Balita

MEDIAKEPRI.CO.ID – Mengajak balita liburan ke alam terbuka memang tak ada salahnya.

Tapi, banyak hal yang perlu dipersiapkan agar liburan aman dan menyenangkan.

Orangtua harus selalu waspada dan mengawasi anak-anak agar kejadian buruk seperti anak hilang atau terluka di tempat wisata bisa dicegah.

Mungkin kisah pilu orangtua balita asal Malaysia berikut ini bisa menjadi pelajaran untuk semua orangtua di luar sana.

Terdapat luka biru lebam di antara kedua kaki gadis itu. (Istimewa)

Kisah miris ini dibagikan oleh akun Instagram @makassar_iinfo dari netizen bernama Noorhasim Mohammad pada Selasa, 26 Juni 2018.

Netizen tersebut menceritakan bagaimana kronologi seorang balita yang meninggal dunia akibat tersengat ubur-ubur di daerahnya.

“Orang tua, sebaiknya berhati-hati jika membawa si kecil ke pantai/tanjung dan lebih mengawasi kegiatan mereka.

Pasalnya, di pantai kerap terdapat makhluk kecil yang justru mematikan,” tulis Noorhasim Mohammad.

Kejadian nahas itu bermula saat sang bocah perempuan diajak berlibur ke pantai bersama keluarganya.

Seperti pengunjung lain, keluarga itu juga asyik bermain di air.

Namun, tiba-tiba seekor ubur-ubur menyengat kaki putrinya.

Terdapat luka biru lebam di antara kedua kaki gadis itu.

Diduga warna biru tersebut merupakan racun yang dikeluarkan oleh ubur-ubur.

Orang tua segera melarikan sang balita ke rumah sakit.

Sayangnya nyawa gadis kecil itu tak dapat tertolong.

Orangtua bocah yang tak diketahui namanya itu histeris mendapati sang buah hati tak lagi bernyawa.

Ini bukanlah kasus yang pertama kalinya.

Pada tahun 2017, seorang gadis kecil yang juga berasal dari Malaysia mengalami kejadian serupa.

Kakinya membengkak dan mengeluarkan banyak guratan merah.

Di Indonesia, kasus wisatawan yang tersengat ubur-ubur juga sering terjadi.

Melansir Tribun Jogja, Sebanyak 79 kasus sengatan ubur-ubur terjadi selama libur lebaran lalu hingga hari Senin, 25 Juni 2018, dan tersebar di berbagai pantai selatan Gunungkidul.

Marjono, koordinator Sar Satlinmas Wilayah II Gunungkidul, mengatakan korban kebanyakan anak-anak karena mereka tidak tahu bahayanya sehingga ubur-ubur terinjak atau malah digunakan sebagai mainan.

“Perkiraan muncul ubur-ubur atau impes pada bulan Juli hingga Agustus,” terangnya.

Sementara itu, dari 2.000 spesies ubur-ubur, hanya 70 jenis yang serius membahayakan atau terkadang membunuh orang.

Sengatan ubur-ubur yang paling umum menghasilkan rasa sakit, gatal, dan ruam merah yang berlangsung selama beberapa hari.

Dilansir Grid.ID dari Kompas.com, ada cara paling mudah untuk mencegah sengatan racun ubur-ubur, yaitu menggunakan alas kaki.

Jika tersengat ubur-ubur, cara terbaik untuk menentukan bagaimana luka sengat seharusnya diobati adalah dengan proses identifikasi spesies oleh ahli kesehatan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Purwakarta – Dua balita ditemukan meninggal dunia di dalam mobil yang tengah terparkir di halaman sebuah kontrakan di Kampung Wanasari, Kelurahan Ciseureuh, Purwakarta, Selasa, 22 Mei 2018 siang.

Kedua balita tersebut diketahui bernama Muhammad Jibal Alif (4) dan Intan Nur Aini (2,5).

Anak-anak itu ditemukan oleh ayah Jibal, Herdiana (32) telah terbujur kaku di kursi depan sebelah kiri di dalam mobilnya.

Hal itu disampaikan ayah Intan, Solihin (43), saat ditemui tidak jauh dari tempat kejadian, seusai melakukan salat jenazah putrinya.

“Yang awalnya tahu itu bapaknya Jibal, sebelumnya sempat mencari anak-anak, terus ketemu di dalam mobil itu, sudah kaku,” kata Solihin.

Menurut Solihin, anak keempatnya itu memang sering bermain dengan Jibal di depan kontrakan orangtuanya.

Ia pun mengaku pasrah akan meninggalnya putri bungsunya yang baru berusia 2 tahun itu.

Saat dikonfirmasi terpisah, Kanit IV Satreskrim Polres Purwakarta, Iptu Budi Suheri membenarkan adanya kejadian tersebut.

Pihaknya yang mengecek dan mengolah TKP menemukan kedua balita tersebut telah terkunci di dalam mobil selama dua jam.

“Diduga kedua korban bermain dan masuk ke dalam mobil lalu tidak bisa membuka pintu untuk keluar. Diduga kedua korban meninggal dunia karena kehabisan oksigen,” katanya saat ditemui di Mapolres Purwakarta.

Diketahui, menurut keterangan saksi yang diterimanya, kedua korban bermain di depan kontrakan tersebut sekitar pukul 12.30 WIB.

Namun, menjelang sore, kedua orang tua korban mencari anak-anak itu karena tidak ada di tempat bermainnya.

Setelah dicari hingga ke sekitar kontrakan, keduanya ditemukan tewas berada di dalam mobil Karimun biru bernopol B 8418 PZ itu.

