasi soal program ini.

“Kami juga sudah ketemu dengan distributor Tupperware. Kami sudah mengadakan kerja sama dalam sisi penyampaian ke masyarakat,” kata dia.

Program ini sudah berjalan selama dua minggu, dan mulai gencar dalam satu pekan terakhir. “Sudah mulai ada yang menggadaikan, satu cabang ya udah 10 lah,” kata Marco.

Penentuan besarnya uang gadai disesuaikan dengan harga pasar dan harga produk yang digadaikan.

“Jadi nanti ada harga pasarnya, harga pasar ditentukan oleh pihak Pegadaian. Kami punya katalog dan harga second-nya, jadi bisa kami tentukan,” ujar dia.

Sementara, waktu gadai ditetapkan selama 4 bulan dan bisa diperpanjang. Setelah waktu maksimal yang diberikan tidak ada perpanjangan, maka akan dilakukan lelang terbuka. (***)

sumber: grid.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Beredar kabar di media sosial, relawan pendukung Jokowi makan bakso tapi tak membayar. Kelompok pendukung Jokowi, Projo, menyatakan kabar itu fitnah.

Informasi ini beredar di Facebook dari akun Budi Tartanto, yang menyertakan video yang memperlihatkan orang-orang di dekat bus menunggu penyajian bakso dari tiga gerobak di situ.

“Saya harap kepada Bapak-bapak yang terhormat yang ada di rombongan bus, yang ada di video ini, segera melunasi apa yang sudah dimakan, ada tujuh gerobak bakso,” tulis Budi Tartanto.

Dia sebutkan, nilai bakso dari satu gerobak sebesar Rp 600 ribu, maka dikalikan tujuh gerobak menjadi Rp 4,2 juta. Sayangnya, bakso yang dibayar baru Rp 500 ribu dan masih kurang Rp 3,7 juta. Pengusaha bakso itu dinyatakannya sebagai saudaranya dari Desa Bantuanten, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

“Menurut informasi di lapangan, mereka akan ke Sentul. Saya harap ada penanggung jawabnya melakukan solusi, karena membuat bakso dengan modal dan niat mencari nafkah,” kata Budi.

Dia berniat akan menghapus tulisan dan video unggahannya itu bila bakso-baksonya sudah dibayar. Namun unggahannya sudah kadung viral dan disalin di akun yang lain.

Pada Ahad, 5 Agustus 2018, Budi Tartanto menulis informasi lanjutannya di grup Facebook Cilongok Bersatu. Mereka biasa menyingkatnya sebagai ‘CIBER’. Dijelaskan Budi, pihaknya sudah berkomunikasi dengan Projo selaku pendukung Jokowi. Masalah sudah selesai, pihak Projo membayar bakso Rp 3,3 juta, meski yang memakan bakso tanpa bayar dinyatakan bukan anggota Projo.

“Bahwa yang melakukan itu adalah oknum dan tidak ada rekayasa dari kami selaku penjual bakso, kebetulan adalah keluarga kami komunitas CIBER (Cilongok Bersatu) berjualan di Jakarta, sudah mencapai kesepakatan, masalah ini sudah clear,” kata Budi.

Kabar sejumlah orang yang makan bakso tapi tak membayar ditegaskannya bukanlah hoax. Dikatakannya, pihak Projo meminta maaf. Ini hanya kesalahpahaman dan telah selesai secara kekeluargaan. “Dimohonkan kepada seluruh pihak tidak mempolitisir kejadian ini dan melebar ke mana-mana untuk hal bahan saling debat atau saling benci atau untuk hal-hal tujuan tertentu di luar tanggung jawab kami selaku yang sudah mencapai kesepakatan penyelesaian secara kekeluargaan,” tutur Budi.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengatakan peristiwa orang-orang makan bakso itu terjadi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 Agustus 2018 pagi kemarin. Terlihat sejumlah bus di dekat gerobak-gerobak yang menyajikan bakso itu. Itu adalah bus yang hendak dipakai relawan Projo untuk berangkat ke Rapat Umum Relawan Jokowi di SICC, Sentul, Bogor.

Namun Budi mengatakan orang-orang pemakan bakso gratisan itu bukanlah anggotanya. Dia juga tidak tahu siapa sebenarnya orang-orang itu.

“Pokoknya itu fitnah keji. Projo tidak pernah menyakiti hati rakyat, Itu adalah penyusupan dan fitnah,” kata Budi Arie, Senin, 6 Agustus 2018.

