OPINI

OPINI

Kamis | 16 Agustus 2018 | 19:15

Pendidikan dalam Upaya Mengisi Kemerdekaan

Oleh : AMIR

Tahun 1945 Hiroshima dan Nagasaki lulu lantah di bom oleh Amirika Srikat, dan pada tahun yang sama tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia mencapai kemerdekaannya. Dengan lulu lantahnya jepang ini Kaisar Hirohito terpaksa menyerah kepada sekutu dan sang Kaisar berusaha mengumpulkan kembali semua jendral yang masih hidup dan tersisa lalu sang Kaisar bertanya kepada mereka “Berapa Jumlah Guru Yang Masih Tersisa?“.

Beberapa jenderal yang mendengar pertanyaan sang Kaisar Hirohito bingung dan menegaskan bahwa mereka bisa bertahan dalam menyelamatkan diri dan bisa melindungi Kaisar walau tanpa guru, namun ada yang mengejutkan yaitu jawaban sang Kaisar yaitu “Kita Telah Jatuh, Karena Kita Tidak Belajar”. Sang Kaisar juga memahami kalau jepang kuat dalam persenjataan namun lemah dalam strategi. Maka perintah selanjtnya dari kaisar yaitu mengumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa dari seluruh pelosok, dan mereka akan bertumbuh kepada kekuatan.

Sejarah diatas mengingatkan kita betapa pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa, bangsa yang maju rata rata rakyatnya berpendidikan tinggi dan mampu bersaing dengan Negara Negara luar. Eropa menjadi salah satu rujukan pendidikan dunia kareana rakyatnya mampu mengatasi beberapa keadaan dan mendominasi kekuatan dunia, ini artinya upaya serius pemerintah dalam mengisi kemerdekaan melalui pendidikan adalah salah satu langkah yang sangat tepat, teknologi yang hebat butuh orang terdidik yang hebat untuk membuatnya, bahkan Negara yang tidak mempunyai banyak sumberdaya alam yang besar seperti jepang pun mampu mensulap negaranya karena pendidikan rakyatnya itu mampu dalam mengatasi persoalan.

Dalam upaya mengisi kemerdekaan, mulai dari resim orde lama sampai dengan reformasi telah banyak rakyat Indonesia yang sekolah atau disekolahkan Negara keluar negeri, tujuan tersebut tidak lain untuk menimba ilmu dari Negara yang sudah maju seperti Rusia, Amirika, Timur Tengah dan Negara Negara Lainnya. Selain itu Indonesia sekitar tahun 1970an pernah menjadi rujukan pendidikan diberbagai bidang oleh Negara Tetangga seperti Malaysia, Malaysia datang ke Indonesia dengan tujuan menimbah ilmu. Namun kenyataan yang ada saat ini justru berbalik dengan kondisi beberapa tahun silam dimana Malaysia datang ke Indonesia sekarang Indonesia lebih banyak belajar keluar.

Pertanyaan sederhana adalah,. Mengapa Indonesia masih belum bisa seperti Jepang? Tentu jawabannya juga sangat sederhana, kareana pada prinsipnya rakyat Indonesia bukan rakyat pemalas melainkan apa yang mau dikerjakan terkadang juga tidak tau apa yang harus dikerjakan karena faktor keterbatasan pendidikan. Jika pendidikan ini diatas rata rata maka dalam upaya mengisi kemerdekaan ini sangatlah muda diraihnya dalam menggapai cita cita tinggi bangsa. Contoh Lain, jika rakyat Indonesia mempunyai kemampuan mengelolah sumber daya alam yang sangat besar dan melimpah ini maka nasionalisasi perusahaan besar bisa dilakukan oleh rakyat Indonesia. Karena pada dasarnya tujuan pendidikan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan dalam undang undang No 20 tahun 2013 tentang system pendidikan Nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan secara umum yaitu mampu mencerdaska kehidupan bangsa.

