TOKOH

tokoh

TOKOH

Jumat | 26 April 2019 | 17:33

AMIEN RAIS, Cendekiawan Berjuluk ‘King Maker’

MEDIAKEPRI.CO.ID – Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais adalah politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Ketua MPR periode 1999—2004. Jabatan ini dipegangnya sejak ia dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999 pada bulan Oktober 1999.

Namanya mulai mencuat ke kancah perpolitikan Indonesia pada saat-saat akhir pemerintahan Presiden Soeharto sebagai salah satu orang yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Setelah partai-partai politik dihidupkan lagi pada masa pemerintahan Presiden Habibie, Amien Rais ikut mendeklarasikan Partai Amanat Nasional (PAN). Ia menjabat sebagai Ketua Umum PAN dari saat PAN berdiri sampai tahun 2005.

Sebuah majalah pernah menjulukinya sebagai King Maker. Julukan itu merujuk pada besarnya peran Amien Rais dalam menentukan jabatan presiden pada Sidang Umum MPR tahun 1999 dan Sidang Istimewa tahun 2001. Padahal, perolehan suara partainya, PAN, tak sampai 10% dalam pemilu 1999.

Lahir di Solo pada 26 April 1944, Amien dibesarkan dalam keluarga aktivis Muhammadiyah. Orangtuanya, aktif di Muhammadiyah cabang Surakarta. Masa belajar Amien banyak dihabiskan di luar negeri. Sejak lulus sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada 1968 dan lulus Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1969), ia melanglang ke berbagai negara dan baru kembali tahun 1984 dengan menggenggam gelar master (1974) dari Universitas Notre Dame, Indiana, dan gelar doktor ilmu politik dari Universitas Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

Kembali ke tanah air, Amien kembali ke kampusnya, Universitas Gadjah Mada sebagai dosen. Ia bergiat pula dalam Muhammadiyah, ICMI, BPPT, dan beberapa organisasi lain. Pada era menjelang keruntuhan Orde Baru, Amien adalah cendekiawan yang berdiri paling depan. Tak heran ia kerap dijuluki Lokomotif Reformasi. (wikipedia.org)

Politikus Berintelektual dan Revolusioner

MEDIAKEPRI.CO.ID – Bangsa Indonesia bangga memiliki seorang pahlawan yang bernama Sutan Syahrir. Tidak salah negara menyematkan gelar pahlawan kepada lelaki kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat ini.

Pria yang menutup usianya di Zurich, Swiss meninggal dunia 9 April 1966 ini adalah seorang politikus yang memiliki intelektual, perintis, dan revolusioner kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947.

Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Sutan Syahrir yang lahir pada 5 Maret 1909 ini ditetapkan sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 April 1966 melalui Keppres nomor 76 tahun 1966. (wikipedia.org)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Dua instansi penegak hukum, Kejaksaan Agung dan Kepolisian selalu menjadi tercoreng akibat adanya ulah oknum yang menodai. Banyak peristiwa yang ditayangkan televisi ke seluruh Tanah Air mencederai citra kedua instansi penegak hukum tersebut. Masyarakat bertanya apakah tidak ada jaksa dan polisi yang profesional sekaligus amanah.

Apabila ditengok sejarah penegakan hukum yang dilakukan kedua instansi ini, terbukti bahwa tidak semua aparat itu busuk. Kita menyaksikan tokoh jaksa dan polisi yang patut diteladani dan juga layak diangkat sebagai pahlawan nasional.

BACA JUGA

Senyum Ramah Kejari Natuna di Hari Anti Korupsi

Alat Fitnes Dispora Center Dimanfaatkan Warga

Jadikanlah Hatimu Bagai Sebuah Telaga

Mereka adalah Jaksa Agung Soeprapto dan Jenderal Polisi Hoegeng. Berikut pemaparan dua tokoh ini seperti yang disadur dari lipi.go.id

Soeprapto

Raden Soeprapto lahir di Kediri, 27 Maret 1897. Ayahnya juru tulis pada asisten residen Trenggalek, kemudian asisten wedana di Nganjuk. Karena itu, dia dapat menempuh pendidikan yang lumayan. Dia bersekolah di HIS (Hollands Inlandse School) dan ELS (Europese Lagere School). Lulus dari ELS, Soeprapto memilih Rechtsschool di Koningsplein Zuid 10 (sekarang Merdeka Selatan) Jakarta. Selepas dari Rechtsschool, Soeprapto memilih langsung bekerja. Sebagai anak paling tua, dia merasa punya tanggung jawab untuk dapat segera membantu orang tua.

