AOK

toleransi agama

AOK

Minggu | 09 Desember 2018 | 22:57

Kampung Tua Penagi, Bukan Kampung Biasa

MEDIAKEPRI.CO.ID – Gadis-gadis remaja terlihat asyik berfoto ria. Berlatar belakang gapura Kampung Tua Penagi, yang terletak di Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Lengkap dengan aksesoris topi dan kacamata kekinian, bedak tebal dan bibir bergincu, Merekapun Berpose tanpa malu, meski warga sekitar mencuri pandang ke arahnya sambil sesekali tersenyum.

Setelah puas mengambil beberapa foto, para gadis itu beranjak pergi, menaiki sepeda motornya, terlihat menuju ke Pelabuhan Tanjung Payung, persis berada di sebelah barat perkampungan ini.

BACA JUGA

Natuna Dapat Dua Kapal Perkuat Transportasi Laut

Geopark Natuna Menuju UNESCO Global Geopark

Sekedar tempat untuk berfoto, itulah kondisi penagi kini. Tak banyak anak muda Natuna mengetahui keistimewaan perkampungan yang dihuni 150 keluarga ini.

Hanya para orang tua asli Natuna yang lahir di bawah tahun 90 saja lah, yang mengetahui sejarah, betapa pentingnya perkampungan kecil di ujung landasan Bandara Raden Sadjad ini.

sejarah penagi

Ronny Kambey

Mendalami seluk beluk kampung penagi, mediakepri.co.id menemui sosok lelaki bernama Ronny Kambey, di salah satu kedai kopi di ranai. Ia adalah tokoh masyarakat penagi, yang siap berbagi cerita dengan kami. Sambil menyeruput kopinya, Ronny menerawang masa lalu.

“Diceritakan Ayah Saya. Jauh sebelum kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi merupakan pintu masuk ke Pulau Bunguran. Kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, akan singgah ke Penagi sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan lain,” kata Ronny membuka cerita.

Seiring waktu, lanjut Ronny, perkampungan nelayan ini makin ramai tidak hanya dihuni orang Melayu sebagai suku asli Pulau Bunguran tetapi juga warga China yang datang dengan kapal “toa ko” (kapal besar) dari China daratan.

Rombongan warga China ini ada yang menetap di Penagi, ada juga melanjutkan perjalanan ke Sedanau dan Pulau Midai.

“Itulah asal mula banyak warga Tionghoa di Penagi, ” ucap Ronny, diiringi dengan beberapa tegukan kopi.

Kini kondisi Penagi jauh berubah. Hal ini terjadi seiring dengan terbentuknya Kabupaten Natuna tahun 1999 dengan ibukota Ranai. Perlahan tapi pasti, terjadi pergeseran pusat ekonomi dari Penagi ke Ranai sebagai ibukota Kabupaten Natuna.

Pemerintah Cina Datangi Kejari Batam Terkait 4 Warganya Divonis Mati

Maka jadilah Penagi yang kini semakin menua dan tak mampu berlari mengikuti perkembangan zaman. Namun menurut Ronny, kampung penagi memiliki kelebihan yang harus dibanggakan dan ditiru setiap orang.

“Warga Melayu, Tionghoa maupun suku lain sudah puluhan tahun hidup di Penagi, tapi tak pernah ada konflik, ” ucapnya bangga.

Natal Sederhana yang Sangat Menyentuh di SLBN Batam

Kerukunan Penagi bukan sekedar isapan jempol belaka, hal itu bisa dilihat dari rumah ibadah yang turut ‘hidup’ berdampingan, yakni Kelenteng Pu Tek Chi dan Surau Al Mukoramah.

