POLITIK

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Hasil Pengundian Nomor Urut Capres Cawapres, Jokowi-Ma’ruf No 1 Prabowo-Sandi No 2 di kantor KPU, Jumat, 21 September 2018.

Kesempatan untuk mengambil nomor urut dilakukan Cawapres Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno.

Hasilnya Sandiaga mendapat nomor 1, Ma’ruf Amin mendapat nomor 10.

Selanjutnya para Capres yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto mengambil nomor undian.

Prabowo pertama mengambil, dilanjut kemudian Joko Widodo.

Sebelum pengambilan nomor urut untuk Capres, kedua pasangan menyempatkan untuk berdoa.

Setelah dibuka bersama, Joko Widodo nomor 1, sedangkan Prabowo nomor 2.

Adapun jelang Penetapan Nomor Urut Capres-cawapres untuk Pilpres 2019, Jokowi-Ma’ruf Kumpul di Tugu Proklamasi, Prabowo-Sandi Didampingi AHY.

Penetapan nomor urut Capres-cawapres untuk Pilpres 2019 dilaksanakan di Gedung KPU Jakarta, Jumat, 21 September 2018 malam.

Ada perbedaan cara antara kedua pasangan capres-cawapres saat menuju kantor KPU RI.

Jika Jokowi-Ma’ruf Kumpul di Tugu Proklamasi, maka Prabowo-Sandi Didampingi AHY langsung ke kantor KPU.

Dikutip dari kompas.com, pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Sandiaga Uno tiba di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat 21 September 2018 malam.

Prabowo tiba di kantor KPU sekitar pukul 19.30 WIB. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan memakai peci berwarna hitam.

Sebelum masuk ke gedung KPU, Prabowo sempat menyapa awak media yang meliput dengan melambaikan tangan.

Setelah itu tampak Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berjalan di belakang Prabowo.

Putra Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono itu tampak mengenakan jas seragam Partai Demokrat berwarna biru.

Menyusul kemudian Sandiaga Uno yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru.

Sementara itu, massa pendukung kedua pasangan telah berkumpul di sekitar kantor KPU.

Mereka membawa bendera, spanduk dan atribut yang memperlihatkan dukungan kepada kedua pasangan. Para simpatisan itu juga berorasi menggunakan mobil komando yang dilengkapi pengeras suara.

Adapun pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin lebih dahulu menemui para relawan dan pendukung di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat 21 September 2018.

Para relawan dan pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin sendiri sudah memenuhi kawasan Tugu Proklamasi sejak sore tadi.

Mereka membawa berbagai atribut mulai dari bendera, rebana, hingga mengenakan kaos dan ikat kepala Jokowi-Ma’ruf Amin.

Setelah dari Tugu Proklamasi, Jokowi-Ma’ruf Amin langsung menuju Kantor KPU yang ada di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap banyak rintangan untuk berkoalisi dengan Jokowi. PDIP merespons pernyataan SBY.

“Kendala eksternal atau internal? Kami duga lebih banyak internal PD dan perhitungan untung rugi partai, karena pileg dan pilpres bersamaan. Bisa jadi ekspektasi PD kelewat besar sebagai sedimen atau sindrom sebagai partai terbesar di masa lalu,” kata Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno kepada wartawan, Rabu, 25 Juli 2018.

Hendrawan mengatakan berkoalisi haruslah mengedepankan komitmen, bukan berdasarkan syarat-syarat yang terkait hitung-hitungan untung rugi. PDIP, kata Hendrawan, membuka pintu untuk siapapun yang siap berkomitmen berjuang bersama.

“Kami tetap sabar dan membuka pintu. Sikap koalisi kami itu inklusif dan partisipatorik. Modal dasarnya komitmen,” ujarnya.

Hendrawan malah mempertanyakan soal kecamuk di tubuh PD. Hendrawan juga bicara koalisi tak boleh didasari niat mengelabui.

“Kami juga jadi bertanya-tanya, komplikasi batin seperti apa yang sedang berkecamuk di tubuh PD. Soalnya memang trust dan respect harus dibangun dengan komitmen dan niat tulus. Jadi hulunya niat tulus, bukan niat mengelabui atau akal-akalan. (***)

sumber: detik.com

WARNA WARNI

Rabu | 25 Juli 2018 | 8:43

Sah! KPU Tetapkan Khofifah-Emil Gubernur Jatim

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur secara resmi menetapkan paslon nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim. Penetapan ini atas hasil perolehan suara Khofifah-Emil yang unggul dan mencapai 53,55 persen atau 10.465.218 suara.

“Jumlah suara pasangan calon nomor urut 1 sebanyak 10.465.218 atau 53,55 persen dari jumlah suara sah atas nama Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak sebagai Gubernur dan wakil Gubernur terpilih Jatim,” ujar Ketua KPU Jatim Eko Sasmito saat membacakan surat keputusan di Rapat Pleno Terbuka Penetapan Pasangan Calon Terpilih Pilgub Jatim di Hotel Whyndam, Surabaya, Selasa, 24 Juli 2018.

