PRESTASI

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Institut Teknologi Bandung melakukan invonasi yang patut diapresiasi tinggi.

Lantaran mampu mengembangkan pemanis alami glikosida steviol (stevia) dari daun tanaman stevia.

Tim peneliti dari staf dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) telah melakukan penelitian dengan topik “Pengembangan Proses Produksi Pemanis Alami Glikosida Steviol (Stevia) dari Daun Tanaman Stevia.”
Tim peneliti terdiri dari Rahmana Emran Kartasasmita, Elfahmi, Muhammad Insanu, dan As’ari Nawawi.

Rahmana Emran Kartasasmita menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh timnya sudah dimulai sejak 2012.

“Pada tahun tersebut, masih dilaksanakan dalam skala laboratorium. Pada tahun 2015 tim mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Kesehatan melalui program Fasilitasi Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) dan Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT),” ujarnya via keterangan tertulis, Selasa, 10 Juli 2018.

“Berkat pendanaan tersebut, penelitian dapat dilakukan pada skala yang lebih besar dengan menggandeng PT Kimia Farma sebagai industri mitra.”

Lebih lanjut Rahmana Emran menjelaskan, daun dan herbal tanaman stevia mengandung senyawa yang memiliki rasa manis (glikosida steviol, GS) dengan kadar cukup tinggi.

“Kemanisan senyawa GS mencapai 300 kali lipat dari gula sehingga GS yang diperoleh melalui ektraksi daun dan herbal tanaman Stevia ini banyak digunakan sebagai pemanis alami pensubstitusi gula, khususnya bagi yang memerlukan asupan kalori rendah,” ujarnya.

“GS sebagai pemanis alami sudah lama digunakan dan dinyatakan aman oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) sebagai organisasi international di bawah FAO dan WHO yang mengeluarkan berbagai standard dalam bidang pangan.”

Sebagai pemanis intensitas tinggi (high intense sweetener), GS memiliki tingkat kemanisan yang tinggi.

Pada kadar rendah, GS sudah mampu memberikan rasa manis yang memadai.

“Sebagai ilustrasi, untuk memaniskan satu cangkir minuman, cukup digunakan 30-40 mg GS yang lazimnya digunakan dalam bentuk sachet. Keunggulan lainnya, GS tidak memiliki nilai kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan gula darah setelah dikonsumsi,” kata Emran.

“Oleh karena itu, pemanis alami ini sesuai untuk digunakan oleh penderita diabetes maupun yang memerlukan asupan kalori rendah seperti yang sedang melakukan diet rendah kalori.”

Sayangnya, di Indonesia, pemanis alami tersebut masih sepenuhnya diimpor.

Padahal, tanaman bernama latin Stevia rebaudiana Bertoni ini bisa hidup dan cocok untuk ditanam di dataran tinggi di Indonesia, seperti di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung.

“Sampai sekarang, belum ada satu pun industri di Indonesia yang melakukan ekstraksi daun Stevia dan memproduksi GS sebagai pemanis alami pada skala komersial,” kata Rahmana Emran.

Proses ekstraksinya, sambungnya, daun hasil panen yang telah dipetik petani kemudian disortir dan dikeringkan terlebih dahulu.

Setelah kering lalu dirontokkan daunnya dari tangkai.

Kemudian, dilanjutkan proses penghancuran menggunakan mesin agar lebih halus berbentuk bubuk.

Selanjutnya, dilakukan proses ekstraksi, dengan berbagai teknik, ada yang menggunakan air terlebih dahulu atau pelarut lain yang diizinkan untuk pengolahan pangan.

Berikutnya, yaitu proses pemurnian dan pengkristalan menjadi serbuk GS yang berwarna putih.

“Semua hasil penelitian ini sudah dilaporkan dan diserahkan ke Kementerian Kesehatan sebagai pemberi dana.”

“Untuk tindak lanjut produksi stevia pada skala komersial, Kementerian Kesehatan akan memfasilitasi bila ada industri yang berminat.”

“Kami berharap ada industri yang berminat dan bisa menindaklanjuti hasil penelitian ini,” ujar Rahmana Emran. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Luka pasca operasi biasanya sulit sembuh dan membutuhkan waktu lama. Untuk menghentikan perdarahan dan mempercepat penyembuhan, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat spons koral buatan.

