ANAMBAS

Fenomena Baru di Anambas, Uang Kembalian Belanja Diganti Permen

Senin | 05 Agustus 2019 | 18:03

MEDIAKEPRI.CO.ID, Anambas – Ada fenomena baru yang dihadapi masyarakat di Anambas. Dimana sejumlah warung kedai kerap kali mengembalikan sisa belanja konsumen dengan menggantikan menggunakan permen.

Kondisi tersebut terpantau awak redaksi mediakepri.co.id, Senin, 5 Agustus 2019.

Dimana saat itu, seorang warga makan siang di warung nasi padang, tepatnya di Loka, Kabupaten Kepulauan Anambas.

Saat itu, Indra, sebut saja nama warga itu memesan satu porsi makan siang. Begitu selesai makan, ia disodori bil makan Rp25.000. Lalu, ia membayar tagihannya itu dengan menyerahkan uang sebesar Rp26.000.

Setelah menerima uang itu, kasir warung memberikan empat buah permen kepada konsumennya. Permen yang diberikan itu, seharga dengan kembalian.

“Sisa kembalian seribu, kasir menyerahkan 4 biji permen. Alasan tidak memiliki uang receh,” ujar Indra menirukan ucapan kasir itu.

Selang satu jam kemudian, dia pulang dan hendak menggunakan jasa fhoto copy. Setelah menyerahkan dokumen yang di poto copy, kasir menyebutkan ongkos yang akan dibayarkan yaitu sebesar Rp11.000. Kemudian ia menyerahkan uang sebesar Rp12.000. Kembali, Indra mengalami hal yang sama, dimana sisa kembalian seribu digantikan dengan 4 biji permen.

Indra tidak terima hal ini. Lalu ia melakukan protes. Dosebutkannya, dalam pasal 23 ayat 1 undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata Uang.

Dalam pasal tersebut ditetapkan dengan undang-undang, tindakan mengonversi uang receh jadi permen adalah kegiatan yang ilegal.

“Nah, kalau para pedagang atau kasir tetap memberikan permen sebagai uang kembalian, ada sangsi yang diterima,” katanya dengan nada kesal.

Ditambahkannya, UU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Dalam aturan ini, tambahnya, sangat jelas bahwa pedagang tidak dibenarkan merugikan konsumen secara sepihak.

Maraknya Fenomena uang kembalian menggunakan permen di
benar pula oleh Julmasa.

“Hal ini memang sering terjadi dan dianggap sepele oleh oknum pedagang nakal. Terkadang saya beli rokok, sisanya selalu dikasi permen,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah harus turun memantau dan memberikan sosialisasi kepada pedagang nakal. Karna, katanya, ini merupakan tindakan yang ilegal bertentangan dengan undang-undang.

“Memberi perlindungan kepada konsumen yang tentunya tidak merugikan pembeli adalah tanggung jawab pemerintah setempat,” katanya mengakhiri. (rofy)

Editor :