Eko mengatakan penetapan ini berdasarkan keputusan MK setelah memastikan tidak ada gugatan kepada pemenang Pilgub Jatim. Juga berdasarkan surat KPU RI ke KPU Jatim untuk segera melakukan penetapan paslon yang terpilih.

“Kita ini kan sudah selesai setelah kemarin Mahkamah Konstitusi memberikan surat kepada KPU RI terkait dengan daftar kasus-kasus atau perkara yang diajukan yang diregister oleh MK. Kemudian KPU RI memberikan surat ke kita untuk bisa melaksanakan proses penetapan pasangan calon terpilih. Jadi satu hari setelah MK memberikan surat itu, kita sudah bisa menetapkan pasangan calon terpilih,” imbuh Eko.

Eko memastikan tidak ada gugatan dari paslon lain. Eko mengungkapkan tahapan selanjutnya adalah penyerahan hasil melalui DPRD dan disampaikan pada Menteri Dalam Negeri.

“Terkait dengan hasil pilgub ini, masing-masing paslon tidak ada yang mengajukan sengketa perselisihan hasil di MK. Sehingga tahapan ini nanti akan diikuti oleh penyerahan hasilnya itu melalui DPRD akan kita sampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri,” imbuhnya.

Sementara itu, di lokasi rapat pleno, paslon nomor urut 2 Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno tidak terlihat hadir. Eko mengatakan pihaknya telah mengundang dan menghubungi, tapi memang sedang berhalangan hadir lantaran ada kegiatan lain.

“Kita sudah menghubungi beliau, tapi masih ada kegiatan lain, sehingga beliau tidak bisa hadir. Jadi kita di dalam proses penetapan ini kita lakukan dengan pleno terbuka. Jadi itu sudah kita sampaikan,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Gubernur terpilih Jatim Khofifah Indar Parawansa mengucapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak. Mulai aparat kepolisian dan TNI yang turut mengamankan hingga masyarakat yang dewasa dalam berpolitik.

“Kerja keras semua elemen, terutama dari jajaran kepolisian, TNI, dan seluruh penyelenggara pilkada. Kedewasaan masyarakat akhirnya pilkada di Jatim berjalan dengan sangat penuh hangat, pendewasaan politik, kekerabatan dan saling menghargai,” kata Khofifah. (***)

sumber: detik.com

PARTAI POLITIK

Selasa | 10 Juli 2018 | 16:02

Partai Golkar Rencana Tempatkan Kadernya Dampingi Capres Jokowi

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Partai Golkar punya rencana menempatkan kadernya di kursi cawapres, mendampingi capres Jokowi pada 2019. Bila cawapres Jokowi tak sesuai pilihan Golkar, ini yang akan dilakukan Golkar.

“Kita sudah menyiapkan langkah antisipasi. Tentu tidak bisa kita sampaikan di muka umum.

Langkah antisipasinya bisa jadi kita tetap mendukung Jokowi dan tentu dengan negosiasi tertentu atau lain-lain akan kita bicarakan di internal partai,” kata Wasekjen Golkar M Sarmuji di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018.

Sejauh ini, cawapres Jokowi masih jadi teka-teki. Dia menyebut penentuan cawapres Jokowi turut menentukan keutuhan parpol koalisi.

“Urusan menentukan cawapres ini adalah urusan yang sangat krusial. Akan sangat menentukan utuh dan retaknya koalisi Jokowi,” kata Sarmuji.

Sarmuji mengatakan pembahasan cawapres Jokowi harus diputuskan bersama seluruh parpol koalisi. Dengan demikian, dia berharap koalisi Jokowi untuk Pilpres 2019 tetap utuh.

“Kita berharap koalisi Jokowi utuh. Karena itu, pembicaraan cawapres harus dilakukan dalam kapasitas yang setara dan harus dibicarakan, dilaksanakan, dalam suasana yang bersahabat dengan memperhitungkan mitra koalisi,” sebut Sarmuji. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Agus Hermanto setuju istilah ‘cebong-kampret’ harus dihentikan. Menurut Agus, istilah itu bisa menyinggung perasaan.

“Kita selama ini, saya sendiri, tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Kalau mengatakan seperti itu kan bisa menyinggung perasaan,” kata Agus di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 9 Juli 2018.

Selain itu, sebut Agus, sebutan ‘kecebong’ dan ‘kampret’ itu juga tidak tepat digunakan dalam pembahasan politik. Dia pun berharap ke depan pembicaraan politik Indonesia menggunakan bahasa-bahasa yang santun.

“Kata-kata itu kan juga tidak tepat untuk pembicaraan politik dalam hal yang strategis,” ujar Wakil Ketua DPR itu.

“Jadi sebaiknya memang kita menggunakan bahasa-bahasa yang baik, lugas dan yang tidak menimbulkan ketersinggungan antara satu dengan lainnya,” imbuh Agus.

Sebelumnya, dalam Kajian Tauhid di Masjid Istiqlal, Aa Gym meminta kepada masyarakat jangan menyebut orang dengan gelar yang buruk, termasuk memanggil ‘kecebong’ atau ‘kampret’.