Budi Arie tidak tahu jumlah pasti para pemakan bakso gratisan itu. Yang jelas, pihaknya sudah menutup kerugian para penjual bakso dengan uang Rp 3,3 juta.

“Teman-teman yang membayar, padahal teman-teman bilang bukan mereka yang makan. Mereka itu orang-orang yang ngaku-ngaku Projo, beli bakso, tapi nggak bayar,” tutur Budi.

Dia juga menyertakan video pernyataan dua orang penjual bakso yang ditemui Projo. Dua orang itu berasal dari pedagang Bakso Malang Berkah. Mereka justru menyatakan dukungannya untuk Jokowi.

“Ternyata ada ulah penyusup yang ingin memfitnah Projo. Kami menyatakan ini dengan sungguh-sungguh, karena kami semua adalah pendukung Jokowi dua periode,” kata satu dari dua pria itu, dalam video yang diberikan oleh Budi Arie. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Bocah perempuan berinisial A viral di media sosial kondisinya memprihatinkan lantarak tak diberi makan oleh ayah tirinya, tubuhnya kurus kering. Foto bocah tersebut viral di media sosial.

foto A telah membuat masyarakat, khususnya warga Cianjur prihatin.

Apalagi sebuah keterangan di media sosial menyebutkan, bocah tersebut telah disiksa oleh ayah tirinya dan tak diberi makan. A selama ini tinggal bersama ayah tirinya, sementara ibu kandungnya sudah 3 bulan jadi TKI ke luar negeri.

Ayah tiri A pun kini telah diperiksa oleh Polsek Agrabinta Cianjur. Sementara A telah mendapatkan perawatan di RSUD Sayang Cianjur.

“Kondisi A memang sangat memprihatinkan bahkan tadi saat dijenguk tidak bisa berbicara,” kata Kapolres Cianjur AKBP Soliyah usai menjenguk A di RSUD Sayang Cianjur, Jumat, 27 Juli 2018.

Selain itu, dari hasil kunjungan, Soliyah mendapat keterangan, nenek dan paman A tak boleh menjenguk A.

Saat ditanyakan apakah benar, A mengalami kekerasan dari ayah tirinya, Soliyah belum bisa menyimpulkan.

Sebab, kasus ini masih diselidiki.

Pihak keluarga juga sempat menolak bertemu dengan siapan termasuk jajaran Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan awak media.

Menurut Ketua Bidang Advokasi P2TP2A Cianjur Lidya Indayani Umar, penolakan itu baru pertama kalinya dialami oleh P2TP2A.

Dia pun akan berkoordinasi dengan Unit PPA Polres Cianjur untuk mencari tahu penyebabnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jember – Warga Dusun Krajan Utara, Desa Gadingrejo, Kecamatan Umbulsari, Jember, dihebohkan aksi seorang pria bernama Joko. Aksi Joko ini sempat viral di Jember karena pria 40 tahun ini tiba-tiba memahat sebuah arca di dinding lubang yang terletak di pekarangan rumahnya.

Diduga Joko menjadi seperti itu karena stres dan depresi setelah ditinggal istri beberapa bulan lalu, padahal usia rumah tangganya baru tiga bulan. Diduga, rasa frustasinya itu ia tuangkan dalam bentuk pahatan arca.

“Tiba-tiba Joko terlihat aneh. Bikin sebuah pahatan semacam arca di pekarangan di belakang rumahnya. Itu terjadi sekitar sesudah Lebaran, warga kemudian tahu dan langsung upload ke Facebook (FB) jadinya viral,” terang Susilo Wardani, bibi Joko ketika ditemui di pekarangan belakang rumah Joko, Rabu, 25 Juli 2018.

Ketika ditemui belakang pekarangan rumahnya, Joko tampak serius mengerjakan pahatan yang dibuatnya.

Ia memahat sebuah tanah yang ia sulap menjadi sebuah pahatan yang berbentuk mirip seperti arca. Wajah arca tersebut mirip seorang perempuan dan laki-laki.

Tidak hanya arca, Joko juga membuat pahatan seperti bentuk binatang. Saat ditanya, Joko tidak banyak bicara, hanya menjawab ‘bikin patung’ kepada si penanya.

Wardani menambahkan, Joko rutin memahat mulai dari pagi sampai sore.

“Bangun tidur sampai sore di pekarangan terus. DIa jadi pendiam sejak ditinggal istri,” tambah wanita yang bekerja di Balai Desa Gadingrejo Itu.

