BPOM

MEDIAKEPRI.CO.ID – Akhir-akhir ini banyak beredar permasalahan tentang susu kental manis atau SKM.

Kabarnya, SKM disinyalir meningkatkan risiko diabetes dan obesitas pada anak-anak.

Hal ini diakibatkan pemahaman yang salah tentang SKM.

Soalnya SKM ternyata hanya mengandung sedikit susu atau bahkan tidak mengandung susu sama sekali.

Akhirnya BPOM turun tangan dalam mengani hal ini.

SKM sebenarnya dinilai juga kurang menyehatkan.

Cari tahu alasannya di bawah ini.

SKM Bukanlah Minuman

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM, Penny Lukito, menjelaskan alasan kenapa susu kental manis tidak layak disebut susu.

Itu karena SKM hanya mengandung lemak susu minimal 8%, protein miniman 6,5%, dan tidak mengandung susu sama sekali.

Kesalah pahaman ini dapat berbahaya karena sebagian besar orang menyamakan SKM dengan produk susu lain seperti susu UHT atau susu cair dan lain-lain sebagai minuman.

Padahal mengonsumsi SKM secara berlebihan bisa berdampak pada risiko diabetes dan obesitas dikarenakan kadar gulanya yang tinggi.

Karena kekeliruan ini, BPOM mengeluarkan Surat Edaran tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) pada bulan Mei 2018.

Larangannya yakni dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun.

Kemudian dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk SKM disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap gizi.

Selain itu, ada juga larangan menggunakan visualisasi gambar disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.

Khusus untuk iklan, dilarang menayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

Ke depannya, Penny mengatakan akan mengatur penggunaan SKM terbatas hanya sebagai pelengkap sajian.

Misalnya sebagai topping es campur atau campuran bahan kue dan sejenisnya.

Jadi perlu dipahami sekali lagi bahwa SKM tidak disarankan diseduh sebagai minuman karena kandungan gulanya yang tinggi.

Berikan anak produk susu seperti susu cair atau susu segar untuk lebih amannya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi menyatakan susu kental manis tidak mengandung susu.

Tanpa padatan susu sama sekali, susu kental manis telah berhasil “menipu” masyarakat yang justru sering menyajikannya untuk anak, sebagai alternatif dari susu bubuk yang memiliki harga lebih mahal.

Melalui Surat Edaran tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) pada Mei 2018, BPOM memberikan aturan ketat terkait peredaran susu kental manis, yaitu:

1. Dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun.

2. Dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi.

Produk susu lain, antara lain susu sapi/ susu yang dipasteurisasi/ susu yang disterilisasi/ susu formula/ susu pertumbuhan.

3. Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.

4. Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

Berbahaya

Selain “menipu”, susu kental manis juga dinyatakan berbahaya bagi kesehatan.

Mengkonsumsi SKM secara berlebihan akan meningkatkan risiko diabetes dan obesitas pada anak-anak.

Hal ini disebabkan karena kadar gula tinggi di minuman SKM.

“Sebagai sumber energi iya, tetapi sangat tidak baik apabila energi anak bersumber dari gula,” kata Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, seorang dosen Gizi Poltekkes Kementerian Kesehatan Jakarta, kepada Kompas.com, Ahad, 6 Mei 2018.

“Tubuh punya toleransi tertentu dan penelitian menjelaskan, konsumsi gula lebih dari 10% energi total akan berisiko penurunan sensitivitas insulin yang kemudian memicu hiperglikemia (kadar gula darah lebih tinggi dari batas normal) dan memicu risiko diabetes,” tambah Rita.

Indonesia saat ini berada di urutan ke-4 di dunia yang penduduknya paling banyak terkena diabetes, kata Rita.

Pada piramida gizi seimbang, susu masuk dalam kelompok bahan makanan sumber protein.

Kandungan 8 gram protein setara dengan satu porsi telur, daging, ikan dan tempe.

“Harusnya susu itu bisa memberi protein lebih kurang 8 gram, kalsium sekitar 250 gram. Dan gula yang boleh untuk anak menurut piramida gizi seimbang sekitar satu sampai 2 sendok makan atau setara dengan 26 gram,” kata Rita.

“Jika kemudian seorang anak minum susu dari susu kental manis sebanyak dua gelas per hari, seperti anjuran gizi seimbang, maka asupan gulanya sangat melebihi dari pembagian makan sehari yang seimbang untuk anak, ini saya sayangkan sekali,” kata Rita.

