SELAYANG

MEDIAKEPRI.CO.ID – Pemandangan pengguna jalan di sejumlah ruas jalan, melakukan pelanggaran lalu lintas (lantas), sudah merupakan hal biasa. Dan ironisnya, mereka mengerti dengan kesalahan itu.

Berbagai jenis pelanggaran, dapat dengan mudah kita lihat secara kasat mata. Dan yang paling sering ditemui, kelengkapan berlalulintas yang aman dan nyaman bagi diri mereka pun, tetap diabaikan.

BACA: Gabriel Lema Canangkan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi

BACA: 72 Tahun Lalu, Perundingan Indonesia-Belanda di Linggarjati

BACA: Kapolda Jadi Irup, Gubernur Ikut Upacara 73 Tahun Brimob

Hal yang paling muda, jenis pelanggaran yang paling umum ditemui, seperti, tidak menggunakan helm, kondisi kendaraan yang tidak standar, cara berkendaraan yang tidak mengindahkan keselamatan. Dan masih banyak lagi jenis pelanggaran yang dengan gampang dapat ditemui disejumlah ruas jalan.

Begitu juga dengan pengguna jalan di Kepri dan Batam khususnya.
Sayangnya, ada bagi sebahagian pelanggar lantas ini, merasa bangga dengan pelangaran yang diperbuatnya tersebut. Ketika melakukan pelanggaran lantas, bagi pengguna jalan hanya takut kepada polisi, khususnya polisi lalu lintas (Polantas).

BACA: Usulan UMK Bintan Rp3,36 Juta, Langsung Diteruskan ke Pemprov

BACA: Pekan Depan, Presiden Jokowi Berkunjung ke Lingga

BACA: PM Sutan Sjahrir Bentuk Brigade Mobil

Jadi disaat aksi ‘heroik’ itu ketahuan, mereka hanya bisa menampilkan wajah lugu tanpa dosa. Dengan sejuta dalih, karena ada kepentingan yang mendesak, mereka minta dan memohon pengampunan.

Terlepas dari bentuk dan jenis pelanggaran itu, ada pertanyaan yang fundamental, kenapa pelanggaran itu tetap ‘terpelihara’ dengan baik?.

BACA: KPU Karimun Tetapkan 168.790 Pemilih Tetap

BACA: 6 Poin Ini Disampaikan Kapolda Kepri saat Silatulrahmi dengan Permabudhi

BACA: Penutupan TMMD ke-103, Gabriel Lema: TNI Tidak Hanya Sebatas Program

Agus, pegawai di Kecamatan Nongsa menolak ketika kondisi ini terjadi karena kurang maksimalnya tupoksi penegak hukum, khususnya Polantas. Sebuah perbincangan kecil di Rotiman, Botania, Batam Centre, Kamis, 15 November 2018, Agus menyoroti kultur (budaya) berlalu lintas masyarakat yang belum baik.

“Masyarakat ini takut dengan polisi, daripada takut dan malu dengan diri sendiri,” katanya.

BACA: Saleem Iklim Akhirnya Tutup Usia Setelah Kecelakaan Tragis yang Menimpanya, Ini Kronologinya

BACA: Apes, Niat Hati Kabur Bawa Motor Paman untuk Jumpai Orang Tuanya, ABG Ini Malah Alami Kecelakaan

BACA: Terungkap! Rem Berfungsi Baik, Ternyata Ini Penyebab Kecelakaan Tragis Truk Gula yang Tewaskan 12 Orang

Dalam obrolan santai ditemani secangkir kopi, langkah nyata yang ditawarkan kesadaran masyarakat itu sendiri. Sadar akan keselamatan, mengerti dengan kenyamanan, paham tentang aturan, maka ketertiban akan tercipta.

“Kalau tak sadar, tak ngerti dan tak paham, lantaklah. Jika terjadi sesuatu yang tak baik, harus sadar, mengerti dan paham, dengan akibatnya,” kata Agus sambil tersenyum. (eddy)

ADVETORIAL

Senin | 29 Oktober 2018 | 16:33

Dispora Laksanakan Upacara HSP ke 90

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Pemerintah Kota Tanjungpinang
melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota  Tanjungpinang melaksanakan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke 90 di Lapangan Pameda, Senin, 29 Oktober 2018. 

Perwakilan FKPD, Ketua DPRD Kota Tanjungpinang, Suparno, Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Hj Rahma, Sekda Tanjungpinang, Riono beserta Ketua PKK Tanjungpinang, Juriah Syahrul ikut upacara HSP ke 90 di Lapangan Pamedan. (Istimewa)

Kegiatan tersebut disejalankan dengan penyerahan hadiah  secara simbolis lomba pawai budaya dan mobil hias dalam  rangka memperingati HUT Kota Otonom.

Upacara pagi itu diikuti berbagai kalangan. Diantaranya,  para pelajar, gabungan berbagai organisasi serta Kepala FKPD dan Kepala OPD di lingkungan Pemko  Tanjungpinang.

Peringatan HSP itu, Wali Kota Tanjungpinang, H Syahrul  bertindak sebagai inspekstur upacara. Ia juga  membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga  (Menpora) RI, Imam Nahrawi.

Hadir juga Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Hj Rahma beserta Ketua PKK Tanjungpinang, Juriah Syharul. Hadir juga Ketua DPRD Tanjungpinang, Suparno beserta Sekda Kota Tanjungpinang, Riono didampingi istrinya.

Juara I, lomba mobil hias menerima hadiah. (Istimewa)

Sesuai amanatnya, diingatkan kepada pemuda mengenai manfaat Teknologi Informasi (TI). Ia mengibaratkan
teknologi informasi seperti dua mata pisau, Diminta untuk mampu men-filter atau menyaring dengan memiliki ilmu pengetahuan serta kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara.

Sesuai amanat Imam Nahrawi, TI disatu sisi bisa memberikan jaminan kecepatan informasi dan memungkinkan pemuda meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam penegembangan sumber daya untuk
peningkatan daya saing.

Namun di sisi lain, teknologi membawa dampak negatif informasi bersifat destruktif,  mulai dari hoaks, hate speech, pornografi, narkoba, pergaulan bebas, dan radikalisme serta terorisme.

“Karena itu, pemuda harus memiliki filter dalam mengakses teknologi informasi,” ucap Syharul memberikan arahan.

Dituturkannya, program revolusi mental sangat relevan dilakukan untuk melahirkan pemuda yang berkarakter,
berkapasitas, dan berdaya saing, Selain itu, Menpora juga mengapresiasi pemuda dan pemudi Indonesia yang bertanding dalam ajang Asian  Games 2018 dam Asian Para Games 2018.

Menurutnya, sejarah baru kebangkitan olahraga Indonesia dan harus menjadi momentum membangun optimisme
pemuda Indonesia dengan bekerja keras mewujudkan prestasi berbagai bidang.

