TOKOH

MEDIAKEPRI.CO.ID – Bagi umat muslim di dunia, dan Indonesia khususnya, begitu dengan baik mengenal sosok ustaz satu ini.

Siapa tak kenal Ustaz Abdul Somad? Dai asal Sumatera ini dengan penampilannya yang sederhana dan seadanya.

Kurang lebih, satu tahun belakangan, nama Ustaz Abdul Somad, yang akrab disapa UAS ini mendadak meroket dan dielu-elukan banyak orang.

Ada beberapa faktor yang membuat publik begitu mengidolakan Ustaz Abdul Somad. Selain karena kesederhanaannya, UAS juga dikenal kaya akan ilmu agama.

Adapun faktor lainnya adalah UAS selalu bisa menyelipkan unsur humor di setiap perkataannya.

Selain bisa menghibur jemaah, isi ceramah Ustaz Abdul Somad pun berbobot.

UAS memang bukan orang sembarangan. Ia merampungkan pendidikan S1 dan S2 di luar negeri dalam waktu singkat dengan usaha yang luar biasa.

Ustaz Abdul Somad mendapat gelar Lc dari Universitas Al Azhar Mesir.

Sedangkan gelar S2-nya didapat dari Institut Dar Al-Hadis Al-Hassania Kerajaan Maroko.

Pria yang kerap berpenampilan sederhana itu tamat dari Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, Indragiri Hulu pada tahun 1996.

Dua tahun berselang, ia masuk dalam daftar 100 orang yang menerima beasiswa belajar di Al Azhar, Mesir.

Ustaz Abdul Somad mendapatkan gelar Lc dalam waktu tiga tahun 10 bulan.

Pada tahun 2004, Ustaz Abdul Somad mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko.

Institut tersebut hanya menerima 20 orang setiap tahunnya, yang terdiri dari 15 orang asal maroko dan sisanya untuk asing.

Ustaz Abdul Somad kemudian masuk daftar kuota lima orang asing tersebut.

Jonru Ginting dalam tulisannya menyebut Ustaz Abdul Somad sebagai sosok ustaz yang berkompeten di bidangnya.

Menurutnya, Ustaz Abdul Somad bukan tipe penceramah yang kharismatik. Hal itu rasanya memang benar. Ustaz Abdul Somad kerap berpakaian sederhana ketika tampil di hadapan jemaah.

Pakaiannya pun tidak mencerminkan sosok penceramah dengan gaya timur tengah dengan jubah putih dan sorban.

“Beliau juga bukan tipe ustadz stereotif (maksudnya kelihatan banget gayanya seperti ustadz pada umumnya). Gaya beliau biasa saja. Seperti orang kebanyakan. Mendengar ceramah beliau, kita seperti mendengar ucapan orang biasa yang kebetulan pintar di bidang agama,” tulis Jonru Ginting.

Jonru Ginting menyebut sosok Ustaz Abdul Somad sebagai ustaz hasil ‘kawin silang’.

Maksud sebutan itu adalah Ustaz Abdul Somad mampu memadukan antara menjadi ustaz lucu dan ustaz berkualitas.

Selain ceramah, Ustaz Abdul Somad diketahui telah menulis beberapa buku.

Buku tersebut di antaranya 37 Masalah Populer, 99 Pertanyaan Seputar Sholat, dan 33 Tanya Jawab Seputar Qurban.

Ia juga pernah menerjemahkan buku dari bahasa Arab menjadi bahasa Indonesia.

Luar biasa bukan ustaz yang satu ini?

Belum lengkap rasanya bila membahas kisah Abdul Somad sedari dulu tanpa mengetahui potretnya saat masih muda.

Senyum dan tatapan Abdul Somad muda tidak beda jauh dengan sekarang, hanya kondisi fisiknya saja yang berubah karena faktor usia.

Banyak netizen yang menyebut sosok Abdul Somad saat muda terlihat tampan.

“Masha’allah, mudanya ganteng sekali ustadz,” tulis pemilik akun Instagram agileiga.

“Lumayan tampan rupanya dulu,” komentar pemilik akun aniq_nabila.

Penasaran seperti apa?

Berikut TribunJabar.id himpun 7 foto Ustaz Abdul Somad saat masih muda:

1. Ospek

Ini adalah potret Abdul Somad dan teman-temannya ketika ospek di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau pada tahun 1996.

Istimewa

2. Tahun 1998

Momen ketika Abdul Somad sedang pelatihan bahasa Arab sebelum berangkat ke Kairo tahun 1998.

Istimewa

3. Saat Musim Panas di Kairo 1998

Ini adalah momen kebersamaan UAS di KSMR (Kelompok Studi Mahasiswa Riau) Hay Tsamin, Kairo, Mesir saat musim panas tahun 1998. UAS paling kanan memakai kemeja kotak-kotak warna biru.

Istimewa

4. Tahun 2000

Momen Ustaz Abdul Somad berada di atas kapal Wadi Nil dari Terusan Suez menuju Jeddah saat musim haji tahun 2000.