Wardani mengungkapkan Joko memang punya bakat dalam bidang seni. Sebelumnya, Joko pernah bekerja sebagai kuli bangunan di Bali.

Salah satu warga dari desa sebelah yakni Desa Paleran bernama Hasyim awalnya tidak percaya dengan postingan temannya di FB. Untuk itu ia langsung mengunjungi tempat Joko memahat arca.

“Saya kaget, kok bisa padahal hanya bermodal tangan, air dan sedikit semen. Mirip sekali sama arca di candi-candi,” ujar Hasyim dengan takjub. (***)

sumber: tribunnews.com

VIRAL

Kamis | 26 Juli 2018 | 12:20

Aneh Ikan Ini Punya Gigi Seperti Manusia

MEDIAKEPRI.CO.ID, Oklahoma – Seorang remaja di Oklahoma, Amerika Serikat, mendapatkan ikan aneh saat memancing di kawasan Danau Fort Cobb. Dia menangkap ikan dengan gigi mirip gigi manusia.

Dikutip dari Fox News, Kamis, 26 jULI 2018, remaja bernama Kennedy Smith (11) itu menemukan ikan aneh itu pada saat memancing di akhir pekan lalu. Dia memancing bersama saudara laki-laki juga kakek dan neneknya.

Ikan tersebut sempat menggigit neneknya saat akan coba diangkat ke daratan. Belum diketahui apa jenis ikan tersebut.

“Aku dibuat bingung karena saya tahu ikan itu memiliki gigi tidak normal, dia aneh. Giginya seperti gigi manusia,” ujar Smith.

Pengalaman Smith diunggah ke Facebook Departemen Konservasi Margasatwa Oklahoma pada Selasa, 24 Juli 2018 lalu. Postingan tersebut telah dikomentari lebih dari 1.400 kali dan dibagikan lebih dari 5.000 kali. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjung Jabung Timur – Viral, video personel Satlantas Polres Tanjung Jabung Timur yang menghentikan pengendara sepeda motor yang membonceng jenazah.

Video ini telah viral di sosial media dan berawal dari unggahan di akun instagram milik kepolisian dengan nama akun #satlantas_tanjabtimur.

Kejadian ini berawal saat petugas Satlantas Polres Tanjung Jabung Timur hendak menindak pengendara bermotor yang melakukan pelanggaran, berboncengan tiga orang di Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Ketika petugas Satlantas memberhentikan pengendara yang berboncengan tiga, mereka terkejut karena seorang penumpang yang diapit di tengah telah meninggal dunia.

Dalam unggahan video tersebut, admin akun ini menjelaskan bahwa menurut keterangan pengendaraan korban hendak dibawa ke puskesmas utuk berobat. Namun, belum sampai di tujuan meninggal dunia saat di perjalanan.

Melihat hal tersebut, tim patroli dari Satlantas Polres Tanjung Jabung Timur langsung membawa jenazah ke rumah duka dengan menggunakan mobil patrol.

Warga yang telah menonton video ini mengapresiasi kepolisian yang telah sigap untuk langsung membawa jenazah dengan kendaraan dinas dan dibawa ke rumah duka.

Video yang telah diunggah sejak Selasa, 24 Juli 2018 siang, banyak dibagikan para netizen ke sejumlah akun sosial media lainnya. Video tersebut juga banyak mendapat komentar dan apresiasi terhadap tindakan personel kepolisian yang sigap. (***)

sumber: sindonews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pati – Video penggerebekan seorang oknum kepala desa yang sedang berbuat mesum beredar di media sosial.

Video tersebut diunggah oleh pengguna akun Facebook Siti Wulan sejak Selasa, 17 Juli 2018.

Pada video tersebut tampak kerumunan warga yang emosi setelah menangkap basah seorang pria yang disebut sebagai kepala desa setempat sedang berbuat mesum di kebun singkong.

Tampak pula dalam video sebuah mobil patroli dan beberapa anggota polisi berada di lokasi berupaya mengamankan situasi.

Menurut informasi kejadian tersebut terjadi di sebuah desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada Senin, 16 Juli 2018

Oknum kepala desa tersebut disebut berbuat mesum dengan seorang warganya yang telah bersuami.

Sehari setelah aksi penggerebekan di kebun singkong, warga desa melakukan aksi demo di Kantor Bupati Pati.

Pada video lain, tampak warga sedang melakukan aksi demo di kantor bupati Pati.