Terakhir, Menpora mengingatkan peran pemuda untuk menjaga kerukunan dan persatuan menjelang Pilpres 2019 dan Pileg 2019.

Syharul membacakan, pemuda harus mampu keluar dari jembatan primordial, suku, agama, ras, dan kultur, menuju
persatuan dan kesatuan. Maka tugas saat ini, pemuda harus sanggup membuka pandangan keluar batas tembok kekinian dunia, demi menyongsong masa depan lebih baik.

Pasukan pengibaran bendera mengabarkan merah putih dalam upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda. (Istimewa)

Ini Pemenang Pawai Budaya dan Mobil Hias

Untuk diketahui, sesuai hasil keputusan dewan juri Pawai Budaya dan Mobil Hias telah memutuskan juara-juara dari berbagai kategori, Diantaranya, perhelatan pawai budaya kategori tingkat TK ,juara pertama diraih TK Asyolihah. Disusul juara kedua TK  Pembina1 dan juara ke tiga TK Bayangkari.

Untuk tingkat SD, juara pertama diraih SDN 005 Tanjungpinang Kota, disusul juara kedua SDN 014 Bukit  Bestari serta juara ketiga SDN 014 Tanjungpinang Timur.

Dilanjutkan dengan tingkat SMP, Juara pertama diraih  MtsN Tanjungpinang. Disusul juara kedua SMPN  1 Tanjungpinang dan juara ke tiga SMPN 7 Tanjungpinang. 

Kategori tingkat SMA sederajat, juara pertama diraih  SMKN 2 Tanjungpinang disusul juara kedua SMAN 4
Tanjungpinang dan juara ketiga SMKN 1 Tanjungpinang.

Kategori kecamatan, juara pertama diraih Kecamatan  Tanjungpinang Barat, disusul juara kedua Bukit Bestari dan yang terakhir Kecamatan Tanjungpinang Timur.  Sedangkan kategori mobil hias, juara pertama di raih Dinas Lingkungan Hidup disusul juara kedua Disduk Capil  dan yang ketiga Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam — HANYA dengan membayar angsuran pertama sebesar Rp 3 juta, bisa langsung serah terima kunci hari itu juga. Sementara DP atau Uang Muka bisa diangsur sambil menempati. Angsuran DP juga terbilang sangat ringan yaitu di bawah UMK, dan harga yang ditawarkan pun istimewa, yaitu Type 39/78 harganya setara dengan harga Type 36. Demikian dikatakan Harry, dari Divisi Marketing Tunas Regency, Sagulung, kepada wartawan baru-baru ini.

Harrry menjelaskan, ini adalah Program Perumahan Tunas Regency, Sagulung, dalam rangka memberikan kemudahan kepada masyarakat yang belum memiliki rumah. Ini kesempatan bagus bagi masyarakat Batam khususnya dan siapa saja yang berniat memiliki rumah sendiri.

Contoh Rumah Ready Stock Tunas Regency

Khusus Rumah Siap Huni (Ready Stock) untuk blok tertentu, akan mendapat diskon tambahan sampai dengan Rp 30 jt. Menariknya, kata Harry, harga rumah di Tunas Regency ini juga sudah termasuk Biaya Notaris, Biaya Sertifikat, dan Pajak Pembeli (BPHTB). Gratis Instalasi Gas PGN untuk Rumah Tangga dan TV Kabel dengan 60 Channel.

Perumahan Tunas Regency yang berdiri di atas lahan seluas 52 Ha ini, berada pada posisi dan lokasi yang sangat strategis. Dekat sekali ke berbagai tempat-tempat layanan umum seperti Plaza, Pasar Basah, Bank/Atm, Sekolah, SPBU, dan lainnya.

Secara umum kawasan Tunas Regency memang memiliki beberapa keunggulan. Selain lokasinya yang bagus, Perumahan Tunas Regency ini juga memiliki Fasilitas Umum yang sangat komplit, antara lain SMP dan SMU Negeri dalam kawasan perumahan, sarana tempat ibadah, arena olahraga, clubhouse, kolam renang, jaringan Gas PGN Rumah Tangga, jaringan TV Kabel, dan lain-lain.

Demi menjaga keamanan, perumahan ini juga menerapkan konsep cluster, yaitu akses ke dalam perumahan melalui satu pintu gerbang dengan system keamanan 24 jam. Di dalam cluster,  Row Jalan perumahan lebar sampai 10 meter, sehingga memberikan kesan sangat lega dan nyaman.

“Ini kesempatan yang sangat bagus bagi masyarakat Batam yang ingin memiliki rumah yang nyaman dan asri. Lokasinya strategis, fasilitas yang komplit, dan harganya terjangkau, berani dibandingkan dengan harga-harga rumah di beberapa perumahan lain yang setara,” kata Harry, Kamis, 16 Agustus 2018.

Bagi yang berminat, segera saja hubungi Team Marketing atau silahkan datang langsung ke Kantor Pemasaran. Informasi lebih lanjut bisa hubungi  WA : 0812 858 1331. (***)

OPINI

Kamis | 16 Agustus 2018 | 19:15

Pendidikan dalam Upaya Mengisi Kemerdekaan

Oleh : AMIR

Tahun 1945 Hiroshima dan Nagasaki lulu lantah di bom oleh Amirika Srikat, dan pada tahun yang sama tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia mencapai kemerdekaannya. Dengan lulu lantahnya jepang ini Kaisar Hirohito terpaksa menyerah kepada sekutu dan sang Kaisar berusaha mengumpulkan kembali semua jendral yang masih hidup dan tersisa lalu sang Kaisar bertanya kepada mereka “Berapa Jumlah Guru Yang Masih Tersisa?“.

Beberapa jenderal yang mendengar pertanyaan sang Kaisar Hirohito bingung dan menegaskan bahwa mereka bisa bertahan dalam menyelamatkan diri dan bisa melindungi Kaisar walau tanpa guru, namun ada yang mengejutkan yaitu jawaban sang Kaisar yaitu “Kita Telah Jatuh, Karena Kita Tidak Belajar”. Sang Kaisar juga memahami kalau jepang kuat dalam persenjataan namun lemah dalam strategi. Maka perintah selanjtnya dari kaisar yaitu mengumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa dari seluruh pelosok, dan mereka akan bertumbuh kepada kekuatan.

Sejarah diatas mengingatkan kita betapa pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa, bangsa yang maju rata rata rakyatnya berpendidikan tinggi dan mampu bersaing dengan Negara Negara luar. Eropa menjadi salah satu rujukan pendidikan dunia kareana rakyatnya mampu mengatasi beberapa keadaan dan mendominasi kekuatan dunia, ini artinya upaya serius pemerintah dalam mengisi kemerdekaan melalui pendidikan adalah salah satu langkah yang sangat tepat, teknologi yang hebat butuh orang terdidik yang hebat untuk membuatnya, bahkan Negara yang tidak mempunyai banyak sumberdaya alam yang besar seperti jepang pun mampu mensulap negaranya karena pendidikan rakyatnya itu mampu dalam mengatasi persoalan.