Istimewa

5. Bersama Teman di Mesir

Foto ini dkiambil antara tahun 1998 hingga 2002 saat Abdul Somad berada di mesir.

Istimewa

6. Sebelum ke Kairo

Potret Abdul Somad dan teman-temannya yang memperoleh beasiswa Al-Azhar, Mesir. Foto ini diambil di kantor Departemen Agama sebelum para peraih beasiswa berangkat ke Kairo.

Istimewa

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Surastri Karma Trimurti, yang dikenal sebagai S.K. Trimuti atau S.K. Trimoerti sebagai Menteri Tenaga Kerja (Menaker) pertama di Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948 di bawah Perdana Menteri Indonesia Amir Sjarifuddin.

Wanita kelahiran di Solo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, 11 Mei 1912 ini adalah guru, wartawan dan penulis yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia terhadap penjajahan oleh Belanda.

S.K Trimurti pernah menempuh pendidikan di Noormal School dan AMS di Surakarta. Kemudian melanjutkan studinya di Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia (UI). Dia menjadi aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia selama tahun 1930, secara resmi bergabung dengan nasionalis Partindo (Partai Indonesia) pada tahun 1933, tak lama setelah menyelesaikan sekolahnya di Tweede Indlandsche School.

Trimurti memulai kariernya sebagai SD guru setelah meninggalkan Tweede Indlandsche School. Dia mengajar di sekolah-sekolah dasar di Bandung, Surakarta dan Banyumas pada 1930-an. Namun, dia ditangkap oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936 untuk mendistribusikan anti-kolonial leaflet s. Trimuti dipenjara selama sembilan bulan di Penjara Bulu di Semarang.

Trimurti beralih karier dari mengajar ke jurnalisme setelah dia dibebaskan dari penjara. Dia segera menjadi terkenal di kalangan jurnalistik dan anti-kolonial sebagai wartawan kritis. Trimurti sering digunakan berbeda, disingkat nama samaran dari nama aslinya, seperti ‘Trimurti atau Karma’, dalam tulisan-tulisannya untuk menghindari ditangkap lagi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Selama karier laporannya, Trimurti bekerja untuk sejumlah surat kabar Indonesia termasuk Pesat, Genderang, Bedung dan Pikiran Rakyat. Dia menerbitkan Pesat bersama suaminya. Dalam era pendudukan Jepang, Pesat dilarang oleh pemerintah militer Jepang. Dia juga ditangkap dan disiksa.

Trimurti, yang adalah seorang advokat terkenal hak-hak pekerja, diangkat sebagai pertama di Indonesia Menteri Tenaga Kerja di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Dia bertugas dalam kapasitas yang dari tahun 1947 sampai tahun 1948. Dia berada di Eksekutif Partai Buruh di Indonesia, dan memimpin sayap wanitanya.

Dia ikut mendirikan Gerwis, sebuah organisasi perempuan Indonesia, pada tahun 1950, yang kemudian berganti nama sebagai Gerwani. Dia meninggalkan organisasi pada tahun 1965. Dia kembali ke perguruan tinggi ketika ia berusia 41 tahun. Dia belajar ekonomi di Universitas Indonesia. Dia menolak janji untuk menjadi Menteri Sosial pada tahun 1959 dalam rangka untuk menyelesaikan gelar sarjana.

Trimurti adalah anggota dan penandatangan Petisi 50 pada tahun 1980, yang memprotes Soeharto penyalahgunaan Pancasila terhadap lawan politiknya. Para penandatangan Petisi 50 termasuk pendukung kemerdekaan Indonesia terkemuka serta pemerintah dan pejabat militer, seperti Trimurti dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

S. K. Trimurti meninggal pada 06:20 pada tanggal 20 Mei 2008, pada usia 96, di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) di Jakarta, Indonesia setelah dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Dia telah gagal dalam kesehatan dan terbatas ke kamarnya untuk tahun sebelumnya. Menurut anaknya, Heru Baskoro, Trimurti meninggal karena vena yang rusak. Dia juga telah menderita rendah hemoglobin level dan tekanan darah tinggi.

Sebuah upacara menghormati Trimurti sebagai “pahlawan untuk kemerdekaan Indonesia” digelar di Istana Negara di Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (***)

sumber: wikipedia.org

Abdul Kahar Muzakir Rektor Pertama UII

MEDIAKEPRI.CO.ID – Prof. KH. Abdoel Kahar Moezakir atau ejaan baru Abdul Kahar Muzakir, adalah Rektor Magnificus yang dipilih Universitas Islam Indonesia (UII) yang pertama dengan nama STI. Ia menjabat sebagai rektor UII selama dua periode yaitu sejak 1945 – 1948 dan 1948 – 1960. Abdul Kahar Muzakir juga merupakan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Tokoh Islam yang pernah menjadi anggota Dokuritsu Zunby Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) ini pula yang tetap dipertahankan ketika UII dihadirkan sebagai pengganti STI pada 4 Juni 1948. Pada masa sekarang ia diusulkan untuk dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Ia lahir di Yogyakarta pada tahun 1908. Abdul Kahar melanjutkan pendidikan pesantren di Mambaul Ulum di Solo. Sementara itu, pendidikan lanjutannya ia selesaikan di pesantren Jamsaren di Jawa Tengah dan Pesantren Tremas di Jawa Timur, tempat terakhir pendidikan formalnya di Indonesia.

