KARYA

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bali – Garam merupakan salah satu bahan pangan yang dibutuhkan oleh berbagai pihak baik untuk di konsumsi maupun untuk kebutuhan industri.

Pesisir Tejakula, Buleleng adalah salah satu sentra pembuatan garam di pulau Dewata.

Pada umumnya garam di buat dengan mengalirkan air yang akan dikumpulkan pada sepetak tanah atau tambak lalu dijemur, tinggal mengumpulkan dan mengambil hasilnya lalu di pasarkan. Berbeda tempat, berbeda pula proses pembuatannya.

Proses pembuatan garam di Desa Tejakula, Buleleng sangat unik dengan menggunakan tanah yang telah dicampur dengan air laut sebagai media untuk menyaring air tua yang akan dijemur diatas batang kelapa yang disebut palungan.

Proses pembuatan garam ini menghasilkan garam dengan kualitas yang bersih dan tidak pahit karena zat pahit tersebut diserap melalui pori-pori bilah kelapa.

Tak hanya itu, adanya inovasi produksi garam yang menjadi primadona dengan memanfaatkan rumah kaca dapat menghasilkan garam dengan bentuk piramid (pyramidion), bentuk kubus (dice) dan bentuk salju (snow).

Diolah secara tradisional dan tergantung dengan kondisi cuaca menjadikan produksi garam tidak menentu. Jika cuaca sedang bagus, produksi melimpah sebaliknya jika cuaca buruk, maka produksi garam tidak maksimal. Pendapatan wargapun menjadi tidak menentu dan cenderung untuk beralih profesi padahal proses pembuatan garam ini merupakan salah satu kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun.

Hal inilah yang menjadi acuan Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional yang terdiri dari Ni Made Ayu Natih Widhiarini selaku ketua, Ni Nengah Ariastini dan Ni Putu Feby Devira Permanita selaku anggota mengangkat penelitian yang berjudul “Desain Konsep Artifisial Pertanian Garam Palungan Sebagai Living Museum dalam Pengembangan Pariwisata Budaya dan Edukasi di Desa Tejakula” dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Kombinasi peran serta komunitas pesisir, kearifan lokal, dan pariwisata melalui pengembangan pariwisata budaya dan edukasi yang berbasis masyarakat (community based tourism) dapat dilakukan dengan mengembangkan museum berbasis kearifan lokal.

“Museum sebagai daya tarik wisata budaya sudah banyak dikembangkan di Bali yang diharapkan mampu berkontribusi terhadap pembangunan pariwisata berkelanjutan. Akan tetapi kebanyakan orang berpikir museum hanyalah tempat benda-benda mati. Yang ingin kami tonjolkan dengan konsep lving museum adalah adanya atraksi budaya dan kearifan lokal yang hidup dan bisa disaksikan secara langsung bahkan bisa ikut berpartisipasi di dalamnya,” ujar Natih selaku ketua kelompok.

“Dengan adanya konsep living museum dapat menjadi sumber budaya dan edukasi yang memadukan pengalaman belajar aktif dan pasif dalam desain penataan ruang pamer yang terbuka, penyediaan fasilitas workshop diharapkan wisatawan nantinya dapat melihat atraksi budaya dan kearifan lokal yang secara langsung dapat memberikan edukasi kepada wisatawan,” Papar Ariastini.

Tim PKM-KC (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta) telah mendapatkan Hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

“Kami berharap penelitian ini akan membawa manfaat bagi instansi dan masyarakat, yaitu dapat memberikan pertimbangan terkait upaya mengkonservasi kearifan lokal khususnya pertanian garam palungan yang dituangkan dalam bentuk desain konsep artifisial living museum sebagai pariwisata budaya dan edukasi di Desa Tejakula yang dapat mendukung pemerataan pariwisata berkelanjutan di bagian Bali Utara,” Tutup Feby. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Perkembangan teknologi manufaktur berjalan sangat cepat. Kemampuan alat-alat produksi semakin canggih.

Untuk itu, jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) membekali mahasiswanya dengan kapabilitas dan kompetensi yang memadai terkait penggunaan teknologi tinggi (hi-tech).