Soeprapto adalah seorang jaksa/hakim karier. Sejak 31 Mei 1917, dia menjadi staf ketua Pengadilan Negeri Tulungagung setelah sebelumnya bertugas di Surabaya, Semarang, Demak, Purworejo, Bandung, Banyuwangi, Singaraja, Denpasar, Mataram (Lombok), Cirebon, dan Salatiga. Ketika Jepang menyerbu Maret 1942, Soeprapto menjabat kepala Pengadilan Pekalongan hingga agresi militer Belanda pertama pada 1947. Karena memilih sikap nonkooperatif, dia mengungsi ke wilayah Republik di Yogyakarta. Sebelum dilantik sebagai jaksa agung, 28 Desember 1950, dia menjadi hakim anggota Mahkamah Agung. Soeprapto wafat 2 Desember 1964.

Bangun Regenerasi, GMNI Komisariat Stisipol Rekrut Anggota

Meski berada di bawah Menteri Kehakiman, Jaksa Agung Soeprapto tidak takut menyidangkan mantan Menteri Kehakiman Djody Gondokusumo. Pada 2 Januari 1956, Djody divonis 1 tahun penjara potong masa tahanan karena terbukti menerima suap Rp40 ribu. Soeprapto bukan kader partai dan tidak takut mengadili petinggi partai. Bukan hanya tokoh nasionalis seperti Roeslan Abdulgani yang diperiksa, melainkan juga tokoh Islam seperti K.H. Masykur (mantan menteri agama dalam kasus dugaan korupsi kain kafan dari Jepang), Kasman Singodimejo (kasus penghasutan di depan umum).

Dari golongan kiri kasus D.N. Aidit (pencemaran nama baik Bung Hatta), Sidik Kertapati (dugaan makar). Dari partai sosialis, mantan menteri ekonomi Sumitro Djojohadikusumo diperiksa karena kasus pencemaran nama baik. Dari etnis Tionghoa, yaitu Lie Kiat Teng (mantan menteri kesehatan) dan Ong Eng Die (mantan menteri keuangan), keduanya dalam kasus dugaan penyalahgunaan jabatan.

Peringatan HAK, Generasi Milenial Jadi Sasaran Kejaksaan

Tokoh daerah yang diadili adalah Sultan Hamid Algadrie II (dalam kasus makar yang melibatkan Westerling). Wartawan senior yang ketika itu pernah diperiksa pengadilan adalah Asa Bafagih, Mochtar Lubis, B.M. Diah dan Naibaho (Pemred Harian Rakyat). Orang asing yang diadili adalah Schmidt dan Jungschlager.

Pemeriksaan atas sejumlah pejabat tinggi, pengadilan terhadap bekas pejabat teras dan pengusaha kakap yang berkongkalikong dengan pejabat ada sekitar 30 kasus, membuat dia tidak disukai politisi. Walau pakar Indonesia dari Washington University, almarhum Daniel Lev, mengakui “Pak Prapto itu memang luar biasa, ia sangat jujur dalam menjalankan tugas “.

Dia juga keras dalam mendidik anak-anak. Putrinya Sylvia pernah diberi dua gelang emas besar oleh seorang warga Pakistan di halaman rumahnya. Soeprapto marah. Dia menyuruh putrinya mengembalikan pemberian itu.

Hoegeng

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid pernah bercanda, “Di negeri ini ada dua polisi yang tidak bisa disuap yakni polisi tidur dan Hoegeng. ” Bukan untuk kalangan polisi saja, melainkan masyarakat umum pun dapat belajar dari kisah kehidupan Jenderal Hoegeng.

Hoegeng lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Nama pemberian ayahnya adalah Iman Santoso, waktu kecil ia sering dipanggil bugel (gemuk), lama kelamaan menjadi bugeng dan akhirnya berubah jadi hugeng. Setelah dewasa bahkan sampai tua, ia tetap kurus.

Pemerintah dan Pengusaha Bertemu, Ada Titik Temu Rimba Jaya

Ayahnya Sukario Hatmodjo pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan; bertiga dengan Ating Natadikusumah, kepala polisi dan Soeprapto ketua pengadilan mereka menjadi trio penegak hukum yang jujur dan profesional. Ketiga orang inilah yang memberikan andil bagi penumbuhan sikap menghormati hukum bagi Hoegeng kecil, bahkan karena kekaguman kepada Pak Ating–yang gagah, suka menolong orang dan banyak teman–Hoegeng pun bercita-cita menjadi polisi.

