Gojek

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Pengemudi Go-Jek mendaftar keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan di gedung Sabuga, Bandung, Jawa Barat, Ahad, 13 Mei 2018.

Go-Jek menggandeng BPJS Ketenagakerjaan untuk kemudahan akses terhadap layanan jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan pada sektor Bukan Penerima Upah (BPU) bagi para pengemudi berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) hanya dengan membayar iuran Rp 16.800 per bulan. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – PT Astra International Tbk ( ASII) menyuntik perusahaan rintisan Go-jek sebesar 150 juta dollar AS atau sekitar Rp 2 triliun (kurs Rp 13.500 per dollar AS).

CEO dan Founder Go-Jek Nadiem Makarim mengapresiasi langkah ASII untuk berinvestasi di perusahaan digital lokal. Sebagai informasi, kerja sama ini adalah langkah investasi terbesar ASII di bidang digital.

“Ini awal dari gabungan industri fisik dan virtual,” ujar Nadiem seperti dilansir Kontan.co,id, Senin, 12 Februari 2018.

Dia menyebutkan, ada banyak area bisnis yang dapat dieksplor oleh Go-Jek bersama ASII untuk menyediakan layanan yang lebih baik untuk driver maupun konsumen.

Sementara Direktur Utama ASII Prijono Sugiarto juga melihat adanya benang merah antara bisnis Go-Jek dan ASII. Dalam hal ini, ASII memegang 56 persen pangsa pasar kendaraan roda empat di Indonesia. Pada segmen sepeda motor, ASII juga menguasai 75 persen pangsa pasar sepeda motor.

Selain itu, ASII juga menggarap bisnis asuransi dan leasing. Ke depannya, tak menutup kemungkinan ASII juga bisa bekerjasama di daerah-daerah yang belum tersentuh Go-Jek, salah satunya di Papua.

“Saya bangga membaca bahwa pada September 2017 ada 56 perusahaan yang mengubah dunia. Go-Jek masuk di sana. Satu satunya dari indonesia,” ujar Prijono.

Dalam seremoni penandatangan kerjasama ASII dan Go-Jek ini, hadir pula Menteri Komunikasi dan Infornasi Rudiantara. “Saya berharap ASII bisa menjadi penarik untuk menjadikan akselerasi dunia digital ekonomi Indonesia. Pemerintah tak hanya jadi regulator, tapi juga akselerator dan fasilitator,” kata Rudiantara.

Sebelumnya, Go-jek juga mendapatkan gelontoran dana dari Google senilai 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,2 triliun. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Kedatangan Muhamad Ramani (45) ‎ke kantor Gojek yang terletak di kawasan Komplek Gren Niaga Mas, Batam, Senin 16 oktober 2017 untuk melakukan protes terkait Gojek yang kembali membuka kantornya pasca ditutup pemerintah beberapa waktu lalu.

Menurut saksi mata di lapangan, kejadian ini ‎bermula saat protes yang dilakukan oleh Ramani tidak diindahkan oleh orang-orang yang berada di kantor Gojek.

Mereka seolah mengacuhkan begitu saja. ‎Bahkan satu persatu mereka keluar meninggalkan kantor gojek.

“Awalnya ramai orang di kantor itu. Saat adanya protes mereka pergi satu persatu,” sebutnya.

Kemudian ia membuka jok motor Honda Revo yang dia bawa terseut. Disana ia mengambil koran dan memasukan kedalam tangki minyak.

“Kemudian dia bakar sendiri, tetapi apinya tidak terlalu besar,” sebutnya.

Melihat hal itu, salah satu warga mencoba mengambil air untuk memadamkan motor yang sudah terbakar.

“Namun si Ramani ini malah marah sama orang itu,” sebutnya lagi.

Kemarahan Ramani seolah tidak direspon lalu menendang motor yang terbakar dengan menggunakan kakinya.

Saat Jatuh, jok motor yang tidak tertutup ‎rapi kemudian langsung mengeluarkan bensin dan api langsung Menyambar. (***)

BATAM

Selasa | 03 Oktober 2017 | 10:50

ALAMAK!!! Belum Berizin, Dishub Segel Kantor Gojek

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Tidak ingin berlama. Dinas Perhubungan (Dishub) Pemko Batam ambil tindakan tegas. Kantor trasportasi berbasis online, Gojek disegel. Alasannya karena belum mengantongi izin.

Tidak sendiri, Dishub disaat melakukan penutupan paksa, Selasa, 3 Oktober 2017, didampingi pihak kepolisian dan Satpol PP Pemko Batam. Bahkan, pelaku transpor tasi konvensional pun ikut rombongan Dishub memasang segel yang bertuliskan ‘Belum Berizin’ ini.

Puluhan petugas yang turun di Komplek Regency Park Pelita itu, menyegel pintu kantor operasional gojek. Tidak hanya menyegel, sejumlah pamplet dan bentuk promosi angkuta online tersebut juga tidak lepas dari sasaran orang yang berada di kantor itu.

Disaat petugas memasang dan melepaskan media promosi yang ada di kantor, managemen dan pengendara gojek yang ada di kantor hanya bisa menyaksikan saja.