Teknologi Hi-tech ini kemudian dianfaatkan mahasiswa di semester awal untuk membuat komponen dalam mekanisme Automata.

Automata, adalah mainan mekanis yang menyuguhkan serangkaian gerakan otomatis. Suatu putaran akan membuat mainan ini begerak berkesinambungan, biasanya dirancang secara memikat dan menghibur.

Dosen jurusan Teknik Industri, Tigor Tambunan, mengatakan untuk membuat komponen Automata, mahasiswa harus membuat bagian-bagian alat yang berukuran kecil dan detail.

Alat-alat yang dibuat dari plastik, akrilik, metal, hingga kayu harus dibuat mahasiswa dengan memakai alat hi-tech layaknya di industri besar.

“Mahasiswa mempelajari cara-cara merancang sistem mekanisme alat-alat produksi dengan menggunakan teknologi Computer Aided Design (CAD), kemudian membuat produk-produk tersebut dengan menggunakan perangkat-perangkat berbasis CNC seperti mesin laser CNC dan mesin 3D printer,” kata Tigor, Sabtu 23 Juni 2018.

Proses perancangan dan pembuatan sistem mekanisme produksi yang disederhanakan dalam bentuk model mekanisme automata ini melibatkan proses analisis dan diskusi yang cukup intens antara mahasiswa di setiap kelompok dengan dosen.

“Banyak kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam proses pengerjaan tugas ini, mulai dari masalah keragaman karakteristik bahan, kompleksitas rancangan, termasuk karakteristik mesin yang ternyata juga bisa sangat bervariasi,” sambungnya.

Lewat model pembelajaran semacam ini, mahasiswa tidak hanya menguasai cara menggunakan alat-alat yang canggih, tapi juga memiliki kemampuan analisis dan kerja sama yang efektif.

“Pembelajaran mata kuliah proses manufaktur ini, diharapkan mahasiswa akan memiliki kapabilitas dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan pasar industri manufaktur di era Revolusi Industri 4.0,” jelasnya.

Rizky Wijaya (20) salah satu mahasiswa yang dinilai membuat mekanisme Automata yang unik mengungkapkan ia memilih membuat mekanisme Automata yang menunjukkan pergerakan tulisan dari hasil perputaran alat yang dibuatnya.

“Jadi setap papan yang ada tulisannya ini akan bisa bergerak bergerak kiri kanan atas bawah. Tetapi proses pemasangan agak susah, gear yang saya buat tidak pas,” urainya

Rizky dan teman-temannya mengungkapkan membuat alat ini dari panduan di You tube. Sebab mereka harus memikirkan konsep Automata yang komponennya akan mereka buat di laboratorium.

Amelia Chrisanta, salah satu mahasiswa perempuan mengungkapkan mengoperasikan alat hi-tech bukan lagi hal yang sulit. Karena saat ini alat sudah serba digital.

“Teknik Industri sekarang lebih mudah untuk pakai alatnya, karena serba otomatis. Tetapi kalau untuk pemasangan alatnya butuh waktu dan tenaga ekstra karena tenaganya manual,”pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

Aplikasi ini mempunyai tiga fitur utama terkait Pemilu.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Tim mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menjadi juara pertama dalam lomba Apps Challenge Sosialisasi Pilkada untuk Disabilitas Tunarungu yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat dan Telkom University di Bandung, Selasa, 24 April 2018.

Tim yang terdiri dari Fajar Maulana, Wardiman Perdian dan Yasmin Salamah, dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), ini mengembangkan aplikasi bernama SuaraKami. Atas prestasinya ini, ketiganya berhak membawa pulang hadiah senilai Rp 15 juta.

“SuaraKami adalah aplikasi pendukung sosialisasi pemilu. Dalam aplikasi ini ada paparan tentang tahapan pemilu dengan visual yang menarik hingga mudah dipahami. Kami siapkan tiga fitur utama yakni sosialisasi Calon Gubernur (Cagub), fitur edukasi yang menjelaskan apa saja yang perlu disiapkan sebelum pemilu seperti dokumen, sistematika Tempat Pemungutan Suara (TPS), sistematika coblos dan lainnya. Fitur ketiga adalah fitur Saat Anda di TPS,” ujar Yasmin dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id.