Menggunakan beberapa truk, warga berkonvoi menuju kantor bupati Pati.

Tujuan warga melakukan aksi demo adalah menuntut Bupati Pati untuk mencopot oknum kepala desa tersebut secara tidak terhormat.

Alasan warga meminta kepala desa dicopot karena telah berbuat asusila dan memberi contoh perbuatan tercela kepada warga.

Selain itu warga juga menuntut transparansi penggunaan dana desa.

Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak terkait. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Subang – Ade Diding salah seorang tahanan di Polres Subang meninggal. Kasusnya menjadi ramai karena sang anak kirim surat ke Presiden Jokowi. Polisi menyebut tahanan lain pelakunya. Kini 14 orang telah ditetapkan sebagai tersangka penganiyaan dan pemerasan terhadap Ade.

“Untuk kasus pemerasan dan penganiayaannya kita majukan. Sudah ditetapkan 13 tersangka untuk penganiayaan dan satu untuk kasus pemerasan,” ucap Kapolres Subang AKBP M Joni saat dihubungi detikcom, Selasa, 17 Juli 2018.

Joni menyatakan pihaknya akan mengusut kasus dugaan penganiayaan tersebut. Polisi kini tengah melengkapi berkas untuk dikirimkan ke kejaksaan.

“Dalam seminggu mudah-mudahan selesai,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya belum bisa memastikan Ade meninggal karena dianiaya atau bukan. Pihaknya tengah menunggu hasil visum yang sudah dilakukan saat Ade dinyatakan meninggal pada 11 Juni 2018 lalu. Hasil visum, untuk memastikan penyebab Ade meninggal dunia.

Istimewa

“Tinggal menunggu visum paling lambat besok selesai. Visum untuk memastikan, kalau ternyata (meninggal) bukan karena penganiayaan kan enggak bisa dipaksakan juga. Karena kondisi yang bersangkutan juga tidak koma, sehat cuma kemarin mengeluh bagian lambungnya ditambah dengan tingkat stres di situ,” kata Joni.

Ade merupakan PNS Pemda Subang yang ditahan karena kasus penipuan dan penggelapan. Di hari keempat ia ditahan atau 11 Juni lalu, Ade meninggal di RS.

Joni membantah anggotanya terlibat. “Enggak ada. Anggota kita tidak terlibat,” ujar Joni. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blitar – Viralnya bocah berkebutuhan khusus jadi sasaran amuk massa jadi perhatian Kapolres Blitar. Apalagi, tempat kejadian perkara di rumah anggotanya yang bertugas di Polres Blitar.

Dalam rilis resmi yang disampaikan ke media, Kapolres menyayangkan beredarnya informasi itu secara liar. Hingga muncul dugaan yang cenderung merugikan Polri, utamanya Polres Blitar.

“Kabar yang beredar liar menimbulkan persepsi, bahwa yang membuat ia babak belur adalah polisi itu sendiri, padahal itu salah,” tulis Kapolres Blitar AKBP Annisullah M Ridha dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu, 14 Juli 2018.

Berikut kronologi kejadian kasus tersebut berdasarkan keterangan dari polisi:

Pada hari Selasa tanggal 10 juli 2018 sekira jam 22.30 WIB Brigadir CD melihat pintu pagar rumahnya dalam keadaan terbuka. CD juga melihat ada anak yang berdiri di pintu rumah sedang berusaha membuka pintu rumahnya.

CD saat itu baru saja balik ke rumahnya di Dusun/Desa Pojok Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, setelah 15 menit keluar mengajak anaknya jalan-jalan.

“Mengetahui pemilik rumah datang, anak itu berusaha membuka pintu lari ke garasi. Brigadir CD mengejar dan ketika sudah didapatkan anaknya, ditanya tidak menjawab apapun pertanyaan saudara CD,” jelas Anissullah.

Kemudian CD memanggil warga yang lewat di depan rumah dengan maksud menanyakan apakah ada yang kenal dengan anak tersebut. Tapi tidak ada yang mengenali.

“Sesaat kemudian ada beberapa orang berhenti melihat anak itu tapi tetap tidak ada yg mengenal. CD masuk ke rumah mengambil borgol. Setelah keluar rumah, CD melihat anak tersebut sudah mengeluarkan darah yang dimungkinkan dipukul oleh warga,” imbuh Anissullah.

CD sendiri dalam pemeriksaan menyatakan tidak mengetahui siapa yg melakukan pemukulan. Menurut keterangan dari ketua RT 2/1 Agus Mulyanto, warga melihat sekitar 10 orang warga di luar RT 2/1.