Oktika Nur Anisa, Atha Yuska Irfani, dan Imroatul Maghfiroh mengembangkan spons koral yang terbuat dari bahan dasar kalsium karbonat yang bisa menjadi aktivator pembekuan darah.

“Spons koral berperan sebagai agen haemostasis yakni suatu bahan yang membantu dalam tahap pertama proses penyembuhan luka yakni hemostasis.

Ketika terjadi luka maka secara alamiah tubuh sudah memiliki sistem untuk menghentikan perdarahan dengan terbentuknya benang benang fibrin,” ujar Oktika kepada detikHealth melalui pesan singkat.

“Jika hanya mengandalkan kemampuan hemostasis alami maka tidak sepenuhnya memberi hasil maksimal dan waktunya lama. Sehingga dibutuhkan spons koral yang membantu dalam hemostasis atau menghentikan perdarahan,” lanjutnya.

Salah satu keunggulan spons koral buatan ini yakni bisa diserap oleh tubuh, tidak seperti agen hemostasis konvensional yang tidak bisa diserap oleh tubuh.

“Spons koral buatan keunggulannya dapat diserap oleh tubuh sehingga lebih praktis karena tidak perlu diambil oleh praktisi,” tandasnya.

Spons koral buatan ini masih dalam tahap percobaan in vivo yang dilakukan pada hewan dan menunjukkan percepatan penyembuhan luka pasca operasi. Setelah diulang hingga empat kali pun, semua pengujian menunjukkan hasil yang positif yaitu dapat mengontrol perdarahan pasca operasi.

“Setelah percobaan in vivo selesai, kemungkinan selanjutnya akan dilakukan uji klinis manusia,” tutup Oktika. (***)

sumber: detik.com

Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malang – Menteri Koordiantor Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengemukakan era globalisasi menuntut sebuah negara berdaya saing kuat dan memadai. Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

Menurut Puan, pembangunan SDM yang berkualitas, tidak terlepas dari peran pendidikan tinggi. Saat ini, laporan World Economic Forum (WEF) menyebutkan daya saing Indonesia periode 2017-2018 naik lima peringkat.

“Dari posisi 41 menjadi posisi 36 dari 137 negara,” kata Puan Maharani di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome di Malang, Jawa Timur, Sabtu 12 Mei 2018.

Bahkan, lanjutnya, Indonesia dinilai sebagai salah satu inovator teratas di antara negara berkembang. Namun, sarjana di Indonesia hanya berkontribusi 11 persen atau 13 juta orang dari 121 juta penduduk di Tanah Air yang bekerja.

Untuk memperkuat profil angkatan kerja Indonesia, salah satu agenda setrategis pemerintah adalah memperkuat seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia, negeri dan swasta. Jumlah perguruan tinggi nasional lebih dari 4.300 dan lebih dari 90 persen merupakan perguruan tinggi swasta.

Terhadap perguruan tinggi swasta ini, dia mengatakan, pemerintah telah memberikan perlakuan yang sama. Termasuk dalam pemberian beasiswa bagi dosen dan mahasiswa, bantuan biaya operasional, serta bantuan dana riset.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga telah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada perguruan tinggi swasta (PTS). Alhasil, 27 PTS binaan telah memiliki akreditasi A pada 2017.

“Untuk mengembangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan pada umumnya, Muhammadiyah juga memiliki perhatian yang luar biasa besar untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Pada kesempatan itu dilakukan penyerahan sertifikat lisensi oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurahman kepada Lembaga Sertifikasi Profesi UMM. Menurut Rektor UMM Fauzan, penyerahan lisensi dari BNSP ini dapat membantu lulusan UMM memperoleh pengakuan nasional dan internasional.

“Mulai sekarang UMM berhak menyelenggarakan sertifikasi profesi lulusannya dengan skema yang telah ditentukan,” kata Fauzan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang juga hadir di UMM Dome untuk wisuda sarjana dan pascasarjana UMM itu mengatakan sarjana UMM adalah bagian dari makhluk yang akan disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dia berharap mereka dapat menunjukkan kepada siapa saja dengan percaya diri bahwa UMM dapat melahirkan generasi muda yang sanggup menegakkan kedaulatan dan kebesaran bangsa Indonesia ini.