“Bapaknya sedang tidur saat itu dan ibunya sedang mengasuh, yang kebetulan baru melahirkan anak kembar. Tidak terkontrol anaknya itu masuk ke dalam mobil,” ucap Budi. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Ekspresi senyum di wajah-wajah para napi teroris saat mereka menyerahkan diri pada Kamis 10 Mei 2018 kemarin masih terus menjadi tanda-tanya besar.

Pantauan TribunStyle.com, warganet mengaku mengelus dada dan gagal paham dengan makna senyum di wajah-wajah mereka yang sudah membuat sejumlah nyawa personel polisi melayang.

“senyum dalam maksud apa yaa, udah menghabisi nyawa malah senyum,” tulis seseorang dengan akun @anisasptnr lewat Instagram .

Seseorang dengan akun Twitter @ernestprakasa mengaku sesak dadanya.

“Dada sesak membayangkan nasib para polisi yg gugur karna disiksa dan dibunuh di Mako Brimob. Turut berduka teramat dalam. #KamiBersamaPOLRI,” kicaunya di Twitter.

Seorang warganet membandingkan ekspresi ganjil para napi teroris saat menyerahkan diri dengan perlakuan kejam mereka kepada jajaran polisi hingga berujung 5 nyawa melayang di pihak korps Bhayangkara.

Simpati kepada polisi bertambah dengan beredarnya video perlakuan polisi menyuapi para napi teroris dengan nasi bungkus dalam perjalanan ke LP Nusa Kambangan.

Tambah bersimpati lagi melihat seorang anak balita keluarga napi teroris aman dalam gendongan polisi saat drama penyerahan diri.

“Ini bayi anak dari seorang Napi teroris, aman dalam gendongan petugas polisi, adanya bayi ini jg tdk bisa serbuan scra sembrono, perlakuan manusiawi oleh polisi, berbeda jauh dr perlakukan keji bbrapa napi teroris thdp rekan2 mrk yg gugur & terluka parah #KamibersamaPolri ,” kicau Muhammad Guntur Romli di Twitter.

Seperti dilansir TribunnewsBogor.com, sebanyak 155 narapidana teroris di Mako BrimobKelapa Dua, Depok akhirnya menyerah pada Kamis, 10 Mei 2018.

Sebelumnya, terjadi kericuhan antara narapidana teroris dengan pihak kepolisian Mako Brimob sejak hari Selasa, 8 Mei 2018 malam.

Puncaknya adalah ketika 155 napi teroris menguasai tiga blok tahanan yaitu Blok A, Blok B, dan Blok C.

Tragisnya, dalam keributan itu, lima anggota polisi tewas dibunuh dengan berbagai cara brutal oleh para napi.

Bahkan seorang anggota polisi bernama Brigadir Polisi Iwan Sarjana disandera lebih dari 24 jam.

Setelah melakukan proses negosiasi yang cukup tegang dan alot, Brigarir Polisi Iwan Sarjama akhirnya dibebaskan dengan luka-luka dan lebam di seluruh bagian wajah serta tubuh.

Sebanyak 145 napi teroris menyerahkan diri setelah negosiasi, sementara 10 lainnya tetap bergeming.

Mereka baru benar-benar menyerah setelah polisi menyerukan peringatan melalui dentuman dan tembakan peluru.

Terlihat bahwa ekspresi para napi teroris ini tidak bisa ditebak dan menimbulkan tanda tanya.

Dilihat dari foto-foto di atas, para napi berbaris lalu menjalani pemeriksaan oleh para aparat kepolisian.

Mereka digeledah agar bisa dipastikan bahwa mereka tidak membawa senjata tajam maupun benda berbahaya lain. (***)

sumber: tribunnews.com

Termasuk Menewaskan Seorang Balita

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tapaktuan -Tragis, Begitulah gambaran insiden berdarah yang terjadi di Desa Mersak, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu, 5 Mei 2018 malam sekitar pukul 20.15 WIB.

Seorang pria yang disebut-sebut mengalami gangguan jiwa mengamuk dan membakar rumah sekdes, membunuh seorang anak berusia 2,5 tahun serta melukai dua warga lainnya.

Informasi yang dihimpun Serambi dari berbagai sumber termasuk dari pihak kepolisian menyebutkan, pelaku yang bernama Matraten (60) akhirnya meninggal dunia di RSUD Yulidin Away Tapaktuan.

Belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab meninggalnya pelaku, namun beberapa kalangan menduga akibat diamuk massa pasca-insiden tersebut.

Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedi Sadsono ST melalui Kasat Reskrim Iptu M Isral SIK kepada Serambi, Ahad, 6 Mei 2018 menceritakan kronologis insiden mengerikan tersebut.

Menurut Kasat Reskrim Polres Aceh Selatan, pada Sabtu, 5 Mei 2018 malam sekira pukul 20.00 WIB, Matraten tiba-tiba menuju ke rumah Sekreteris Desa (Sekdes) Mersak, Husidin yang berseberangan jalan dengan rumah pelaku.

Pelaku menuju ke rumah sekdes sambil membawa parang, bensin, dan korek api. Di depan pintu, dengan nada tinggi pelaku menanyakan kemana sekdes.

Tak ada laporan siapa yang ada di dalam rumah sekdes waktu itu. Tiba-tiba pelaku langsung menyiramkan bensin ke sepeda motor Scopy milik sekdes yang parkir di ruang depan. Pada detik-detik berikutnya pelaku menyulut api dengan korek api yang dibawanya. Dalam tempo singkat, api berkobar hebat.