Seperti kesaksian Heri tetangganya, CD menghubungi anggota sabhara dengan maksud untuk mengamankan anak tersebut. Namun karena sedang patroli di wilayah timur, terlalu jauh dari lokasi. CD pun menyetujui Heri langsung mendatangi Polsek Garum melaporkan kejadian itu.

Pada pukul 23.00 WIB, anggota piket Polsek Garum Aiptu Sujianto dan Bripka Devit datang ke TKP. Selanjutnya anak tersebut dibawa ke Polsek Garum.

“Setelah sampai di polsek, anak itu diintrogasi tapi tidak menjawab. Anggota berusaha menanyakan kepada warga. Ternyata ada yang mengenali. Anak itu merupakan anak yang berkebutuhan khusus,” kata Anissullah.

Pada saat di bawa ke polsek, kata Anissullah, CD ikut. Mengetahui anak yang berusaha masuk rumahnya mempunyai kebutuhan khusus, maka CD yang semula akan menuntut secara hukum akhinya membatalkannya. (***)

sumber: detik.com

VIRAL

Sabtu | 14 Juli 2018 | 10:04

Duh, Pernikahan Dini Terjadi di Kalimantan Selatan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Viral pernikahan sepasang bocah di Kalimantan Selatan. Disebut bocah karena mempelai pria berusia 14 tahun dan mempelai wanita berusia 15 tahun.

“Untuk pasangan pernikahan dini, pria (bernama) ZA, 14 tahun. Wanita (bernama) IB, 15 tahun,” kata Kabid Humas Polda Kalimantan Selatan Kombes M Rifai ketika dikonfirmasi detikcom, Sabtu, 14 Juli 2018.

Rifai mengatakan pernikahan dilakukan di kediaman nenek mempelai pria, di Kabupaten Tapin. Kedua bocah tak mendaftarkan pernikahannya secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

“Pernikahan dilaksanakan di rumah nenek dari pengantin pria pada Kamis, 12 Juli 2018 sekira jam 20.30 Wita,” jelas Rifai.

Rifai mengatakan pernikahan dini itu tak dapat digugat secara hukum karena bersifat siri. “Kalau resmi lewat KUA ya kena, tapi ini kan siri,” ujar Rifai.

Seorang ustaz dari masjid setempat bertindak sebagai penghulu pernikahan siri pasangan bocah tersebut. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Rekaman video seorang pria berbaju orange bertuliskan polisi tengah memarahi dua ibu-ibu di sebuah minimarket menyebar melalui media sosial.

Dalam video tersebut memperlihatkan pria tersebut menendang dan memukul menggunakan sandal salah seorang ibu dan anak di minimarket.

Dengan nada keras pria itu bertanya ke dua orang perempuan dan satu bocah.

Terdengar dia meminta salah seorang di minimarket untuk membawa mereka ke mobil. Sementara kedua ibu tersebut terus menangis dan meminta maaf.

“Diam kamu,” ujar si pria tersebut.

Polisi menyebut peristiwa itu terjadi di Kota Pangkalpinang pada Rabu, 11 Juli 2018 malam. Pria yang melakukan penganiayaan tersebut merupakan Kasubid Ditpamobvit Polda Kepulauan Bangka Belitung AKBP Yusuf SE.

“Iya. Dia pemilik toko,” kata Kabid Humas Polda Bangka Belitung AKBP Abdul Munim saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 13 Juli 2018.

Menurut Munim, aksi perwira polisi tersebut lantaran emosi terhadap sekelompok orang yang mencuri tokonya di Jalan Selindung, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Ibu-ibu yang ditendang dan dipukul AKBP Yusuf diduga merupakan komplotan pencuri tersebut.

“Saat itu ada pemilik toko berinisial Y melihat kejadian pencurian di tokonya. Lalu Y bertanya-tanya kepada pelaku pencuri sambil melakukan tindakan kekerasan,” kata Munim.

Munim menambahkan, kegeraman AKBP Yusuf memuncak setelah diinterogasi kedua ibu-ibu tersebut mengelak mencuri. Sementara komplotan lainnya kalang kabut saat aksinya diketahui pemilik toko.

“Pura-pura belanja, berombongan berjumlah tujuh orang. Enam masuk toko dan satu menunggu di mobil Avanza. Tiga ketangkap,” kata dia.

