AOK

Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi Ambil ‘Paksa’ Fee Proyek di Pemerintahan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Secara umum, tiga tahun kepemimpinan Awe-Nizar di Kabupaten Lingga masuk kategori tidak mengalami kendala. Akan tetapi, bagi sebahagian elemen masyarakat ada yang menaruh kekecewaan. Soalnya, ada tindakan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berusaha mencederai kinerja pasangan ini.

Berbekal melakukan sebuah perjuangan yang ‘berdarah-darah’, saat Awe-Nizar bertarung di pesta demokrasi rakyat melawan tiga pasangan kandidat lainnya, oknum ASN, sebut saja Sya’ban, menangguk keuntungan. Bahkan, ‘kehantuannya’ ini mampu dan dirasakan sangat ampuh untuk menembus semua OPD yang ada.

BERITA TERKAIT

Menengok Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi di Pemerintahan

Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi Obrak-abrik Jabatan di Pemerintahan

Dengan ‘kekuatan’ yang dimilikinya itu, ia berhasil menjadi ‘hantu’ kepada setiap organisasi perangkat daerah (OPD) yang berada dibawah naungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga. Dan, pejabat OPD hanya bisa pasrah dan mengikuti segala sesuatu yang diinginkan Sya’ban.

Aktivitas yang paling menonjol dan sangat berani yang dilakukan oknum ini, yaitu bermain di proyek pemerintahan. Dan terkhusus, oknum Sya’ban ini sangat berani ‘menggerogoti’ setiap proyek yang ada di setiap OPD.

Bagaimana tidak, oknum ini berani mengambil keuntungan sekitar 10 persen dari nilai proyek itu sendiri. Dan bagi siapapun yang tidak mau menyiapkan bagian untuk oknum ini, tentu bersedia menanggung resiko.

Para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga yang dilantik oleh Bupati Lingga, Alias Wello. (istimewa)

Namun seseorang pun yang mendapatkan proyek dari pemerintahan itu sendiri, lebih baik menerim kenyataan, dengan berdiam diri. Para kontraktor dan pengusaha ini, lebih memilih untuk menerima apa adanya. Namun yang mereka rasakan dan sesalkan, tingkah laku dan cara ‘merampok’ oknum ASN ini.

“Kalau pekerjaan di pemerintahan, berbagi rezeki itu hal biasa. Tetapi, cara dia (oknum ASN, sebut saja Sya’ban) sangat tak baik,” kata seorang pengusaha yang tidak ingin disebutkan namanya ini sambil mengatakan bahwa oknum ASN ini sama sekali tidak ada hak untuk mengambil fee dari setiap proyek.

Disebutkannya, ketika para pengusaha tidak mau memberikan fee, biasanya 10 persen dari nilai proyek, ia akan mengancam. Meskipun, katanya lebih jauh, belum ada kontraktor yang berani membantah permintaan oknum ini.

TNI Manunggal Bangun Pulau Galang Batam Dimulai

Parkir di Kantor Bupati KKA Merusak Pemandangan

KPU Jangan Pecah Belah dan Dikotomi Pers

“Jadi, selain kita siapkan 10 persen dari nilai proyek yang kita dapat, ada dana lain bagi pejabat lainnya yang harus kita siapkan. Artinya, kita sebagai pengusaha akan dan diajar untuk ‘nakal’,’ katanya seraya lebih jauh dikatanya, dengan banyaknya pengeluaran itu sendiri, kondisi proyek yang dikerjakan menjadi tidak sesuai dengan standar yang ada.

Tidak hanya satu, dua atau tiga orang pengusaha aja yang menjerit, sebahagian besar kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah merasakan hal yang sama. Bahkan, sejumlah rekanan, sahabat dan teman-teman oknum ASN ini pun tidak diberi ampun, tetap harus mengeluarkan fee 10 persen.

Tindakan oknum ASN ini sangat meresahkan. Karena oknum ini selalu ‘menjual’ nama pasangan Awe-Nizar, harus ada tindakan serius. Dan yang bisa mengambil langkah untuk penangan yakni Awe-Nizar. Namun jika tetap dibiarkan, tentu hal ini akan mengganggu dan sangat merugikan, terhadap penilaian kinerja Awe-Nizar, sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati Lingga. (tim)

Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi Obrak-abrik Jabatan di Pemerintahan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Pesta perayaan tiga tahun kepemimpinan Awe-Nizar telah berlalu. Seluruh jajaran bekerja keras untuk mensukseskan perayaan yang tiap tahun diadakan tersebut. Lebih kurang seminggu berlangsung, dan pesta itu berjalan dengan sukses.