Dalam upaya mengisi kemerdekaan, mulai dari resim orde lama sampai dengan reformasi telah banyak rakyat Indonesia yang sekolah atau disekolahkan Negara keluar negeri, tujuan tersebut tidak lain untuk menimba ilmu dari Negara yang sudah maju seperti Rusia, Amirika, Timur Tengah dan Negara Negara Lainnya. Selain itu Indonesia sekitar tahun 1970an pernah menjadi rujukan pendidikan diberbagai bidang oleh Negara Tetangga seperti Malaysia, Malaysia datang ke Indonesia dengan tujuan menimbah ilmu. Namun kenyataan yang ada saat ini justru berbalik dengan kondisi beberapa tahun silam dimana Malaysia datang ke Indonesia sekarang Indonesia lebih banyak belajar keluar.

Pertanyaan sederhana adalah,. Mengapa Indonesia masih belum bisa seperti Jepang? Tentu jawabannya juga sangat sederhana, kareana pada prinsipnya rakyat Indonesia bukan rakyat pemalas melainkan apa yang mau dikerjakan terkadang juga tidak tau apa yang harus dikerjakan karena faktor keterbatasan pendidikan. Jika pendidikan ini diatas rata rata maka dalam upaya mengisi kemerdekaan ini sangatlah muda diraihnya dalam menggapai cita cita tinggi bangsa. Contoh Lain, jika rakyat Indonesia mempunyai kemampuan mengelolah sumber daya alam yang sangat besar dan melimpah ini maka nasionalisasi perusahaan besar bisa dilakukan oleh rakyat Indonesia. Karena pada dasarnya tujuan pendidikan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan dalam undang undang No 20 tahun 2013 tentang system pendidikan Nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan secara umum yaitu mampu mencerdaska kehidupan bangsa.

Upaya dalam percepatan mengisi kemerdekaan ini salahsatunya melalui penguatan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia baik melalui pendidikan formal, non formal bahkan pendidikan informal sekalipun. Penegasan tentang penguatan pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 point 10, 11, 12, 13, dan 14 “satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan” Pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Selain penguatan tentang undang undang system pendidikan yaitu upaya minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan ini benar dijalankan dengan tujuan mempersiapkan generasi emas masa depan. Disisi lain pendidikan Indonesia yang ditangani oleh beberapa kementerian seperti; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (SD, SMP, SMA, Non Formal dan Informal), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (PTN/PTS), Kementerian Kesehatan (Poltekes), Kementrian Dalam Negeri (IPDN), Kementerian Keuangan (STAN), Kementerian Agama (MI, Mts, MA, UIN, STAIN), Kementerian Perhubungan (Pelayaran) dan Kemenkumham.

Berdasarkan sumebr dari data Kemendikbud tahun 2018 diperkirakan jumlah sekolah ada 217.586 dan Jumlah Guru sekitar 2.718.861 sementara Jumlah Siswa 45.379.879. Jumlah sebaran lembaga pendidikan ini mulai dari pelosok desa sampai dengan ibu kota diharapkan mampu menjawab tantangan zaman dan mampu mengisi kemerdekaan. Merdeka secara kebebasan berfikir, merdeka tanpa dijajah oleh asing baik sumberdaya alamnya atau pemikirannya.

Kemerdekaan ini tentu menjadi harapan setiap bangsa, namun pada kenyataan yang ada kemerdekaan ini seakan akan dimiliki oleh sebagian saja melihat sumberdaya alam melimpah seperti dipapua tetapi kesejahteraan rata rata masih beda jika dibandingkan dengan jawa. *

BIOGRAFI PENULIS:

Tempat / Tanggal lahir : Sumenep, 25 Agustus 1986
Aktifitas : Lulusan Universitas Negeri Malang (S2)

OPINI

Selasa | 14 Agustus 2018 | 9:31

Partisipasi Politik Aktif 2019

Oleh: Amir

Indonesia, atau lebih dikenal dengan dengan sebutan Negara kesatuan Republik Indonesia adalah Negara besar di kawasan Asia Tenggara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa dan berada di antara daratan benua Asia dan Australia. Serta berada di di samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Indonesia juga dikenal sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri sekitar dari 17.504 pulau. Dengan populasi sekitar 270.054.853 juta jiwa berpenduduk berada diperingkat keempat di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Data diatas menunjukkan bahwa Indonesia adalah Negara besar yang harus mempunyai kemampuan besar.

Sebagai warga Negara Indonesia dari kalangan apapun berhak menjadi calon pemimpin baik legislatif, eksekutif dan yudikatif. Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 1 tahun 2015 penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati, dan walikota, pasal 7 “setiap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencalonkan diri dan dicalonkan”. Dalam hal ini tentu calon pimpinan diperbolehkan selama yang bersangkutan tidak melanggar aturan yang ada dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.

Indonesia yang terdiri dari 8.490 kelurahan, 74.957 desa, 7.094 Kecamatan, 416 Kabupaten, 98 Kotamadya, dan Propensi 34, menginginkan kepemimpinan yang mampu mensejahterakan masyarakat secara umum, berkapasitas yang mempuni untuk menjadi pemimpin masa depan, dan memadai baik pengalaman dan jam terbang yang tinggi, selain itu tidak kalah pentingnya pemimpin yang jujur adalah harapan yang sebenarnya, sosok yang dikenal, disukai, dan dipilih menjadi barometer utama untuk memenangi kontestasi 2019 ini, baik calon legeslatif tingkat kab/kota, propensi, pusat hingga pemilihan presiden dan wakil presiden.

Persaingan yang semakin berat membuat para calon pemimpin harus semakin kreatif, inovatif dan produktif, disisi lain kontestasi perebutan kursi yang direbutkan untuk tahun 2019 DPR RI, jumlah kursi ditetapkan bertambah 15, dari 560 kursi menjadi 575 kursi. Tahun “2014 ada 77 dapil, kemudian 2019 ada 80 dapil dengan jumlah kursi di DPR RI, dari 560 menjadi 575,” Kemudian pada DPRD tingkat Provinsi ditetapkan bertambah 95 kursi, dengan penambahan 13 daerah pemilihan yang sebelumnya 259 menjadi 272 dapil. “Jumlah kursi anggota DPRD Provinsi ini bertambah juga dari 2114 menjadi 2207 dan untuk anggota DPRD tingkat Kabupaten/Kota juga ditetapkan bertambah sebanyak 715 kursi. Jumlah tersebut mengikuti bertambahnya daerah pilih yang sebelumnya 2.102 menjadi 2.206 dapil. “Jumlah kursi DPRD kabupaten/kota juga bertambah cukup signifikan dari 16.895 menjadi 17.610,”. (Sumber:https://www.merdeka.com)