“Kami berharap lulusan UMM untuk terus berkarya dan membawa nama besar UMM dimanapun berada,” kata dia.

Usai menghadiri wisuda di UMM, Puan Maharani bersama Muhadjir Effendi menghadiri Lomba Mewarnai dan Menggambar Se-Jawa Timur di Taman Sengkaling UMM.

Lomba yang mengangkat tema “Indonesia Pintar Budaya dalam Warna” ini hasil kerja sama UMM, Kemendikbud dan Kemenko PMK RI. Total peserta yang hadir mencapai 1.512 orang yang terdiri dari siswa TK dan SD. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Mahasiswa Universitas Komputer (Unikom) Bandung lagi-lagi mengukir prestasi kompetisi robot skala internasional. Kali ini perwakilan Unikom berhasil menyabet empat medali emas, satu perak dan dua perunggu dari tujuh kategori lomba yang diikuti.

Unikom mewakili Indonesia bersama puluhan negara peserta mengikuti kompetisi robot di Amerika Serikat yang berlangsung mulai tanggal 27 – 29 April 2018. Unikom mengikuti tujuh kategori dari 12 robot yang diboyong ke negeri Paman Sam.

Tujuh kategori robot yang diikuti oleh mahasiswa Unikom ini yaitu Autonomous Robomagellan, Open Fire Fighting robot, Open Walker Challenge, Open Table Top Navigation, Open Ribbon Climber, Beam Photovore dan Beam Speeder.

“Setiap tahun mengikuti kompetisi (robot), ini tahun ke 9 bagi Unikom. Riset dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa dari jurusan teknik elektro, jurusan teknik komputer dan jurusan teknik informatika,” kata dosen pembimbing divisi robot Unikom Taufiq Nuzwir di Unikom, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Senin, 7 Mei 2018.

Berkat riset mendalam dan pengalaman Unikom mengikuti kompetisi robot skala internasional, Indonesia kembali unjuk gigi di negara lain. Unikom lewat putra putri terbaiknya berhasil menggondol empat emas, satu perak dan dua perunggu.

“Tahun ini merupakan pencapaian terbaik kami dengan empat emas. Tahun-tahun sebelumnya paling banyak tiga emas kita bawa pulang,” tutur dia.

Salah satu robot bernama DU 114 P18 diganjar medali emas setelah mengguli tuan rumah dengan medali perak dan perwakilan Mesir medali perunggu. Prototype robot pendeteksi dan pemadam api ini berhasil memukau juri Robogames 2018.

Salah seorang perancang robot DU 114 P18 Gyan Aditya mengatakan dalam kompetisi kali ini terdapat maket rumah yang di dalamnya terdapat tujuh lilin. Kemudian robot setiap peserta secara bergantian beroperasi menemukan titik api.

Berbekal teknologi ultrasoni dan Uvitron yang disematkan, robot ciptaan dua mahasiswa jurusan teknik elektro ini mampu menemukan titik api dengan cepat. Sang robot mampu melewati setiap rintangan-rintangan menuju titik api.

“Teknologi yang ada di robot ini mampu mendeteksi keberadaan api dengan cepat. Robot ini juga bisa membedakan antara api dengan cahaya atau suhu panas,” tutur dia.

“Robot prototype ini juga berfungsi memadamkan api kecil seperti lilin. Karena dibekali kipas. Ke depannya bisa dikembangkan dengan dibekali air. Saat ini prototype yang kami ciptakan 90 persen bahan lokal,” menambahkan.

Robot yang membutuhkan waktu pengerjaan selama tujuh bulan ini bertujuan untuk membantu kerja petugas pemadam kebakaran ke depannya. Sebab, sambung dia, tak jarang petugas pemadam kebakaran gugur saat memadamkan si jago merah.

“Tentu robot ini ke depannya untuk mengurangi risiko kematian petugas kebakaran,” ujar Gyan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Serbia – Siswa-siswi SMA & SMP dari berbagai wilayah di Indonesia sukses meraih 2 medali emas lomba penelitian internasional “25th International Conference of Young Scientists (ICYS) 2018 di Beograd, Serbia, 19-25 April 2018.

Dari rilis yang diterima dari Center for Young Scientists, Rabu, 25 April 2018, tim yang dipimpin Monika Raharti (Center for Young Scietists Indonesia) juga membawa pulang 3 medali perunggu, 2 special awards, dan penghargaan best poster.