Selain diabetes dan obesitas, asupan gula secara berlebihan akan merusak gigi pada anak-anak.

“Anak-anak yang suka konsumsi gula tinggi dalam bentuk susu dan tidak langsung membersihkannya, maka akan memicu caries dentis (gigi karies). Penelitian tentang ini sudah banyak di jurnal kedokteran,” katanya.

Gagasan susu menjadi konsumsi harian masyarakat Indonesia perlu mempertimbangkan beberapa hal.

Di antaranya, data prevalensi intoleransi laktosa yang tinggi, risiko alergi susu dan penyakit akibat kekurangpahaman masyarakat tentang cara menyimpan susu secara tepat agar tidak menyimpan bibit penyakit.

Selain itu, harga susu yang difortifikasi atau ditambahi zat gizi lain menjadi hampir tidak terjangkau masyarakat umum.

Ini yang menyebabkan banyak masyarakat yang beralih minum susu kental manis.

Kementerian Kesehatan Indonesia menghimbau masyarakat untuk beralih mengkonsumsi ikan sebagai sumber protein yang lebih awet daripada susu. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Beberapa waktu yang lalu, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) menghentikan sementara produksi ikan makarel dalam kaleng terkait kasus ditemukannya cacing dalam produk pangan tersebut. Namun demikian, kini produksi ikan kaleng rupanya telah mengalami perbaikan.

Kepala BPOM, Penny K. Lukito, bersama dengan Kementerian Perikanan dan Kelautan serta Kementerian Perindustrian, meninjau salah satu produsen ikan makarel dalam kaleng yaitu CV.Pacific Harvest di Banyuwangi, Jawa Timur.

Tinjauan langsung ini dilakukan guna melihat tindakan perbaikan yang telah dilakukan industri. Hal ini menindaklanjuti audit komprehensif terpadu yang dilaksanakan minggu lalu.

Penny mengungkapkan kunjungan ini dilakukan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat terkait produksi ikan makarel kaleng telah dilakukan dengan mengikuti kaidah cara produksi pangan olahan yang baik (CPPB).

“CPPB dilakukan dengan mengedepankan pengendalian titik-titik kritis sepanjang rantai produksi, dari penerimaan bahan baku hingga produk siap untuk diedarkan,” ujar Penny, dikutip Utusan Kepri dari laman BPOM, Minggu, 15 April 2018.

Kini, Kepala BPOM telah mencabut printah penghentian sementara kegiatan produksi ikan kaleng dalam kaleng. Oleh sebab itu, industri ikan makarel dalam kaleng pun dapat memproduksi kembali produknya seperti semula, dengan menerapkan prosedur sesuai ketentuan yang berlaku. (Redaksi)

sumber: BPOM

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun meminta agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lebih memaksimalkan kinerjanya. Pengawasan terhadap makanan impor yang beredar harus ekstra ketat agar masyarakat tidak dirugikan.

“Karna baik buruknya akan berdampak besar bagi masyarakat,” kata Nurdin saat menerima kunjungan Kepala BPOM Kepri, Yosef Dwi Irfan, Sabtu, 24 Maret 2018.

Masalah peredaran Sarden yang mengandung cacing, katanya, Pemerintah Provinsi lansung membuat langkah-langkah strategis bersama dengan BPOM Kepri.

“Agar tidak menimbulkan kegaduhan dan merugikan masyarakat,” katanya Nurdin.

Kepala BPOM Kepri Yosef Dwi Irwan mengatakan keberadaan cacing tersebut bukan karna ada tujuan atau maksud tertentu tapi lebih kepada permasalahan kelalaian saat pengemasan dalam produksi.

“Biasanya jika dalam proses ditemukan kecacatan, langsung di-reject,” kata Yosef.

Yosef menambahkan, ketika produk datang maka akan diiringi dengan sampel. Dalam pemeriksaan sampel-sampel tersebut dalam keadaan baik.

“Dalam perjalanan produksi nya setelah dicap legal itulah mungkin terdapat produk yang tidak bagus,” lanjut Yosef.

Akan tetapi, saat ini fakta di masyarakat ditemukan cacing. Ketika pemeriksaan lebih lanjut ternyata hasilnya positif, pihak BPOM Kepri langsung bertindak cepat.

“Semua produk yang terindikasi cacing sudah ditarik,” tegas Yosef.