Strategi parpol untuk pemenangan kandidat jau jau hari sudah digemakan untuk mendulang sura terbanyak di 2019, kendati sedemikan masyarakat juga dipusingkan dengan adanya teka teki pemimpin masa depan Indonesia. program yang ditawarkan kandidat mungkin belum waktunya atau mungkin juga belum tau program yang sejatinya harus sesuai dan mendapat respon serta apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Kemampuan pemimpin 2019 harus mampu berjuang dalam menangani berbagai masalah yang dihadapi bangsa, tentu yang berdidikasi tinggi untuk menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab, karena berkaca kepada Negara besar seprti USA dalam kontestasi pemilihan presiden selalu menjadi isu tersendiri, indonesiapun sama dalam menjungjung tinggi citra bangsa karena presidenlah yang menjadi salah satu panutan pemimpin identitas Negara

Selain figur yang dijagokan mempuni ditataran praktis dalam implementasinya kesiapan tim sukses yang solid, professional, memahami keadaan, menjadi pilihan alternatif yang yang sangat tepat untuk memastikan pemilih yang menjadi sasaran utama, juga perlu kiranya dipahami pemilih atau pendukung yang biasa kita kenal terdapat tiga dukungan; 1. Pendukung yang berasal dari basis massa yaitu pendukung fanatik yang tidak mau berubah pilihannya, 2. Pendukung Partisan yaitu pendukung yang kemungkinan bisa berubah karena dipengaruhi oleh beberapa faktor atau tawaran tertentu, 3. Pendukung mengambang yaitu pendukung yang belum memutuskan suaranya akan diberikan kepada siapa.

Point paling paling penting masyarakat dalam politik aktif 2019 ini tidak lain karena menjaga martabat bangsa yang seutuhnya, mengingnkan pemimpin yang berwibawa, karismatik, pekerja keras, dan mampu melobi isu isu internasional agar bangsa besar ini juga diperhitungkan dunia, terlepas siapa saja yang menjadi pemimpin sebenarnya harapan masyarakat sudah terjawab ketika kesejahteraan semakin tinggi, kasus koropsi semakin berkurang, pendidikan semakin merata, kesehatan semakin baik, dan yang pasti mata dunia sudah berpusat kepada bengsa besar ini.*

Mahasiswa S2, Universitas Negeri Malang, Jawa Timur

OPINI

Senin | 13 Agustus 2018 | 11:36

Anak Muda dan Motor Cempreng

Oleh: Nofriadi Putra

Secara biologis masa anak muda adalah rentan waktu setelah masa anak-anak sampai pada masa sebelum dewasa. Faktor yang membedakannya dalam sebuah keluarga terletak pada sebuah tanggung jawab. Dalam hal tanggung jawab inilah kondisi-kondisi tertentu membatasi antara anak muda dengan orang dewasa.

Diawali dari lingkungan sosial yang terkecil yaitu keluarga. Anak muda diberi tanggung jawab yang besar dari anak-anak. Sedangkan, orang dewasa sudah pasti memenuhi hampir seluruh tanggung jawab dalam hal apa saja menyangkut kebutuhan dalam keluarga. Anak muda di Indonesia rata-rata masih berstatus sebagai anak sekolahan. Dalam pandangan ini dapat diambil sebuah benang merah yang bisa menyatakan bahwa anak muda bisa disebut dengan remaja.

Remaja atau anak muda dengan gayanya sendiri belum memiliki karakteristik yang utuh. Kerap sekali berubah-ubah. Remaja (anak muda) tidak mau dikatakan sebagai anak kecil dan belum dikatakan sebagai orang dewasa yang sudah mempunyai tanggung jawab secara ekonomi, sosial serta moral dalam keluarga. Sibley menjelaskan (dalam Chris Barker, 2005:425), “Anak muda tetap merupakan klasifikasi ambivalen yang diperebutkan, klasifikasi yang terikat di antara batas-batas masa anak-anak dan masa dewasa”.

Dilihat lebih jelas, makna remaja memiliki makna yang berbeda-beda dalam tiap waktu dan ruang. Tergantung kepada kondisi dan lingkungan yang ada pada remaja berada. Pada intinya, remaja belum diberi sebuah ruang yang dapat dimasuki oleh orang dewasa. Salah satu dunia orang dewasa yang belum boleh dimasuki oleh remaja itu adalah dunia seksual.

Melihat perkembangan remaja pada saat ini, kita seolah dihadapkan pada sebuah gaya dan caranya sendiri dalam ruang publik. Kebanyakan dari remaja sekarang justru memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal gaya, musik, fesyen dan dengan motornya. Kalau bisa dibaca remaja sekarang tampil dengan gaya dan kulturnya sendiri sebagai bagian dari perkembangan sebuah teknologi dan media informasi yang terus berkembang.

Salah satu bentuk gaya remaja sekarang yang dapat dilihat adalah bagaimana gaya, penampilan dan cara berkendara dalam menggunakan motor. Kerap sekali, di jalanan sering terlihat tampilan-tampilan motor yang dipreteli dan dimodifikasi sehingga berbeda dari bentuk produk asli hasilan pabrik. Dapat dicermati dan didengar pada bunyi knalpot dengan modifikasi yang cempreng, keras dan kasar. Secara tidak langsung, kita yang menyaksikan dan mendengarkan seperti mendengarkan sebuah dentuman yang memekakkan telinga.

Selain itu, remaja dengan motor cemprengnya di jalan raya juga memberikan kecemasan terhadap para pengguna jalan raya yang lain. Penulis pikir remaja dengan motor cempreng di jalan raya bukan suatu jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang dihadapinya di sekolah, seperti nilai buruk serta tingkah laku yang ugal-ugalan. Melainkan sebuah subkultur motor cempreng yang mengorganisasi aktif berbagai benda melalui cara-cara membawa motor, dengan ritme yang terkadang-kadang menghasilkan bunyi simbolis yang penuh gaya seolah menyampaikan pesan kelelakian, ketegarannya sebagai identitas remaja.

Remaja memiliki semangat yang sering kita anggap sebagai semangat yang berapi-api. Seringkali motor yang mereka gunakan berbeda dengan motor yang ada. Begitu juga dengan bunyi knalpot dan cara berkendara.

Remaja terlihat lebih berani dalam mengendara dengan kebutan serta dengan mengangkat ban depan sambil berdiri. Bahkan, seringkali berbeda dari mainstream berkendara yang ada atau bisa dikatakan sebagai sebuah subkultur yang akan memberi identitas pada remaja. Barker (2005: 427) menjelaskan tentang subkultur adalah “…Keragaman yang ada pada kolektivitas yang lebih luas yang secara gampang, tapi sebenarnya problematik, di tempatkan sebagai yang normal, rata-rata dan dominan. Dengan kata lain subkultur dikutuk dengan dan/atau menikmati suatu kesadaran “kelainan” atau perbedaan.”