Upaya dalam percepatan mengisi kemerdekaan ini salahsatunya melalui penguatan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia baik melalui pendidikan formal, non formal bahkan pendidikan informal sekalipun. Penegasan tentang penguatan pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 point 10, 11, 12, 13, dan 14 “satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan” Pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Selain penguatan tentang undang undang system pendidikan yaitu upaya minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan ini benar dijalankan dengan tujuan mempersiapkan generasi emas masa depan. Disisi lain pendidikan Indonesia yang ditangani oleh beberapa kementerian seperti; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (SD, SMP, SMA, Non Formal dan Informal), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (PTN/PTS), Kementerian Kesehatan (Poltekes), Kementrian Dalam Negeri (IPDN), Kementerian Keuangan (STAN), Kementerian Agama (MI, Mts, MA, UIN, STAIN), Kementerian Perhubungan (Pelayaran) dan Kemenkumham.

Berdasarkan sumebr dari data Kemendikbud tahun 2018 diperkirakan jumlah sekolah ada 217.586 dan Jumlah Guru sekitar 2.718.861 sementara Jumlah Siswa 45.379.879. Jumlah sebaran lembaga pendidikan ini mulai dari pelosok desa sampai dengan ibu kota diharapkan mampu menjawab tantangan zaman dan mampu mengisi kemerdekaan. Merdeka secara kebebasan berfikir, merdeka tanpa dijajah oleh asing baik sumberdaya alamnya atau pemikirannya.

Kemerdekaan ini tentu menjadi harapan setiap bangsa, namun pada kenyataan yang ada kemerdekaan ini seakan akan dimiliki oleh sebagian saja melihat sumberdaya alam melimpah seperti dipapua tetapi kesejahteraan rata rata masih beda jika dibandingkan dengan jawa. *

BIOGRAFI PENULIS:

Tempat / Tanggal lahir : Sumenep, 25 Agustus 1986
Aktifitas : Lulusan Universitas Negeri Malang (S2)

OPINI

Selasa | 14 Agustus 2018 | 9:31

Partisipasi Politik Aktif 2019

Oleh: Amir

Indonesia, atau lebih dikenal dengan dengan sebutan Negara kesatuan Republik Indonesia adalah Negara besar di kawasan Asia Tenggara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa dan berada di antara daratan benua Asia dan Australia. Serta berada di di samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Indonesia juga dikenal sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri sekitar dari 17.504 pulau. Dengan populasi sekitar 270.054.853 juta jiwa berpenduduk berada diperingkat keempat di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Data diatas menunjukkan bahwa Indonesia adalah Negara besar yang harus mempunyai kemampuan besar.

Sebagai warga Negara Indonesia dari kalangan apapun berhak menjadi calon pemimpin baik legislatif, eksekutif dan yudikatif. Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 1 tahun 2015 penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati, dan walikota, pasal 7 “setiap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencalonkan diri dan dicalonkan”. Dalam hal ini tentu calon pimpinan diperbolehkan selama yang bersangkutan tidak melanggar aturan yang ada dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.

Indonesia yang terdiri dari 8.490 kelurahan, 74.957 desa, 7.094 Kecamatan, 416 Kabupaten, 98 Kotamadya, dan Propensi 34, menginginkan kepemimpinan yang mampu mensejahterakan masyarakat secara umum, berkapasitas yang mempuni untuk menjadi pemimpin masa depan, dan memadai baik pengalaman dan jam terbang yang tinggi, selain itu tidak kalah pentingnya pemimpin yang jujur adalah harapan yang sebenarnya, sosok yang dikenal, disukai, dan dipilih menjadi barometer utama untuk memenangi kontestasi 2019 ini, baik calon legeslatif tingkat kab/kota, propensi, pusat hingga pemilihan presiden dan wakil presiden.