Saat api berkobar, pelaku melihat seorang anak berusia 2,5 tahun bernama Paras, yang disebut-sebut cucu Sekdes Husidin bermain di depan rumah. Tak ayal, balita ini menjadi sasaran amukan. Parang di tangan pelaku dibacokkannya ke kepala balita tersebut hingga luka parah. Balita tak berdosa ini akhirnya meninggal dunia di Puskesmas Kluet Tengah.

Menurut saksi mata, sebagaimana dikutip oleh Kasat Reskrim Polres Aceh Selatan, setelah membacok balita, warga berusaha mengamankan pelaku dan merebut parang di tangannya. Namun pelaku semakin kalap sambil mengibaskan parang ke arah warga yang mendekat. Akibatnya dua warga Gampong Mersak mengalami luka bacok yang cukup parah, yaitu Zulkifli alias Gadong (60), dan Saiful (40). Zulkifli mengalami luka robek di kepala sedangkan Saiful luka sayat di dagu dan leher.

Setelah berjuang keras akhirnya pelaku berhasil diamankan oleh masyarakat. Dalam waktu bersamaan masyarakat juga berhasil memadamkan api yang sempat membakar ruangan depan rumah Sekdes Mersak.

Beberapa warga Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan yang ditanyai Serambi membenarkan pelaku pembakar rumah Sekdes Mersak dan membacok seorang balita hingga tewas serta melukai dua lainnya mengalami gangguan jiwa dan sudah pernah dirawat di rumah sakit jiwa.

“Benar, menurut warga sekitar pelaku mengalami gangguan jiwa dan sudah pernah dirawat di rumah sakit jiwa,” kata seorang sumber Serambi di Kemukiman Manggamat.

Menurut sumber tersebut, pelaku membacok Zulkifli alias Gadong (60), dan Saiful (40) karena berusaha menangkap pelaku saat ingin melarikan diri. Sedangkan Paras (2,5 tahun), yang dibacok saat bermain di depan rumahnya, dipergoki pelaku saat berusaha kabur.

Sekitar pukul 20.45 WIB, setelah membakar dan membacok tiga korban, pelaku berhasil diamankan dan dibawa ke rumahnya untuk menghindari amukan massa sambil menunggu pihak keamanan datang ke lokasi. Selanjutnya, pada pukul 21.00 WIB, pelaku dibawa ke Polsek Kluet Tengah.

Sumber-sumber lain menyebutkan, sebelumnya pelaku menetap di Desa Lawe Melang, Kecamatan Kluet Tengah dan kemudian pindah ke Desa Mersak, tempat tinggal orang tuanya. Tak ada yang tahu pasti status keluarga pelaku namun ada yang menyebutkan pelaku sudah berkeluarga dan memiliki anak.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Probolinggo – Seorang ibu diduga melakukan aksi bakar diri dengan menggendong anak balitanya di area kebun jagung, di Kabupaten Probolinggo, Senin, 9 April 2018.

Akibat kejadian ini, balita malang tersebut tewas, sementara ibunya masih dalam kondisi kritis. Hingga kini polisi masih mendalami kasus ini guna memastikan kejadian ini murni kecelakaan atau faktor kesengajaan.

Senin sore jenazah sang balita atas nama Faris, masih berada di kamar mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Mohamad Saleh. Rencananya, jenazah balita berusia 17 bulan itu hendak dibawa ke rumah duka di Desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

Sebelumnya balita berjenis kelamin laki – laki ini mendapat perawatan instensif di rumah sakit setempat. Namun karena luka bakar yang dialaminya cukup serius, Faris akhirnya meninggal dunia. Selain fariz, ibunya bernama Soleha (35), juga mengalami luka bakar yang cukup parah, dan kini mendapat perawatan instensif di rumah sakit yang sama.

Kedua korban yang berstatus ibu dan anak ini mengalami luka bakar parah hampir di sekujur tubuhnya. Dugaan sementara, keduanya terluka akibat aksi bakar diri yang dilakukan sang ibu di area kebun jagung yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya.

Warga yang mendengar ada teriakan menjerit segera menolong korban.

“Tadi begitu dengar suara teriakan, warga langsung menolong”

Kalau dilihat dari kondisinya sepertinya ini sengaja membakar diri. Tapi kami juga tidak tahu apakah memang ada masalah rumah tangga atau bagaimana,” kata Busir, salah seorang warga sekitar.

Belum diketahui penyebab pasti kenapa korban beserta bayinya nekat membakar diri di kebun jagung tersebut.

Namun diduga korban mengalami depresi akibat ada permasalahan keluarga. Hingga kini polisi masih mendalami kasus ini guna memastikan penyebab kejadian ini murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan. (***)

sumber: inews.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – SM, kakek berusia 66 tahun tega mencabuli seorang anak balita yang masih berusia sekitar empat tahun, di Kelurahan Baran Timur, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Kamis, 29 Maret 2018 pagi.

Pelaku yang bekerja sebagai buruh harian lepas, ia melancarkan niat bejadnya dengan modus memandikan korban di rumah miliknya.

“Sewaktu pelapor baring di rumah, kemudian korban pulang dalam keadaan penuh dengan bedak. Saat ditanya siapa yang memandikannya, ia menjawab bahwa yang memandikannya adalah SM,” kata Kaur Bin Ops (KBO) Satreskrim Polres Karimun, Iptu Brasta saat dikorfirmasi, Jumat, 30 Maret 2018.