Setelah lulus PTIK tahun 1952, Hoegeng ditempatkan di Jawa Timur. Penugasannya yang kedua sebagai kepala reskrim di Sumatera Utara yang menjadi batu ujian bagi seorang polisi karena daerah ini terkenal dengan penyelundupan. Hoegeng disambut secara unik, rumah pribadi dan mobil telah disediakan oleh beberapa cukong perjudian. Ia menolak dan lebih memilih tinggal di hotel sebelum dapat rumah dinas. Masih ngotot, rumah dinas itu kemudian juga dipenuhi perabot oleh tukang suap itu. Kesal, ia mengultimatum agar agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi dan karena tidak dipenuhi akhirnya perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir jalan. Maka gemparlah kota Medan karena ada seorang kepala polisi yang tidak mempan disogok.

Kampung Tua Penagi, Bukan Kampung Biasa

Setelah sukses bertugas di Medan, Hoegeng kembali ke Jakarta. Untuk sementara ia dan istri menginap di garasi rumah mertuanya di Menteng. Kemudian ia ditugaskan sebagai kepala Jawatan Imigrasi. Sehari sebelum diangkat, ia menutup usaha kembang istrinya di jalan Cikini karena khawatir orang-orang yang berurusan dengan imigrasi sengaja memborong bunga untuk mendapatkan fasilitas tertentu.

Selepas dari sini atas usul dari Sultan Hamengku Buwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara dalam kabinet Seratus Menteri Juni 1965. Tahun 1966 ia kembali ke kepolisian sebagai deputi operasi dan tahun 1968 menjadi panglima angkatan kepolisian. Dalam jabatan ini terjadi beberapa kasus yang menarik perhatian publik seperti Sum Kuning, tewasnya mahasiswa ITB Rene Coenrad dan penyelundupan Robby Tjahyadi. Keuletan menuntaskan kasus besar itu menyebabkan Hoegeng suatu saat berhadapan dengan lingkaran dekat Presiden. Hoegeng tetap konsisten. Akibatnya ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto walaupun masa jabatannya sebetulnya belum berakhir. Sebelumnya Hoegeng juga merintis pemakaian helm bagi pengendara kendaraan bermotor yang ketika itu menjadi polemik. Kini terasa bahwa instruksi itu memang bermanfaat.

Pemerintah Cina Datangi Kejari Batam Terkait 4 Warganya

Hoegeng ditawari jabatan duta besar di sebuah negara Eropa tetapi ia menolak. Alumnus PTIK tahun 1952 ini lebih senang jadi orang bebas, ia tampil dengan grup musik Hawaian Senior di TVRI, satu-satunya saluran televisi masa itu. Tetapi musik barat dengan kalungan bunga itu dianggap kurang sesuai “kepribadian nasional ” oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo sehingga ia tidak boleh tampil lagi. Kemudian Hoegeng bergabung dengan rekan-rekannya yang kritis dalam Petisi 50. Ia tetap sederhana. Ketika rapat kelompok ini di rumah Ali Sadikin, tidak jarang Hoegeng naik bajaj.

Apa yang mendorong Hoegeng menjadi tokoh yang bersih dan antikorupsi Barangkali pendiriannya yang ditanamkan oleh ayahnya bahwa “yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan “. Ayahnya seorang birokrat yang sampai akhir hayatnya tidak sempat punya tanah dan rumah pribadi. Mantan Jaksa Agung Soeprapto dan Jenderal Hoegeng layak diangkat menjadi pahlawan nasional. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sutardji Cholzum Bakri, penyair yang terkenal dengan karya kreatifnya berjulukan ‘kredo puisi’. Membawa corak baru kepenyairan sastra Indonesia. Dalam sejarah sastra Indonesia mencatat, Sutardji berhasil membawa dan berjalan dijalan ke-puisi-anya.

BACA: Tembakan Lee Harvey Oswald Tewaskan John F Kennedy

Sebelum saya melanjutkan essay ini, saya ingin mengucapkan ‘Tabek Dato’. Sebuah ungkapan transenden dalam kultur luhur Melayu. Sekaligus kepada, Sutardji Cholzoum Bakri.

Sutardji, ketika berada di pusat imperium Kerajaan Lingga Riau yang pernah berjaya dimasanya, tepatnya di kota kecil yang disebut Daik, memberikan kesan kepuitisan tersendiri. Bahkan kesan tersebut memberi aura baru. Seumpama spiritual yang tak pernah padam.