Persaingan yang semakin berat membuat para calon pemimpin harus semakin kreatif, inovatif dan produktif, disisi lain kontestasi perebutan kursi yang direbutkan untuk tahun 2019 DPR RI, jumlah kursi ditetapkan bertambah 15, dari 560 kursi menjadi 575 kursi. Tahun “2014 ada 77 dapil, kemudian 2019 ada 80 dapil dengan jumlah kursi di DPR RI, dari 560 menjadi 575,” Kemudian pada DPRD tingkat Provinsi ditetapkan bertambah 95 kursi, dengan penambahan 13 daerah pemilihan yang sebelumnya 259 menjadi 272 dapil. “Jumlah kursi anggota DPRD Provinsi ini bertambah juga dari 2114 menjadi 2207 dan untuk anggota DPRD tingkat Kabupaten/Kota juga ditetapkan bertambah sebanyak 715 kursi. Jumlah tersebut mengikuti bertambahnya daerah pilih yang sebelumnya 2.102 menjadi 2.206 dapil. “Jumlah kursi DPRD kabupaten/kota juga bertambah cukup signifikan dari 16.895 menjadi 17.610,”. (Sumber:https://www.merdeka.com)

Strategi parpol untuk pemenangan kandidat jau jau hari sudah digemakan untuk mendulang sura terbanyak di 2019, kendati sedemikan masyarakat juga dipusingkan dengan adanya teka teki pemimpin masa depan Indonesia. program yang ditawarkan kandidat mungkin belum waktunya atau mungkin juga belum tau program yang sejatinya harus sesuai dan mendapat respon serta apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Kemampuan pemimpin 2019 harus mampu berjuang dalam menangani berbagai masalah yang dihadapi bangsa, tentu yang berdidikasi tinggi untuk menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab, karena berkaca kepada Negara besar seprti USA dalam kontestasi pemilihan presiden selalu menjadi isu tersendiri, indonesiapun sama dalam menjungjung tinggi citra bangsa karena presidenlah yang menjadi salah satu panutan pemimpin identitas Negara

Selain figur yang dijagokan mempuni ditataran praktis dalam implementasinya kesiapan tim sukses yang solid, professional, memahami keadaan, menjadi pilihan alternatif yang yang sangat tepat untuk memastikan pemilih yang menjadi sasaran utama, juga perlu kiranya dipahami pemilih atau pendukung yang biasa kita kenal terdapat tiga dukungan; 1. Pendukung yang berasal dari basis massa yaitu pendukung fanatik yang tidak mau berubah pilihannya, 2. Pendukung Partisan yaitu pendukung yang kemungkinan bisa berubah karena dipengaruhi oleh beberapa faktor atau tawaran tertentu, 3. Pendukung mengambang yaitu pendukung yang belum memutuskan suaranya akan diberikan kepada siapa.

Point paling paling penting masyarakat dalam politik aktif 2019 ini tidak lain karena menjaga martabat bangsa yang seutuhnya, mengingnkan pemimpin yang berwibawa, karismatik, pekerja keras, dan mampu melobi isu isu internasional agar bangsa besar ini juga diperhitungkan dunia, terlepas siapa saja yang menjadi pemimpin sebenarnya harapan masyarakat sudah terjawab ketika kesejahteraan semakin tinggi, kasus koropsi semakin berkurang, pendidikan semakin merata, kesehatan semakin baik, dan yang pasti mata dunia sudah berpusat kepada bengsa besar ini.*

Mahasiswa S2, Universitas Negeri Malang, Jawa Timur

OPINI

Senin | 13 Agustus 2018 | 11:36

Anak Muda dan Motor Cempreng

Oleh: Nofriadi Putra

Secara biologis masa anak muda adalah rentan waktu setelah masa anak-anak sampai pada masa sebelum dewasa. Faktor yang membedakannya dalam sebuah keluarga terletak pada sebuah tanggung jawab. Dalam hal tanggung jawab inilah kondisi-kondisi tertentu membatasi antara anak muda dengan orang dewasa.