Jadi subkultur motor cempreng dapat disimpulkan sebagai sebuah perlawanan terhadap kemapanan mengendarai motor. Subkultur di sini adalah remaja dengan motor cemprengnya, serta bentuk-bentuk motor yang banyak di modifikasi dan dipreteli dengan mengahsilkan bentuk yang baru. Terkesan remaja memberi perlawanan terhadap mainstream yang telah ada yaitu ruang dewasa yang penuh tanggung jawab.

Dengan demikian, gaya anak muda dan motor cempreng adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat tidak sebagai sebuah fenomena yang hadir di telinga dan mata kita. Suara keras, dan kebut-kebutan di jalanan yang dilakukan remaja secara tidak langsung telah menggambarkan identitasnya sebagai remaja itu sendiri. Akibatnya, menimbulkan kecemasan bagi para pengguna jalan yang lain. Kecemasan atas terjadinya kecelakaan-kecelakaan jalan raya. Willis lebih menjelaskan (dalam Barker 2005: 430), “Kesolidan, kecekatan, resiko, kekutan motor itu cocok dengan sifat dunia para bikeboys yang konkrit dan aman.”

Pada hal-hal konkrit, cara berkendara dengan kebutan dan mengangkat ban depan serta suara cempreng dan kekuatan ini adalah ciri dari interaksi sosial mereka terhadap lingkungan sosial. Suara kanalpot yang kasar cocok melambangkan kesetiakawanan yang kasar terhadap sosial mereka sesama pencinta motor cempreng. Ketika mereka berkendara di jalan raya, para motorbike dengan suara cempreng seperti menjinakkan suatu teknologi yang menakutkan menunjukkan kepada kita atas teror-teror teknologi mesin (motor).

Dalam hubungannya dengan teknologi dan industri, maka para anak muda dan motor cempreng merupakan kerja kreatif, ekspresif dan simbolis kultur yang bisa dibaca sebagai bentuk-bentuk perlawanan salah satunya dalam berkendara yang mapan. Dalam hal ini adalah perlawanan terhadap institusi sosial yang telah mapan, yaitunya masa dewasa yang penuh dengan tanggung jawab secara ekonomi. Merujuk kepada asumsi bahwa masa remaja menuju masa dewasa normalnya melibatkan pemberontakan, yang merupakan tradisi kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Memasuki sebuah gerbang modern dengan berbagai hasil teknologi. Remaja dengan motor cemprengnya di masyarakat membutuhkan arahan-arahan dan pertolongan serta saran profesional. Di sebabkan telah banyaknya barang-barang teknologi yang menjadi objek kultur sebagai apresiasi terhadap benda tersebut. Saran-saran profesional itu bisa saja berupa penyaluran bakat dengan memberikan ruang bagi mereka seperti sirkuit yang memadai. Lebih lanjut bisa berupa arena penyaluran bakat mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam berkendara. Demi tercapainya sebuah kondisi kondusif di jalan raya.

Satu hal yang sangat mencemaskan yang telah disinggung sebelumnya, dan perlu diantisipasi terhadap remaja adalah bagaimana cara mereka memasuki dunia dewasa (seksual). Untuk hal inilah dibutuhkan arahan-arahan. Bagaimanapun anak muda dan motor cemprengnya adalah sebagai bentuk apresiasi kultur dari barang teknologi (motor) yang menghindarkan mereka dari dunia seksual yang belum saatnya.

Selama masih dalam ruang dan kultur yang wajar, remaja dengan motor cempreng musti diberi arahan-arahan terhadap perbuatan yang menunjang mereka untuk mapan sesuai dengan profesi yang mereka sukai seperti menjadi seorang pembalap motor dengan segudang prestasi. Tujuannya untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses menuju dunia dewasa oleh remaja. Contohnya, prilaku menyimpang seperti sek bebas dan kenakalan yang lain seperti memakai narkoba dan alkohol.

Sesuai dengan harapan orang tua. Khususnya, bagi kita yang telah mempunyai tradisi dan kultur yang telah ditanamkan sejak lama, di mana pemeo dari tradisi kita ada mengatakan “anak dipangku, kemenakan dibimbing”. Serta merta dalam pengarahan ini dilibatkan seluruh institusi dalam pengawasan lebih dekat terhadap perkembangan gejala remaja yang berusaha menjauhi masa anak-anak dan berusaha untuk mendekati dunia orang dewasa. Perihal yang penting sekali adalah pengontrolan remaja terhadap prilaku serta menghindarkan mereka (remaja) dari prilaku menyimpang dan pengaruh narkoba seta alkohol yang merusak. Sehingga remaja yang berprestasi bisa di harapkan nanti di masa depan sesuai yang diinginkan yaitu dewasa yang mapan.*

Penulis adalah pegiat dalam komunitas Ruang Sempit

MEDIA FOTO

Senin | 23 Juli 2018 | 11:19

Apri-Deby Tutup Turnamen Sepak Bola Wanita

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bintan Bupati Bintan H Apri Sujadi bersama Ketua Tim Penggerak PKK Bintan Hj Deby Maryanti, menutup secara resmi turnamen sepak bola wanita Karang Taruna Penaga Cup I, di lapangan Tanah Merah, Sabtu (21/7) lalu. Di kejuaraan ini, tim sepak bola wanita Batu Licin (Bali) Club Kecamatan Bintan Timur (Bintum) keluar sebagai juara pertama, setelah mengalahkan tim Selat Bintan (juara kedua).

Turnamen sepak bola wanita ini diikuti 32 tim dari Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang, dengan pertandingan sistem gugur. Laga final sepak bola wanita tim Bali Club versus Selat Bintan ini turut disaksikan anggota DPRD Bintan Daeng M Yatir, Kadisdik Tamsir SSi MSi, Kasatpol M Insan Amin, Ketua Karang Taruna Kepri Said Idris, Kepala DP2APD-KB drh Kartini, Pj Kades Penaga Doddy, Ketua Karang Taruna Bintan Arief Sumarsono, Ketua Karang Taruna Penaga Said Tofik, dan ratusan suporter. ***

Narasi dan Foto : Istimewa

OPINI

Sabtu | 14 Juli 2018 | 20:42

Soal Freeport, Pencitraannya Kelewatan Bingit

SEANDAINYA pemerintah mengumumkan hasil negosiasi dengan Freeport Indonesia (FI) apa adanya, tentu kita harus meng-apresiasi. Negosiasi ini sangat alot dan sudah berjalan sekitar setahun. Perlu kerja keras dari pihak Inalum dan pemerintah. Saya percaya, bos Inalum Budi Sadikin akan mati-matian mencari deal terbaik bagi Indonesia. Dia dulu seorang bankir yang profesional dan hati-hati.