“Jadi jangan panggil dengan gelaran yang buruk. Yang satu panggil kecebong, yang satu panggil kampret,” kata Aa Gym, dalam acara Kajian Tauhid, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad, 8 Juli 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID Pekanbaru– Rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Riau atas  hasil rekapitulasi kabupaten/kota, di Hotel Aryaduta, Pekanbaru, Minggu, 8 Juli 2018 ditetapkan pasangan Syamsuar – Edy Nasution sebagai pemenang Pilgub Riau.

Pasangan Syamsuar – Edy Nasution unggul di Kota Pekanbaru (138.664 suara), Kabupaten Rokan Hulu (69.946 suara), Kabupaten Rokan Hilir (97.239 suara), Kota Dumai (41.144 suara), Kabupaten Bengkalis (87.709 suara), Kabupaten Kepulauan Meranti (38.999 suara), Kabupaten Siak (110.020 suara), Kabupaten Pelalawan (36.161 suara), dan Kabupaten Kuantan Singingi (39.881 suara).

Dengan perolehan total suara Syamsuar – Edy Nasution 799.289 suara. Selisih suara dengan posisi kedua yang ditempati pasangan Arsyadjuliandi Rachman – Suyatno sebanyak 292.102 suara. Pasangan Syamsuar – Edy Nasution diusung tiga partai politik, yaitu PAN, Nasdem dan PKS. Yang membentuk Koalisi Riau Bersatu (Karib).

Sedangkan pasangan Arsyadjuliandi Rachman – Suyatno unggul di Kabupaten Indragiri Hulu (40.885 suara). Pasangan dengan nomor urut 4 ini memperoleh total suara sebanyak 507.187 suara. Pasangan petahana ini diusung oleh Golkar, PDI-P, Hanura dan PKPI.

Sementara diposisi ketiga perolehan suara hasil rapat pleno rekapitulasi KPU Riau, pasangan nomor urut 3 Firdaus – Rusli Effendi unggul di Kabupaten Kampar dengan perolehan 118.511 suara. Total perolehan suara pasangan ini diusung oleh Partai Demokrat dan PPP, ini sebanyak 416.248 suara.

Untuk pasangan Lukman Edy – Hardianto, unggul di Kabupaten Indragiri Hilir dengan memperoleh 114.862 suara. Total suara pasangan yang diusung PKB dan Gerindra ini memperoleh 369.802 suara.

Untuk jumlah surat suara sah sebanyak 2.092.526 suara dan surat suara tidak sah sebanyak 53.606 suara. Jumlah total suara sah dan tidak sah 2.146.132 suara.

Rapat pleno dipimpin langsung oleh Ketua KPU Riau, Nurhamin. Juga dihadiri Ketua Bawaslu Riau Rusidi Rusdan dan unsur Forkompinda Riau.

“Jika dalam tiga hari setelah hasil rapat pleno tidak ada tuntutan dari masing-masing pasangan calon di Mahkamah Konstitusi, maka tanggal 12 Juli 2018 akan ditetapkan oleh KPU Riau, bahwa Syamsuar sebagai Gubernur Riau dan Edy Nasution sebagai Wakil Gubernur Riau,” kata Nurhamin.

Ketua Harian Karib Riau, Tengku Zulmizan  mengatakan, dalam penyampaian hasil rekapitulasi KPU Riau tidak ada sanggahan dari saksi masing-masing pasangan calon. Artinya, tanggal 12 Juli 2018, akan keluar penetapan dari KPU Riau hasil rekapitulasi suara.

“Kita sama-sama berharap tidak ada tuntutan yang dilakukan masing-masing pasangan calon. Sehingga Syamsuar – Edy Nasution bisa ditetapkan sebagai Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau periode 2018-2023,” ujar Zulmizan. (*)

Sumber: RiauKepri.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Majelis Kehormatan PAN, Amien Rais, menantang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk berduel secara gentle.

Namun Amien mengungkapkan bahwa pertarungannya dengan Jokowi bukan melalui fisik tapi secara konstitusional.

“Jadi saya menantang Pak Jokowi, mari kita bertanding secara fair. Mari kita duel secara gentle yakni dengan cara demokratis dan konstitusi,” ujar Amien dalam acara Tausiyah Kerakyatan #2019IndonesiaPascaJokowi di Kampung Akuarium, Penjaringan Jakarta Utara, Sabtu, 9 Juni 2018.

Amien yakin Jokowi bisa dikalahkan pada Pemilu 2019 mendatang. Menurut Amien, caranya hal tersebut dengan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak memilih Jokowi lagi.

“Ya intinya saya begitu, saya sudah firm lewat jalan demokrasi, konstitusi. Akan kita kalahkan. Caranya itu menggalang kesadaran rakyat. Jadi pilpres kan bebas,” jelas Amien.

Selain Amien, acara ini juga dihadiri oleh Sugi Nur Raharja alias Gus Nur, Habib Umar Al Hamid, dan Ketua Forum Aspirasi Rakyat Indonesia, Lieus Sungkharisma.

Lieus Sungkharisma yang menjadi penggagas acara ini menyebut tujuan mereka untuk konsolidasi mengganti presiden pada Pemilu 2019 mendatang.