Kendati bersebelahan, tidak pernah terdengar umat Kong Hu Chu yang terganggu dengan suara azan, ataupun muslim di sebelahnya yang terganggu dengan hiruk pikuk klenteng. Sebuah toleransi umat beragama yang patut diapresiasi setinggi-tingginya.

toleransi

Masjid dan kelenteng yang berdiri dan beraktivitas berdampingan

“Kalau ada isu perselisihan kita berembuk tokoh masyarakat dan aparat lingkungan. Bentrok terjadi karena kita tidak antisipasi. Makanya kalau ada isu sedikit kita langsung action, ” ujar Ronny, ‘membocorkan’ tips menjaga kerukunan di Kampung Penagi.

Alasan keamanan warga setempat, juga pernah membuat Kampung Penagi sempat diusulkan untuk di relokasi. Pasalnya, kampung ini persis berada di ujung landasan sebelah selatan Bandara Raden Sadjad, sehingga dikhawatirkan terjadi hal tak diinginkan.

Namun pria kelahiran tahun 1952 ini dengan lantang menolak. Bagi ia dan warga lainnya, Kampung Penagi merupakan harta tak ternilai dan bersejarah bagi kehidupan mereka.

“Dulu banyak bom Jepang tak meledak di Penagi. Saya SMP, main di atas bom itu, karena gak tau bom itu aktif, jadi kami buat ketok umang-umang. Rupanya waktu ada tim Brimob datang, diperiksa bom itu aktif, tapi sekarang sudah diangkat, ” ujar Ronny sambil tertawa lepas, mengingat masa kecilnya.

Pembunuh John Lennon Baca Buku sambil Nunggu Polisi

Ditanya apa harapannya bagi Penagi, Ronny hanya meminta Pemerintah Daerah Natuna, bantu menjaga sejarah Penagi dan menghidupkan perekonomian kampung tua ini. (alfian)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Pemandangan pengguna jalan di sejumlah ruas jalan, melakukan pelanggaran lalu lintas (lantas), sudah merupakan hal biasa. Dan ironisnya, mereka mengerti dengan kesalahan itu.

Berbagai jenis pelanggaran, dapat dengan mudah kita lihat secara kasat mata. Dan yang paling sering ditemui, kelengkapan berlalulintas yang aman dan nyaman bagi diri mereka pun, tetap diabaikan.

BACA: Gabriel Lema Canangkan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi

BACA: 72 Tahun Lalu, Perundingan Indonesia-Belanda di Linggarjati

BACA: Kapolda Jadi Irup, Gubernur Ikut Upacara 73 Tahun Brimob

Hal yang paling muda, jenis pelanggaran yang paling umum ditemui, seperti, tidak menggunakan helm, kondisi kendaraan yang tidak standar, cara berkendaraan yang tidak mengindahkan keselamatan. Dan masih banyak lagi jenis pelanggaran yang dengan gampang dapat ditemui disejumlah ruas jalan.

Begitu juga dengan pengguna jalan di Kepri dan Batam khususnya.
Sayangnya, ada bagi sebahagian pelanggar lantas ini, merasa bangga dengan pelangaran yang diperbuatnya tersebut. Ketika melakukan pelanggaran lantas, bagi pengguna jalan hanya takut kepada polisi, khususnya polisi lalu lintas (Polantas).

BACA: Usulan UMK Bintan Rp3,36 Juta, Langsung Diteruskan ke Pemprov

BACA: Pekan Depan, Presiden Jokowi Berkunjung ke Lingga

BACA: PM Sutan Sjahrir Bentuk Brigade Mobil

Jadi disaat aksi ‘heroik’ itu ketahuan, mereka hanya bisa menampilkan wajah lugu tanpa dosa. Dengan sejuta dalih, karena ada kepentingan yang mendesak, mereka minta dan memohon pengampunan.

Terlepas dari bentuk dan jenis pelanggaran itu, ada pertanyaan yang fundamental, kenapa pelanggaran itu tetap ‘terpelihara’ dengan baik?.