Ke depan, pihaknya akan semakin ketat dalam memeriksa kualitas produk agar dapat dinikmati masyarakat tanpa kendala yang mengganggu kesehatan.

“Kedepan kami akan kembangkan uji parasitologi agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” tambah nya lagi.(humas)

BPOM harus memberikan sanksi tegas setelah ada hasil dari investigasi.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Abidin Fikri mendesak, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan investigasi ikan kaleng impor yang mengandung cacing.

Menurutnya, Balai BPOM Kota Pekanbaru mengumumkan mengenai produk ikan kaleng impor mengandung cacing yang ditemukan di tiga produk impor ikan kaleng.

“Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan BBPOM juga perlu turun ke pasar tradisional dan swalayan di seluruh daerah untuk memastikan penarikan produk yang beredar di pasaran. Ini harus diinvetigasi,” tegas Politikus PDI Perjuangan dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu 24 Maret 2018.

Oleh karena itu, Abidin juga mendesak, BPOM memberikan sanksi. Itu setelah mendapatkan hasil investigasi yang menyeluruh mengenai produk ikan kaleng impor yang mengandung cacing. Dia juga meminta, BPOM mengklarifikasi serta memberikan informasi yang utuh mengenai kasus ini agar tidak timbul keresahan di kalangan masyarakat.

Selanjut, Abidin meminta kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati serta cermat dalam mengkonsumsi produk pangan, obat dan kosmetik. Serta berinisiatif melaporkan ke BPOM jika terdapat produk yg dicurigai tidak sesuai baik kemasan, label, ijin edar dan kadaluarsa. “Hal ini demi peningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia,” ucapnya. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Medan – Penemuan cacing pita di ikan dalam kaleng membuat heboh warga Medan, akhir pekan lalu.

Viral sarden bercacing pita ini berawal dari keluhan seorang warga bernama Lili yang menemukan adanya cacing pita di dalam ikan sarden kalengan yang dibelinya di Selatpanjang.

Lili merupakan warga yang bermukim di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Viral video penemuan ikan sarden kalengan mengandung cacing pita di media sosial langsung ditanggapi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan.

Di video disebut, warga bernama Lili yang menemukan adanya cacing pita di dalam ikan sarden kalengan yang dibelinya di sebuah toko di Selatpanjang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Kepala BBPOM Yulius Sacramento Tarigan menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak BBPOM di Riau mengingat Provinsi Riau yang juga berdekatan dengan Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

“Oh iya Pak, Untuk kasus seperti ini kami selalu langsung link dan komunikasi antar seluruh wilayah kerja. Sehingga lebih mudah penelusurannya,” ujarnya kepada Tribun Medan melalui pesan WhatsApp.

Selain itu, Yulius Sacramento Tarigan juga mengatakan kalau pihaknya sudah melakukan pengecekan sample ikan sarden kalengan dari beberapa jenis dan merek secara merata.

“Iya betul Pak (dilakukan pengecekan). Karena jenis merk yang beredar juga tidak begitu banyak, maka merata kita periksa,” pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan Pasal 2 Peraturan Kepala BPOM Nomor 14 Tahun 2014, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan selaku Unit Pelaksana Teknis di lingkungan BPOM mempunyai tugas melaksanakan kebijakan dibidang pengawasan obat dan makanan.

Tugas melaksanakan kebijakan dibidang pengawasan obat dan makanan tersebut meliputi pengawasan atas produk terapetik, narkotika, psikotropika, zat adiktif, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen serta pengawasan atas keamanan pangan dan bahan berbahaya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Baru-baru ini tersebar pesan berantai di sosial media yang berisikan ‘Air Kemasan Yang Ditinggal Di Dalam Mobil Anda Sangat Berbahaya!’.

Dalam pesan tersebut disampaikan, hal ini dikarenakan oleh dioxin yang dihasilkan saat air minum kemasan botol.

Berita ini pun sampai ke pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan dengan segera dibantah dengan rilis yang dikeluarkan di laman resmi BPOM. Menurut BPOM, isu tersebut merupakan isu lama dan lembaga penelitian yang disebutkan dalam berita tersebut telah melakukan klarifikasi resmi terkait kebenaran berita itu .