Layaknya sebuah pesta, tahapan akhirnya tentu ada bagian ‘cuci piring’. Kegiatan yang berlangsung lebih dan kurang satu minggu, dengan persiapan sekitar satu bulan, tentu ada pertanggungjawabannya. Kenapa? sederhana jawabannya, karena pesta itu berlangsung dan berjalan dengan menggunakan dana rakyat.

BERITA TERKAIT

Menengok Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi di Pemerintahan

Bayangkan, tiga tahun kepemimpinan Awe-Nizar memimpin Lingga. Begitu banyak dana rakyat melalui Anggaran Pengeluaran dan Belanja Daerah (APBD) yang dipergunakan. Setiap rupiah yang dipergunakan ini pun wajib untuk dipertanggungjawabkan. Dan legalitas penggunaan anggaran tersebut dilakukan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lingga. Urusan penganggaran dan pengesahan anggaran masalah legislatif dan eksekutif.

Yang menarik untuk dilirik tentang eksistensi oknum ASN dalam kepemimpinan Awe-Nizar. Gerakan mereka yang masif dan terstruktur ini patut dipelototi. Hanya karena merasa berdarah-darah saat berjuang, oknum ini membenarkan segala macam hal yang dilakukannya hingga menjadi sesuatu yang dianggapnya benar.

Sejumlah pejabat di Pemkab Lingga yang baru dilantik untuk ikut mensukseskan program kerja Awe-Nizar

Sebelumnya, Bupati Lingga, Alias Wello yang akrab disapa Awe melantik sejumlah pejabat di jajarannya. Ia menegaskan hal ini bagian penyegaran, seperti lazimnya mutasi yang laksanakan. Kepada pejabat yang baru dilantik, Awe meminta ASN agar cepat bekerja sehingga dalam 100 hari kedepan.

”Saya sudah melakukan hitungan sampai dengan awal Juni nanti, terhitung dari seratus hari kerja untuk semua dari jabatan yang diemban. Kami akan melakukan evaluasi dan penempatan kembali 
bagi ASN yang nyatanya tidak melaksanakan target yang direncanakan,” ucapnya

Dikatakan Awe, tiga tahun diusia pemerintahan yang dikomandoi Awe-Nizar, akan menyempurnakan pekerjaan yang belum terselesaikan, satu diantaranya pekerjaan yang masih berproses, serta pekerjaan yang diharapkan dengan hasil yang optimal,” katanya.

Ketegasan dan semangat yang dilakukan Awe-Nizar ini diganggu oleh oknum ASN yang tak bertanggung jawab. Setidaknya, kuat dugaan tindakan melakukan dan mempengaruhi posisi dan jabatan seseorang yang diduga dilakukan oleh oknum ASN, sebut saja Sya’ban. Meskipun dengan jabatan yang disandangnya belum mempuni untuk menempatkan posisi seseorang dalam sebuah jabatan, namun perjuangan ‘berdarah-darahnya’, sangat ampuh untuk jadi ‘hantu’ yang menakutkan.

Namun, jika ada yang mencoba dan berusaha untuk mempertanyakan prilakunya ‘mutasikan’ kedudukan seseorang dalam sebuah jabatan, dipastikan Sya’ban, oknum ASN ini bersikeras untuk melakukan pembantahan. Hingga, banyak dari ASN yang jadi ‘korban’, lebih baik berdiam diri dan menerima.

BERITA LAINNYA

Awe Lantik Pejabat ASN di Tanjung Napau

Siswa MA Suskes Jalankan Program Syi’ar Islam

Padahal, di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga, tindak tanduk dan sepak terjang oknum ASN yang turutcampur dalam urusan memutasikan jabatan seseorang ini bukan menjadi sebuah rahasia lagi.