Komplotan ini diduga mencuri sejumlah susu, mi instan dan selendang. Pencurian ini membuat pemilik toko rugi Rp 600 ribu.

Kasus pencurian ini sudah dilaporkan penjaga toko ke Polres Pangkalpinang. Sementara kasus dugaan penganiayaan dilakukan AKBP Yusuf ditangani oleh Bidpropam Polda Bangka Belitung.

“Y terpancing emosi karena mereka ramai-ramai maling, saat yang ketangkap ditanya bilangnya tidak tau semua,” kata Munim. (***)

sumber: liputan6.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Sebuah foto menunjukkan plakat bertuliskan Kantor Polisi Bersama antara Polres Ketapang dengan Biro Keamanan Publik Republik Rakyat Tiongkok Provinsi Jiangzu Resor Suzhou, viral di media sosial.

Pihak Kapolres Ketapang pun memberikan penjelasan.

Kapolres Ketapang AKBP Sunario menjelaskan, dirinya perlu memberi penjelasan perihal foto yang viral di media sosial tersebut. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman di masyarakat mengenai foto tersebut.

“Saya sebagai Kapolres Ketapang, saya akan mengklarifikasi tentang adanya postingan-postingan tentang Kapolres bersama yang ada di Kabupaten Ketapang. Perlu saya jelaskan semua kepada masyarakat supaya tidak terjadinya kesalahpahaman tentang hal tersebut,” kata Sunario dalam sebuah video yang disampaikan oleh Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Nanang Purnomo, Jumat, 13 Juli 2018.

Sunario menjelaskan, plakat tersebut merupakan contoh yang dibawa oleh kepolisian Shuzou saat berkunjung ke salah satu perusahaan yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat. Plakat itu ditujukan untuk menjalin kerjasama antara kepolisian.

“Adanya kunjungan kepolisian Shuzou, dan dia juga merupakan sebuah Wali Kota Shuzou ke perusahaan PT BSM, yang mana mereka juga mengundang Polres Ketapang untuk melaksanakan kunjungan tersebut. Dan mereka meminta kerjasama pada Polres Ketapang dalam hal kepolisiannya dengan membawa contoh sebuah plakat yang untuk kerjasama nantinya. Plakat ini yang viral di media sosial,” katanya.

Saat ini, kata Sunario, plakat tersebut sudah diamankan di Mapolres Ketapang. Karena memang tidak ada kesepakatan kerjasama antar kedua belah pihak.

“Sekarang plakat ini ada di Polres Ketapang, karena kesepatakan antara kedua belah pihak itu belum ada, atau kita tolak. Karena Polres Ketapang itu tidak bisa mengeluarkan kesepakatan, yang ada itu adalah melalui Mabes Polri. Dan mereka kita sarankan bahwa untuk adanya kerjasama itu melalui adanya Mabes Polri, dan bila Mabes Polri setuju maka barulah adanya kesepakatan tersebut,” katanya.

Sunario juga menyayangkan viralnya foto plakat bertuliskan ‘Kantor Polisi Bersama’ tersebut. Bahkan seolah-olah dikabarkan plakat tersebut telah dimonumenkan sebagai bentuk kerjasama antara dua kepolisian.

“Dan yang beredar di media sosial seolah-olah itu sudah menjadi viral dan dimonumenkan, itu tidak. Inilah fakta dari pada plakat itu yang dikatakan viral sudah terjadi bangunan kantor polisi bersama, tidak, Sekarang plakat ini ada di Polres Ketapang, mereka memberi contoh kita menolaknya, kita tidak membenarkan, maka plakat ini kita bawa ke Polres Ketapang, kita amankan ditakutkan disalah artikan atau disalahgunakan pada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.

Sunario pun menegaskan, hingga saat ini tidak ada ‘Kantor Polisi Bersama’ antara Polri dengan Kepolisian Kepolisian Shuzou. Dia juga mengimbau masyarakat tidak terpancing dengan kabar hoax tersebut.

“Sekarang barang ini ada di kita dan kita memohon masyarakat Indonesia untuk pengertiannya supaya tida menjadi viral, atau ke mana-mana atau tidak dialihkan ke mana-mana juga. Pada prinsipnya di Ketapang tidak ada kantor bersama antara Kepolisian Republik Indonesia atau Polres Ketapang dengan Polres Shuzou,” katanya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pontianak – Peristiwa penanganan pada Susanto dengan cara setengah badannya dikubur dengan maksud untuk menetralisir listrik viral di media sosial dengan bumbu isu ‘bangkit dari bubur’. Susanto kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Korban masih hidup dan dapat tertolong. Sekarang masih dirawat,” ujar Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono ketika dimintai konfirmasi, Kamis, 12 Juli 2018.