Berikut ini adalah penjelasan resmi oleh BPOM:

PENJELASAN BPOM RI

Sehubungan dengan informasi di media sosial mengenai “Air Kemasan Yang Ditinggal Di Dalam Mobil Anda Sangat Berbahaya!”, BPOM RI memandang perlu memberikan penjelasan sebagai berikut:

1. Isu mengenai “Air Kemasan Yang Ditinggal Di Dalam Mobil Anda Sangat Berbahaya” adalah TIDAK BENAR. Isu tersebut merupakan isu lama dan lembaga penelitian yang disebutkan dalam berita tersebut telah melakukan klarifikasi resmi terkait kebenaran berita tersebut.

2. Dioxin tidak dapat dihasilkan dari kemasan plastik yang terpapar panas di dalam mobil atau plastik yang dibekukan.

3. Setiap jenis kemasan pangan baik berupa plastik, kertas ataupun lainnya berpotensi untuk melepaskan komponen penyusunnya ke dalam pangan yang dikemas. Perpindahan tersebut dapat meningkat dengan adanya suhu tinggi dan waktu kontak yang lama. Proses produksi yang baik dilakukan oleh industri untuk menjamin komponen penyusun yang terlepas sesuai dengan persyaratan dan tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan.

4. BPOM RI melakukan pengawasan dan kajian terhadap beberapa jenis kemasan plastik, hasilnya menunjukan bahwa tingkat paparan masyarakat indonesia masih dalam taraf aman.

5. Terkait dengan penggunaan plastik di dalam microwave, tidak semua jenis plastik dapat digunakan di dalam microwave. Karena itu bacalah petunjuk pemakaian yang dicantumkan oleh produsen. (***)

sumber: detik.com

Penyalahgunaan obat batuk Komix marak digunakan para pemuda.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Ambon – Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Ambon melakukan pengawasan penjualan obat batuk Komix di apotik, toko obat, dan pedagang besar farmasi di Provinsi Maluku.

Pasalnya, obat batuk itu banyak disalahfungsikan sebagai pengganti narkoba.

“Obat batuk Komix merupakan obat bebas terbatas yang boleh dijual tanpa resep dokter di toko obat dan apotik. Karena obat bebas maka disalahgunakan oleh para pemuda sebagai pengganti narkoba, karena Komix mengandung dextrometorfan,” kata Kepala BPOM Ambon, Sandra Linthin, Senin 12 Februari 2018.

Menurut dia, penyalahgunaan obat batuk Komix marak digunakan para pemuda di Negeri Tulehu dan Tehoru dengan mencampurkan obat pada minuman bersoda.

“Sebenarnya sifat obat batuk Komix tidak sampai pada ketergantungan tetapi jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan seperti efek fly,” ujarnya.

Sandra mengakui, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran terkait pembatasan penyimpanan dan penjualan obat batuk cair tersebut. “Kami telah mengirimkan surat edaran ke seluruh apotik dan toko obat untuk membatasi penjualan Komix yang dibatasi untuk satu pembeli hanya sembilan sachet dan tidak boleh lebih, dengan asumsi 1 hari 3 kali konsumsi dan minimal tiga hari penggunaan,” katanya.

Pihaknya juga berupaya memotong mata rantai dengan membatasi distribusi yakni apotik, toko obat dan pedagang besar farmasi diminta untuk membuat laporan penjualan Komix setiap bulan.

“Langkah ini kami sudah buat agar tidak ada celah untuk membeli obat tersebut menggunakan orang lain, karena itu kita telah meminta mereka untuk membuat laporan setiap bulan, dalam rangka memotong rantai suplay,” kata Sandra.

Pihaknya juga akan meningkatkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE ) berupa dampak dari obat jenis komix yang dapat menyebabkan efek ketergantungan dan ternganggunya sistem saraf apabila dikonsumsi dengan berlebihan. “Namanya penyalahgunaan obat, pastinya akan menyebabkan ternganggunya sistem saraf sehingga berbahaya sekali apabila dikonsumsi secara berlebihan, kita berupaya memberikan pemehaman agar anak muda dapat memahami dengan baik,” ucapnya.

Ia menambahkan, BPOM bekerjas ama dengan Dinkes, kepolisian dan BNN untuk bersama-sama mengawasi untuk memutus mata rantai.

“Kita berupaya agar tidak terjadi di kabupaten lain di Maluku, karena itu kita membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk menekan penyalahgunaan obat-obatan,” ujar Sandra. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Di media sosial dan internet heboh Viostin DS dan Tablet Enzyplex mengandung DNA babi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di laman pom.go.id memberikan penjelasan.