Rencananya acara ini juga akan dihadiri oleh Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, hingga mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Gubernur Aceh Irwandi Yusuf ditangkap KPK bersama sembilan orang lainnya. KPK mengamankan duit ratusan juta rupiah dari operasi tangkap tangan (OTT).

“Sejumlah uang ratusan juta rupiah diamankan. Diduga merupakan bagian dari realisasi commitment fee sebelumnya,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam keterangannya, Selasa, 3 Juli 2018.

Duit ini diduga fee terkait transaksi penyelenggara negara di tingkat provinsi dan kabupaten Aceh.

Dari informasi yang dihimpun, Gubernur Aceh Irwandi ditangkap bersama Bupati Bener Meriah, Ahmadi. Ada delapan orang lainnya, termasuk non-PNS, yang ikut ditangkap.

“Sore hingga malam ini KPK melakukan kegiatan penindakan di Aceh dan mengamankan 10 orang, yang terdiri atas dua kepala daerah dan sejumlah pihak non-PNS,” ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ketua DPP PAN Yandri Susanto mengungkapkan, sejumlah artis berencana mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari partainya.

Ia mengatakan, sejumlah nama seperti Raffi Ahmad dan Rhoma Irama berencana maju sebagai caleg DPR RI dari PAN.

“Raffi Ahmad memang ada rencana untuk nyaleg. Termasuk ada beberapa artis yang lain. Rhoma mungkin nyaleg dari Tasik kalau mau nyalon,” kata Yandri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 3 Juli 2018′

Ia menggangap wajar jika sejumlah artis berencana mencalonkan diri melalui PAN. Menurut Yandri, sepanjang yang bersangkutan memenuhi syarat tak perlu dipermasalahkan.

Anggota Komisi II DPR RI, Yandri Susanto menanggapi saran agar gubernur DKI Jakarta ke depan dipilih DPRD atas rekomendasi presiden.

Menurut Yandri, akan baik ke depannya jika PAN mencalonkan tokoh muda yang punya banyak penggemar.

Bahkan, kata Yandri, Raffi kini dekat dengan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN DKI Jakarta Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio.

“Tapi dapilnya mana belum. Bisa Yogya, Jabar, bisa Kabupaten Bogor, bisa kota Bandung. Kalau Raffi mah ditaruh di mana saja pasti jadi,” tutur Yandri.

Ihwal kapasitas, Yandri meminta semua pihak tak menganggap remeh Raffi Ahmad. Menurut dia, tak selalu caleg artis tak berkualitas.

Ia mengatakan, di PAN banyak pula caleg yang dulunya artis namun memiliki kapasitas sebagai politisi, di antaranya Desy Ratnasari.

“Kita enggak boleh underestimate lah. Jadi artis-artis di PAN itu kan bagus-bagus tuh. Dessy bagus, yang lain bagus, Anang bagus. Enggak ada masalah kan. Terbuka lah semua kalangan, mau artis mau TNI dan Polri yang udah pensiun, pengusaha, semua ada,” lanjut dia. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO,ID, Jakarta – Muncul wacana memasangkan duet Jusuf Kalla-Prabowo untuk Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing mengatakan, cukup sulit untuk memasangkan kedua nama tersebut.

“Kalau JK dipasangkan Capres, Prabowo Cawapres, bisa-bisa saja. Kalau JK naik jadi Capres sangat bagus, karena dari Wapres naik jadi Capres artinya naik kelas. Tetapi Prabowo sudah pernah calonkan diri sebagai Capres, berarti dia turun kelas menjadi Cawapres.

Dua-duanya Cawapres ga mungkin, dari aspek itu jadi agak janggal secara akal sehat, satu naik kelas satu turun kelas disamping juga harus ada dukungan partai,” kata Emrus Senin, 2 Juli 2018

Kemudian jika ingin merealisasikan JK-Prabowo, juga harus mendapat dukungan partai politik lain selain Partai Gerindra. Pasalnya Gerindra tidak bisa sendiri mengusung pasangan calon. Sedangkan Partai Golkar telah menyatakan dukungan kepada Presiden Jokowi.

“Tetapi komunikasi JK-Prabowo masih perjalanan panjang, karena belum pernah diwacanakan, bahkan infromasi yang saya peroleh belum pernah penjajakan komunikasi politik mengarah kesana,” ujarnya.

Selain duet JK-Prabowo, sebelumnya juga muncul duet JK-AHY yang disuarakan oleh Partai Demokrat. Deut JK-AHY mulai berkembang setelah JK melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Demokrat SBY beberapa waktu lalu. Didalam pertemuan dikediaman SBY itu, juga turut dihadiri AHY. (***)

sumber: inilah.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan uji materi Undang-Undang Pemilu terkait masa jabatan presiden dan wakil presiden.

Wakil Ketua Dewan Kehormatan Akbar Tandjung menilai ditolaknya gugatan yang berkaitan dengan wacana majunya kembali Jusuf Kalla (JK) menjadi calon wakil presiden sebagai keputusan yang harus dihormati.

“Kita semua mengetahui bahwa keputusan MK itu final dan mengikat jadi kalau tidak ada represpektif itu ya mestinya harus kita ikutin keputusan MK itu,” ujar Akbar Tandjung, di komplek Parleman Senayan, Jakarta Barat, Ahad, 1 Juli 2018.