Susanto kini dia masih berada di RS Rubini Mempawah untuk menjalani perawatan. Didi mengatakan Susanto tersengat listrik usai mengelas kanopi di bengkel. Pada awalnya Susanto tak sadarkan diri.

“Pada saat kejadian korban sedang melakukan pemasangan atau pengelasan kanopi di depan Bengkel Mobil ‘Aneka Jaya’ karena jarak kanopi yang dibuat terlalu dekat dengan kabel bidar utama/ kabel TM (jaringan listrik) sehingga menyebabkan korban kesetrum,” ujar Didi.

Warga menolong Susanto dan mengubur sebagian badannya ke dalam lumpur. Tujuan warga yang menolong, untuk menghilangkan induksi listrik di dalam tubuh Susanto. Warga meyakini cara itu bisa berhasil.

“Adapun pertolongan pertama yang dilakukan warga sekitar setelah kejadian tersebut yaitu dengan mengubur bagian tubuh korban dengan menggunakan lumpur mulai dari leher sampai ke kaki guna menghilangkan induksi aliran listrik dalam tubuh korban kata Didi. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banyuwangi – Dunia maya dihebohkan pengakuan video seorang warga yang mengklaim dirinya tajir melintir. Melalui video pendek, pria diduga berasal dari Banyuwangi ini, mengaku sangat mudah menaklukkan perempuan dengan harta kekayaannya.

Ada 3 file video yang tersebar dalam media sosial itu. File video pertama menampilkan beberapa orang meletakkan tumpukan uang pecahan Rp 50 ribuan yang terbungkus rapi. Dan selanjutnya, dua file video berisi pengakuan warga yang di sebut sebagai Wahyu Raja Sengon, yang mengaku setiap bulan mendapat kiriman 16 kontainer uang.

“Uang saya ndak pernah habis. Tiap hari ada 16 kontainer uang dikirim ke rumah. Mau habis bagaimana lah wong tiap hari datang. Kalau datang pasti dikawal tuit tuit tuit itu,” jelas wahyu dalam video yang berdurasi 1.35 menit itu.

Wahyu juga menjelaskan jika dirinya ahli dalam menaklukkan wanita. Dirinya mengklaim telah menaklukkan wanita di seluruh Indonesia.

“Saya sudah banyak menaklukkan cewek seluruh Nusantara ya. Saya tidak suka di dicintai karena body saya. Saya lebih suka purel (pemandu lagu karaoke) mencintai saya karena uang saya,” tambahnya.

Selanjutnya pada video ketiga yang berdurasi 51 detik, Wahyu Raja Sengon menunjukkan deretan mobil yang akan digunakan untuk berburu cewek. Dirinya kemudian memilih mobil warna merah, yang akan dikendarainya.

“Saya akan bawa mobil ini. Karena saya akan berburu cewek. Ada 4 kunci yang harus ada untuk mendapatkan cewek. Satu kunci mobil, dua kunci rumah, tiga kunci brankas dan satu lagu ATM prioritas,” ucapnya.

Belum diketahui pasti kebenaran tajirnya Wahyu Raja Sengon. Diduga video ini diunggah pada pertengahan Juni lalu dan dibagikan puluhan kali oleh netizen. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Video dua bidan yang bermain aplikasi Tik Tok sambil menggendong bayi viral di media sosial. Banyak yang mengecam aksi yang dilakukan dua bidan perempuan tersebut.

Video Tik Tok itu dibagikan oleh ibu dari bayi yang digendong dua bidan tersebut. Lewat akun Facebook Bakoel Mpo Keceh, ibu tersebut geram melihat kelakuan dua bidan.

Dia juga meminta agar Dinas Kesehatan dapat menindak tegas dua bidan yang diketahui bekerja di salah satu rumah sakit di Bekasi.

“Dear Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tolong ditindak lanjuti oknum bidan yg diluar batas ini dengan menggunakan bayi pasien sbagai alat kesenangan dengan menggunakan aplikasi tiktok. Saya sbagai ibu DRI 2 orang anak melihat perilaku bidan ini sangat tidak bermoral
Susah payah dengan taruhan nyawa bayi ini dilahirkan ibunya dengan mudah oknum bidan INI uwek uwek wajah bayi INI demi kesenangan Dan folower untuk tenar!! Tolong ditindak lanjuti secepat nya agar tidak ada Lagi kejadian macam INI,” tulis postingan Bakoel Mpo Keceh, dilihat detikcom pada Rabu, 27 Juni 2018.