Mutasi di lingkungan dalam sebuah organisasi, apalagi di pemerintahan sebuah yang normal. Karena ini bagian dari bentuk penyegaran dan menciptakan suasana baru dengan harapan adanya peningkatan kinerja. Soalnya, mutasi yang merupakan bagian dari sebuah sanksi dan ada juga yang merupakan bentuk penghargaan atas jasa dan karir seseorang.

Bagaimana jika mutasi itu dilakukan berdasarkan dan berlandaskan ketidaksukaan, bukan dari sisi prestasi? Yang pasti, jika ini terjadi, tentu tidak akan dapat untuk mencapai apa yang diinginkan. Bahkan, hal ini justru malah menimbulkan perlawanan yang lebih radikal. Dan ketika hal ini terjadi, siapa yang dirugikan? Tentu pimpinan, dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati Lingga, Awe-Nizar. (tim)

Menengok Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi di Pemerintahan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Tanpa terasa. Duet Awe-Nizar sudah tiga tahun berjalan. Dimana tiga tahun lalu, pasangan ini mendapat amanah dari seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Lingga. Melalui pertarungan politik, mereka meraih simpatisan rakyat.

Tiga tahun memimpin pemerintahan, tentu banyak hal, masalah atau persoalan yang dihadapi. Berbagai dinamika, satu per satu bermunculan. Tentu dari semua itu, ada yang menjadi pengalaman suka, bahkan tak tertutup kemungkinan, ada juga yang menjadi bagian dari kabar duka.

BACA JUGA

Siswa MA Suskes Jalankan Program Syi’ar Islam

Awe Lantik Pejabat ASN di Tanjung Napau

Dalam perjalanan untuk menjalankan roda pemerintahan, pasangan Awe-Nizar tentu tidak mampu dan tidak dapat bekerja sendiri. Hal yang pasti, mereka membangun instrumen kerja yang kuat, agar visi misi dan program kerja saat kampanye dapat berjalan dengan baik.

Dikutip dari website http://www.linggakab.go.id, Wakil Bupati Lingga Muhammad Nizar mengakui sumber daya manuasia adalah hal yang penting. Ia memaparkan, setelah 100 hari menahkodai Bunda Tanah Melayu, merubah mainset aparatur sipil negara (ASN) adalah hal yang paling berat.

“Merubah mainset yang terbangun 12 tahun itu, yang menjadi berat sekali untuk kami lakukan. Namun alhamdulillah sudah nampak terbangun, khususnya di kalangan SKPD,” ungkapnya.

Pertanyaannya, siapa saja ‘mereka’ yang dirangkul itu? Hal ini yang menjadi titik awal catatan mediakepri.co.id untuk tiga tahun Awe-Nizar.

Tiga tahun lalu, Awe-Nizar harus bersaing dengan tiga kandidat lainnya untuk meraih suara masyarakat di Lingga. Dengan kekuatan tim sukses (timses) yang dibangunnya, pasangan ini meraih 49,77 persen atau 25.544 suara dari total suara untuk menjadi pemimpin baru.

Perolehan suara ini dicapai dengan kerja keras. Semua yang tergabung di timses, bertukus lumus dan bekerja tiada henti untuk mengais simpatisan. Mereka meyakinkan masyarakat, Awe-Nizar memiliki visi misi dan program kerja yang patut untuk diperjuangkan.

Wakil Bupati Lingga, Nizar mengikuti upacara saat mendengarkan pengarahan Bupati Lingga, Alias Wello. (istimewa)

Tidak hanya dari partai NasDem, sebagai partai pendukung, ada segelintir oknum aparatur sipil negara (ASN) yang ikut bergabung sebagai timses bayangan. Bahkan, oknum ini dengan sangat yakin kemenangan Awe-Nizar ini, hingga ia berani berjuang sampai ‘berdarah-darah’.

Siapa dia? Kita sebut saja Sya’ban. Terlahir dari keluarga sederhana, Sya’ban sangat yakin dengan duet yang akan diperjuangkannya. Aura keyakinan terhadap duet dengan nomor urut 4 kala itu, jadi pemicunya untuk bertempur agar meraih sebanyak-banyaknya suara masyarakat Lingga.

Apakah tulus perjuangan Sya’ban? Saat itu, pertanyaan ini tidak bisa langsung dijawab. Tentu perjalanan waktu yang teratur, bisa memberikan sedikit gambaran dan pencerahan untuk menjawab pertanyaan itu sendiri.