Akbar Tandjung menilai diajukannya uji materi tersebut lantaran adanya perbedaan penafsiran antara orang-orang yang berada di lingkungan JK.

“Hingga kemudian mereka minta Pak JK diuji materi oleh MK,” ujar Akbar Tandjung.

Namun, Akbar Tandjung sekali lagi menegaskan jika putusan yang telah dilakukan terhadap uji materi UU Pemilu terkait masa jabatan presiden atau wakil presiden sudah final dan harus diterima.

“Karena negara kita ini kan negara hukum bukan negara kekuasaan kalau menurut saya kalau memang betul-betul sudah final dan mengikat ya mestinya harus kita patuhi,” ujar Akbar Tandjung.

Karenanya Akbar Tandjung meminta masyarakat untuk ikut bersama-sama menunggu siapa saja capres dan cawapres yang akan maju dalam Pilpres 2019 mendatang.

“Ya kita tunggu aja dalam hari hari kedepan ini,” ujar Akbar Tandjung.

Sebelumnya MK menolak gugatan uji materi UU Pemilu terkait masa jabatan presiden atau wakil presiden.

Pemohon dinilai tidak punya kedudukan hukum terkait gugatan.

“Menyatakan permohonan para pemohon tidak dapat diterima,” ujar Hakim Konstitusi Anwar Usman membacakan putusan di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis, 29 Juni 2018. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Hitung cepat KPU di Pilkada Serentak 2018 sejumlah daerah sudah hampir final dengan data yang masuk di atas 90 persen. Siapa saja yang unggul?

“Data hasil pada hitung cepat berdasarkan entri Model C1 apa adanya. Hasil pada hitung cepat merupakan hasil sementara dan tidak bersifat final. Jika terdapat kesalahan pada model C1 akan dilakukan perbaikan pada proses rekapitulasi di tingkat atasnya,” demikian penjelasan KPU di situsnya.

Hasil hitung cepat ini juga dapat dipantau secara mudah di pilkada.detik.com.

Ada 8 provinsi yang hasil quick count dan real count-nya kami tampilkan dalam bentuk grafis data persentase, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan.

Data pilkada 8 provinsi tersebut ditampilkan secara real time di pilkada.detik.com. Cara memantaunya mudah, tinggal arahkan kursor atau jempol Anda ke kolom “pilih daerah” pada laman pilkada.detik.com, klik daerah pilihan, hasil hitung cepat pun akan tampil di layar Anda.

Berikut hasil hitung cepat KPU di sejumlah wilayah hingga Jumat, 29 Juni 2018, pukul 17.00 WIB

SUMATERA UTARA
(Data 91,61%)

Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah: 3.014.993 suara(57,73%)
Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus: 2.207.798 suara (42,27%)

SUMATERA SELATAN
(Data 89,35%)

Herman Deru-Mawardi: 1.204.421 suara (35,85%)
Saifudin Aswari Riva’i-Irwansyah: 377.852 suara (11,25%)
Ishak Mekki-Yudha Pratomo: 729.214 suara (21,70%)
Dodi Reza Alex Noerdin-Giri Ramanda Kiemas: 1.048.563 suara (31,21%)

LAMPUNG
(Data: 98,99%)

Muhammad Ridho Ficardo-Bachtiar Basri: 1.025.110 suara (25,31%)
Herman Hasanusi-Sutono: 1.044.128 suara (25,78%)
Arinal Djunaidi-Chusnunia: 1.532.323 suara (37,83%)
Mustafa-Ahmad Jajuli: 448.854 suara (11,08%)

JAWA BARAT
(Data 93,16%)

Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 6.798.442 suara (33,12%)
Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 2.598.219 suara (12,66%)
Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 5.823.294 suara (28,37%)
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 5.308.697 suara (25,86%)

JAWA TENGAH
(Data 98,9%)

Ganjar Pranowo-Taj Yasin: 10.249.106 suara (58,79%)
Sudirman Said-Ida Fauziyah: 7.183.033 suara (41,21%)

JAWA TIMUR
(Data 96,91%)

Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak: 10.157.683 suara (53,62%)
Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno: 8.786.844 suara (46,38%)

BALI
(Data: 100%)

Wayan Koster-Tjok Oka Artha: 1.211.556 suara (57,62%)
Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra-I Ketut Sudikerta: 891.170 suara (42,38%)

SULAWESI SELATAN
(Data 94,84%)

Nurdin Halid-Abd Aziz Qahhar Mudzakkar: 1.101.067 suara (27.26%)
Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo: 394.635 suara (9,77%)
Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman: 1.763.969 suara (43,67%)
Ichsan Yasin Limpo-Andi Muzakkar: 779.675 suara (19,30%)

SULAWESI TENGGARA
(Data masuk 94,05%)

Ali Mazi-Lukman Abunawas: 461.258 suara (43,53%)
Asrun-Hugua: 263.564 suara (24,87%)
Rusda Mahmud-Sjafei Kahar: 334.856 suara (31,60%)

KALIMANTAN BARAT
(Data 96,43%)