Dari video Tik Tok terlihat dua bidan itu menggendong bayi sambil berjoget. Salah satu bidan tampak mencubit pipi bayi yang kelihatan seperti baru saja lahir.

Hingga Rabu, 27 Juni 2018 pukul 15.00 WIB, postingan tersebut telah mendapat 4,5 ribu tanggapan dan 16.612 kali dibagikan.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyayangkan adanya perilaku tak pantas yang dilakukan bidan tersebut. Dia meminta agar masyarakat tidak membuat hal yang dapat berdampak negatif.

“Jika benar ini dilakukan oleh tenaga kesehatan tentu tidak pas. Kami menyayangkan. Kepada semua pihak baik ortu, tenaga kesehatan, guru, masyarakat agar tak membuat lucu-lucuan yang berdampak negatif bagi bayi atau anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka,” kata Susanto kepada detikcom. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Belakangan beredar video polisi menendangi sepeda motor milik para driver ojek online (ojol).

Masyarakat menyuarakan protes di kolom komentar lantaran tindakan polisi itu dianggap tak sopan dan terkesan seenaknya.

Akun Dery Marli telah mengunggah video peristiwa itu ke Facebook, Kamis, 14 Juni 2018.

“Lokasi PTC mall Palembang, polisi yg kaya begini, polisi gak punya nurani, woi inget itu gaji lu itu dari rakyat #Viralkan,” tulisnya.

Terlihat sejumlah sepeda motor yang ambruk, bahkan masuk parit, dalam video tersebut.

Akun Andre Noval kemudian mengunggah video serupa dengan menuliskan, “Karena mangkalnya di tempat yang dilarang, di jalan ini dilarang parkir atau stop (ngetem) dan sudah ada plang peringatannya.”

Menurut M Taslim Ch Dirlantas Sumsel di jalan itu sering macet penyebabnya ya mereka ini, teguran sudah berkali-kali, ditilang juga sudah.”

Menurut pihak kepolisian, para driver ojol mangkal tanpa memperhatikan aspek keselamatan dan ketertiban.

Hal tersebut dinilai mengakibatkan kemacetan sehingga perlu ditindak tegas.

Maka dari itulah, para driver ojol menjadi target operasi penertiban di hari menjelang Lebaran saat itu. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jombang – 6 Pelaku pengeroyokan 3 remaja yang videonya viral di medsos, diringkus polisi. Aksi kekerasan ini dipicu persoalan asmara.

Kapolsek Diwek AKP Bambang Setyabudi mengatakan, para pelaku berhasil dilacak berdasarkan keterangan saksi dan rekaman video yang beredar di medos. Para pelaku pun diringkus pada Sabtu, 9 Juni 2018 malam.

“Sudah ada enam pelaku yang berhasil kami amankan,” kata Bambang kepada wartawan, Ahad 10 Juni 2018.

Ironisnya, para pelaku masih berusia di bawah umur dan berstatus sebagai pelajar. Mereka berusia antara 15 tahun hingga 17 tahun, Keenamnya warga Desa Kwaron, Diwek, Jombang. Satu pelaku lainnya merupakan warga Desa Cukir, Diwek.

Bambang menuturkan, jumlah korban pengeroyokan ini 3 orang remaja. Mereka berasal dari Desa Mojowangi, Mojowarno, Jombang.

Pengeroyokan sendiri dipicu persoalan asmara. Salah satu pelaku marah saat tahu pacarnya digoda menggunakan pesan-pesan mesra oleh para korban.

Sementara pengeroyokan ini terjadi di Jalan Rusunawa, Desa Cukir, Diwek, Jombang pada Kamis (7/6) sekitar pukul 11.00 WIB. Keempat korban diserang pelaku dengan tendangan dan pukulan tangan kosong.

“Ada satu korban yang mengalami luka dibagian kepala namun lainya mengalami memar-memar di seluruh tubuhnya,” terangnya.

Penanganan kasus ini diserahkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Jombang. Pasalnya, para pelaku dan korban berusia di bawah umur.

Video pengeroyokan ini menjadi viral di medsos.

Para netizen pun mengecam tindakan para pelaku. Warganet juga mendesak polisi untuk mengusut kasus kekerasan ini. (***)

sumber: detik.com