Ia menambahkan, fitur Saat Anda di TPS ini terinspirasi dari temannya yang menderita tunarungu. Temannya itu kehilangan hak suara karena tidak mendengar panggilan mencoblos.

Nah, fitur ketiga ini menuntun pengguna step by step saat ada di TPS. Fitur ini dilengkapi notifikasi berupa getaran di smartphone. Fitur ini hanya bisa diakses di hari H. Saat pengguna sudah ada di TPS, ada barcode yang harus diakses untuk memvalidasi partisipasi pengguna aplikasi.

Menurut Fajar Maulana, aplikasi ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Ada usulan penambahan fitur video yang memuat bahasa isyarat, perubahan barcode (karena penambahan barcode di TPS ditakutkan melanggar undang-undang) menjadi GPS dan peningkatan keamanan data pengguna.

“Ke depan, kami akan kerja sama dengan Gerkatin (komunitas penyandang tuna rungu) untuk mengajari kami konten bahasa isyarat sehingga aplikasi ini ramah digunakan oleh kawan rungu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, teknologi ini mengkonversi bahasa lisan menjadi bahasa tulisan dan bahasa tulisan menjadi bahasa isyarat. Jadi penyandang disabilitas terbantu dan bisa menggunakan hak pilihnya nanti pada Pilkada serentak 27 Juni 2018. Saat ini ada lebih dari 9.000 kawan rungu yang memiliki hak pilih pada Pilkada nanti. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Belitung – Komandala Putra nama laki-laki itu dipanggil, dibalik penampilannya yang sederhana, pria murah senyum tersebut memiliki kemampuan yang tak biasa.

Pria yang akrab disapa Koman itu ternyata menguasai 16 bahasa asing, ditambah lagi koman Bahasa Indonesia dan Belitung, hingga saat ini sudah 18 bahasa dikuasainya.

Koman sendiri mengaku belajar Bahasa asing diperlajari dari kampus, tempat kursus, buku dan internet.

Dari pengalaman tersebut koman Menyampaikan ada tiga tantangan yang paling sering orang temui saat belajar bahasa asing yaitu, Sulit mengingat kosakata baru, sulit mengingat rumus Dan tidak ada teman berlatih.

Untuk bisa mempelajari bahasa asing koman menerangkan harus memiliki motivasi yang keharusan. (***)

sumber: tribunnews.com

Metode Coarse to Fine Search (CFS) dapat menyelesaikan masalah multidimensi.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Kendala utama efisiensi bahan bakar pembangkit listrik terletak pada masalah sulitnya penghematan biaya listrik atau Economic Dispatch (ED). Hal ini disinyalir menyebabkan optimalisasi biaya pembangkitan sistem tenaga berskala besar sulit dicapai.

Persoalan ini mendorong Jangkung Raharjo, mahasiswa Program Doktor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menemukan metode Coarse to Fine Search (CFS) sebagai penanganan masalah tersebut. Hasil penelitiannya pun sudah ia presentasikan dalam sidang promosi doktor.

Promovendus yang akrab disapa Jangkung ini menjelaskan, masalah Economic Dispatch merupakan masalah multidimensi yang bergantung pada jumlah pembangkit yang dilibatkan. Hal tersebut menyebabkan optimalisasi biaya pembangkitan pada sistem tenaga berskala besar menjadi sebuah masalah yang rumit.

Ia juga menjelaskan, selama ini metode yang digunakan untuk menganalisa peminimalan biaya pembangkitan kurang optimal. “Metode yang selama ini digunakan belum mencapai biaya yang terendah namun sudah berhenti,” kata Jangkung dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu, 31 Maret 2018.

Berbekal ilmunya tentang telekomunikasi yang ia ambil ketika S2 dulu, akhirnya Jangkung menemukan ide untuk mencoba sebuah metode pengolahan video, yakni metode CFS. “Saya mencoba berinovasi pada metode ini karena saya merasa ada kemiripan antara variabel pengolahan video dengan variabel dalam masalah Economic Dispatch tersebut,” ujar Jangkung.