Milton Crosby-Boyman Harun: 165.601 (6,63%)
Karolin Margret Natasa-Suryadman Gidot: 1.036.098 suara (41,47%)
Sutardmidji-Ria Norsan: 1.296.800 suara (51,90%)

KALIMANTAN TIMUR
(Data 97,85%)

Andi Sofyan Hasdam-Rizal Effendi: 283.739 suara (21,75%)
Syaharie Ja’ang-Awang Ferdian: 294.578 suara (22,58%)
Isran Noor-Hadi Mulyadi: 407.616 suara (31,24%)
Rusmadi-Safaruddin: 318.826 suara (24,44%)
(***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Hasil quick count Pilgub Jatim yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei menunjukkan kemenangan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak atas Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dengan kisaran angka 53 persen vs 46 persen.

Pengamat menilai kemenangan tersebut terlihat dari tren dukungan suara terhadap pasangan Khofifah-Emil yang semakin naik selama 4-5 bulan terakhir, sedangkan suara Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno tertahan.

Pengamat Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Airlangga Pribadi Kusman menyebutkan, ada tiga hal yang menjadi faktor kemenangan pasangan Khofifah-Emil atas Gus Ipul-Puti.

Pertama, strategi populisme elektoral yang dijalankan oleh Khofifah-Emil.

“Mereka langsung menyentuh lapisan terbawah dari pemilih menjadi strategi utama yang dilakukan oleh pasangan ini,” kata Pribadi Kusman, Kamis, 28 Juni 2018.

Hal ini membuat hubungan dan identifikasi politik antara Khofifah-Emil dan pemilih bersifat langsung.

“Hal ini yang juga terjadi dalam strategi kemenangan pasangan Gubernur Jakarta Jokowi-Ahok pada 2012 lalu,” ucapnya.

Kedua, pertarungan pilgub Jawa Timur di tengah popularitas yang optimal antara Khofifah dan Gus Ipul sangat ditentukan oleh perolehan dukungan yang didapat oleh wakilnya, Emil Dardak vs Puti Guntur Soekarno.

“Dalam beberapa debat yang berlangsung, Emil berhasil menunjukkan dirinya sebagai figur pemimpin muda, berkapasitas, berani dan cerdas. Ini menjadi rujukan dari para pemilih di Jawa Timur,” katanya.

Ketiga, satu faktor yang menentukan adalah langkah cantik dari Gubernur Jatim, Pakde Karwo, yang pada detik-detik terakhir melansir surat terbuka kepada masyarakat Jawa Timur untuk memilih pasangan Khofifah-Emil dengan pertimbangan kapasitas calon.

“Basis dukungan Pakde yang masih kuat baik dikalangan basis Mataraman maupun Kiai ikut memberikan kontribusi suara kepada pasangan Khofifah-Emil Dardak,” kata CEO Initiative Institute itu.

Sementara itu, peneliti senior Surabaya Survei Center (SSC), Surokim Abdusalam, Kamis, 28 Juni 2018 menyampaikan strategi mengikat massa bawah Khofifah menyentuh rasa hingga punya ikatan batin kuat dan tidak mudah berubah.

“Sehingga massa bawah mudah mengidentifikasi diri sebagai pendukung fanatis. Emil effect ada pergerakan suara rasional dan Khofifah memeroleh tambahan ceruk dari Emil, yang mengimpresi pemilih milenial rasional,” katanya.

Pemilih kultural Nahdlatul Ulama berbalik mendukung Khofifah karena melihat Khofifah sebagai kekuatan arus bawah.

Hal itu semakin meneguhkan pemilih Jawa Timur untuk bergerak rasional dan lebih banyak mempertimbangkan kompetensi, kualitas paslon, serta figur yang berkontestasi.

“Saya melihat tetap faktor undecided voters dan swing voters yang memberi pembeda, sebagian besar pemilih milenial dan pemilih rasional,” ucap Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura itu.

Menurut dia, sebenarnya faktor Puti Guntur Soekarno harus diberi apresiasi karena bisa membuat solid suara internal kelompok nasionalis.

Tapi untuk suara eksternal di luar itu, tidak cukup bisa meyakinkan pemilih di luar kelompok nasionalis.

“Penentu kemenangan Khofifah-Emil karena sumbangan signifikan dari pemilih milenial-rasional,” katanya.

Surokim megatakan, pemilih pemula juga sebagian besar mendukung paslon 1 karena impresi Emil Dakdak yang memiliki kompetensi dan kapasitas yang menonjol.

“Ini semakin menegaskan bahwa pemilih Jawa Timur bergerak signifikan memilih atas pertimbangan rasional dan pertimbangan sosiologis, psikologis menjadi komplementer, tidak lagi jadi yang utama,” ucapnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Indonesia baru saja menggelar Pemilihan kepala daerah 2018 secara serentak.

Pilkada serentak ini dilaksanakan di 171 daerah di Indonesia, pada Rabu, 27 Juni 2018.

Saat ini beberapa lembaga survei telah memberikan hasil perhitungan cepat dari pilkada serentak hari ini.