BACA: KPU Karimun Tetapkan 168.790 Pemilih Tetap

BACA: 6 Poin Ini Disampaikan Kapolda Kepri saat Silatulrahmi dengan Permabudhi

BACA: Penutupan TMMD ke-103, Gabriel Lema: TNI Tidak Hanya Sebatas Program

Agus, pegawai di Kecamatan Nongsa menolak ketika kondisi ini terjadi karena kurang maksimalnya tupoksi penegak hukum, khususnya Polantas. Sebuah perbincangan kecil di Rotiman, Botania, Batam Centre, Kamis, 15 November 2018, Agus menyoroti kultur (budaya) berlalu lintas masyarakat yang belum baik.

“Masyarakat ini takut dengan polisi, daripada takut dan malu dengan diri sendiri,” katanya.

BACA: Saleem Iklim Akhirnya Tutup Usia Setelah Kecelakaan Tragis yang Menimpanya, Ini Kronologinya

BACA: Apes, Niat Hati Kabur Bawa Motor Paman untuk Jumpai Orang Tuanya, ABG Ini Malah Alami Kecelakaan

BACA: Terungkap! Rem Berfungsi Baik, Ternyata Ini Penyebab Kecelakaan Tragis Truk Gula yang Tewaskan 12 Orang

Dalam obrolan santai ditemani secangkir kopi, langkah nyata yang ditawarkan kesadaran masyarakat itu sendiri. Sadar akan keselamatan, mengerti dengan kenyamanan, paham tentang aturan, maka ketertiban akan tercipta.

“Kalau tak sadar, tak ngerti dan tak paham, lantaklah. Jika terjadi sesuatu yang tak baik, harus sadar, mengerti dan paham, dengan akibatnya,” kata Agus sambil tersenyum. (eddy)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Jika kita mau sedikit terbuka dan berkata jujur, bahwa masih banyak di antara kita yang bingung membedakan antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, benerkan?. Melalui tulisan ini mari kita paparkan secara sederhana, yang diambil dari beberapa sumber, termasuk dari kedua situs BPJS ini.

Pemerintah telah membentuk suatu perusahaan BUMN yang bergerak dibidang asuransi jaminan kesehatan sosial bagi seluruh masyarakat, program tersebut adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial disingkat menjadi BPJS. Badan ini memiliki tugas seseuai dengan Undang–undang nomor 40 tahun 2010 dan nomor 24 tahun 2011 dimana tugasnya yaitu menyelenggarakan jaminan sosial Indonesia, dan BPJS Merupakan Badan Hukum Nirlaba.

Sayangnya, meski sudah diluncurkan dan disosialisasikan, namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti perihal program pemerintah yang satu ini. Termasuk juga masih banyak yang kebingungan dan sulit membedakan, perbedaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Pada dasarnya, BPJS bukanlah hal yang benar-benar baru di Indonesia. Pasalnya, BPJS Kesehatan adalah transformasi dari PT Askes (Persero) yang tujuannya memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat. Sementara BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari PT Jamsostek (Persero). BPJS Kesehatan ini memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia, baik yang bekerja secara formal maupun informal. Dan saat ini juga sudah diwajibkan untuk semua masyarakat baik karyawan maupun non karyawan.

BPJS dibagi menjadi 2 yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, diantaranya memiliki beberapa berbedaan. Berdasarkan Undang–undang BPJS Nomor 24 Tahun 20011 pasal 6 yang berbunyi “BPJS Kesehatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 5 ayat (20 huruf a menyelengarakan Program Jaminan Kesehatan). Sedangkan untuk BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana yang dimaksud dalam pasa 5 ayat (2) huruf b menyelenggarakan program : Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian”.

Sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2011, Kehadiran BPJS menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang telah ada sebelumnya yaitu Askes diganti menjadi BPJS Kesehatan dan Jamsostek (kecuali JPK) diganti menjadi BPJS Ketenagakerjaan.

