Senin | 16 September 2019 |
×

Pencarian

NEWS

Pandangan ‘Kalam’ Sutardji Tahun Lalu Tentang Daik Lingga

Kamis | 22 November 2018 | 18:54
kalam sutardji

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sutardji Cholzum Bakri, penyair yang terkenal dengan karya kreatifnya berjulukan ‘kredo puisi’. Membawa corak baru kepenyairan sastra Indonesia. Dalam sejarah sastra Indonesia mencatat, Sutardji berhasil membawa dan berjalan dijalan ke-puisi-anya.

BACA: Tembakan Lee Harvey Oswald Tewaskan John F Kennedy

Sebelum saya melanjutkan essay ini, saya ingin mengucapkan ‘Tabek Dato’. Sebuah ungkapan transenden dalam kultur luhur Melayu. Sekaligus kepada, Sutardji Cholzoum Bakri.

Sutardji, ketika berada di pusat imperium Kerajaan Lingga Riau yang pernah berjaya dimasanya, tepatnya di kota kecil yang disebut Daik, memberikan kesan kepuitisan tersendiri. Bahkan kesan tersebut memberi aura baru. Seumpama spiritual yang tak pernah padam.

BACA: I Gusti Ngurah Rai Meninggal Dunia Usia 29 Tahun

Sutardji, di mata penulis, bukan lagi sebagai penyair, penyihir, atau pembaca mantra, namun lebih dari itu, Sutardji seperti rasa kekaguman. Bersuanya penulis dengan Sutardji di tanah yang menyimpan semangat jiwa-jiwa kesultanan tersebut, memberikan preseden baru atas sebuah analogi kesadaran. Atas nalar intuitif sebagai seorang yang disebut sebagai penetak kerja kreatif yang terus mengalir seperti karyanya yang berjudul “Q”. Karya yang padat makna, seakan mengajak untuk terus berkarya, sebagai proses humanisme di tengah belantara kemanusiaan.

BACA: Columbus, Penjelajah Dunia Pertama Injak Kaki di Puerto Rico

Hari ini, nyaris hampir sekitar satu tahun yang lalu, Kota Daik dikunjungi bersama oleh sejumlah tokoh-tokoh. Baik budayawan, sastrawan, yang menyinta, meraih akan sebuah rasa kata ‘Melayu’. Berkumpul bersama untuk kembali membangun dan melestarikan fondasi, atas harfiahnya kata bangsa, dan bahasa Melayu pada perhelatan yang digadang-gadangkan dengan nama Tamadun Melayu.

BACA: Islam Banyak Dipengaruhi Hal Mistik, Ahmad Dahlan Dirikan Muhammadiyah

Sutardji Cholzum Bakri,sumbangsihnya menghadiri langsung perhelatan tersebut di Kota Daik. Sutardji, yang tidak diragukan lagi sebagai tokoh atau yang berjuang melalui logika ‘kalam’ seakan terpesona dengan alam Daik. Sebuah alam yang indah.

Sekilas, tubuh Sutardji, dengan pancaran mata yang membawa aura spirit, tidak kalah oleh kerentaan usia. Semangat berkalam seakan tak pernah padam di jiwanya. Apa lagi semangat tersebut diasup kadar oksigen yang tiada polusi. Alam yang jauh dari kebisingan, kehingar-bingaran, duduk bersama di kota kecil yang awalnya dibangun oleh Sultan Mahmut sekitar akhir abad 16-an dan awal abad ke-17-an.

BACA: Ini Sejarahnya, Kenapa 22 Oktober Jadi Hari Santri Nasional

Tanah Daik yang menyimpan cahaya keemasan Melayu seakan terus bergeliat. Seiring perkembangan dari pusat kerajaan Lingga-Riau, hingga kini sebagai kota administratif atau disebut pusat kota Kabupaten Lingga. Namun, rasa ‘Melayu’ terus dinukilkan sebagai spirit dalam mengisi pembangunan kota budaya yang modern dan maju.