Brasta juga menjelaskan, berdasarkan laporan pelapor bahwa pelaku ini sempat menggigit dan menjilat serta memasukan jari pelaku di kemaluan korban.

Dengan adanya laporan tersebut, Satreskrim Polres Karimun langsung bergegas kelokasi dan mengamankan pelaku pada hari itu juga sekira pukul 14:00 WIB di rumah miliknya.

Atas kejadian ini, Satreskrim Polres Karimun telah menahan tersangka untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. (kmg/riandi)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi akan menyelidiki video viral yang memperlihatkan balita menonton video porno diduga saat berada di sebelah orang tuanya. Polisi akan mengkroscek asal video porno tersebut.

“Itu kita akan lakukan penyelidikan dulu, siapa dia, anak siapa. Kita lakukan penyelidikan. Baru kita tanyakan dari mana itu,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro, Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis 15 Maret 2018.

Argo lantas mengimbau kepada masyarakat untuk terus mengawasi anak agar tak menonton hal-hal yang tidak layak di gadget. Pengawasan, menurutnya, harus dilakukan sejak kecil sampai dewasa.

“Dan kita edukasi kepada masyarakat, jangan sampai anak kita dengan memegang gadget tapi kita harus melakukan pengawasan terutama anak di bawah remaja. Harus awasi,” ujar Argo.

“Jangan sampai anak-anak kita umur 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun sudah melihat film yang tidak seharusnya ditonton,” sambung dia.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto sebelumnya menyesalkan adanya kejadian tersebut. Dia mengatakan tak sepatutnya anak di bawah umur dapat mengakses konten porno. Pihaknya kini tengah mendalami kasus itu.

“Ini tidak bisa ditoleransi. Kami sedang mendalami video tersebut. Lokasi pastinya di mana, siapa saja yang berperan, sehingga anak tersebut mengakses konten porno. Kami juga koordinasi dengan Polda terkait upaya pendalaman video yang dimaksud,” ujar Susanto melalui pesan kepada detikcom, Kamis 15 Maret 2018

Video balita menonton video porno tersebut viral dan banyak beredar di grup percakapan. Di dalam video, balita itu tampak memegang sebuah ponsel sambil duduk. Dia memperhatikan video yang berada di ponsel itu.

Setelah diperbesar beberapa kali, ternyata konten yang tengah ditonton adalah video porno dan tak sepatutnya disaksikan balita. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Georgia – Sungguh tragis, seorang balita berusia 2 tahun di Georgia, Amerika Serikat (AS) tewas usai tertimpa kaca di toko sepatu setempat. Balita perempuan itu tak terselamatkan saat dilarikan ke rumah sakit.

Seperti dilansir NY Daily News, Senin 5 Maret 2018, balita bernama Ifrah Siddique dilarikan ke rumah sakit setempat, usai tertimpa kaca berukuran panjang 6 kaki atau setara 1,8 meter itu. Insiden ini terjadi di sebuah toko sepatu Payless di Riverdale, Georgia pada Jumat 2 Maret 2018 waktu setempat.

Dituturkan sepupu Ifrah, Aqib Iftkhar (20), bahwa adik laki-laki Ifrah sedang berdiri di sebelahnya saat insiden ini terjadi. Ifrah dan adiknya tertimpa kaca itu. Dibutuhkan dua orang untuk mengangkat kaca itu dan mengevakuasi kedua bocah yang tertimpa.

Adik Ifrah selamat, namun sayangnya tidak demikian dengan Ifrah. Menurut Iftkhar, sepupunya itu akhirnya meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya, saat dirawat di rumah sakit.

Iftkhar sendiri tidak berada di lokasi kejadian saat insiden ini terjadi. Namun dia mengaku diberitahu otoritas pemadam kebakaran Clayton County yang menangani insiden ini, bahwa kaca berukuran besar itu ternyata tidak terpasang dengan benar.

“Kaca itu tiba-tiba terjatuh pada saat itu,” ucap Iftkhar. “Kaca itu tampaknya cukup berat,” imbuhnya.

Ifthkhar mengenang Ifrah sebagai bocah yang selalu ceria. “Semua orang selalu tersenyum melihatnya,” kenangnya.

Kini, keluarga Ifrah masih berusaha menerima kenyataan pahit ini. “Kami berusaha terus maju dan menguburkannya,” ucap Iftkhar.

Dalam pernyataan terpisah, pihak Payless menyampaikan belasungkawa mendalam untuk keluarga Ifrah. “Simpati mendalam kami bagi keluarga Ifrah Siddique dalam masa-masa kehilangan luar biasa ini,” demikian pernyataan Payless.

“Kami merasa hancur dengan peristiwa tragis ini dan kami bekerja sama secara menyeluruh dengan otoritas untuk menyelidiki dan memahami situasi yang memicu insiden ini. Demi menghormati pihak keluarga, tidak ada informasi lebih lanjut untuk saat ini,” imbuh pernyataan itu. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Dalam klinik konsultasi resmi pada situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Damayanti Syarif, Sp.A(K), Ph.D menegaskan, pemberian susu pada anak usia diatas 1 tahun, baik ASI ataupun susu lainnya pada si kecil tidak utama, karena hanya boleh diberikan maksimal 30 persen dari total kebutuhan kalori, dan 70 persen sisanya seharusnya berupa makanan padat.

Pemberian susu didalam konteks makanan anak usia Batita dan Balita adalah sebagai sumber kalsium dan sumber protein dengan asam amino esensial yang lengkap.