Emas diraih Muhammad Firman Nuruddin dari SMA Taruna Nusantara Magelang di bidang Environmental Science dan Ian Santoso dari SMA Cita Hati West Campus Surabaya pada bidang Life Sciences.

Medali perunggu dipersembahkan Firman Fathoni dari SMPN1 Surabaya pada bidang Computer Science, Michael Teguh Laksana dari SMA St Aloysius Bandung pada bidang Physics, dan Peter Gonawan dari SMA Cita Hati East Campus Surabaya pada bidang Engineering.

Nicholas Patrick dari SMP Cita Hati Surabaya meraih Special Award bidang Mathematics, dan Stephanie Susanto & Suzan Basaran dari SMA Budi Utama Yogyakarta juga mendapatkan Special Award bidang Life Sciences.

Arflyno Chrisdion Pudayar Pahombar Ludjen dari SMA Bina Cita Utama Palangkaraya berhasil meraih The Best Poster bidang Computer Science.

Direktur Pembinaan SMA, Kemendikbud mengatakan para pelajar itu bersemangat untuk mengharumkan nama Indonesia di Beograd.

Tim Indonesia disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Serbia di Beograd yang juga hadir pada acara Closing and Awarding Ceremony ICYS 2018di Sumice, Beograd, Serbia.

Para siswa ini akan tiba di Tanah Air pada Kamis (26/4/2018) pukul 15:05 WIB di Bandara Soekarno Hatta. (***)

sumber: tribunjabar.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan dilakukan mulai hari ini, Selasa, 17 April 2018 pada pukul 17.00 WIB. Pengumuman resmi ini akan disampaikan melalui laman http://pengumuman.snmptn.ac.id/

“Kami mohon bagi peserta yang lulus seleksi untuk mencermati dan mentaati pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh masing-masing PTN, terutama dengan ketentuan persyaratan penerimaan juga jadwal dan tempat jadwal ulang (registrasi) 2018,” kata Sekretaris Panitia SNMPTN 2018 Joni Hermana, di Jakarta, Selasa, 17 April 2018.

Selain itu, registrasi calon mahasiswa yang lulus seleksi PTN dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan ujian tulis Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN). Registrasi atau pendaftaran ulang di PTN masing-masing dijadwalkan pada 8 Mei 2018. Di hari yang sama, ujian SBMPTN dilakukan.

Tujuannya, kata Joni, agar siswa yang lulus SNMPTN tidak lagi mengikuti SBMPTN sehingga bisa memberi kesempatan bagi siswa lain untuk diterima di PTN.

SNMPTN merupakan jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur nilai rapor. Sedangkan SBMPTN dilakukan dengan sistem ujian.

Joni menginformasikan bagi siswa yang ingin melihat hasil SNMPTN bisa masuk melalui laman pengumuman.snmptn.ac.id. “Masukkan nomor pendaftaran pada kolom yang telah disediakan. Selanjutnya masukkan tanggal lahir. Baru kemudian klik tombol lihat hasil seleksi,” ujarnya.

Selain itu, pengumuman bisa diakses melalui laman resmi PTN seperti http://snmptn.itb.ac.id, http://snmptn.ui.ac.id,http://snmptn.ugm.ac.id, http://snmptn.ipb.ac.id, http://snmptn.its.ac.id,http://snmptn.unair.ac.id, ttp://snmptn.undip.ac.id, http://snmptn.unsri.ac.id,http://snmptn.untan.ac.id, http://snmptn.unhas.ac.idhttp://snmptn.unand.ac.id, dan http://snmptn.unsyiah.ac.id. (rilis)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Sekolah Dasar Inpres (SDI) Bea Nanga, di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), memang boleh berbangga. Sebab, salah satu siswi sekolah itu, Aulyanti Putri Lentar, mewakili Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengikuti lomba bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi NTT di Kupang, pekan depan.

Informasi ini disampaikan Camat Lamba Leda, Drs. Aleksius Rahman, melalui layanan WhatsApp (WA) kepada Pos-Kupang.Com, Kamis, 29 Maret 2018.