Selama ini, metoda CFS digunakan pada persoalan optimasi pengolahan sinyal informasi, khususnya pada pergerakan sinyal video. Bagi Jangkung, metode ini bisa juga digunakan untuk mengurangi kompleksitas sistem pembangkit, sehingga waktu komputasi lebih cepat.

Dosen di Telkom University Bandung ini pun berhasil membuktikan bahwa metode CFS dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah ED tersebut dengan jaminan konvergensi yang metode ini berikan. Selain itu, metode ini pun disinyalir dapat menyelesaikan persoalan multidimensi.

“Hal tersebut membuat metode ini dapat digunakan dalam dimensi tak terbatas,” kata Jangkung.

Untuk memvalidasi metode ini telah dilakukan pengujian pada sistem tenaga Jawa-Bali dengan tegangan 500 kilovolt (kV). Pada pengujian tersebut fakta menarik kembali ditemukan, yakni metode ini juga dapat memecahkan persoalan ED untuk fungsi obyektif yang berorde tinggi. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung menobatkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Bapak Pembangunan Pendidikan Teknologi Informasi Indonesia. SBY datang menerima piagam penghargaan tersebut di Unikom, Sabtu sore, 24 Maret 2018.

Rektor sekaligus pendiri Unikom, Eddy Soeryanto Soegoto mengatakan, penghargaan itu hasil wujud kepedulian SBY terhadap dunia pendidikan.

“SBY pemimpin yang sangat santun, sangat cerdas, sangat perhatian kepada rakyatnya khususnya kepada dunia pendidikan,” kata Eddy pada pidatonya.

SBY, menurut Eddy, membuktikannya selama memimpin. Tingkat pendidikan meningkat cepat dan tingkat pertumbuhan ekonomi 6-7 persen.

“Di dunia pendidikan, SBY bisa memotivasi mahasiswa untuk berkompetisi. Pada kontes robot nasional Unikom juara,” ujar Eddy.

Penghargaan diberikan setelah SBY selesai sebagai Presiden dua periode. Alasannya, kata Eddy, karena dia dan SBY dulu sama-sama sibuk.

“Ide penghargaannya ini cepat, dan beliau mau datang ke sini,” kata Eddy kepada Tempo seusai acara.

Pada akhir pekan ini SBY berkeliling tempat di Bandung antara lain untuk bertemu kader, pengusaha, dan ke lokasi wisata.

SBY mengaku senang dan bangga berada di Unikom yang disebutnya salah satu universitas terbaik di Indonesia.

“Tidak banyak universitas yang mendapat prestasi seperti ini,” katanya.

Unikom menurut SBY menjadi contoh sebagai tempat kelahiran putra-putri bangsa yang menguasai teknologi informasi.

Menurut SBY, pada 30 tahun terakhir ini Indonesia memasuki gelombang awal terbangunnya masyarakat informasi. SBY yang merujuk pada sebuah buku Alvin Toffler, Kejutan Masa Depan (Future Shock) menyebutkan, gelombang pertama itu masyarakat agraris, kedua industrial, dan ketiga masyarakat informasi.

“Awal abad ke-21 hidup dalam revolusi gelombang keempat dengan datangnya teknologi digital,” kata SBY. (***)

Orang tua umumnya mengambil strategi netral dalam investasi pendidikan untuk anak.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Orang tua umumnya mengambil strategi netral dalam investasi pendidikan untuk anak-anaknya, tidak memperhatian kemampuan kognitif anak. Kesimpulan itu berdasarkan penelitian mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi FEB UGM Adji Pratikto.

“Hal ini berarti orang tua berusaha untuk mengalokasikan sumber daya yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan kognitif anak-anaknya,” kata Adji Pratikto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 23 Maret 2018.

Paparan penelitian ini dilakukan Adji dalam rangka promosi ujian doktor dan melalui penelitian itu juga menunjukkan faktor gender memiliki pengaruh yang signifikan, yakni anak perempuan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudara laki-lakinya.