Diawali dari lingkungan sosial yang terkecil yaitu keluarga. Anak muda diberi tanggung jawab yang besar dari anak-anak. Sedangkan, orang dewasa sudah pasti memenuhi hampir seluruh tanggung jawab dalam hal apa saja menyangkut kebutuhan dalam keluarga. Anak muda di Indonesia rata-rata masih berstatus sebagai anak sekolahan. Dalam pandangan ini dapat diambil sebuah benang merah yang bisa menyatakan bahwa anak muda bisa disebut dengan remaja.

Remaja atau anak muda dengan gayanya sendiri belum memiliki karakteristik yang utuh. Kerap sekali berubah-ubah. Remaja (anak muda) tidak mau dikatakan sebagai anak kecil dan belum dikatakan sebagai orang dewasa yang sudah mempunyai tanggung jawab secara ekonomi, sosial serta moral dalam keluarga. Sibley menjelaskan (dalam Chris Barker, 2005:425), “Anak muda tetap merupakan klasifikasi ambivalen yang diperebutkan, klasifikasi yang terikat di antara batas-batas masa anak-anak dan masa dewasa”.

Dilihat lebih jelas, makna remaja memiliki makna yang berbeda-beda dalam tiap waktu dan ruang. Tergantung kepada kondisi dan lingkungan yang ada pada remaja berada. Pada intinya, remaja belum diberi sebuah ruang yang dapat dimasuki oleh orang dewasa. Salah satu dunia orang dewasa yang belum boleh dimasuki oleh remaja itu adalah dunia seksual.

Melihat perkembangan remaja pada saat ini, kita seolah dihadapkan pada sebuah gaya dan caranya sendiri dalam ruang publik. Kebanyakan dari remaja sekarang justru memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal gaya, musik, fesyen dan dengan motornya. Kalau bisa dibaca remaja sekarang tampil dengan gaya dan kulturnya sendiri sebagai bagian dari perkembangan sebuah teknologi dan media informasi yang terus berkembang.

Salah satu bentuk gaya remaja sekarang yang dapat dilihat adalah bagaimana gaya, penampilan dan cara berkendara dalam menggunakan motor. Kerap sekali, di jalanan sering terlihat tampilan-tampilan motor yang dipreteli dan dimodifikasi sehingga berbeda dari bentuk produk asli hasilan pabrik. Dapat dicermati dan didengar pada bunyi knalpot dengan modifikasi yang cempreng, keras dan kasar. Secara tidak langsung, kita yang menyaksikan dan mendengarkan seperti mendengarkan sebuah dentuman yang memekakkan telinga.

Selain itu, remaja dengan motor cemprengnya di jalan raya juga memberikan kecemasan terhadap para pengguna jalan raya yang lain. Penulis pikir remaja dengan motor cempreng di jalan raya bukan suatu jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang dihadapinya di sekolah, seperti nilai buruk serta tingkah laku yang ugal-ugalan. Melainkan sebuah subkultur motor cempreng yang mengorganisasi aktif berbagai benda melalui cara-cara membawa motor, dengan ritme yang terkadang-kadang menghasilkan bunyi simbolis yang penuh gaya seolah menyampaikan pesan kelelakian, ketegarannya sebagai identitas remaja.

Remaja memiliki semangat yang sering kita anggap sebagai semangat yang berapi-api. Seringkali motor yang mereka gunakan berbeda dengan motor yang ada. Begitu juga dengan bunyi knalpot dan cara berkendara.

Remaja terlihat lebih berani dalam mengendara dengan kebutan serta dengan mengangkat ban depan sambil berdiri. Bahkan, seringkali berbeda dari mainstream berkendara yang ada atau bisa dikatakan sebagai sebuah subkultur yang akan memberi identitas pada remaja. Barker (2005: 427) menjelaskan tentang subkultur adalah “…Keragaman yang ada pada kolektivitas yang lebih luas yang secara gampang, tapi sebenarnya problematik, di tempatkan sebagai yang normal, rata-rata dan dominan. Dengan kata lain subkultur dikutuk dengan dan/atau menikmati suatu kesadaran “kelainan” atau perbedaan.”