Berbagai pertanyaan yang sering ditanyakan orangtua kepada Dokter Anak adalah penggunaan susu kental manis pada anak. Pertimbangan orangtua memilih susu kental manis adalah harga yang relatif lebih murah, kemudian mudah disimpan dan tidak cepat basi dibandingkan dengan susu pertumbuhan anak.

Dr Damayanti menjelaskan, susu kental manis adalah susu yang dibuat dengan melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah.

Selain diuapkan, susu kental manis juga diberikan gula tambahan. Hal ini menyebabkan susu kental manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO tahun 2015 adalah kurang dari 10% total kebutuhan kalori.

“Susu kental manis sebaiknya tidak dikonsumsi oleh balita. Ayah Bunda harus pintar memilah dan harus terlebih dahulu melihat kandungan nutrisi setiap porsinya,” jelas Dr Damyanti dilansir dari situs resmi IDAI di Jakarta, Jumat 23 Februari 2018

Ia mencontohkan salah satu jenis susu kental manis yang dijual secara komersil menuliskan dalam satu takar porsi (4 sendok makan) memasok 130 kkal, dengan komposisi gula tambahan 19 gram dan protein 1 gram. Jika dikonversikan dalam kalori, 19 gram gula sama dengan 76 kkal.

Kandungan gula dalam 1 porsi susu kental manis tersebut lebih dari 50 persen total kalorinya, jauh melebihi nilai rekomendasi gula tambahan yang dikeluarkan oleh WHO.

Susu kental manis tidak boleh diberikan pada bayi dan anak, karena memiliki kadar gula yang tinggi, dan kadar protein yang rendah.

Pemberian susu yang direkomendasikan untuk bayi adalah ASI atau ASI donor yang telah terbukti aman atau susu formula bayi.

Sedangkan jika berusia di atas 1 tahun, selain ASI dapat mengonsumsi susu sapi yang sudah dipasteurisasi atau UHT atau susu formula pertumbuhan.

“Untuk pemberian susu selain ASI sendiri sebaiknya berkonsultasi kepada dokter spesialis anak,” ujar Dr Damyanti.

Sementara itu dalam satu kesempatan, Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf pada dalam sebuah kesempatan juga menegaskan, misinformasi tentang produk makanan dan minuman oleh masyarakat turut berpengaruh pada asupan gizi anak.

Seperti susu kental manis yang diberikan sebagai minuman untuk anak, yang akhirnya menyebabkan 3 balita di Kendari dan 1 di Batam dirawat di RS dengan diagnosis gizi buruk.

“Masyarakat tidak paham mana yang boleh diberikan untuk anak dan mana yang tidak boleh. Gizi buruk dan stunting menjadi persoalan serius di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Dede, sosialisasi ini tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, namun juga menjadi tanggung jawab produsen, terutama makanan dan minuman kemasan yang banyak dikonsumsi anak. Edukasi ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun juga seharusya produsen ikut berperan mengedukasi pembeli.

“Semestinya, produsen diberikan amanat oleh pemerintah untuk mencantumkan informasi produk dengan sangat detail pada label, mulai dari digunakan untuk apa, batas usia penggunaan, bahkan kalau perlu akibat-akibat yang ditimbulkan bila tidak digunakan sebagaimana mestinya. Artinya, pembeli pun mengerti bahwa produk tersebut tidak boleh untuk anak,” jelas Dede. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi menangkap Julian (21), tersangka pencekikan Febrianto (5) hingga tewas di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Pelaku langsung dibawa ke Polres Metro Jakarta Timur.

“Iya benar, kita tangkap,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur, AKBP Sapta Maulana saat dimintai konfirmasi, Senin 19 Februari 2018.

Sapta menerangkan penangkapan terjadi pada Minggu 18 februari 2018. Julian ditangkap di kawasan Cianjur, Jawa Barat.

“Kemarin siang, lokasinya di daerah Cianjur,” ucapnya.

Julian saat ini sudah berada di Polres Metro Jakarta Timur. Polisi terus melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap pelaku.

Sebelumnya diberitakan, seorang bocah berusia 5 tahun, Febrianto tewas dicekik seseorang di rumahnya di Jalan Lewa RT 003/010 Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Pelaku juga menganiaya ibu korban, Masniya (39).

Kejadian tersebut terjadi pada Minggu 11 Februari 2018. Polisi mengatakan pelaku nekat melakukan hal tersebut karena emosi ditolak menginap oleh ibu korban.

“Dia awalnya mau nginep di situ (toko) tapi ditolak sama pemilik (ibu Febrianto yang merupakan pemilik toko), terus dia emosi dan melakukan itu,” kata Kapolsek Pasar Rebo, Kompol Joko Waluyo saat dimintai konfirmasi, Senin 12 Februari 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batang – Seorang ibu kandung, Nur Saskia Wati (17) warga Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah tega menganiaya anaknya yang masih berusia 2,5 tahun hingga akhirnya meninggal dunia, Ahad, 11 Februari 2018.

“Saat ini, kami menunggu tim Disaster and Victim Investigation (DVI) Polda Jateng untuk mengidentifikasi dan memastikan penyebab kematian korban,” kata Kepala Kepolisian Resor Batang AKBP Edi Suranta Sinulingga seraya mengatakan saat ini polisi sedang memeriksa dan minta keterangan pada pelaku.