Adji menilai hal itu menarik dari perspektif ilmu ekonomi karena anak perempuan dipersepsikan memiliki penghasilan yang diperkirakan lebih rendah diandingkan dengan anak laki-laki.

Persepsi itu timbul karena banyak temuan di dalam penelitian yang memperlihatkan bahwa rata-rata tingkat upah pekerja perempuan lebih rendah dibandingkan dengan pekerja laki-laki.

“Kemungkinan orang tua mengambil strategi kompensasi dalam investasi pendidikan terkait dengan gender anak-anaknya tersebut,” kata Adji.

Selain itu, hasil penelitian mengungkapkan orang tua dari rumah tangga di Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap beasiswa dari institusi lain di luar sekolah.

Anak yang menerima beasiswa dari institusi lain akan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudaranya yang tidak menerima beasiswa.

Namun, beasiswa dari sekolah dalam bentuk pengurangan biaya sekolah tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Hal itu berarti pengurangan biaya sekolah masih belum mampu untuk mendorong orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya.

Dalam rumah tangga miskin, kemiskinan yang dialami oleh orang tua akan menghalangi anaknya untuk mengakses pendidikan yang diinginkan sehingga mereka tidak mampu bersaing di pasar kerja.

Oleh karena itu, peran pemerintah dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang mampu diakses oleh rumah tangga miskin menjadi satu kebutuhan dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. (***)

Sumber : republika.co.id

Komunitas ini menghimpun para alumni, para dosen dan pegawai, para mahasiswa

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sleman – Divisi Ekonomi, pengurus Ikatan Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Ikasuka) mendirikan komunitas berniaga keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang diberi nama Gerbang Kaliman.

Pendirian Gerbang Kaliman dimotori oleh Ketua Divisi Ekonomi Ikasuka, Taufik Aji, M.T., (Dosen Prodi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Wakil Dekan III (Bidang Kemahasiswaan dan kerjasama) Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Jafar Luthfi.

Menurut Taufik Aji, pemilihan nama Gerbang Kaliman memiliki nama gerbang adalah pintu, sedangkan kaliman (baca ka-5-an), terbentuk dari angka 5 yang mempunyai arti khusus bagi warga muslim dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pasalnya, rukun Islam, shalat lima waktu, Pancasila kesemuanya mengandung angka 5.

“Selain itu, gerbang dalam sengkalan Jawa bermakna angka 9, yang maknanya terhubung dengan Sunan Kalijaga yang merupakan Sunan ke-9. Gerbang Kaliman juga mengandung visi Gerak Membangun Keluarga Kalijaga Mandiri,” kata Taufik Aji, Rabu 21 Maret 2018.

Komunitas ini menghimpun para alumni, para dosen dan pegawai, para mahasiswa, keluarga para dosen dan pegawai yang respek terhadap dunia kewirausahaan. Baik mereka yang telah sukses menekuni dunia wirausaha, sudah mulai merintis, maupun yang mempunyai keinginan untuk merintis wirausaha.

Jafar Luthfi menambahkan, wadah ini akan sangat bermanfaat sebagai ajang sosialisasi dan inisiasi, belajar dan sharing bareng, bazar anggota bersama komunitas wirausaha lain, menemukan mentor bisnis, dan mempertemukan investor dengan pelaku usaha.

“Saat ini sudah lebih dari 200 pelaku wirausaha keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mendaftar bergabung menjadi anggota Gerbang Kaliman,” ujarnya.

Sebagai agenda awal, dalam waktu dekat ini akan diselenggarakan bazar gabungan antara sesama anggota Gerbang Kaliman dengan pelaku wirausaha alumnus UGM yang tergabung dalam Keluarga Gama Mandiri (KGM).

Selain itu juga akan digelar talkshow seputar kewirausahaan dengan menghadirkan narasumber pengusaha, investor, Kepala Selretariat KGM, Ipunk Purniant Rajiman, dan Dosenpreneur Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Maya Rahmayanti. Kegiatan ini rencana akan digelar pada Selasa 3 April 2018 di UIN Sunan Kalijaga. (***)

sumber: republika.co.id