Pada tahun 1925, saat ia masih berusia 16 tahun, Abdul Kahar melanjutkan pendidikannya di Kairo, Mesir. Di Kairo ia memasuki Darul Ulum sebuah fakultas baru pada Universitas Fuad (sekarang Kairo), dan lulus dari Universitas tersebut pada tingkat lanjut dalam Hukum Islam, Ilmu Pendidikan, Bahasa Arab dan Yahudi tahun 1936.

Sepulangnya ke Indonesia, Abdul Kahar sudah mulai terjun ke dalam dunia politik Indonesia. Ia bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII) saat usianya menginjak 28 tahun. Di PII ia terpilih menjadi salah satu komisaris hingga tahun 1941.

Ketika masih pada pendudukan Jepang, Abdul Kahar menjabat sebagai Wakil Ketua di Departemen Agama. Abdul Kahar juga pernah menjabat sebagai Dewan Penasehat Pusat, yang kemudian membawanya berada di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), mewakili organisasi Islam.

Dua bulan menjelang kemerdekaan Ia menjadi subkomite BPUPKI, dan bersama 9 anggota lainnya, termasuk Soekarno dan Hatta, ia ikut menandatangani “Piagam Jakarta”, Mukaddimah tidak resmi Undang-Undang Dasar 1945.

Setelah masa kolonial, Abdul lebih berfokus pada perkembangan serta memajukan dunia pendidikan (tinggi) Islam di Indonesia. Abdul memiliki peran besar dalam pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI), ketika menjelang berakhirnya masa pendudukan Jepang. Ia pula yang akhirnya bersama Moh. Hatta memimpin lembaga pendidikan ini.

Hatta berperan sebagai direktur Badan Usahanya, dan Abdul merupakan rektor pertamanya. Pada tahun 1946, STI dipindahkan ke Yogyakarta. Yang kemudian pada tanggal 10 Maret 1948 berganti nama menjadi Unversitas Islam Indonesia (UII). Selain itu, beliau juga pernah ikut berpartisipasi mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta, yang sekarang dikenal sebagai IAIN Sunan Kalijaga itu.

Bagi UII, ia mempunyai arti amat penting. Selain memang ia sendiri termasuk pendirinya, Prof. Abdul Kahar Muzakkir merupakan orang pertama dan terlama yang pernah memegang jabatan rektor yang dipegangnya selama tak kurang dari 12 tahun (1948–1960).

Abdul Kahar Muzakir meninggal dunia di Yogyakarta pada tahun 1973 dalam usia 65 tahun. Ia meninggal karena serangan jantung.

sumber: wikipedia.org/tirto.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Istri Firli, Ardina Safitri mengaku kehidupan dirinya bersama dengan pria yang baru saja dilantik menjadi Deputi Bidang Penindakan KPK itu, jauh dari kata mewah.

Bahkan, dia merasa selama ini dirinya terbilang sederhana.

“Tidak tahu ya, saya sih merasa selama ini biasa saja. Kehidupan kami juga sederhana saja,” ucapnya usai pelantikan suaminya di Gedung Penunjang KPK, Jakarta, Jumat, 6 April 2018.

Tidak jarang, kata dia, Firli memasak makanan sendiri untuk dirinya dan keluarga. Masakan yang paling diandalkan adalah nasi goreng.

Menurut Ardina, masakan nasi goreng buatan suaminya begitu khas. Membuat dia dan anak-anaknya kangen.

“Ya pasti lah. Saya dan anak-anak tinggal di Bekasi. Kadang kangen juga masakan nasi goreng bapaknya. Dia masak sendiri,” ungkapnya.

Ardina juga mengatakan tidak ada kendaraan mewah di garasi rumahnya. Hanya satu unit Toyota Innova yang terparkir.

Itu pun biasa dikendarai sendiri, tanpa sopir.

“Saya dan suami biasa kok nyetir sendiri,” ujarnya.

Ketua KPK, Agus Rahardjo secara khusus menyampaikan pesan kepada Firli dan istri, sebaiknya tidak memakai kendaraan dan pakaian yang mewah. Alasannya, akan menjadi kritik bawahannya.

“Disini kalau bawa mobil sedikit mewah, dikritik anak buah. Hal itu disesuaikan dengan emosi dan kultur di KPK. Itu tidak sulit, mudah dilakukan,” ujarnya.

Nantinya, kata Agus, KPK akan melakukan evaluasi terhadap kinerja dan sikap Deputi Penindakan secara 360 derajat.

Artinya, semua pihak yang berhubungan langsung dengan Firli dapat memberikan masukan dan kritik. Tidak terkecuali, bawahan dan pimpinan, termasuk rekan satu tim. (***)

sumber: tribunnews.com