Ditelaah statusnya sebagai ASN, tentulah banyak harapan dan angan-angan yang akan digantungkan di pundaknya Awe-Nizar. Adapun target tidak muluk yang ingin dicapainya, adalah statusnya sebagai ASN berada pada posisi aman. Tidak kalah penting, tentunya ia ingin perkuatan kondisi ekonomi dirinya agar dapat tertata dengan baik.

Salahkan harapan yang terpatri di oknum ASN itu? Tentu tidak. Dan hal itu sangat normal dan juga manusiawi. Hanya saja, tidakan yang dilakukannya itu tentu akan membantu memperkeruh dan membuat Awe-Nizar harus menelan pil pahit permasalaha dibelakang hari. Maka untuk berikutnya, jika kondisi ini tidak diperbaiki, sebagai pemimpin, Awe-Nizar harus memilih hal terbaik dari pilihan-pilihan terjelek. (tim)

aplikasi

HEADLINE

Selasa | 01 Januari 2019 | 1:00

mediakepri.co.id Gapai Kepercayaan Anda dengan Aplikasi

MEDIAKEPRI.CO.ID – Teknologi dunia digital terus berkembang. Setiap orang selalu diberikan kemudahaan untuk mengetahui apapun. Dengan adanya internet, semakin memudahkan kita dalam mencari dan mendapatkan informasi serta berkomunikasi dengan orang lain. Dan kebanyakan dari kita menggunakan smartphone untuk mengaksesnya.

Begitu juga mediakepri.co.id. Pesatnya perkembangan teknologi, pendatang
baru di portal berita turut serta dalam meramaikan dunia digital. Dalam
perjalanannya, mediakepri.co.id ikut bagian untuk menjadi agen dalam
mendistribusikan informasi setiap perkembangan di Kepri, nasional dan
internasional yang berbasis website, yang menyajikannya dalam konsep
mobile web.

RAUN WAK

Melihat Keindahan Kota Georgetown, Pulau Pinang dari Ketinggian

Menelusuri Negeri Hang Tuah, Melaka sebagai Wisata Sejarah

Sejak berdiri hingga saat ini, sebagai portal berita, mediakepri.co.id yang
bernaung dibawah bendera PT Media Kepri Siber Sejahtera secara perlahan melakukan pembenahan dan melengapi legalitas/dokumen. Baik untuk perizinan dari pemerintah, juga ‘pengakuan’ dari Dewan Pers, hingga mediakepri.co.id tercatat dan memenuhi syarat sebagai media online yang Terverifikasi Administrasi dan Faktual.

Tidak hanya memenuhi kewajiban dokumen, mediakepri.co.id juga turut
berorganisasi. Untuk wartawan yang tergabung, managemen memberikan
kebebasan memilih organisasi yang diinginkan. Dan secara umum,
mediakepri.co.id tergabung dibawah naungan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Cabang Kepri yang merupakan organisasi yang sudah menjadi konsituen Dewan Pers.

Dengan mengusung tag line ‘Sarana Informatif untuk Masyarakat’, sebagai situs berita online, kami memiliki sejumlah rubrik. Dalam penyajian rubrik ini, dibagi dalam dua bagian. Untuk rubrik lokal, Anda bisa membacanya di
mediakepri.co.id dan untuk informasi nasional/internasional pembaca dapat mengaksesnya di sim.mediakepri.co.id.

AOK

Kampung Tua Penagi, Bukan Kampung Biasa

HAL BIASA… Aksi Heroik Pengguna Jalan Langgar Lantas

“Karena Anda, semangat kami terus terpacu. Untuk itu, kami ingin memberikan yang terbaik untuk Anda dengan memberikan inovasi-inovasi,” kata Pimpinan Perusahaan mediakepri.co.id, Syabran Malisi saat meresmikan aplikasi mediakepri.co.id berbasis android.

Dengan aplikasi berbasis android ini, katanya, memberikan kemudahaan bagi pembaca. Untuk sekali mengunduh (download), tambahnya, Anda akan menggenggam dunia melalui informasi yang disajikan mediakepri.co.id. Caranya cukup mudah, masuk ke Play Store, lalu ketik mediakepri, langsung unduh.