Jadi subkultur motor cempreng dapat disimpulkan sebagai sebuah perlawanan terhadap kemapanan mengendarai motor. Subkultur di sini adalah remaja dengan motor cemprengnya, serta bentuk-bentuk motor yang banyak di modifikasi dan dipreteli dengan mengahsilkan bentuk yang baru. Terkesan remaja memberi perlawanan terhadap mainstream yang telah ada yaitu ruang dewasa yang penuh tanggung jawab.

Dengan demikian, gaya anak muda dan motor cempreng adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat tidak sebagai sebuah fenomena yang hadir di telinga dan mata kita. Suara keras, dan kebut-kebutan di jalanan yang dilakukan remaja secara tidak langsung telah menggambarkan identitasnya sebagai remaja itu sendiri. Akibatnya, menimbulkan kecemasan bagi para pengguna jalan yang lain. Kecemasan atas terjadinya kecelakaan-kecelakaan jalan raya. Willis lebih menjelaskan (dalam Barker 2005: 430), “Kesolidan, kecekatan, resiko, kekutan motor itu cocok dengan sifat dunia para bikeboys yang konkrit dan aman.”

Pada hal-hal konkrit, cara berkendara dengan kebutan dan mengangkat ban depan serta suara cempreng dan kekuatan ini adalah ciri dari interaksi sosial mereka terhadap lingkungan sosial. Suara kanalpot yang kasar cocok melambangkan kesetiakawanan yang kasar terhadap sosial mereka sesama pencinta motor cempreng. Ketika mereka berkendara di jalan raya, para motorbike dengan suara cempreng seperti menjinakkan suatu teknologi yang menakutkan menunjukkan kepada kita atas teror-teror teknologi mesin (motor).

Dalam hubungannya dengan teknologi dan industri, maka para anak muda dan motor cempreng merupakan kerja kreatif, ekspresif dan simbolis kultur yang bisa dibaca sebagai bentuk-bentuk perlawanan salah satunya dalam berkendara yang mapan. Dalam hal ini adalah perlawanan terhadap institusi sosial yang telah mapan, yaitunya masa dewasa yang penuh dengan tanggung jawab secara ekonomi. Merujuk kepada asumsi bahwa masa remaja menuju masa dewasa normalnya melibatkan pemberontakan, yang merupakan tradisi kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Memasuki sebuah gerbang modern dengan berbagai hasil teknologi. Remaja dengan motor cemprengnya di masyarakat membutuhkan arahan-arahan dan pertolongan serta saran profesional. Di sebabkan telah banyaknya barang-barang teknologi yang menjadi objek kultur sebagai apresiasi terhadap benda tersebut. Saran-saran profesional itu bisa saja berupa penyaluran bakat dengan memberikan ruang bagi mereka seperti sirkuit yang memadai. Lebih lanjut bisa berupa arena penyaluran bakat mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam berkendara. Demi tercapainya sebuah kondisi kondusif di jalan raya.

Satu hal yang sangat mencemaskan yang telah disinggung sebelumnya, dan perlu diantisipasi terhadap remaja adalah bagaimana cara mereka memasuki dunia dewasa (seksual). Untuk hal inilah dibutuhkan arahan-arahan. Bagaimanapun anak muda dan motor cemprengnya adalah sebagai bentuk apresiasi kultur dari barang teknologi (motor) yang menghindarkan mereka dari dunia seksual yang belum saatnya.

Selama masih dalam ruang dan kultur yang wajar, remaja dengan motor cempreng musti diberi arahan-arahan terhadap perbuatan yang menunjang mereka untuk mapan sesuai dengan profesi yang mereka sukai seperti menjadi seorang pembalap motor dengan segudang prestasi. Tujuannya untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses menuju dunia dewasa oleh remaja. Contohnya, prilaku menyimpang seperti sek bebas dan kenakalan yang lain seperti memakai narkoba dan alkohol.