Melalui surat penjelasannya, BPOM menyatakan dua produk obat suplemen makanan, Viostin DS produksi PT Pharos Indonesia dan Enzyplex tablet produksi PT Mediafarma Laboratories positif mengandung DNA babi.

Sampel produk yang tertera dalam surat tersebut adalah Viostin DS produksi PT. Pharos Indonesia dengan nomor izin edar (NIE) POM SD.051523771 nomor bets BN C6K994H, dan Enzyplex tablet produksi PT Medifarma Laboratories dengan NIE DBL7214704016A1 nomor bets 16185101.

Istimewa

Berdasarkan hasil pengawasan terhadap produk yang beredar di pasaran (post-market vigilance) melalui pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter DNA babi, ditemukan bahwa produk di atas terbukti positif mengandung DNA Babi.

Demikian bunyi poin kedua surat penjelasan BPOM yang diterbitkan pada Selasa 30 januari 2018.

BPOM kemudian mengintruksikan PT Pharos Indonesia dan PT Medifarma Laboratories untuk menghentikan produksi dan distribusi produk mereka.

Disebutkan dalam surat, dua produsen di atas telah menarik produk mereka dengan nomor bets yang tertera dari pasaran.

Kini, BPOM telah mengintruksikan Balai POM di seluruh Indonesia untuk memantau berbagai produk yang menyalahi ketentuan.

Termasuk di dalamnya produk yang dinyatakan mengandung DNA babi, namun tidak mencantumkan peringatan ‘mengandung babi’. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kepri melakukan penggerebekan gudang di Kompleks MCP Jalan Kerapu Batu Ampar, Batam, Rabu, 31 Januari 2018.

Dari penggerebekan ini Sebanyak 16.930 makan dan minuman yang masuk dalam kategori ilegal. Dari jumlah tersebut, diketahui ada 19 jenis merek yang diketahui tidak memiliki logo maupun izin edar di Indonesia. Bahkan beberapa diantaranya tidak memasang logo halal.

Alex Sander, Kepala Balai POM di Batam mengatakan diketahui adanya barang-barang ilegal tersebut setelah adanya informasi dari masyarakat yang kerap melihat adanya transaksi hingga pendistribusian produk pangan yang tidak memiliki kelengkapan resmi.

Setelah dilakukan investigasi, diketahui barang-barang tersebut berasal dari China, Thailand, Singapura dan Malaysia.

“Untuk jenisnya, ada beras, kecap, susu bubuk berenergi, bihun, tepung hingga asinan sayur,” kata Alex.

Selain mengamankan barang bukti yang ada, tambahnya, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan intensif terhadap tiga orang yang diketahui sebagai pengawas, pekerja dan penjaga gudang.

“Dari yang kita lihat, ada dugaan barang-barang tersebut dilakukan pengemasan ulang yang kemudian dijual ke masyarakat tanpa kemasan maupun izin dai BPOM. Tindakan ini sengaja dilakukan olehnya, guna menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi,” terangnya lagi.

Akibat perbuatan tersangka, BPOM di Batam menjerat para tersangka dengan Pasal 142 Undang-undang nomor 18 tahun 2012, tentang pangan dengan ancaman hukuman 2 tahun , atau denda Rp4 miliar.

Sementara itu, Rina salah seorang pengawas gudang saat dikonfirmasi terkait barang ilegal tersebut mengak tidak tahu menahu dari mana barang tersebut.

“Saya nggak tahu apa-apa. Ngak tahu apa-apa saya Pak,” jelasnya sambil berlalu pergi menghindari awak media. (kmg)

RAGAM

Jumat | 10 November 2017 | 10:24

BPOM Tidak Berikan Izin Edar Rokok Elektrik, Ilegalkah?

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan tidak memberikan izin edar untuk rokok elektrik (Vape) seperti halnya dengan rokok konvensional, melainkan hanya mengawasi nikotin dan tar.

“Vape itu kami golongkan sama dengan rokok, itu rokok elektrik ada alat dan cairan. Untuk rokok BPOM tidak pernah memberikan izin edar, selama ini tidak pernah izin edar rokok dikeluarkan BPOM,” ujar Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM Ondri Dwi Sampurno dikutip dari Antara, Jumat 10 November 2017.

Ondri mengatakan BPOM mengawasi nikotin dan tar yang ada sesuai dengan persyaratan. Saat menemukan kandungan nikotin dan tar yang tidak sesuai dengan persyaratan, BPOM juga tidak mengambil tindakan, tetapi melaporkan ke Kementerian Kesehatan.