Aleksius menjelaskan, dipilihnya Aulya mewakili Kabupaten Manggarai Timur di tingkat Provinsi NTT setelah dalam seleksi di tingkat kabupaten di Borong meraih juara I mata pelajaran IPA. Sedangkan juara II mata pelajaran IPA diraih SDK Mano I Kecamatan Poco Ranaka.

Sementara juara matematika diraih oleh dua sekolah, yakni SDK St. Eduardus Borong dan SDK Wae Lengga Kecamatan Kota Komba.

“SDI Bea Nanga merupakan salah satu sekolah yang mendapat program rintisan KIAT guru,” kata Aleksius.

Kepala SDI Bea Nanga, Elfida Jerahi, S.Ag menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat yang memilih SDI Bea Nanga dalam program ini. Ucapan yang sama juga disampaikan kepada para guru, orangtua murid, Kelompok Pengguna Layanan (KPL) serta Kepala Desa Lamba Keli yang telah bekerjasama dalam menunjang proses belajar mengajar di sekolah tersebut.

Camat Lamba Leda, Drs. Aleksius Rahman, menyampaikan profisiat kepada SDI Bea Nanga, teristimewa kepada Aulya yang telah mengharumkan nama baik Kecamatan Lemba Leda dan Kabupaten Manggarai Timur ke tingkat provinsi.

“Harapan saya di tingkat provinsi bisa meraih juara sehingga dapat berlaga di tingkat nasional. Peserta akan berangkat ke Kupang pada hari Selasa tanggal 3 April 2018,” kata Aleksius. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pontianak – Minat terhadap mekanikal mesin kendaraan bermotor mengantarkan Jodi (18) memilih sekolah kejuruan.

Jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Pontianak dipilihnya menjadi tempat menimba ilmu.

“Kebetulan memang sudah sejak lama hobi dengan keteknikan mesin kendaraan bermotor. Ini juga yang jadi alasan saya memilih melanjutkan sekolah di SMKN 7 Pontianak di jurusan TBSM,” ujarnya, saat dijumpai, Selasa 20 Maret 2018.

Bekal ilmu di sekolah, katanya, sangat bermanfaat. Baik untuk diri sendiri dalam merawat kuda besinya, dan yang lebih penting adalah dunia pekerjaan yang hendak dipilihnya di masa depan.

Gayung bersambut. Sekolah tempatnya menimba ilmu ini, jadi satu dari sekolah kejuruan yang dipercaya menjalankan program Teaching Manufacturing (TeFa) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah (Dirjen Dikmen) di jurusan keteknikan sepeda motor.

Berbagai program unggulan TeFa pun dinilainya sangat membantu meningkatkan kompetensinya soal keteknikan sepeda motor. Menjadi bekal penting di masa depan sebagai mekanis handal.

“TeFa benar-benar membuat kita merasa terjun langsung ke lapangan pekerjaan mekanikal sepeda motor. Dengan adanya program TeFa, kita kenal dunia kerja dengan lebih baik,” sambungnya.

Ada banyak aspek-aspek yang dirasakannya sangat penting didapatkannya dari TeFa. Seperti cara service sepeda motor dan penanganan sparepart yang cukup berbeda dari mekanik di bengkel-bengkel biasa.

“Perbedaan terbesar ada di cara kerja, di mana di TeFa, kami diajarkan untuk bekerja dengan standar prosedur. Sehingga semua hasilnya terukur jelas,” pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

PRESTASI

Senin | 21 Agustus 2017 | 15:17

Hebat!!!Pencipta Aplikasi Gojek Telah Mendirikan Sekolah

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Adalah Alamanda Shantika Santoso pencipta aplikasi Gojek yang meninggalkan perusahaan teknologi jasa angkutan Gojek demi mendirikan sekolah.

Perempuan kelahiran Jakarta 29 tahun lalu itu kini tak lagi mengusung warna hijau yang identik dengan aplikasi ojek online tersebut, melainkan warna ungu yang menjadi ciri khas Binar Academy.

“Keluar dari Gojek yang merupakan first unicorn startup, saya banyak belajar di sana. Tapi mimpi saya adalah menjadi menteri pendidikan, untuk itu saya ingin membagikan mimpi saya ke orang lain,” ujar Alamanda saat mengisi sebuah sesi diskusi dalam Habibie Festival 2017 di Jakarta, belum lama ini.