Ia mengatakan terungkapnya kasus tersebut berawal adanya kecurigaan ibu mertua pelaku yang berusaha mencari korban ke sejumlah tempat seperti tempat saudara dan tetangganya. Akan tetapi, kata dia, warga curiga terhadap kabar hilangnya anaknya Nur Saskia Wati karena pintu kamar rumahnya pada keadaan terkunci gembok dari luar.

“Ibu mertua pelaku pun curiga sehingga pintu kamar yang terkunci gembok dari luar itu dibuka paksa dan menemukan korban berada di dalam kamar sudah dalam kondisi meninggal dunia,” katanya.

Ia mengatakan ibu mertua bersama warga kemudian melaporkan kasus itu pada Kepolisian Sektor (Polsek) Subah dan dilakukan pengecekan di tempat kejadian perkara (TKP). Adapun dari hasil pemeriksaan sementara oleh petugas Puskesmas ditemukan adanya tanda- tanda penganiayaan pada korban.

Menurut dia, berdasar keterangan Nur Saskia Wati, anaknya dianiaya dengan cara menutupi wajah korban dengan menggunakan bantal sehingga korban kesulitan bernafas. “Berdasar pengakuannya, pelaku menghabisi anaknya karena dirinya ada yang membisiki atau membayang-bayangi untuk menghilangkan nyawa anaknya,” katanya.

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Gejala gizi buruk usia bawah lima tahun (balita) bukan hanya menimpa di Kabupaten Asmat, Papua. Di Ibu Kota, tepatnya di Jakarta Utara (Jakut), ratusan balita mengalami kondisi serupa. Belum lagi di wilayah Jakarta lainnya karena belum terdata.

Tercatat ada 194 balita di Jakarta Utara masuk kategori gizi kurus sekali, 150 di antaranya karena asupan gizi yang kurang.

“Sebanyak 150 anak tergolong tanpa penyakit berarti asupan gizi yang kurang. Kemudian 44 anak menderita penyakit penyerta yang mengakibatkan badannya kurus,” kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara M Helmi dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Rabu, 31 Januari 2018.

Pihaknya telah melakukan beberapa upaya seperti pemberian makanan tambahan dan vitamin. Untuk anak-anak dengan penyakit penyerta, dilakukan pengobatan agar gizi kembali meningkat.

“Peranan dan intervensi dari semua lintas sektor sangat dibutuhkan dalam penanganan gizi anak-anak seperti penyediaan air bersih, ketahanan pangan, jaminan kesehatan, dan bantuan lainnya,” ujar Helmi.

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Utara Husein Murad menegaskan meningkatkan asupan gizi kepada anak-anak membutuhkan kerja sama kuat dari semua sektor.

Hal itu merupakan tantangan sehingga perlu keterlibatan dari semua pihak agar mempunyai generasi yang berkualitas pada masanya.

“Semua yang terlibat bisa terinspirasi untuk mengambil bagian dalam meningkatkan gizi anak-anak di Jakarta Utara. Forum semacam ini perlu dan sangat penting. Begitu juga dengan tindak lanjutnya, apa yang dibicarakan harus riil dan dipraktikkan walaupun dalam lingkup yang kecil,” jelas Husein Murad

Menurutnya, persoalan gizi sebagai sesuatu yang sangat penting dan monumental. Terobosan dan inovasi terkait dengan peningkatan gizi anak-anak harus terus dikembangkan dengan melibatkan semua potensi di Jakut untuk mencegah terjadinya kasus serupa wilayah itu. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Rudiansyah (4) seorang balita yang menderita gizi buruk akhirnya mendapat perawatan secara intensif di RSUD Muhammad Sani, Kabupaten Karimun. Bocah yang lahir dari keluarga kurang mampu ini, hampir tidak mendapat perhatian pemerintah setempat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sebelumnya balita tersebut pernah dibawa ke Puskesmas, karena terkendala administrasi kependudukan dan perekonomian keluarga, kedua orang tua balita tersebut terpaksa membawa kembali pulang anaknya ke rumah.

Kondisi Rudiansyah dan keluarganya sempat mendapat perhatian dari salah seorang anggota DPR RI, Dwi Ria Latifa beberapa waktu lalu yang mengunjungi tempat tinggal pasangan Andri Amin alias Pak Anjang (50) dengan Saswatih (40), orang tua Rudiansyah.

Bupati Karimun, Aunur Rafiq mengakui, terkait adanya kasus gizi buruk yang dialami salah seorang warganya, dikarenakan kelalaian baik dari pemerintah maupun keluarga. Dirinya mengharapkan masyarakat Karimun dapat memanfaatkan fasiltas kesehatan dengan baik.

“Ini kelalaian pemerintah dan juga kelalaian keluarga. Untuk itu kita minta kepada seluruh masyarakat Karimun agar selalu memanfaatkan fasilitas kesehatan, terutama bagi para balita dan anak-anak. Sehingga kedepan kasus seperti ini tidak terjadi lagi,” ucap Rafiq saat di wawancarai wartawan, Selasa, 16 Januari 2018. (kmg/viar)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tasikmalaya – Ferdi, balita berusia dua tahun, dilarikan ke RS Ibu dan Anak Prasetya Bunda, Kota Tasikmalaya, Kamis 11 Januari 2018 siang.

Balita yang tinggal bersama bibinya di Perumahan Jati Indah, Kecamatan Indihiang, ini mengalami luka lebam dan luka bakar di bagian wajah, diduga jadi korban KDRT.

Kondisi Ferdi saat dilarilan ke IGD rumah sakit jiga dalam kondisi lemas karena mengalami dehidrasi dan setengah sadar.