Sayangnya, pencitraan yang dilakukan oleh oknum pemerintah sangat kelewatan. Sangat membodohi rakyat. Saking berhasilnya, tidak sedikit yang menulis “terima kasih pak Jokowi” tanpa melakukan fact-check. Sampai-sampai seorang mahasiswa Indonesia di Inggris pun melakukan kebodohan yang sama.

Saya mendukung penuh usaha pemerintah mengambil alih saham mayoritas FI. Yang saya kritisi adalah pencitraan dan pembodohan rakyat yang kelewatan.

Mari Kita Lakukan Fact-check.

1. Apa yang sudah disepakati? Jawabnya, lebih pada soal harga. Tiga pihak, yaitu Indonesia (pemerintah dan Inalum), Freeport-McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto sepakat pada harga US$ 3.85 milyar, atau sekitar Rp 55 triliun. Ini adalah harga bagi pelepasan hak partisipasi Rio Tinto, plus saham FCX di FI.

Rio Tinto terlibat dalam negosiasi karena dia ber-joint venture dengan FCX, di mana hingga 2021 dia berhak atas 40% dari produksi di atas level tertentu dan 40% dari semua produksi sejak 2022. Gampangnya, meskipun FCX pemilik mayoritas FI, tapi 40% produksinya sudah di-ijon-kan ke Rio Tinto. Jadi selain saham FCX di FI, Indonesia juga harus membeli hak ijon ini.

2. Apakah Freeport sudah direbut kembali seperti klaim bombastis yang beredar? BELUM! Transaksi ini masih jauh dari tuntas. Kepada media asing seperti Bloomberg dan lainnya, pihak FCX dan Rio Tinto menyebut, masih ada isu-isu besar yang belum disepakati.

Dalam berita Bloomberg, Rio secara resmi menyatakan “Given the terms that remain to be agreed, there is no certainty that a transaction will be completed”. Jadi, masih belum ada kepastian bahwa transaksinya akan tuntas.

Menurut Freeport dalam berita Bloomberg, isu besar itu adalah: (a) hak jangka panjang FCX di FI hingga tahun 2041, (b) butir-butir yang menjamin FCX tetap memegang kontrol operasional atas FI, meskipun tidak menjadi pemegang saham mayoritas, dan (c) kesepakatan tentang isu lingkungan hidup, termasuk tentang limbah tailing.

3. Lalu kenapa pada bulan Juli 2018 tercapai kesepakatan harga? Dugaan saya, ini tidak lepas dari fakta bahwa IUPK sementara (Ijin Usaha Pertambangan Khusus) bagi FI habis pada 4 Juli 2018. Melalui revisi SK Nomor 413K/30/MEM/2017, IUPK diperpanjang hingga 31 Juli 2018. Sejak 2017, IUPK ini sudah berkali-kali diperpanjang.

4. Harganya mahal atau tidak? Saya belum bisa menjawabnya sekarang. Tapi yang jelas, sejak lama Rio Tinto pasang harga di US$ 3.5 milyar. Tidak mau nego. Indonesia akhirnya menyerah, terima harga US$ 3.5 milyar, ditambah US$ 350 juta bagi FCX.

Sebagai perbandingan, pada 1 November 2013 Indonesia “merebut kembali” Inalum dari Jepang. Pihak Jepang, yaitu NAA (Nippon Asahan Aluminium) ngotot dengan harga US$ 626 juta. Pemerintah ngotot US$ 558 juta. Jadi ada selisih US$ 68 juta. Jepang akhirnya takluk.

Mungkin memang lebih mudah mengalahkan Jepang dibandingkan “koalisi” dari AS, Inggris dan Australia.

5. Sebagai catatan, aset Inalum saat ini sekitar Rp 90 triliun. Dengan kesepakatan harga US$ 3.85 milyar, transaksi ini nilainya setara 61% aset Inalum. Saya ingatkan, jangan sampai Inalum over-stretched, yang bisa menjadi masalah besar di kemudian hari.

Berdasarkan fakta di atas, jelas bahwa Freeport belum “direbut kembali”. Transaksi belum terjadi karena ada isu-isu besar yang belum tuntas. Itu pun Indonesia nerimo saja harga yang dipatok oleh Rio Tinto. Jika transaksinya terwujud nanti, Indonesia harus membayar Rp 55 triliun. Tapi, FCX ngotot kontrol operasional tetap mereka yang pegang. Qulil haqqa walau kaana murran.

Penulis:  Dradjad Wibowo
Anggota Wanhor PAN
Ekonom Senior Indef

 

OPINI

Sabtu | 12 Mei 2018 | 11:19

Realita Mahasiswa Zaman “Now”

“Wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta”.

Lirik yang sudah tak asing lagi bagi mahasiswa-mahasiswa di seluruh penjuru negeri ini. Lirik lagu tersebut memang seakan menggambarkan fungsi dan perjuangan dari mahasiswa, namun apakah hari ini memang seperti itu realitanya?

Menurut Knopfemacher (dalam suwono, 1978) mahasiswa merupakan insan-insan calon sarjana yang terlibat dalam suatu instansi perguruan tinggi, dididik serta diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa memang menjadi ujung tombak dari suatu bangsa, semakin baik kualitas mahasiswa di suatu bangsa, maka semakin baik pula bangsa tersebut.

Namun demikian, sekarang mari kita berbicara peran dan fungsi mahasiswa yang pertama adalah sebagai social control di tengah masyarakat. Peran mahasiswa sebagai social control terjadi saat ada hal yang tidak beres maupun ganjil dalam masyrakat. Mahasiswa sudah seharusnya memberontak terhadap kebusukan-kebusukan yang terjadi dalam birokrasi yang selama ini dianggap lazim. Kemudian, jika mahasiswa acuh dan juga tidak peduli dengan lingkungannya, maka sudah tidak ada lagi harapan yang lebih baik untuk kehidupan bangsa nantinnya.

Mahasiswa memang sudah seharusnya menumbuhkan jiwa kepedulian socialnya, dimana mahasiswa harus peduli terhadap masyarakat, sebab mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Kepedulian tersebut bukan hanya diwujudkan dalam bentuk demo ataupun turun kejalan saja, tetapi dengan pemikiran-pemikiran cemerlangnya, diskusi-diskusi, atau memberikan bantuan moril dan juga materil kepada masyarakat serta bangsa.

Peran masiswa yang kedua adalah sebagai agent of change yang artinya mahasiswa juga sebagai agen perubahan. yakni bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri, kemudian dengan gagahnya mengusir para penjahat serta dengan gagah sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan oleh penduduk setempat. Dalam artian ini, mahasiswa tidak hanya menjadi penggagas perubahan, tetapi sebagai objek atau pelaku dalam perubahan tersebut. Sikap kritis yang positif harus dimiliki dan sering dapat membuat sebuah perubahan besar dan juga membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah serta cemas.

Banyak pembodohan serta ketidakadilan yang telah dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Sudah seharusnya Anda berpikir untuk mengembalikan dan juga mengubah keadaan tersebut. Perubahan yang dimaksud yakni perubahan kearah yang positif serta tidak menghilangkan jati dirinya sebagai mahasiswa dan juga Bangsa Indonesia.