“Seperti di Gojek yang memiliki visi untuk membantu orang lain, yang bisa membahagiakan saya adalah kalau saya bisa berkontribusi kepada lingkungan,” sambung dia.

Saat ditemui ANTARA News, perempuan berambut pendek yang akrab disapa Ala itu mengaku “berat” menjadi seorang founder sekaligus CEO.

“Kadang suka mikir, suka down, biasalah seorang founder, mikir kayak “aduh, akhir bulan bisa gajian enggak, bisa ngegaji orang enggak,” kayak gitu-gitu,” kata dia.

Namun, anak-anak didiknya di Binar Academy yang mengalami kemajuan dan mulai berkembang, menjadi penyemangat dirinya.

Memilih angkat kaki dari Gojek memang bukan keputusan yang mudah. Mengaku memiliki pandangan yang berbeda, Ala membulatkan tekad untuk undur diri dari Gojek.

“I was a disrupter,” begitu dia menyebut dirinya dulu.

Sukses membesarkan nama Gojek, membuat dia menyadari bahwa dia telah “membunuh” aplikasi lain yang memiliki model bisnis serupa.

“Tanpa aku sadari Food Panda mati karena kompetisi, ternyata aku menyakiti banyak orang, di saat Food Panda mati banyak banget yang di-lay off, enggak sadar banyak banget menyakiti orang,” ujar Ala.

“Sekarang pemandangan aku, view-nya adalah aku mau men-disrupt para disrupters, enggak ada yang namanya kompetisi justru kita harus berkolaborasi,” lanjut dia.

Mengusung tagline “spirit of collaboration and learning,” Binar Academy menawarkan sekolah gratis selama 2,5 bulan untuk mereka yang tertarik mempelajari coding dan progamming.

Dia ingin membawa pendidikan teknologi lebih tinggi lagi, di samping e-commerce, fintech dan medical tech yang lebih “dilihat orang”.

“Sedangkan kita enggak bisa menciptakan fintech-fintech itu kalau manusianya enggak teredukasi,” ujar Ala.

Tertarik pada teknologi

Perempuan yang lahir pada 12 Mei 1988 itu mengaku tertarik pada ranah teknologi sejak usia 11 tahun.

“Dikasih komputer bukannya dinyalain dulu, tapi saya bongkar dulu, sampai motherboard terkecil tahu,” kata Ala.

“Saya suka art juga, suka menggambar,” sambung dia.

Saat itu, alumnus Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara ini menyadari bahwa dia harus belajar coding, sementara pada waktu itu sumber literatur mengenai pembelajaran bahasa pemograman tersebut di Indonesia masih sangat sedikit.

“Ada sepupu saya yang lama tinggal di London mengajari coding,” ujar  Ala.

Sebelum bergabung dengan Gojek, Ala bekerja di dunia perbankan. Dia mengaku sempat bingung ketika bos Gojek Nadiem Makarim “melamar” dia untuk ikut serta membesarkan Gojek.

Dia mengatakan, kekhawatiran untuk terjun ke dunia startup juga dirasakan ibundanya kala itu.

“Waktu itu sudah enak banget. Kemudian, ibu saya ajak ke rumah Gojek yang sudah mau ambruk. Ibu sempat tanya. ‘Beneran kamu mau ngurusin tukang ojek?'”, kenang Ala.

Ala bahkan mengaku sempat ingin menolak “pinangan” Nadiem. Namun, Nadiem meyakinkan Ala dengan perkataannya yang masih dia ingat hingga saat ini, “Di Gojek bukan menghidupi diri sendiri, tapi ratusan ribu orang di sana yang membutuhkan.”

Perempuan berkacamata itu akhirnya bergabung dengan Gojek. “Untungnya keluarga sangat open-minded,” kata Ala.

“Setelah Gojek berjalan satu tahun Ibu WhatsApp, “we are proud of you“,” lanjut dia.

Prinsip inilah yang kemudian dia bawa ke Binar Academy. “Bukan yang penting dapat gaji, tapi ada tujuan saat melangkah ke kantor,” ujar Ala.

Pesan ini juga yang ingin dia sampaikan Ala kepada anak-anak muda generasi Y. “Kamu (Gen Y) harus benar-benar tahu alasan kamu melakukan sesuatu, selalu awali dengan “why?”, dan yakin sama diri kamu sendiri.”***