Petugas IGD segera memberikan cairan infus dan oksigen untuk penanganan darurat. Di bagian pergelangan kaki Ferdi pun terdapat luka lebam melingkar seperti bekas ikatan kuat.

Dokter yang menangani korban, dr Lia Noerka Rahmalia, mengatakan, dari hasil diagnosa sementara, korban diduga telah mengalami penganiayaan cukup berat di tubuhnya.

Ada luka lebam di tubuh serta luka bakar di pipi kiri. Korban juga mengalami trauma psikis.

“Kami langsung memberikan penanganan darurat, terutama memberikan cairan infus untuk menanggulangi dehidrasinya serta oksigen. Kondisinya saat ini masih sangat lemah,” kata Lia.

Sejumlah ibu mengerumuni korban dan mengaku prihatin melihat kondisi Ferdi.

“Saya tidak tega melihatnya. Di wajahnya ada luka bakar serta lebam-lebam. Ada juga luka lebam yang sudah menghitam. Kok tega-teganya menganiaya anak kecil tidak berdosa,” ujar seorang ibu.

Kanit Reskrim Polsekta Indihiang, Iptu Nandang Rohmana, mengungkapkan, pihaknya siang itu mendapat laporan warga Perumahan Jati Indah tentang adanya balita diduga korban penganiayaan.

“Saat ke lokasi, korban sudah ditangani warga dan kemudian kami bawa ke rumah sakit,” ujarnya.

Kasusnya kemudian diserahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota.

Setelah melakukan penyelidikan, polisi pun mengamankan Ds (21), tante korban yang diduga kuat mengetahui penyebab luka-luka yang dialami Ferdi.

Dari informasi yang diserap di Unit PPA, korban selama ini tinggal bersama bibinya Ds yang sehari-harinya jualan barang melalui online.

Suami Ds merantau dan pulang sebulan sekali. Diduga di rumah itulah korban mengalami penganiayaan.

Kasatreskrim, AKP Bimo Moernanda, mengatakan, pihaknya masih memeriksa sejumlah saksi termasuk Ds untuk mendapatkan keterangan.

“Kami masih memeriksa saksi-saksi. Sejauh ini belum ada tersangka karena masih dalam pengembangan,” katanya.

Potret Kelam

NASIB mengenaskan balita Ferdi adalah salah satu potret kelam kehidupan rumah tangga yang berantakan.

Kedua orang tua Ferdi belum diketahui keberadaannya. Ferdi akhirnya dirawat oleh Ds yang memiliki dua anak yang juga masih kecil.

Dari informasi yang dihimpun di Unit PPA, keberadaan kedua orang tua Ferdi belum jelas tapi diduga berada di tempat berbeda.

Yang mengenaskan, ibu kandung Ferdi diduga sudab enggan merawat darah dagingnya sendiri, hingga Ds-lah yang harus merawatnya.

Ihwal siapa yang telah melakukan aksi KDRT terhadap Ferdi masih dalam penyelidikan Unit PPA.

Saat dimintai keterangan oleh petugas, Ds mengakui beberapa kali melakukan tindakan kekerasan terhadap Ferdi tapi tidak sampai melukai.

“Saya cape ngurus pekerjaan dan kemudian anak-anak termasuk Ferdi suka rewel. Sehingga kalau mereka bikin kesal seperti menangis tak henti-hentinya kadang saya tampar pipinya,” kata Ds.

Itu dilakukannya beberapa kali selama Ferdi tinggal bersamanya.

Ditanya petugas siapa yang telah menyebabkan tubuh Ferdi lebam-lebam serta ada luka bakar di pipi kiri bawah, Ds berdalih dia lebih banyak berada di luar untuk urusan pekerjaan.

“Saya tidak tahu karena tidak di rumah terus. Di rumah ada anak-anak,” ujarnya.

Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Bimo Moernanda, mengatakan, pihaknya terus mengembangkan penyelidikan kasus dugaan KDRT tersebut.

“Terus kami kembangkan sambil mengumpulkan keterangan serta bukti-bukti. Nanti pada akhirnya akan ada tersangka karena bukti bekas penganiayaan pada korban masih nyata terlihat,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

KESEHATAN

Jumat | 12 Januari 2018 | 15:35

Balita di Aceh Alami Bocor Jantung dan Butuh Bantuan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Aceh – Sekilas, Putra Andrian terlihat seperti anak-anak kebanyakan. Hanya saja perut bocah berusia 2 tahun 7 bulan itu semakin membucit. Dokter memvonis buah hati pasangan Faisal dan Nurbaidah itu menderita bocor jantung.

Putra diketahui menderita penyakit tersebut sejak setahun lalu. Pada usia sembilan bulan, bocah asal Desa Ladang Kecamatan Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya ini mengalami batuk, demam dan sesak nafas. Berat badannya saat itu juga sempat berkurang 0,5 kg. Keluarga membawanya ke rumah sakit kabupaten setempat.

Tiba di sana, tim dokter merujuk Putra ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh, Aceh. Sampai di rumah provinsi itulah dia divonis menderita bocor jantung. Perawatan rutin harus dilakukan. Pada 2018, Putra seharusnya sudah mendapatkan kembali pengobatan. Namun karena terkendala biaya, keluarga belum membawanya berobat.

Untuk biaya pengobatan memang ditanggung pemerintah. Namun biaya transportasi dari kampungnya ke Banda Aceh menggunakan biaya sendiri. Selain itu, keluarga juga butuh biaya selama merawat Putra.