BACA: I Gusti Ngurah Rai Meninggal Dunia Usia 29 Tahun

Sutardji, di mata penulis, bukan lagi sebagai penyair, penyihir, atau pembaca mantra, namun lebih dari itu, Sutardji seperti rasa kekaguman. Bersuanya penulis dengan Sutardji di tanah yang menyimpan semangat jiwa-jiwa kesultanan tersebut, memberikan preseden baru atas sebuah analogi kesadaran. Atas nalar intuitif sebagai seorang yang disebut sebagai penetak kerja kreatif yang terus mengalir seperti karyanya yang berjudul “Q”. Karya yang padat makna, seakan mengajak untuk terus berkarya, sebagai proses humanisme di tengah belantara kemanusiaan.

BACA: Columbus, Penjelajah Dunia Pertama Injak Kaki di Puerto Rico

Hari ini, nyaris hampir sekitar satu tahun yang lalu, Kota Daik dikunjungi bersama oleh sejumlah tokoh-tokoh. Baik budayawan, sastrawan, yang menyinta, meraih akan sebuah rasa kata ‘Melayu’. Berkumpul bersama untuk kembali membangun dan melestarikan fondasi, atas harfiahnya kata bangsa, dan bahasa Melayu pada perhelatan yang digadang-gadangkan dengan nama Tamadun Melayu.

BACA: Islam Banyak Dipengaruhi Hal Mistik, Ahmad Dahlan Dirikan Muhammadiyah

Sutardji Cholzum Bakri,sumbangsihnya menghadiri langsung perhelatan tersebut di Kota Daik. Sutardji, yang tidak diragukan lagi sebagai tokoh atau yang berjuang melalui logika ‘kalam’ seakan terpesona dengan alam Daik. Sebuah alam yang indah.

Sekilas, tubuh Sutardji, dengan pancaran mata yang membawa aura spirit, tidak kalah oleh kerentaan usia. Semangat berkalam seakan tak pernah padam di jiwanya. Apa lagi semangat tersebut diasup kadar oksigen yang tiada polusi. Alam yang jauh dari kebisingan, kehingar-bingaran, duduk bersama di kota kecil yang awalnya dibangun oleh Sultan Mahmut sekitar akhir abad 16-an dan awal abad ke-17-an.

BACA: Ini Sejarahnya, Kenapa 22 Oktober Jadi Hari Santri Nasional

Tanah Daik yang menyimpan cahaya keemasan Melayu seakan terus bergeliat. Seiring perkembangan dari pusat kerajaan Lingga-Riau, hingga kini sebagai kota administratif atau disebut pusat kota Kabupaten Lingga. Namun, rasa ‘Melayu’ terus dinukilkan sebagai spirit dalam mengisi pembangunan kota budaya yang modern dan maju.

Menariknya, sejarah Daik terus diperbaharui melalui ‘kalam’ yang tidak hilang dari acuan makna Melayu. Yang mana, dalam berbagai catatan sejarah, imperium Melayu berjaya membangun sebuah bangsa yang berbudaya di kota Daik. Bangsa yang penuh sopan santun, dan pekerti mulia serta melestarikan warisan budaya bangsa melalui poin poin etiknya.

BACA: Sejarah Lahirnya Rupiah

Perjalanan panjang sejarah Kota Daik juga merupakan sejarah bangsa Melayu dan serumpunnya. Meski di awal abad ke-19-an, imperium tersebut seolah-olah ter-reduksi akibat kolonialisasi yang pernah mengagresi kejayaanya. Namun, bangsa Melayu dengan kharismatiknya terus mengasimilasi kebentuk yang elastis, adab maupun peradaban Melayu.

Daik terus bergeliat. Seumpama bunga yang bermahkota. Bersinar di ufuk pantai timur Sumatera. Dengan khasanah dan berbudaya. Hingga kini, tanah yang diracik oleh kelenturan tangan Sultan Mahmud tersebut diprediksi berusia sudah 350 tahun lebih. Semakin bercahaya di tengah geliat perkembangan zaman.

BACA: Panglima Terhebat dalam Sejarah Dunia Itu, Napoleon Bonaparte Wafat Diusia 52 Tahun

Pandangan Sutardji, kota kecil tersebut pantas diberikan sanjungan pada tataran nilai yang tak bisa diangkakan. Bahkan Sutardji melihat semangat immanen yang dalam, untuk spirit sebagai unsur hara pedoman kemajuan bangsa Melayu untuk masa akan datang. Sebagaimana penulis mengutip kata-kata Sutardji.