Adapun transformasi lembaga jaminan sosial sebelumnya menjadi BPJS.
Pada 1 Januari 2014 : PT Askes bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan.
Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari Jamsostek bertransformasi menjadi program JKN dari BPJS Kesehatan
Program JKN di wajibkan untuk Seluruh Warga Negara Indonesia

Pada 1 Juli 2015 : PT Jamsostek (selain program JPK) bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan.
Program yang dselenggarakan BPJS Ketenagakerjaan adalah : Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian.
Program dari BPJS Ketenagakerjaan diwajibkan untuk seluruh pekerja penerima Upah.

Keduanya memiliki tugas dan fungsi yang berbeda

BPJS Kesehatan memberikan perlindungan yang sesuai dengan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Jaminan kesehatan dari BPJS jenis ini meliputi: Pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama, Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan dan
Rawat inap

BPJS Ketenagakerjaan bertujuan untuk memberikan beberapa jenis jaminan, yaitu:
JHT (Jaminan Hari Tua),
JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja),
JK (Jaminan Kematian),
JP (Jaminan Pensiun)

 

Keanggotaan peserta BPJS Kesehatan dan BPJS Kesehatan juga berbeda

Jika dilihat dari pesertanya, kedua BPJS ini juga memiliki perbedaan. BPJS Kesehatan wajib diikuti semua penduduk Indonesia, termasuk warga negara asing yang tinggal lebih dari 6 bulan dan sudah membayar iuran. Bahkan, bayi yang baru lahir pun dapat didaftarkan menjadi peserta BPJS Kesehatan meski tidak memiliki Nomor Induk Kependudukan melainkan menggunakan Nomor Kartu Keluarga orang tuanya.

Namun untuk BPJS Ketenagakerjaan hanya diperuntukan bagi para pekerja, antara lain: PNS, TNI/Polri, Pensiunan PNS/TNI/Polri, BUMN, BUMD, Pegawai Swasta, dan Yayasan. Tapi saat inisudah ada program BPJS Ketenagakerjaan non karyawan, dimana pedagang, sopir taxi, ojek, petani, pekerja mandiri, pengusaha bisa mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan mandiri (non penerima upah)

Dari ulasan singkat di atas, tentu kita sudah mulai memahami perbedaan mendasar antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Secara sederhana;
1. BPJS Kesehatan ada 2 : karyawan dan mandiri
– karyawan dibayar / kantor
– mandiri dibayar pribadi

Yang di cover BPJS Kesehatan adalah sakit atau penyakit dan persalinan, bukan sakit karena kecelakaan. Jadi kalau kecelakaan di jalan raya tak bisa menggunakan Kartu ini di Rumah Sakit. Ada 3 kelas yang ditawarkan BPJS Kesehatan, kelas 1, 2 dan 3 dengan iuran dan pelayanan yang berbeda juga. Premi (iuran) ini adalah uang hilang. Jika tidak dibayar maka kartu akan di non aktifkan dan tidak bisa dibawa berobat sampai tunggakan dibayarkan.

2. BPJS Ketenagakerjaan ada 2: Karyawan dan non karyawan/ mandiri(non penerima upah).
– karyawan dibayar / kantor
– mandiri dibayar pribadi

BPJS Ketenagakerjaan ini mempunyai program:
JHT (Jaminan Hari Tua),
JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja),
JK (Jaminan Kematian),
JP (Jaminan Pensiun)

Untuk Karyawan JKK melindungi kecelakaan selama Jam Kerja, sementara bagi pemegang kartu non penerima upah/ non karyawan di lindungi 24 jam.

Besaran premi/ iurannya adalah:
untuk jaminan kematian Rp 6.800 saja.
Untuk jaminan hari tua, besarnya adalah 2% dari penghasilan.
Sementara untuk jaminan kecelakaan kerja, besarnya iuran adalah hanya 1% dari kemampuan penghasilan.

Penulis
Ade Irawan Koto
Sekjen P4WB
Salam Wajah Bangsa
Bakti Bumi Madani