Selain itu, lebih jauh menjelaskan, aplikasi berbasis android yang dibangun
dengan menggandeng Multi Brains Indonesia ini, suatu tahapan agar dapat
tercipta hubungan yang baik antara kami dan Anda.

“Siapalah kami, jika tanpa Anda. Hanya sekali mengunduh aplikasi berbasis
android ini, hubungan kita akan terjalin selamanya,” ujar Syabran Malisi
didampingi Pimpinan Redaksi mediakepri.co.id, Eddy Supriatna.

Seduh Kopi dengan Air Panas Itu Salah! Kok Bisa? Ini Jawabannya

Dijelaskannya, selain mendistribusikan informasi tentang Kepri, bahkan dunia Internasional, mediakepri.co.id ikut berperan aktif dalam pembangunan. Baik dibidang Sumber Daya Manusia, serta mendukung pemerintah daerah dalam meningkatkan pembangunan infrastruktur serta kualitas SDM yang berdaya saing.

Dilain sisi, mediakepri.co.id yang baru berumur jagung ini tidak pernah
menutup diri untuk menerima berbagai masukan demi melakukan perbaikan ke arah yang lebih baik.

“Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Namun secara perlahan kita akan memperbaikinya demi kenyaman para pembaca web ini,” tandas Syabran. (ali mahmud)

toleransi agama

AOK

Minggu | 09 Desember 2018 | 22:57

Kampung Tua Penagi, Bukan Kampung Biasa

MEDIAKEPRI.CO.ID – Gadis-gadis remaja terlihat asyik berfoto ria. Berlatar belakang gapura Kampung Tua Penagi, yang terletak di Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Lengkap dengan aksesoris topi dan kacamata kekinian, bedak tebal dan bibir bergincu, Merekapun Berpose tanpa malu, meski warga sekitar mencuri pandang ke arahnya sambil sesekali tersenyum.

Setelah puas mengambil beberapa foto, para gadis itu beranjak pergi, menaiki sepeda motornya, terlihat menuju ke Pelabuhan Tanjung Payung, persis berada di sebelah barat perkampungan ini.

BACA JUGA

Natuna Dapat Dua Kapal Perkuat Transportasi Laut

Geopark Natuna Menuju UNESCO Global Geopark

Sekedar tempat untuk berfoto, itulah kondisi penagi kini. Tak banyak anak muda Natuna mengetahui keistimewaan perkampungan yang dihuni 150 keluarga ini.

Hanya para orang tua asli Natuna yang lahir di bawah tahun 90 saja lah, yang mengetahui sejarah, betapa pentingnya perkampungan kecil di ujung landasan Bandara Raden Sadjad ini.

sejarah penagi

Ronny Kambey

Mendalami seluk beluk kampung penagi, mediakepri.co.id menemui sosok lelaki bernama Ronny Kambey, di salah satu kedai kopi di ranai. Ia adalah tokoh masyarakat penagi, yang siap berbagi cerita dengan kami. Sambil menyeruput kopinya, Ronny menerawang masa lalu.

“Diceritakan Ayah Saya. Jauh sebelum kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi merupakan pintu masuk ke Pulau Bunguran. Kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, akan singgah ke Penagi sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan lain,” kata Ronny membuka cerita.

Seiring waktu, lanjut Ronny, perkampungan nelayan ini makin ramai tidak hanya dihuni orang Melayu sebagai suku asli Pulau Bunguran tetapi juga warga China yang datang dengan kapal “toa ko” (kapal besar) dari China daratan.

Rombongan warga China ini ada yang menetap di Penagi, ada juga melanjutkan perjalanan ke Sedanau dan Pulau Midai.

“Itulah asal mula banyak warga Tionghoa di Penagi, ” ucap Ronny, diiringi dengan beberapa tegukan kopi.

Kini kondisi Penagi jauh berubah. Hal ini terjadi seiring dengan terbentuknya Kabupaten Natuna tahun 1999 dengan ibukota Ranai. Perlahan tapi pasti, terjadi pergeseran pusat ekonomi dari Penagi ke Ranai sebagai ibukota Kabupaten Natuna.