“Di sini, di Lingga. Kita dekat dengan Tuhan,” tutur Sutardji.

Menurut Sutardji, kalimat tersebut bukan tanpa alasan. Kedekatannya dengan Tuhan, apa lagi di Lingga, karena Lingga kota yang hening. Normal tanpa polusi.

“Lingga hening, normal. Alamnya tanpa polusi,” ujarnya lagi dalam intonasi yang saklek, dengan pengucapan yang datar, namun memberikan rasa spiritualitas seorang manusiawi yang teraksesi kepada yang cosmic atau keilahian.

“Itulah kebesaran (Nya),”sambungnya lagi.

BACA: Pesona Bersejarah dan Ragam Cerita di Lawang Sewu

Ketika ucapan tersebut mengalir di telinga penulis, terdengar nilai yang tak terbantahkan. Sebagaimana spiritualitas yang dialirkan kepada penulis dalam obrolan singkat di gedung Anjungan Negeri Daik Lingga tempat diselenggarakannya perhelatan Tamadun Melayu yang pertama pada tahun 2017.

Hari ini, kontemplasi Sutardji, dapat penulis terima dan diambil intisari dan harfiahnya. Bagi penulis, apa yang disampaikan Sutardji, sebuah nalar intuitif yang semua kita disadarkan bahwa, ekskalasi imperium ‘Melayu’ di Kota Daik-Lingga sudah sewajarnya menjadi nilai transenden baru yang bertumbuh, tak pernah padam dan masih lestari sejak berdirinya Kota Daik yang masyarakatnya adalah Bangsa Melayu.

BACA JUGA: 

Meskipun perubahan zaman terus berlalu, namun ciri khas khasanah bangsa Melayu berkembang seumpama mekar mahkota. Bergeliat. Sebagaimana dalam salah satu bait pantun terus bergema dalam akal budi leluhur Melayu yakni “Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang berganti, Tak Kan Melayu Hilang di Bumi,”.

Pantun tersebut, menyenaraikan bahwa bangsa Melayu yang kharismatik, serta kejayaanya, maupun pusat geografisnya. Menumbuhkan cita rasa adab yang elastis dan lestari. Hingga kini Daik, memberikan rasa yang baru, yang musti tetap dijaga ke-adab-nya hingga tinggi dan abadi selama-lamanya. Seperti yang dikatakan Sutardji, “Di Daik, kita dekat dengan Tuhan,” takzimnya.

Penulis
Nofriadi Putra. Alumni Sastra Indonesia UNP. Lahir di 50 Kota, Tahun 1983

MEDIAKEPRI.CO.ID – Bagi umat muslim di dunia, dan Indonesia khususnya, begitu dengan baik mengenal sosok ustaz satu ini.

Siapa tak kenal Ustaz Abdul Somad? Dai asal Sumatera ini dengan penampilannya yang sederhana dan seadanya.

Kurang lebih, satu tahun belakangan, nama Ustaz Abdul Somad, yang akrab disapa UAS ini mendadak meroket dan dielu-elukan banyak orang.

Ada beberapa faktor yang membuat publik begitu mengidolakan Ustaz Abdul Somad. Selain karena kesederhanaannya, UAS juga dikenal kaya akan ilmu agama.

Adapun faktor lainnya adalah UAS selalu bisa menyelipkan unsur humor di setiap perkataannya.

Selain bisa menghibur jemaah, isi ceramah Ustaz Abdul Somad pun berbobot.

UAS memang bukan orang sembarangan. Ia merampungkan pendidikan S1 dan S2 di luar negeri dalam waktu singkat dengan usaha yang luar biasa.

Ustaz Abdul Somad mendapat gelar Lc dari Universitas Al Azhar Mesir.

Sedangkan gelar S2-nya didapat dari Institut Dar Al-Hadis Al-Hassania Kerajaan Maroko.

Pria yang kerap berpenampilan sederhana itu tamat dari Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, Indragiri Hulu pada tahun 1996.

Dua tahun berselang, ia masuk dalam daftar 100 orang yang menerima beasiswa belajar di Al Azhar, Mesir.

Ustaz Abdul Somad mendapatkan gelar Lc dalam waktu tiga tahun 10 bulan.

Pada tahun 2004, Ustaz Abdul Somad mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko.