Sesuai dengan harapan orang tua. Khususnya, bagi kita yang telah mempunyai tradisi dan kultur yang telah ditanamkan sejak lama, di mana pemeo dari tradisi kita ada mengatakan “anak dipangku, kemenakan dibimbing”. Serta merta dalam pengarahan ini dilibatkan seluruh institusi dalam pengawasan lebih dekat terhadap perkembangan gejala remaja yang berusaha menjauhi masa anak-anak dan berusaha untuk mendekati dunia orang dewasa. Perihal yang penting sekali adalah pengontrolan remaja terhadap prilaku serta menghindarkan mereka (remaja) dari prilaku menyimpang dan pengaruh narkoba seta alkohol yang merusak. Sehingga remaja yang berprestasi bisa di harapkan nanti di masa depan sesuai yang diinginkan yaitu dewasa yang mapan.*

Penulis adalah pegiat dalam komunitas Ruang Sempit

OPINI

Sabtu | 14 Juli 2018 | 20:42

Soal Freeport, Pencitraannya Kelewatan Bingit

SEANDAINYA pemerintah mengumumkan hasil negosiasi dengan Freeport Indonesia (FI) apa adanya, tentu kita harus meng-apresiasi. Negosiasi ini sangat alot dan sudah berjalan sekitar setahun. Perlu kerja keras dari pihak Inalum dan pemerintah. Saya percaya, bos Inalum Budi Sadikin akan mati-matian mencari deal terbaik bagi Indonesia. Dia dulu seorang bankir yang profesional dan hati-hati.

Sayangnya, pencitraan yang dilakukan oleh oknum pemerintah sangat kelewatan. Sangat membodohi rakyat. Saking berhasilnya, tidak sedikit yang menulis “terima kasih pak Jokowi” tanpa melakukan fact-check. Sampai-sampai seorang mahasiswa Indonesia di Inggris pun melakukan kebodohan yang sama.

Saya mendukung penuh usaha pemerintah mengambil alih saham mayoritas FI. Yang saya kritisi adalah pencitraan dan pembodohan rakyat yang kelewatan.

Mari Kita Lakukan Fact-check.

1. Apa yang sudah disepakati? Jawabnya, lebih pada soal harga. Tiga pihak, yaitu Indonesia (pemerintah dan Inalum), Freeport-McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto sepakat pada harga US$ 3.85 milyar, atau sekitar Rp 55 triliun. Ini adalah harga bagi pelepasan hak partisipasi Rio Tinto, plus saham FCX di FI.

Rio Tinto terlibat dalam negosiasi karena dia ber-joint venture dengan FCX, di mana hingga 2021 dia berhak atas 40% dari produksi di atas level tertentu dan 40% dari semua produksi sejak 2022. Gampangnya, meskipun FCX pemilik mayoritas FI, tapi 40% produksinya sudah di-ijon-kan ke Rio Tinto. Jadi selain saham FCX di FI, Indonesia juga harus membeli hak ijon ini.

2. Apakah Freeport sudah direbut kembali seperti klaim bombastis yang beredar? BELUM! Transaksi ini masih jauh dari tuntas. Kepada media asing seperti Bloomberg dan lainnya, pihak FCX dan Rio Tinto menyebut, masih ada isu-isu besar yang belum disepakati.

Dalam berita Bloomberg, Rio secara resmi menyatakan “Given the terms that remain to be agreed, there is no certainty that a transaction will be completed”. Jadi, masih belum ada kepastian bahwa transaksinya akan tuntas.

Menurut Freeport dalam berita Bloomberg, isu besar itu adalah: (a) hak jangka panjang FCX di FI hingga tahun 2041, (b) butir-butir yang menjamin FCX tetap memegang kontrol operasional atas FI, meskipun tidak menjadi pemegang saham mayoritas, dan (c) kesepakatan tentang isu lingkungan hidup, termasuk tentang limbah tailing.