“Putra sudah beberapa kali dirujuk ke RSUZA. Selama ini biaya keberangkatan ke Banda Aceh ditanggung sendiri dalam upaya pengobatan anaknya,” kata Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya Nasruddin Oos dalam keterangan kepada wartawan, Jumat 12 Januari 2018.

Kedua orang tua Putra memang tidak punya uang untuk mengobati buah hatinya. Sang ayah Faisal bekerja sebagai nelayan sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Keluarga kecil ini hanya bergantung hidup dari hasil melaut.

Meski demikian, mereka berusaha mengobati anaknya dan mengembalikan keceriaan Putra agar dapat bermain kembali dengan anak seusianya. Pada Rabu 10 januari 2018 lalu, tim BFLF berkunjung ke kediaman Putra.

“Saat ini Putra memiliki berat badan sekitar 10 kg. Keluarga butuh biaya untuk membawa Putra ke rumah sakit. Mari kita membantu meringankan biaya pembelian susu tiap minggu satu kotak dan biaya transportasi serta kebutuhan makan untuk berangkat ke Banda Aceh berobat di RSUZA,” ungkap Nasruddin. (***)

sumber: detiknews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Seorang anak kecil yang tidak berdaya ditemukan terkunci di rumahnya bersama mayat kakek dan neneknya.
Anak kecil itu ditemukan, setelah polisi mendobrak pintu rumahnya.

Orang-orang melaporkan tidak melihat mereka selama beberapa hari

Anak laki-laki yang berusia 3 tahun itu tinggal bersama kakek dan neneknya.

Istimewa

Sementara kedua orang tuanya bekerja.

Dilansir dari Daily Mirror pada Jumat 12 Januari 2018 kakek dan nenek yang berusia 60 an tahun bekerja sebagai penjual makanan.

Melihatnya tidak jualan selama 3 hari, pelanggan menghubungi kerabatnya.

Pihak berwenang kemudian ditelfon untuk melakukan penyelidikan.

Mereka membuka pintu rumah dan menemukan balita menangis di ruang tamu, berulang kali memanggil kakek dan neneknya.

Petugas kepolisian mengatakan, anak itu setidaknya tidak makan selama dua hari.

Sementara pemeriksa mayat mengatakan, kakek neneknya telah meninggal sekitar 48 jam.

Anak laki-laki yang tidak disebutkan namanya itu dibawa ke rumah sakit.

Dia mendapat perawatan sehingga kesehatannya pulih.

Sementara orang tuanya telah dihubungi dan diharapkan akan segera kembali ke kota Keelung, Taiwan, rumah mereka.

Penyidik mengatakan tampaknya tidak ada tanda-tanda kekerasan di dalam rumah tersebut.

Bukan juga karena keracunan kanbon monoksida.

Namun, kakek anak tersebut diketahui telah menjalani operasi tumor otak 10 tahun yang lalu dan sang nenek diketahui memiliki penyakit jantung.

Polisi percaya, kakek mungkin telah meninggal terlebih dahulu.

Sehingga menyebabkan wanita itu panik dan menderita serangan jantung saat mencoba meminta bantuan di kamar tamu.

Tubuh nenek tersebut ditemukan masih memegangi gagang telepon rumah mereka. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – “Anak siapa nih? anak siapa nih?” teriak teriak seorang lelaki sambil menggendong, balita berkulit putih tersebut. Tapi tak seorang pun yang mengaku sebagai orang tuanya, atau bibik, paman, kakak, nenek dan kakeknya.

Usia anak itu diperkirakan 2 hingga 3 tahun. Ia belum bisa ngomong, bahkan nama Bapak atau mamaknya saja ia tak tahu, apalagi harus menunjukkan tempat tinggalnya.

Sambil berlari mondar-mandir di tengah kerumunan puluhan orang yang sedang ngatre di Kantor BPJS Kesehatan, Batamcentre, bocah laki-laki itu meraung sejadi-jadinya. Kaus hijau yang melekat di tubuhnya kuyup, air mata bercampur keringat.

Lalu pria itu mengantarkan bocah itu ke sekuriti kantor BPJS Kesehatan. Melalui pengeras suara yang ada di kantor tersebut, receptionis mulai mengumumkan, penemuan anak tersebut lengkap dengan ciri-cirinya.

Namun, satu jam ditunggu, tak seorang pun yang datang ke meja receptionis. Si bocah semakin gelisah, meski kedua tangannya telah menggenggam permen dan makanan ringan yang dibelikan oleh sekuriti, untuk menenagkannya agar tidak menangis lagi.

Lantaran tak juga ada yang mengaku kehilangan anak, akhirnya Yudi, sekuriti ditemani dua karyawan BPJS Kesehatan, Robby Okta dan Nasrullah, mengantarkan bocah yang di lengan kirinya memakai jam tangan kuning itu ke Polsek Batam Kota.

Kehadiran mereka diterima oleh KA.SPK Polsek Batam Kota, Brigadir Kepala Safriadi. Oleh polisi kabar penemuan anak ini pun disebar luaskan melalui media massa, media sosial dan radio polisis.

“Bagi orang tua yang merasa terpisah dengan anaknya, segera menjemputnya di Polsek Batam Kota,” ujar Safriadi.

Saat ini, bocah malang itu masih berada di Polsek Batam Kota. Anda kenal dengan anak ini? segera kabarkan ke orang tuanya. (***)

Berita ini di unggah dari batamclick.com dengan judul ‘SEDIH! Ditinggal atau Terpisah, Balita 2 Tahun Meraung di BPJS Batam’