Institut tersebut hanya menerima 20 orang setiap tahunnya, yang terdiri dari 15 orang asal maroko dan sisanya untuk asing.

Ustaz Abdul Somad kemudian masuk daftar kuota lima orang asing tersebut.

Jonru Ginting dalam tulisannya menyebut Ustaz Abdul Somad sebagai sosok ustaz yang berkompeten di bidangnya.

Menurutnya, Ustaz Abdul Somad bukan tipe penceramah yang kharismatik. Hal itu rasanya memang benar. Ustaz Abdul Somad kerap berpakaian sederhana ketika tampil di hadapan jemaah.

Pakaiannya pun tidak mencerminkan sosok penceramah dengan gaya timur tengah dengan jubah putih dan sorban.

“Beliau juga bukan tipe ustadz stereotif (maksudnya kelihatan banget gayanya seperti ustadz pada umumnya). Gaya beliau biasa saja. Seperti orang kebanyakan. Mendengar ceramah beliau, kita seperti mendengar ucapan orang biasa yang kebetulan pintar di bidang agama,” tulis Jonru Ginting.

Jonru Ginting menyebut sosok Ustaz Abdul Somad sebagai ustaz hasil ‘kawin silang’.

Maksud sebutan itu adalah Ustaz Abdul Somad mampu memadukan antara menjadi ustaz lucu dan ustaz berkualitas.

Selain ceramah, Ustaz Abdul Somad diketahui telah menulis beberapa buku.

Buku tersebut di antaranya 37 Masalah Populer, 99 Pertanyaan Seputar Sholat, dan 33 Tanya Jawab Seputar Qurban.

Ia juga pernah menerjemahkan buku dari bahasa Arab menjadi bahasa Indonesia.

Luar biasa bukan ustaz yang satu ini?

Belum lengkap rasanya bila membahas kisah Abdul Somad sedari dulu tanpa mengetahui potretnya saat masih muda.

Senyum dan tatapan Abdul Somad muda tidak beda jauh dengan sekarang, hanya kondisi fisiknya saja yang berubah karena faktor usia.

Banyak netizen yang menyebut sosok Abdul Somad saat muda terlihat tampan.

“Masha’allah, mudanya ganteng sekali ustadz,” tulis pemilik akun Instagram agileiga.

“Lumayan tampan rupanya dulu,” komentar pemilik akun aniq_nabila.

Penasaran seperti apa?

Berikut TribunJabar.id himpun 7 foto Ustaz Abdul Somad saat masih muda:

1. Ospek

Ini adalah potret Abdul Somad dan teman-temannya ketika ospek di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau pada tahun 1996.

Istimewa

2. Tahun 1998

Momen ketika Abdul Somad sedang pelatihan bahasa Arab sebelum berangkat ke Kairo tahun 1998.

Istimewa

3. Saat Musim Panas di Kairo 1998

Ini adalah momen kebersamaan UAS di KSMR (Kelompok Studi Mahasiswa Riau) Hay Tsamin, Kairo, Mesir saat musim panas tahun 1998. UAS paling kanan memakai kemeja kotak-kotak warna biru.

Istimewa

4. Tahun 2000

Momen Ustaz Abdul Somad berada di atas kapal Wadi Nil dari Terusan Suez menuju Jeddah saat musim haji tahun 2000.

Istimewa

5. Bersama Teman di Mesir

Foto ini dkiambil antara tahun 1998 hingga 2002 saat Abdul Somad berada di mesir.

Istimewa

6. Sebelum ke Kairo

Potret Abdul Somad dan teman-temannya yang memperoleh beasiswa Al-Azhar, Mesir. Foto ini diambil di kantor Departemen Agama sebelum para peraih beasiswa berangkat ke Kairo.

Istimewa

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Surastri Karma Trimurti, yang dikenal sebagai S.K. Trimuti atau S.K. Trimoerti sebagai Menteri Tenaga Kerja (Menaker) pertama di Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948 di bawah Perdana Menteri Indonesia Amir Sjarifuddin.

Wanita kelahiran di Solo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, 11 Mei 1912 ini adalah guru, wartawan dan penulis yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia terhadap penjajahan oleh Belanda.

S.K Trimurti pernah menempuh pendidikan di Noormal School dan AMS di Surakarta. Kemudian melanjutkan studinya di Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia (UI). Dia menjadi aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia selama tahun 1930, secara resmi bergabung dengan nasionalis Partindo (Partai Indonesia) pada tahun 1933, tak lama setelah menyelesaikan sekolahnya di Tweede Indlandsche School.