Beberapa calon pun sudah memberikan pidato kemenangan sementaranya.
Ikut meramaikan pilkada serentak, warga net pun membuat beberapa meme kocak untuk mengingatkan warga Indonesia lain menggunakan hak pilihnya.

Dilansir oleh TribunWow.com dari berbagai sumber, berikut ini tujuh meme kocak Pilkada serentak Indonesia 2018.

1. Belum Jadi Pilihan
Netter menggunakan tagar #nyoblosserentak di Instagram untuk meramaikan pilkada serentak.

Istimewa

2. Pengertian Pilkada
Pengertian pilkada menurut warga net.

Istimewa

3. Tinta Pilkada
Tinta pilkada bagi warga net.

Istimewa

4. Pil KB
Netter juga menjelaskan perbedaan pilkada dan pil kb.

Istimewa

5. Tinta Ungu
Menyelupkan tinta di kelingking sudah terlalu biasa.

Istimewa

6. Kecelup Tinta
Anak kecil kecelup tinta ungu. (***)

Istimewa

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengajak warga yang memiliki hak pilih untuk tidak menjadi golongan putih (golput) atau tidak menggunakan hak suaranya dalam gelaran Pilkada Serentak 2018.

Ajakan untuk tak golput itu ditulis Ahok dalam pesannya yang diunggah di akun Instagram @basukibtp menjelang waktu pencoblosan, Rabu, 27 Juni 2018.

Dalam surat itu Ahok menulis:

Kepada warga yang mempunyai hak suara, gunakan hati nurani dan akal sehat kalian dalam memilih pemimpin kalian dalam Pilkada ini. Jangan Golput, pilih yang sungguh-sungguh paham dan mau berjuang demi masyarakat.

Unggahan surat Ahok oleh @timbtp itu mendapat respons dari warganet. Di antaranya ada yang mengungkapkan kerinduan pada Ahok, dan ada juga yang menyebut masih ada warga yang waras.

@ jerkasjerkyPak Ahok, masih banyak orang Indonesia yang waras pak. Jangan menyerah ya pak. Demi Nusantara yang lebih baik

@ iraaxtmorrw__Ah bisa aja ni ko @basukibtp saya dan keluarga pasti pilih sahabat deh @djarotsaifulhidayat kan sahabat2 nya ko ahok yg jujur seperti koko

@ damarmuktinusWkwkwk sutat dari kubur

Ahok saat ini masih berada di tahanan Mako Brimob untuk menjalani hukuman, karena kasus ujaran kebencian menjelang Pilkada DKI Jakarta. (***)

sumber: bisnis.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pilkada serentak di seluruh Indonesia tinggal beberapa hari lagi di mulai. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berharap pelaksanaan Pilkada serentak berangsung aman.

“Ya, harapannya yang terbaiklah yang menang,” kata JK di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 23 juni 2018.

“Ya harapan kita semua begitu ya, aman dan damai,” sambungnya.

JK mengatakan dalam beberapa hari terakhir jelang pencoblosan tidak ada konflik yang terjadi di daerah di Indonesia. Termasuk konflik suku di dalamnya.

“Buktinya kan beberapa hari ini aman, tidak ada konflik apa-apa. Ngomong saja banyak, tapi tidak ada konflik suku,” terangnya.

Menurut JK, tak perlu ada yang dikhawatirkan. Dia menyatakan pemilu adalah hal yang sama yang terjadi berulang.

“Tidak ada yang dikhawatirkan. Pemilu di mana-mana juga begitu,” ujarnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO,ID, Jakarta – Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menyatakan siap maju menjadi calon presiden 2019. Respons dari 10 parpol di DPR pun macam-macam.

Kesiapan Amien maju sebagai capres ia sampaikan seusai acara buka puasa di rumah dinas Ketum PAN Zulkifli Hasan, Sabtu, 9 Juni 2018.

Selain Amien, tiga nama yang tengah dijaring PAN adalah Zulkifli, Soetrisno Bachir, dan Hatta Rajasa.

“Nah Mbah Amien Rais ini walaupun tua ya nggak apa-apa. Begitu Mahathir jadi, saya jadi remaja lagi sekarang. Biarlah nanti rakyat yang buat penilaian,” tutur Amien kepada wartawan di lokasi.

Parpol-parpol lainnya ada yang mendukung Amien, skeptis, bahkan mengungkit kekalahan Amien di Pilpres 2004. Seperti apa respons mereka?

1. PAN

PAN menuturkan, salah satu pemicu Amien maju sebagai capres karena faktor kemenangan Mahathir Mohammad sebagai PM Malaysia di usia ke-92. Amien yang saat ini berusia 74 tahun, dinilai masih sanggup untuk memimpin bangsa.

“Karena begitu Mahathir jadi PM Malaysia, Pak Amien jadi merasa remaja karena 20 tahun lebih muda. ak Amien kan di bawahnya, jadi sangat memungkinkan karena secara fisik dan pemikiran siap,” ujar Wasekjen PAN Saleh Partaonan Daulay.