Pemerintah Cina Datangi Kejari Batam Terkait 4 Warganya Divonis Mati

Maka jadilah Penagi yang kini semakin menua dan tak mampu berlari mengikuti perkembangan zaman. Namun menurut Ronny, kampung penagi memiliki kelebihan yang harus dibanggakan dan ditiru setiap orang.

“Warga Melayu, Tionghoa maupun suku lain sudah puluhan tahun hidup di Penagi, tapi tak pernah ada konflik, ” ucapnya bangga.

Natal Sederhana yang Sangat Menyentuh di SLBN Batam

Kerukunan Penagi bukan sekedar isapan jempol belaka, hal itu bisa dilihat dari rumah ibadah yang turut ‘hidup’ berdampingan, yakni Kelenteng Pu Tek Chi dan Surau Al Mukoramah.

Kendati bersebelahan, tidak pernah terdengar umat Kong Hu Chu yang terganggu dengan suara azan, ataupun muslim di sebelahnya yang terganggu dengan hiruk pikuk klenteng. Sebuah toleransi umat beragama yang patut diapresiasi setinggi-tingginya.

toleransi

Masjid dan kelenteng yang berdiri dan beraktivitas berdampingan

“Kalau ada isu perselisihan kita berembuk tokoh masyarakat dan aparat lingkungan. Bentrok terjadi karena kita tidak antisipasi. Makanya kalau ada isu sedikit kita langsung action, ” ujar Ronny, ‘membocorkan’ tips menjaga kerukunan di Kampung Penagi.

Alasan keamanan warga setempat, juga pernah membuat Kampung Penagi sempat diusulkan untuk di relokasi. Pasalnya, kampung ini persis berada di ujung landasan sebelah selatan Bandara Raden Sadjad, sehingga dikhawatirkan terjadi hal tak diinginkan.

Namun pria kelahiran tahun 1952 ini dengan lantang menolak. Bagi ia dan warga lainnya, Kampung Penagi merupakan harta tak ternilai dan bersejarah bagi kehidupan mereka.

“Dulu banyak bom Jepang tak meledak di Penagi. Saya SMP, main di atas bom itu, karena gak tau bom itu aktif, jadi kami buat ketok umang-umang. Rupanya waktu ada tim Brimob datang, diperiksa bom itu aktif, tapi sekarang sudah diangkat, ” ujar Ronny sambil tertawa lepas, mengingat masa kecilnya.

Pembunuh John Lennon Baca Buku sambil Nunggu Polisi

Ditanya apa harapannya bagi Penagi, Ronny hanya meminta Pemerintah Daerah Natuna, bantu menjaga sejarah Penagi dan menghidupkan perekonomian kampung tua ini. (alfian)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Pemandangan pengguna jalan di sejumlah ruas jalan, melakukan pelanggaran lalu lintas (lantas), sudah merupakan hal biasa. Dan ironisnya, mereka mengerti dengan kesalahan itu.

Berbagai jenis pelanggaran, dapat dengan mudah kita lihat secara kasat mata. Dan yang paling sering ditemui, kelengkapan berlalulintas yang aman dan nyaman bagi diri mereka pun, tetap diabaikan.

BACA: Gabriel Lema Canangkan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi

BACA: 72 Tahun Lalu, Perundingan Indonesia-Belanda di Linggarjati

BACA: Kapolda Jadi Irup, Gubernur Ikut Upacara 73 Tahun Brimob

Hal yang paling muda, jenis pelanggaran yang paling umum ditemui, seperti, tidak menggunakan helm, kondisi kendaraan yang tidak standar, cara berkendaraan yang tidak mengindahkan keselamatan. Dan masih banyak lagi jenis pelanggaran yang dengan gampang dapat ditemui disejumlah ruas jalan.

Begitu juga dengan pengguna jalan di Kepri dan Batam khususnya.
Sayangnya, ada bagi sebahagian pelanggar lantas ini, merasa bangga dengan pelangaran yang diperbuatnya tersebut. Ketika melakukan pelanggaran lantas, bagi pengguna jalan hanya takut kepada polisi, khususnya polisi lalu lintas (Polantas).