“Sekiranya ada yang tidak sesuai kami melaporkan ke Kemenkes, nanti Kemenkes menganalisis dan menindaklanjuti,” ucap Ondri.

Selain itu, BPOM juga melakukan pengawasan terkait iklan rokok yakni jika ditemukan iklan yang tidak sesuai, maka BPOM akan melakukan tindakan. Untuk rokok elektrik, BPOM akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kesehatan.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menuturkan cairan rokok elektrik wajib mengantongi izin dari BPOM serta rekomendasi dari Kementerian Kesehatan. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) resmi berlaku mulai 7 November 2017.

Aturan tersebut diharapkan lebih melindungi masyarakat karena menurut Mendag, vape berpotensi lebih berbahaya daripada rokok karena cairan vape tidak hanya mengandung nikotin, tetapi juga bisa dicampur dengan bahan kimia. (***)

TANJUNG PINANG

Kamis | 07 September 2017 | 21:32

Daging Kemasan Milik PT Jaya Pinang Sukses Dimusnahkan BPOM

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Daging kemasan milik PT Jaya Pinang Sukses (PT JPS) Km 14 arah Uban milik Harianto dimusnahkan BPOM karena diduga izin masa pendistribusiannya habis, Kamis (7/9/2017). Tidak hanya daging, petugas juga menemukan makanan yang sudah kadaluarsa.

Ada tiga jenis item produk makan yang menyalahi aturan BPOM dan yang sudah habis masa expayerdnya. Ketiga item tersebut berupa daging kemasan kaleng lima aitem, kue dua aitem dan jely dua item. Jenis daging kemasan kaleng dan kue berasal dari produksi luar negri, sedangkan jely dari produk indonesia.

Dari sembilan jenis item tersebut, total keseluruyanya 803 item. Semua yang menjadi temuan BPOM langsung di lakukan pemusnahan di tempat.

Alex Sander mengatakan, izin untuk distribusi pihak PT. JPS selama 5 tahun sudah habis masa izin distribusinya untuk ketiga item tersebut.

” Jadi tiga aitem ini kita musnakan karena masa izin pendistribusiannya sudah habis sejak bulan Maret 2017 lalu, sebelum pihak perusahaan memperpanjang izin pendistribusiannya tidak diperbolehkan mendistribusikan ke masyarakat barang yang sudah melewati batas izin pendistribusiannya.” ujar Alex Sander (sulaikah)

TANJUNG PINANG

Kamis | 07 September 2017 | 1:32

Dari Satu Gudang, BPOM Temui Gudang Lainnya, Tapi Ini Hasilnya

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Usai menggrebek gudang penyimpanan kosmetik illegal di Jalan Sutan Mahmud, Gang Tanjung oleh BPOM Batam dan tim gabungan, Rabu (06/09/2017) petugas bergerak menuju toko tempat menjual kosmetik illegal tersebut yang berada di Jalan Tambak. Ditempat tersebut petugas BPOM Batam tidak bisa masuk ke toko karena pemilik tidak berada di tempat. Petugas hanya menemukan seorang wanita mengaku sebagai karyawan yang bekerja baru lima hari.

Petugas BPOM Batam sempat berdebat dengan suami karyawan tersebut yang mengatakan istrinya tidak tahu apa-apa. Saat diminta menunjukan kunci toko, karyawan tersebut mengaku tidak tahu dimana, sambil menutup wajahnya dengan rambut.

“Istri saya baru bekerja beberapa hari di toko ini, mana tahu apa-apa. Untuk lebih jelasnya bapak tanyakan saja sama yang punya toko,” ujar suami karyawan tersebut sambil menelepon seseorang.

Kepala BPOM Batam Alex Sander meminta pemilik toko datang segera untuk menjelaskan keberadaan kosmetik illegal yang ditemukan di gudang yang berada di jalan Sutan Mahmud. Sambil menunjukan surat dari BPOM Batam, Alex Sander meminta agar karyawan tersebut datang ke kantor BPOM Batam untuk dilakukan pemeriksaan.

Kedatangan petugas di toko tersebut sempat jadi tontonan warga yang melintas. Karena tidak bisa masuk ke toko, petugas BPOM Batam dan tim gabungan kembali lagi ke gudang kosmetik illegal yang berada di Jalan Sutan Mahmud untuk mengumpulkan barang bukti. (bobi)