Secara terpisah, Waketum PAN Viva Yoga Mauladi membeberkan 3 alasan PAN serius mencapreskan Amien, yaitu:

1. Pak Amien memiliki integritas sebagai pemimpin nasional, cinta NKRI dan cinta rakyat Indonesia.
2. Pak Amien memiliki konsep dan kapasitas leadership dalam memimpin perjuangan bangsa Indonesia menuju pada cita-cita Nasional sesuai berdirinya Negara Republik Indonesia.
3. Pak Amien masih memiliki fisik kuat dan stamina prima dalam beraktivitas sesuai tuntutan kerja. Usia tidak menghalangi dalam menjalankan tugas pokok pekerjaan.

2. Gerindra

Gerindra menjelaskan, Amien masih memiliki hak untuk maju sebagai capres secara konstitusional. Namun apakah Gerindra siap menyorongkan Amien sebagai capres/cawapres akan dibahas seusai Pilkada Serentak 2018.

“Kalau bicara siapa pendamping Pak Prabowo, semua harus dirundingkan. Tak hanya Pak Amien, mau Bang Zul, 9 nama PKS, Mas AHY, Mas Anies, Pak Gatot, siapa pun,” ujar Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade.

3. PKS

PKS mengapresiasi niatan Amien. Meski begitu, PKS menyarankan supaya figur muda yang lebih didorong untuk memimpin bangsa. Figur muda ini termasuk 9 capres/cawapres yang dimiliki PKS.

“Apresiasi niat mengusung Pak Amien. Usia 74 tahun tentu lebih muda dari usia Dr Mahathir Mohammad yang jadi PM usia 92 tahun. Tapi akan jauh lebih baik jika kita mulai memberikan kesempatan pada yang muda untuk memimpin bangsa,” kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

4. Hanura

Hanura meragukan Amien maju Pilpres. Hanura meminta Amien mengubur angannya maju sebagai capres.

“Saran saya kepada Amien Rais agar jangan berfiksi pengen nyapres deh lebih baik berzikir aja,” tutur Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir.

5. PPP

PPP menilai kapasitas Amien beda jauh dengan Mahathir. PPP turut mengungkit kekalahan Amien pada Pilpres 2004 saat berduet dengan Siswono Yudo Husodo.

“Menyamakan diri dengan Mahathir ya jauh lah dan beda situasi sosial-politiknya. Mahathir pernah menjadi PM dan berprestasi sehingga dikenang oleh rakyat Malaysia. Maka ketika Mahathir kembali ke politik, daya ingat rakyat Malaysia masih kuat. Amien Rais? Menjadi ketua MPR yang banyak melakukan amendemen UUD 1945 yang salah satunya memicu liberalisasi politik dan ekonomi. Dan pemilu 2004 juga sebagai calon presiden, hasilnya ya kalah,” ujar Wasekjen PPP Achmad Baidowi.

6. NasDem

Partai besutan Surya Paloh ini menganggap manuver Amien hanya dagelan politik. engan siapnya Amien jadi capres, hal tersebut dinilai NasDem membuat kondisi ‘koalisi sebelah’ tambah runyam.

“Itu semua pernyataan lucu-lucuan. Kenapa? Karena itu menambah rumitnya dan menambah bingung situasi koalisi itu sendiri. Koalisi belum terbentuk, membuat tambah rumitnya koalisi sebelah,” ujar Sekjen NasDem Johnny G Plate.

7. Golkar

Golkar mendukung Amien maju sebagai capres ketimbang terus mengkritik pemerintahan Joko Widodo. PAN mendoakan Amien beruntung di tahun 2019.

“Pak Amien Rais memiliki kapasitas dan kemampuan untuk memimpin RI ini. Daripada teriak-teriak mengkritik Pemerintahan Pak Jokowi lebih baik maju saja sebagai capres. Berjuang merebut kekuasan Pemerintahan. Kita buktikan mana yang paling dipercaya rakyat,” ujar Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily.

8. PKB

Menurut PKB, jika Amien maju Pilpres, akan meramaikan kontestasi lima tahunan. Namun PKB menyebut duet Jokowi-Cak Imin (JOIN) tetap unggul.

“Kalau nanya saya, JOIN paling kuat dan tak terkalahkan,” ujar Wasekjen PKB Daniel Johan.

9. PDIP

PDIP menyebut, niat Amien maju sebagai capres dilindungi konstitusi. Nama Amien juga sudah diantisipasi PDIP jika benar-benar maju Pilpres dan berduet dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto

“Bagus. Demokrasi kita semakin membuka banyak pilihan. Salah satu yang sudah kami antisipasi dalam simulasi Pilpres memang paslon Prabowo-Amien Rais,” ujar Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno.

10. Partai Demokrat

Menurut Demokrat, jika Amien maju, Pilpres tidak melulu soal rivalitas Joko Widodo dengan Prabowo Subianto saja. Selain itu, Demokrat mempertanyakan peluang Amien maju Pilpres.

“Kalau kita mencermati dengan betul apakah Pak Amien punya peluang maju, ini yang jadi pertanyaan. Kalau kesiapan saya pikir banyak orang yang siap. Tetapi syarat di presidential threshold itu kan sangat membebani dan berat, ini kan yang tidak mudah,” ujar Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Demokrat Ferdinand Hutahaean. (***)

sumber: detik.com