3. Lalu kenapa pada bulan Juli 2018 tercapai kesepakatan harga? Dugaan saya, ini tidak lepas dari fakta bahwa IUPK sementara (Ijin Usaha Pertambangan Khusus) bagi FI habis pada 4 Juli 2018. Melalui revisi SK Nomor 413K/30/MEM/2017, IUPK diperpanjang hingga 31 Juli 2018. Sejak 2017, IUPK ini sudah berkali-kali diperpanjang.

4. Harganya mahal atau tidak? Saya belum bisa menjawabnya sekarang. Tapi yang jelas, sejak lama Rio Tinto pasang harga di US$ 3.5 milyar. Tidak mau nego. Indonesia akhirnya menyerah, terima harga US$ 3.5 milyar, ditambah US$ 350 juta bagi FCX.

Sebagai perbandingan, pada 1 November 2013 Indonesia “merebut kembali” Inalum dari Jepang. Pihak Jepang, yaitu NAA (Nippon Asahan Aluminium) ngotot dengan harga US$ 626 juta. Pemerintah ngotot US$ 558 juta. Jadi ada selisih US$ 68 juta. Jepang akhirnya takluk.

Mungkin memang lebih mudah mengalahkan Jepang dibandingkan “koalisi” dari AS, Inggris dan Australia.

5. Sebagai catatan, aset Inalum saat ini sekitar Rp 90 triliun. Dengan kesepakatan harga US$ 3.85 milyar, transaksi ini nilainya setara 61% aset Inalum. Saya ingatkan, jangan sampai Inalum over-stretched, yang bisa menjadi masalah besar di kemudian hari.

Berdasarkan fakta di atas, jelas bahwa Freeport belum “direbut kembali”. Transaksi belum terjadi karena ada isu-isu besar yang belum tuntas. Itu pun Indonesia nerimo saja harga yang dipatok oleh Rio Tinto. Jika transaksinya terwujud nanti, Indonesia harus membayar Rp 55 triliun. Tapi, FCX ngotot kontrol operasional tetap mereka yang pegang. Qulil haqqa walau kaana murran.

Penulis:  Dradjad Wibowo
Anggota Wanhor PAN
Ekonom Senior Indef

 

OPINI

Sabtu | 12 Mei 2018 | 11:19

Realita Mahasiswa Zaman “Now”

“Wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta”.

Lirik yang sudah tak asing lagi bagi mahasiswa-mahasiswa di seluruh penjuru negeri ini. Lirik lagu tersebut memang seakan menggambarkan fungsi dan perjuangan dari mahasiswa, namun apakah hari ini memang seperti itu realitanya?

Menurut Knopfemacher (dalam suwono, 1978) mahasiswa merupakan insan-insan calon sarjana yang terlibat dalam suatu instansi perguruan tinggi, dididik serta diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa memang menjadi ujung tombak dari suatu bangsa, semakin baik kualitas mahasiswa di suatu bangsa, maka semakin baik pula bangsa tersebut.

Namun demikian, sekarang mari kita berbicara peran dan fungsi mahasiswa yang pertama adalah sebagai social control di tengah masyarakat. Peran mahasiswa sebagai social control terjadi saat ada hal yang tidak beres maupun ganjil dalam masyrakat. Mahasiswa sudah seharusnya memberontak terhadap kebusukan-kebusukan yang terjadi dalam birokrasi yang selama ini dianggap lazim. Kemudian, jika mahasiswa acuh dan juga tidak peduli dengan lingkungannya, maka sudah tidak ada lagi harapan yang lebih baik untuk kehidupan bangsa nantinnya.

Mahasiswa memang sudah seharusnya menumbuhkan jiwa kepedulian socialnya, dimana mahasiswa harus peduli terhadap masyarakat, sebab mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Kepedulian tersebut bukan hanya diwujudkan dalam bentuk demo ataupun turun kejalan saja, tetapi dengan pemikiran-pemikiran cemerlangnya, diskusi-diskusi, atau memberikan bantuan moril dan juga materil kepada masyarakat serta bangsa.