Trimurti memulai kariernya sebagai SD guru setelah meninggalkan Tweede Indlandsche School. Dia mengajar di sekolah-sekolah dasar di Bandung, Surakarta dan Banyumas pada 1930-an. Namun, dia ditangkap oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936 untuk mendistribusikan anti-kolonial leaflet s. Trimuti dipenjara selama sembilan bulan di Penjara Bulu di Semarang.

Trimurti beralih karier dari mengajar ke jurnalisme setelah dia dibebaskan dari penjara. Dia segera menjadi terkenal di kalangan jurnalistik dan anti-kolonial sebagai wartawan kritis. Trimurti sering digunakan berbeda, disingkat nama samaran dari nama aslinya, seperti ‘Trimurti atau Karma’, dalam tulisan-tulisannya untuk menghindari ditangkap lagi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Selama karier laporannya, Trimurti bekerja untuk sejumlah surat kabar Indonesia termasuk Pesat, Genderang, Bedung dan Pikiran Rakyat. Dia menerbitkan Pesat bersama suaminya. Dalam era pendudukan Jepang, Pesat dilarang oleh pemerintah militer Jepang. Dia juga ditangkap dan disiksa.

Trimurti, yang adalah seorang advokat terkenal hak-hak pekerja, diangkat sebagai pertama di Indonesia Menteri Tenaga Kerja di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Dia bertugas dalam kapasitas yang dari tahun 1947 sampai tahun 1948. Dia berada di Eksekutif Partai Buruh di Indonesia, dan memimpin sayap wanitanya.

Dia ikut mendirikan Gerwis, sebuah organisasi perempuan Indonesia, pada tahun 1950, yang kemudian berganti nama sebagai Gerwani. Dia meninggalkan organisasi pada tahun 1965. Dia kembali ke perguruan tinggi ketika ia berusia 41 tahun. Dia belajar ekonomi di Universitas Indonesia. Dia menolak janji untuk menjadi Menteri Sosial pada tahun 1959 dalam rangka untuk menyelesaikan gelar sarjana.

Trimurti adalah anggota dan penandatangan Petisi 50 pada tahun 1980, yang memprotes Soeharto penyalahgunaan Pancasila terhadap lawan politiknya. Para penandatangan Petisi 50 termasuk pendukung kemerdekaan Indonesia terkemuka serta pemerintah dan pejabat militer, seperti Trimurti dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

S. K. Trimurti meninggal pada 06:20 pada tanggal 20 Mei 2008, pada usia 96, di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) di Jakarta, Indonesia setelah dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Dia telah gagal dalam kesehatan dan terbatas ke kamarnya untuk tahun sebelumnya. Menurut anaknya, Heru Baskoro, Trimurti meninggal karena vena yang rusak. Dia juga telah menderita rendah hemoglobin level dan tekanan darah tinggi.

Sebuah upacara menghormati Trimurti sebagai “pahlawan untuk kemerdekaan Indonesia” digelar di Istana Negara di Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (***)

sumber: wikipedia.org

Abdul Kahar Muzakir Rektor Pertama UII

MEDIAKEPRI.CO.ID – Prof. KH. Abdoel Kahar Moezakir atau ejaan baru Abdul Kahar Muzakir, adalah Rektor Magnificus yang dipilih Universitas Islam Indonesia (UII) yang pertama dengan nama STI. Ia menjabat sebagai rektor UII selama dua periode yaitu sejak 1945 – 1948 dan 1948 – 1960. Abdul Kahar Muzakir juga merupakan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Tokoh Islam yang pernah menjadi anggota Dokuritsu Zunby Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) ini pula yang tetap dipertahankan ketika UII dihadirkan sebagai pengganti STI pada 4 Juni 1948. Pada masa sekarang ia diusulkan untuk dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Ia lahir di Yogyakarta pada tahun 1908. Abdul Kahar melanjutkan pendidikan pesantren di Mambaul Ulum di Solo. Sementara itu, pendidikan lanjutannya ia selesaikan di pesantren Jamsaren di Jawa Tengah dan Pesantren Tremas di Jawa Timur, tempat terakhir pendidikan formalnya di Indonesia.

Pada tahun 1925, saat ia masih berusia 16 tahun, Abdul Kahar melanjutkan pendidikannya di Kairo, Mesir. Di Kairo ia memasuki Darul Ulum sebuah fakultas baru pada Universitas Fuad (sekarang Kairo), dan lulus dari Universitas tersebut pada tingkat lanjut dalam Hukum Islam, Ilmu Pendidikan, Bahasa Arab dan Yahudi tahun 1936.