Menariknya, sejarah Daik terus diperbaharui melalui ‘kalam’ yang tidak hilang dari acuan makna Melayu. Yang mana, dalam berbagai catatan sejarah, imperium Melayu berjaya membangun sebuah bangsa yang berbudaya di kota Daik. Bangsa yang penuh sopan santun, dan pekerti mulia serta melestarikan warisan budaya bangsa melalui poin poin etiknya.

BACA: Sejarah Lahirnya Rupiah

Perjalanan panjang sejarah Kota Daik juga merupakan sejarah bangsa Melayu dan serumpunnya. Meski di awal abad ke-19-an, imperium tersebut seolah-olah ter-reduksi akibat kolonialisasi yang pernah mengagresi kejayaanya. Namun, bangsa Melayu dengan kharismatiknya terus mengasimilasi kebentuk yang elastis, adab maupun peradaban Melayu.

Daik terus bergeliat. Seumpama bunga yang bermahkota. Bersinar di ufuk pantai timur Sumatera. Dengan khasanah dan berbudaya. Hingga kini, tanah yang diracik oleh kelenturan tangan Sultan Mahmud tersebut diprediksi berusia sudah 350 tahun lebih. Semakin bercahaya di tengah geliat perkembangan zaman.

BACA: Panglima Terhebat dalam Sejarah Dunia Itu, Napoleon Bonaparte Wafat Diusia 52 Tahun

Pandangan Sutardji, kota kecil tersebut pantas diberikan sanjungan pada tataran nilai yang tak bisa diangkakan. Bahkan Sutardji melihat semangat immanen yang dalam, untuk spirit sebagai unsur hara pedoman kemajuan bangsa Melayu untuk masa akan datang. Sebagaimana penulis mengutip kata-kata Sutardji.

“Di sini, di Lingga. Kita dekat dengan Tuhan,” tutur Sutardji.

Menurut Sutardji, kalimat tersebut bukan tanpa alasan. Kedekatannya dengan Tuhan, apa lagi di Lingga, karena Lingga kota yang hening. Normal tanpa polusi.

“Lingga hening, normal. Alamnya tanpa polusi,” ujarnya lagi dalam intonasi yang saklek, dengan pengucapan yang datar, namun memberikan rasa spiritualitas seorang manusiawi yang teraksesi kepada yang cosmic atau keilahian.

“Itulah kebesaran (Nya),”sambungnya lagi.

BACA: Pesona Bersejarah dan Ragam Cerita di Lawang Sewu

Ketika ucapan tersebut mengalir di telinga penulis, terdengar nilai yang tak terbantahkan. Sebagaimana spiritualitas yang dialirkan kepada penulis dalam obrolan singkat di gedung Anjungan Negeri Daik Lingga tempat diselenggarakannya perhelatan Tamadun Melayu yang pertama pada tahun 2017.

Hari ini, kontemplasi Sutardji, dapat penulis terima dan diambil intisari dan harfiahnya. Bagi penulis, apa yang disampaikan Sutardji, sebuah nalar intuitif yang semua kita disadarkan bahwa, ekskalasi imperium ‘Melayu’ di Kota Daik-Lingga sudah sewajarnya menjadi nilai transenden baru yang bertumbuh, tak pernah padam dan masih lestari sejak berdirinya Kota Daik yang masyarakatnya adalah Bangsa Melayu.

BACA JUGA: 

Meskipun perubahan zaman terus berlalu, namun ciri khas khasanah bangsa Melayu berkembang seumpama mekar mahkota. Bergeliat. Sebagaimana dalam salah satu bait pantun terus bergema dalam akal budi leluhur Melayu yakni “Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang berganti, Tak Kan Melayu Hilang di Bumi,”.

Pantun tersebut, menyenaraikan bahwa bangsa Melayu yang kharismatik, serta kejayaanya, maupun pusat geografisnya. Menumbuhkan cita rasa adab yang elastis dan lestari. Hingga kini Daik, memberikan rasa yang baru, yang musti tetap dijaga ke-adab-nya hingga tinggi dan abadi selama-lamanya. Seperti yang dikatakan Sutardji, “Di Daik, kita dekat dengan Tuhan,” takzimnya.

Penulis
Nofriadi Putra. Alumni Sastra Indonesia UNP. Lahir di 50 Kota, Tahun 1983

Editor :