BACA: Usulan UMK Bintan Rp3,36 Juta, Langsung Diteruskan ke Pemprov

BACA: Pekan Depan, Presiden Jokowi Berkunjung ke Lingga

BACA: PM Sutan Sjahrir Bentuk Brigade Mobil

Jadi disaat aksi ‘heroik’ itu ketahuan, mereka hanya bisa menampilkan wajah lugu tanpa dosa. Dengan sejuta dalih, karena ada kepentingan yang mendesak, mereka minta dan memohon pengampunan.

Terlepas dari bentuk dan jenis pelanggaran itu, ada pertanyaan yang fundamental, kenapa pelanggaran itu tetap ‘terpelihara’ dengan baik?.

BACA: KPU Karimun Tetapkan 168.790 Pemilih Tetap

BACA: 6 Poin Ini Disampaikan Kapolda Kepri saat Silatulrahmi dengan Permabudhi

BACA: Penutupan TMMD ke-103, Gabriel Lema: TNI Tidak Hanya Sebatas Program

Agus, pegawai di Kecamatan Nongsa menolak ketika kondisi ini terjadi karena kurang maksimalnya tupoksi penegak hukum, khususnya Polantas. Sebuah perbincangan kecil di Rotiman, Botania, Batam Centre, Kamis, 15 November 2018, Agus menyoroti kultur (budaya) berlalu lintas masyarakat yang belum baik.

“Masyarakat ini takut dengan polisi, daripada takut dan malu dengan diri sendiri,” katanya.

BACA: Saleem Iklim Akhirnya Tutup Usia Setelah Kecelakaan Tragis yang Menimpanya, Ini Kronologinya

BACA: Apes, Niat Hati Kabur Bawa Motor Paman untuk Jumpai Orang Tuanya, ABG Ini Malah Alami Kecelakaan

BACA: Terungkap! Rem Berfungsi Baik, Ternyata Ini Penyebab Kecelakaan Tragis Truk Gula yang Tewaskan 12 Orang

Dalam obrolan santai ditemani secangkir kopi, langkah nyata yang ditawarkan kesadaran masyarakat itu sendiri. Sadar akan keselamatan, mengerti dengan kenyamanan, paham tentang aturan, maka ketertiban akan tercipta.

“Kalau tak sadar, tak ngerti dan tak paham, lantaklah. Jika terjadi sesuatu yang tak baik, harus sadar, mengerti dan paham, dengan akibatnya,” kata Agus sambil tersenyum. (eddy)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Jika kita mau sedikit terbuka dan berkata jujur, bahwa masih banyak di antara kita yang bingung membedakan antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, benerkan?. Melalui tulisan ini mari kita paparkan secara sederhana, yang diambil dari beberapa sumber, termasuk dari kedua situs BPJS ini.

Pemerintah telah membentuk suatu perusahaan BUMN yang bergerak dibidang asuransi jaminan kesehatan sosial bagi seluruh masyarakat, program tersebut adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial disingkat menjadi BPJS. Badan ini memiliki tugas seseuai dengan Undang–undang nomor 40 tahun 2010 dan nomor 24 tahun 2011 dimana tugasnya yaitu menyelenggarakan jaminan sosial Indonesia, dan BPJS Merupakan Badan Hukum Nirlaba.

Sayangnya, meski sudah diluncurkan dan disosialisasikan, namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti perihal program pemerintah yang satu ini. Termasuk juga masih banyak yang kebingungan dan sulit membedakan, perbedaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Pada dasarnya, BPJS bukanlah hal yang benar-benar baru di Indonesia. Pasalnya, BPJS Kesehatan adalah transformasi dari PT Askes (Persero) yang tujuannya memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat. Sementara BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari PT Jamsostek (Persero). BPJS Kesehatan ini memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia, baik yang bekerja secara formal maupun informal. Dan saat ini juga sudah diwajibkan untuk semua masyarakat baik karyawan maupun non karyawan.

BPJS dibagi menjadi 2 yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, diantaranya memiliki beberapa berbedaan. Berdasarkan Undang–undang BPJS Nomor 24 Tahun 20011 pasal 6 yang berbunyi “BPJS Kesehatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 5 ayat (20 huruf a menyelengarakan Program Jaminan Kesehatan). Sedangkan untuk BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana yang dimaksud dalam pasa 5 ayat (2) huruf b menyelenggarakan program : Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian”.

Sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2011, Kehadiran BPJS menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang telah ada sebelumnya yaitu Askes diganti menjadi BPJS Kesehatan dan Jamsostek (kecuali JPK) diganti menjadi BPJS Ketenagakerjaan.

Adapun transformasi lembaga jaminan sosial sebelumnya menjadi BPJS.
Pada 1 Januari 2014 : PT Askes bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan.
Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari Jamsostek bertransformasi menjadi program JKN dari BPJS Kesehatan
Program JKN di wajibkan untuk Seluruh Warga Negara Indonesia

Pada 1 Juli 2015 : PT Jamsostek (selain program JPK) bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan.
Program yang dselenggarakan BPJS Ketenagakerjaan adalah : Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian.
Program dari BPJS Ketenagakerjaan diwajibkan untuk seluruh pekerja penerima Upah.

Keduanya memiliki tugas dan fungsi yang berbeda

BPJS Kesehatan memberikan perlindungan yang sesuai dengan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Jaminan kesehatan dari BPJS jenis ini meliputi: Pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama, Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan dan
Rawat inap

BPJS Ketenagakerjaan bertujuan untuk memberikan beberapa jenis jaminan, yaitu:
JHT (Jaminan Hari Tua),
JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja),
JK (Jaminan Kematian),
JP (Jaminan Pensiun)

 

Keanggotaan peserta BPJS Kesehatan dan BPJS Kesehatan juga berbeda

Jika dilihat dari pesertanya, kedua BPJS ini juga memiliki perbedaan. BPJS Kesehatan wajib diikuti semua penduduk Indonesia, termasuk warga negara asing yang tinggal lebih dari 6 bulan dan sudah membayar iuran. Bahkan, bayi yang baru lahir pun dapat didaftarkan menjadi peserta BPJS Kesehatan meski tidak memiliki Nomor Induk Kependudukan melainkan menggunakan Nomor Kartu Keluarga orang tuanya.

Namun untuk BPJS Ketenagakerjaan hanya diperuntukan bagi para pekerja, antara lain: PNS, TNI/Polri, Pensiunan PNS/TNI/Polri, BUMN, BUMD, Pegawai Swasta, dan Yayasan. Tapi saat inisudah ada program BPJS Ketenagakerjaan non karyawan, dimana pedagang, sopir taxi, ojek, petani, pekerja mandiri, pengusaha bisa mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan mandiri (non penerima upah)

Dari ulasan singkat di atas, tentu kita sudah mulai memahami perbedaan mendasar antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Secara sederhana;
1. BPJS Kesehatan ada 2 : karyawan dan mandiri
– karyawan dibayar / kantor
– mandiri dibayar pribadi

Yang di cover BPJS Kesehatan adalah sakit atau penyakit dan persalinan, bukan sakit karena kecelakaan. Jadi kalau kecelakaan di jalan raya tak bisa menggunakan Kartu ini di Rumah Sakit. Ada 3 kelas yang ditawarkan BPJS Kesehatan, kelas 1, 2 dan 3 dengan iuran dan pelayanan yang berbeda juga. Premi (iuran) ini adalah uang hilang. Jika tidak dibayar maka kartu akan di non aktifkan dan tidak bisa dibawa berobat sampai tunggakan dibayarkan.

2. BPJS Ketenagakerjaan ada 2: Karyawan dan non karyawan/ mandiri(non penerima upah).
– karyawan dibayar / kantor
– mandiri dibayar pribadi

BPJS Ketenagakerjaan ini mempunyai program:
JHT (Jaminan Hari Tua),
JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja),
JK (Jaminan Kematian),
JP (Jaminan Pensiun)

Untuk Karyawan JKK melindungi kecelakaan selama Jam Kerja, sementara bagi pemegang kartu non penerima upah/ non karyawan di lindungi 24 jam.

Besaran premi/ iurannya adalah:
untuk jaminan kematian Rp 6.800 saja.
Untuk jaminan hari tua, besarnya adalah 2% dari penghasilan.
Sementara untuk jaminan kecelakaan kerja, besarnya iuran adalah hanya 1% dari kemampuan penghasilan.

Penulis
Ade Irawan Koto
Sekjen P4WB
Salam Wajah Bangsa
Bakti Bumi Madani