Sepulangnya ke Indonesia, Abdul Kahar sudah mulai terjun ke dalam dunia politik Indonesia. Ia bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII) saat usianya menginjak 28 tahun. Di PII ia terpilih menjadi salah satu komisaris hingga tahun 1941.

Ketika masih pada pendudukan Jepang, Abdul Kahar menjabat sebagai Wakil Ketua di Departemen Agama. Abdul Kahar juga pernah menjabat sebagai Dewan Penasehat Pusat, yang kemudian membawanya berada di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), mewakili organisasi Islam.

Dua bulan menjelang kemerdekaan Ia menjadi subkomite BPUPKI, dan bersama 9 anggota lainnya, termasuk Soekarno dan Hatta, ia ikut menandatangani “Piagam Jakarta”, Mukaddimah tidak resmi Undang-Undang Dasar 1945.

Setelah masa kolonial, Abdul lebih berfokus pada perkembangan serta memajukan dunia pendidikan (tinggi) Islam di Indonesia. Abdul memiliki peran besar dalam pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI), ketika menjelang berakhirnya masa pendudukan Jepang. Ia pula yang akhirnya bersama Moh. Hatta memimpin lembaga pendidikan ini.

Hatta berperan sebagai direktur Badan Usahanya, dan Abdul merupakan rektor pertamanya. Pada tahun 1946, STI dipindahkan ke Yogyakarta. Yang kemudian pada tanggal 10 Maret 1948 berganti nama menjadi Unversitas Islam Indonesia (UII). Selain itu, beliau juga pernah ikut berpartisipasi mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta, yang sekarang dikenal sebagai IAIN Sunan Kalijaga itu.

Bagi UII, ia mempunyai arti amat penting. Selain memang ia sendiri termasuk pendirinya, Prof. Abdul Kahar Muzakkir merupakan orang pertama dan terlama yang pernah memegang jabatan rektor yang dipegangnya selama tak kurang dari 12 tahun (1948–1960).

Abdul Kahar Muzakir meninggal dunia di Yogyakarta pada tahun 1973 dalam usia 65 tahun. Ia meninggal karena serangan jantung.

sumber: wikipedia.org/tirto.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Istri Firli, Ardina Safitri mengaku kehidupan dirinya bersama dengan pria yang baru saja dilantik menjadi Deputi Bidang Penindakan KPK itu, jauh dari kata mewah.

Bahkan, dia merasa selama ini dirinya terbilang sederhana.

“Tidak tahu ya, saya sih merasa selama ini biasa saja. Kehidupan kami juga sederhana saja,” ucapnya usai pelantikan suaminya di Gedung Penunjang KPK, Jakarta, Jumat, 6 April 2018.

Tidak jarang, kata dia, Firli memasak makanan sendiri untuk dirinya dan keluarga. Masakan yang paling diandalkan adalah nasi goreng.

Menurut Ardina, masakan nasi goreng buatan suaminya begitu khas. Membuat dia dan anak-anaknya kangen.

“Ya pasti lah. Saya dan anak-anak tinggal di Bekasi. Kadang kangen juga masakan nasi goreng bapaknya. Dia masak sendiri,” ungkapnya.

Ardina juga mengatakan tidak ada kendaraan mewah di garasi rumahnya. Hanya satu unit Toyota Innova yang terparkir.

Itu pun biasa dikendarai sendiri, tanpa sopir.

“Saya dan suami biasa kok nyetir sendiri,” ujarnya.

Ketua KPK, Agus Rahardjo secara khusus menyampaikan pesan kepada Firli dan istri, sebaiknya tidak memakai kendaraan dan pakaian yang mewah. Alasannya, akan menjadi kritik bawahannya.

“Disini kalau bawa mobil sedikit mewah, dikritik anak buah. Hal itu disesuaikan dengan emosi dan kultur di KPK. Itu tidak sulit, mudah dilakukan,” ujarnya.

Nantinya, kata Agus, KPK akan melakukan evaluasi terhadap kinerja dan sikap Deputi Penindakan secara 360 derajat.

Artinya, semua pihak yang berhubungan langsung dengan Firli dapat memberikan masukan dan kritik. Tidak terkecuali, bawahan dan pimpinan, termasuk rekan satu tim. (***)

sumber: tribunnews.com