Peran mahasiswa selanjutnya adalah sebagai guardian of value yang artinya Anda yang sudah dikatakan sebagai pelajar tingkat tinggi memiliki peran sebagai penjaga nilai-nilai masyarakat yang kebenarannya mutlak, yakni menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, gotong royong, integritas, empati dan sifat yang dibutuhkan dalam kehidupan dalam masyarakat lainnya. Selain itu juga, dituntut pula untuk mampu berpikir secara ilmiah tentang nilai-nilai yang mereka jaga. Bukan hanya itu saja, Anda juga sebagai pembawa, penyampai, dan penyebar nilai-nilai serta ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari.

Namun apakah hari ini kita sebagai mahasiswa masih menjalankan peran dan fungsi kita sebagaimana mestinya, apakah kita tetap menjaga marwah dan identitas kita sebagai garda terdepan dalam kemajuan bangsa? Hari ini kita secara pahit harus mengatakan kita secara perlahan mulai melupakan identitas kita sebagai mahasiswa. Lihatlah sekarang bagaimana mahasiswa yang hanya pergi kuliah untuk pulang, lihatlah lbagaimana mahasiswa sekarang yang hanya untuk mengatakan pendapat harus duduk diam dan gemetaran, lihatlah hari ini mahasiswa yang hanya diam tak bersuara ketika hak mereka dirampas dan dibelenggu oleh pihak-pihak tertentu dan apakah hari ini kita masih layak untuk disebut sebagai “Mahasiswa”.

Tidak sedikit pula mahasiswa zaman sekarang yang secara sadar atau tidak terlibat dalam politik praktis yang artinya mahasiswa tersebut hanya dijadikan sebagai “kuda” oleh pihak-pihak yang mencari kepentingan politik dengan melibatkan mahasiswa tersebut yang berakibat mahasiswa zaman sekarang sudah memiliki hubungan dan berinteraksi dengan partai politik yang mana hal itu sudah jelas dilarang di dalam peraturan per undang-undangan.

Realitanya kita memang sudah terlalu lama tertidur, melupakan fungsi dan identitas kita sebagai mahasiswa ditengah situasi dan persaingan global yang semakin sengit kita harus bangun dari tidur panjang kita ini dan mulai mempertanyakan kembali apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk negeri ini, apakah kita memang sudah menjadi mahasiswa yang sesungguhnya karena kita mau tidak mau, suka tidak suka adalah generasi-generasi yang kelak akan menentukan kemana arah bangsa ini akan dibawa.

Pada akhirnya penulis berharap kita semua sebagai mahasiswa dapat kembali menjalankan peran dan fungsi kita sebagai mahasiswa, kita ada untuk bersuara maka bersuara lah jika kita diam maka seluruh orang akan diam, jika kita bersuara maka disanalah hakikat kita sebagai mahasiswa terjadi. Kita ada untuk Indonesia kita ada untuk masyarakat yang kita cintai maka belajarlah untuk mengabdi, memenuhi panggilan negeri. (***)

Penulis: Deki R Abdillah
Wakil Bupati Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Jambi

sumber: serujambi.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Jika kita mau sedikit terbuka dan berkata jujur, bahwa masih banyak di antara kita yang bingung membedakan antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, benerkan?. Melalui tulisan ini mari kita paparkan secara sederhana, yang diambil dari beberapa sumber, termasuk dari kedua situs BPJS ini.

Pemerintah telah membentuk suatu perusahaan BUMN yang bergerak dibidang asuransi jaminan kesehatan sosial bagi seluruh masyarakat, program tersebut adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial disingkat menjadi BPJS. Badan ini memiliki tugas seseuai dengan Undang–undang nomor 40 tahun 2010 dan nomor 24 tahun 2011 dimana tugasnya yaitu menyelenggarakan jaminan sosial Indonesia, dan BPJS Merupakan Badan Hukum Nirlaba.

Sayangnya, meski sudah diluncurkan dan disosialisasikan, namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti perihal program pemerintah yang satu ini. Termasuk juga masih banyak yang kebingungan dan sulit membedakan, perbedaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Pada dasarnya, BPJS bukanlah hal yang benar-benar baru di Indonesia. Pasalnya, BPJS Kesehatan adalah transformasi dari PT Askes (Persero) yang tujuannya memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat. Sementara BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari PT Jamsostek (Persero). BPJS Kesehatan ini memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia, baik yang bekerja secara formal maupun informal. Dan saat ini juga sudah diwajibkan untuk semua masyarakat baik karyawan maupun non karyawan.

BPJS dibagi menjadi 2 yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, diantaranya memiliki beberapa berbedaan. Berdasarkan Undang–undang BPJS Nomor 24 Tahun 20011 pasal 6 yang berbunyi “BPJS Kesehatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 5 ayat (20 huruf a menyelengarakan Program Jaminan Kesehatan). Sedangkan untuk BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana yang dimaksud dalam pasa 5 ayat (2) huruf b menyelenggarakan program : Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian”.

Sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2011, Kehadiran BPJS menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang telah ada sebelumnya yaitu Askes diganti menjadi BPJS Kesehatan dan Jamsostek (kecuali JPK) diganti menjadi BPJS Ketenagakerjaan.

Adapun transformasi lembaga jaminan sosial sebelumnya menjadi BPJS.
Pada 1 Januari 2014 : PT Askes bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan.
Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari Jamsostek bertransformasi menjadi program JKN dari BPJS Kesehatan
Program JKN di wajibkan untuk Seluruh Warga Negara Indonesia

Pada 1 Juli 2015 : PT Jamsostek (selain program JPK) bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan.
Program yang dselenggarakan BPJS Ketenagakerjaan adalah : Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian.
Program dari BPJS Ketenagakerjaan diwajibkan untuk seluruh pekerja penerima Upah.

Keduanya memiliki tugas dan fungsi yang berbeda

BPJS Kesehatan memberikan perlindungan yang sesuai dengan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Jaminan kesehatan dari BPJS jenis ini meliputi: Pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama, Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan dan
Rawat inap

BPJS Ketenagakerjaan bertujuan untuk memberikan beberapa jenis jaminan, yaitu:
JHT (Jaminan Hari Tua),
JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja),
JK (Jaminan Kematian),
JP (Jaminan Pensiun)

 

Keanggotaan peserta BPJS Kesehatan dan BPJS Kesehatan juga berbeda

Jika dilihat dari pesertanya, kedua BPJS ini juga memiliki perbedaan. BPJS Kesehatan wajib diikuti semua penduduk Indonesia, termasuk warga negara asing yang tinggal lebih dari 6 bulan dan sudah membayar iuran. Bahkan, bayi yang baru lahir pun dapat didaftarkan menjadi peserta BPJS Kesehatan meski tidak memiliki Nomor Induk Kependudukan melainkan menggunakan Nomor Kartu Keluarga orang tuanya.