Peran masiswa yang kedua adalah sebagai agent of change yang artinya mahasiswa juga sebagai agen perubahan. yakni bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri, kemudian dengan gagahnya mengusir para penjahat serta dengan gagah sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan oleh penduduk setempat. Dalam artian ini, mahasiswa tidak hanya menjadi penggagas perubahan, tetapi sebagai objek atau pelaku dalam perubahan tersebut. Sikap kritis yang positif harus dimiliki dan sering dapat membuat sebuah perubahan besar dan juga membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah serta cemas.

Banyak pembodohan serta ketidakadilan yang telah dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Sudah seharusnya Anda berpikir untuk mengembalikan dan juga mengubah keadaan tersebut. Perubahan yang dimaksud yakni perubahan kearah yang positif serta tidak menghilangkan jati dirinya sebagai mahasiswa dan juga Bangsa Indonesia.

Peran mahasiswa selanjutnya adalah sebagai guardian of value yang artinya Anda yang sudah dikatakan sebagai pelajar tingkat tinggi memiliki peran sebagai penjaga nilai-nilai masyarakat yang kebenarannya mutlak, yakni menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, gotong royong, integritas, empati dan sifat yang dibutuhkan dalam kehidupan dalam masyarakat lainnya. Selain itu juga, dituntut pula untuk mampu berpikir secara ilmiah tentang nilai-nilai yang mereka jaga. Bukan hanya itu saja, Anda juga sebagai pembawa, penyampai, dan penyebar nilai-nilai serta ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari.

Namun apakah hari ini kita sebagai mahasiswa masih menjalankan peran dan fungsi kita sebagaimana mestinya, apakah kita tetap menjaga marwah dan identitas kita sebagai garda terdepan dalam kemajuan bangsa? Hari ini kita secara pahit harus mengatakan kita secara perlahan mulai melupakan identitas kita sebagai mahasiswa. Lihatlah sekarang bagaimana mahasiswa yang hanya pergi kuliah untuk pulang, lihatlah lbagaimana mahasiswa sekarang yang hanya untuk mengatakan pendapat harus duduk diam dan gemetaran, lihatlah hari ini mahasiswa yang hanya diam tak bersuara ketika hak mereka dirampas dan dibelenggu oleh pihak-pihak tertentu dan apakah hari ini kita masih layak untuk disebut sebagai “Mahasiswa”.

Tidak sedikit pula mahasiswa zaman sekarang yang secara sadar atau tidak terlibat dalam politik praktis yang artinya mahasiswa tersebut hanya dijadikan sebagai “kuda” oleh pihak-pihak yang mencari kepentingan politik dengan melibatkan mahasiswa tersebut yang berakibat mahasiswa zaman sekarang sudah memiliki hubungan dan berinteraksi dengan partai politik yang mana hal itu sudah jelas dilarang di dalam peraturan per undang-undangan.

Realitanya kita memang sudah terlalu lama tertidur, melupakan fungsi dan identitas kita sebagai mahasiswa ditengah situasi dan persaingan global yang semakin sengit kita harus bangun dari tidur panjang kita ini dan mulai mempertanyakan kembali apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk negeri ini, apakah kita memang sudah menjadi mahasiswa yang sesungguhnya karena kita mau tidak mau, suka tidak suka adalah generasi-generasi yang kelak akan menentukan kemana arah bangsa ini akan dibawa.

Pada akhirnya penulis berharap kita semua sebagai mahasiswa dapat kembali menjalankan peran dan fungsi kita sebagai mahasiswa, kita ada untuk bersuara maka bersuara lah jika kita diam maka seluruh orang akan diam, jika kita bersuara maka disanalah hakikat kita sebagai mahasiswa terjadi. Kita ada untuk Indonesia kita ada untuk masyarakat yang kita cintai maka belajarlah untuk mengabdi, memenuhi panggilan negeri. (***)

Penulis: Deki R Abdillah
Wakil Bupati Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Jambi

sumber: serujambi.com