Namun untuk BPJS Ketenagakerjaan hanya diperuntukan bagi para pekerja, antara lain: PNS, TNI/Polri, Pensiunan PNS/TNI/Polri, BUMN, BUMD, Pegawai Swasta, dan Yayasan. Tapi saat inisudah ada program BPJS Ketenagakerjaan non karyawan, dimana pedagang, sopir taxi, ojek, petani, pekerja mandiri, pengusaha bisa mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan mandiri (non penerima upah)

Dari ulasan singkat di atas, tentu kita sudah mulai memahami perbedaan mendasar antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Secara sederhana;
1. BPJS Kesehatan ada 2 : karyawan dan mandiri
– karyawan dibayar / kantor
– mandiri dibayar pribadi

Yang di cover BPJS Kesehatan adalah sakit atau penyakit dan persalinan, bukan sakit karena kecelakaan. Jadi kalau kecelakaan di jalan raya tak bisa menggunakan Kartu ini di Rumah Sakit. Ada 3 kelas yang ditawarkan BPJS Kesehatan, kelas 1, 2 dan 3 dengan iuran dan pelayanan yang berbeda juga. Premi (iuran) ini adalah uang hilang. Jika tidak dibayar maka kartu akan di non aktifkan dan tidak bisa dibawa berobat sampai tunggakan dibayarkan.

2. BPJS Ketenagakerjaan ada 2: Karyawan dan non karyawan/ mandiri(non penerima upah).
– karyawan dibayar / kantor
– mandiri dibayar pribadi

BPJS Ketenagakerjaan ini mempunyai program:
JHT (Jaminan Hari Tua),
JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja),
JK (Jaminan Kematian),
JP (Jaminan Pensiun)

Untuk Karyawan JKK melindungi kecelakaan selama Jam Kerja, sementara bagi pemegang kartu non penerima upah/ non karyawan di lindungi 24 jam.

Besaran premi/ iurannya adalah:
untuk jaminan kematian Rp 6.800 saja.
Untuk jaminan hari tua, besarnya adalah 2% dari penghasilan.
Sementara untuk jaminan kecelakaan kerja, besarnya iuran adalah hanya 1% dari kemampuan penghasilan.

Penulis
Ade Irawan Koto
Sekjen P4WB
Salam Wajah Bangsa
Bakti Bumi Madani

ADVETORIAL

Senin | 25 September 2017 | 12:37

Bintan Raih WTP Nasional Enam Kali Berturut-turut

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bintan – Bupati Bintan H. Apri Sujadi, S.Sos mengikuti Pembukaan Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara Republik Indonesia, Kamis pagi (14/9). Rakernas Tahunan ini juga diikuti oleh sejumlah Menteri/Pimpinan Lembaga, Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama, Inspektur Jenderal/Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), Gubernur, Bupati, serta Walikota se Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, diketahui bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Bintan kembali berhasil meraih Penghargaan WTP atas Laporan Keuangan Daerah untuk Tahun 2016 dari Menteri Ke­uangan Republik Indonesia Sri Mulyani. Dan ini merupakan Penghargaan WTP yang keenam kalinya diraih Kabupaten Bintan sejak Tahun 2011 yang lalu.

Bupati Bintan H Apri Sujadi S.Sos saat dihubungi mengakui, bahwa hal ini me­ru­pakan suatu prestasi ter­sendiri saat  dirinya menerima undangan atas penghargaan tersebut usai me­ngikuti Seminar Nasional Problematika Pengelolaan Keuangan Daerah dan Desa di Jatinangor Sumedang.

“Prestasi tersendiri bagi Kabupaten Bintan karena kerja keras seluruh stakeholder dan OPD terkait , Pemkab  kembali berhasil mendapatkan predikat WTP dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang ke 6 kalinya berturut-turut. Tidak hanya itu saja, Pemerintah Daerah Kabupaten Bintan juga berhasil  meraih Penghargaan Transparansi Keuangan Daerah Regional Sumatera dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia beberapa waktu yang lalu ” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPKAD Kabupaten Bintan Setioso mengatakan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Bintan akan selalu berusaha untuk menyusun dan menyajikan laporan keuangan daerah yang sesuai dengan standar akuntasi pemerintahan, efektivitas sistem pengendalian, serta kepatuhan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Insya Allah penghargaan ini kedepannya akan terus kita pertahankan, serta kita tingkatkan. Tidak mudah memang, tapi lewat kerja keras semua OPD , tentunya hal ini menjadi energi ter­sendiri. Pemerintah Daerah Kabupaten Bintan saat ini juga fokus pada pengembangan Sistem Keuangan yang Transparansi, Akuntabel, Efektif dan Efisien , agar masyarakat ikut mengetahui keuangan daerah dengan baik ” tutupnya.***

 

Naskah dan Foto: Humas Pemkab Bintan

ADVETORIAL

Senin | 25 September 2017 | 12:30

Tinjau Stadion Olahraga, Bupati Bintan Ingin Selesai Tepat Waktu

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bintan – Seusai melepas  Turnamen Bola Volley di Desa Teluk Sasah. Bupati Bintan H Apri Sujadi S.Sos berkesem­patan meninjau pekerjaan Stadion Olahraga di Kecamatan Sri Kuala Lobam, Minggu sore (17/9).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Bintan H Apri Sujadi S.Sos juga menegaskan agar pekerjaan pembangunan Stadion Olahraga hendaknya benar-benar dilakukan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan dan  selesai tepat waktu. Ditambahkannya juga, bahwa dirinya akan segera menghubungi Dinas Perkim Kabupaten Bintan untuk segera menghubungi Kontraktor terkait progres terkini pekerjaan pembangunan stadion.

“Saya akan segera meminta progres laporan terkini terkait Pembangunan Stadion, pekerjaan harus disesuaikan dengan standar spesifikasi. Terkait ukuran panjang dan lebar Lapangan, Areal Lintasan Lari atletik, hingga aliran drainase disekitar Stadion harus benar-benar dilakukan dengan baik” ujarnya saat meninjau pembangunan.

Diketahui bahwa, pembangunan stadion dengan anggaran berkisar lebih kurang 10 Milyar Rupiah dan luas areal lebih kurang 4,5 hektar ini, ditargetkan Pemerintah Daerah Kabupaten Bintan untuk selesai di akhir tahun 2017. Pembangunan Stadion Olahraga ini juga diharapkan bisa menunjang kegiatan PS Bintan dalam lanjutan Kompetisi Olahraga, utamanya Kompetisi Liga 3 Wilayah Sumatera.

“Dengan Pembangunan Stadion, selain bisa mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat, kita harapkan bisa meningkatkan prestasi di Bidang  Olahraga” tutupnya. (Humas Pemkab Bintan)