Sejauh ini, belum ada konfirmasi dari Dinas perhubungan mengenai kegiatan penyegelan ini. (eddy supriatna)

PRESTASI

Senin | 21 Agustus 2017 | 15:17

Hebat!!!Pencipta Aplikasi Gojek Telah Mendirikan Sekolah

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Adalah Alamanda Shantika Santoso pencipta aplikasi Gojek yang meninggalkan perusahaan teknologi jasa angkutan Gojek demi mendirikan sekolah.

Perempuan kelahiran Jakarta 29 tahun lalu itu kini tak lagi mengusung warna hijau yang identik dengan aplikasi ojek online tersebut, melainkan warna ungu yang menjadi ciri khas Binar Academy.

“Keluar dari Gojek yang merupakan first unicorn startup, saya banyak belajar di sana. Tapi mimpi saya adalah menjadi menteri pendidikan, untuk itu saya ingin membagikan mimpi saya ke orang lain,” ujar Alamanda saat mengisi sebuah sesi diskusi dalam Habibie Festival 2017 di Jakarta, belum lama ini.

“Seperti di Gojek yang memiliki visi untuk membantu orang lain, yang bisa membahagiakan saya adalah kalau saya bisa berkontribusi kepada lingkungan,” sambung dia.

Saat ditemui ANTARA News, perempuan berambut pendek yang akrab disapa Ala itu mengaku “berat” menjadi seorang founder sekaligus CEO.

“Kadang suka mikir, suka down, biasalah seorang founder, mikir kayak “aduh, akhir bulan bisa gajian enggak, bisa ngegaji orang enggak,” kayak gitu-gitu,” kata dia.

Namun, anak-anak didiknya di Binar Academy yang mengalami kemajuan dan mulai berkembang, menjadi penyemangat dirinya.

Memilih angkat kaki dari Gojek memang bukan keputusan yang mudah. Mengaku memiliki pandangan yang berbeda, Ala membulatkan tekad untuk undur diri dari Gojek.

“I was a disrupter,” begitu dia menyebut dirinya dulu.

Sukses membesarkan nama Gojek, membuat dia menyadari bahwa dia telah “membunuh” aplikasi lain yang memiliki model bisnis serupa.

“Tanpa aku sadari Food Panda mati karena kompetisi, ternyata aku menyakiti banyak orang, di saat Food Panda mati banyak banget yang di-lay off, enggak sadar banyak banget menyakiti orang,” ujar Ala.

“Sekarang pemandangan aku, view-nya adalah aku mau men-disrupt para disrupters, enggak ada yang namanya kompetisi justru kita harus berkolaborasi,” lanjut dia.

Mengusung tagline “spirit of collaboration and learning,” Binar Academy menawarkan sekolah gratis selama 2,5 bulan untuk mereka yang tertarik mempelajari coding dan progamming.

Dia ingin membawa pendidikan teknologi lebih tinggi lagi, di samping e-commerce, fintech dan medical tech yang lebih “dilihat orang”.

“Sedangkan kita enggak bisa menciptakan fintech-fintech itu kalau manusianya enggak teredukasi,” ujar Ala.

Tertarik pada teknologi

Perempuan yang lahir pada 12 Mei 1988 itu mengaku tertarik pada ranah teknologi sejak usia 11 tahun.

“Dikasih komputer bukannya dinyalain dulu, tapi saya bongkar dulu, sampai motherboard terkecil tahu,” kata Ala.

“Saya suka art juga, suka menggambar,” sambung dia.

Saat itu, alumnus Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara ini menyadari bahwa dia harus belajar coding, sementara pada waktu itu sumber literatur mengenai pembelajaran bahasa pemograman tersebut di Indonesia masih sangat sedikit.

“Ada sepupu saya yang lama tinggal di London mengajari coding,” ujar  Ala.

Sebelum bergabung dengan Gojek, Ala bekerja di dunia perbankan. Dia mengaku sempat bingung ketika bos Gojek Nadiem Makarim “melamar” dia untuk ikut serta membesarkan Gojek.

Dia mengatakan, kekhawatiran untuk terjun ke dunia startup juga dirasakan ibundanya kala itu.

“Waktu itu sudah enak banget. Kemudian, ibu saya ajak ke rumah Gojek yang sudah mau ambruk. Ibu sempat tanya. ‘Beneran kamu mau ngurusin tukang ojek?'”, kenang Ala.

Ala bahkan mengaku sempat ingin menolak “pinangan” Nadiem. Namun, Nadiem meyakinkan Ala dengan perkataannya yang masih dia ingat hingga saat ini, “Di Gojek bukan menghidupi diri sendiri, tapi ratusan ribu orang di sana yang membutuhkan.”

Perempuan berkacamata itu akhirnya bergabung dengan Gojek. “Untungnya keluarga sangat open-minded,” kata Ala.

“Setelah Gojek berjalan satu tahun Ibu WhatsApp, “we are proud of you“,” lanjut dia.

Prinsip inilah yang kemudian dia bawa ke Binar Academy. “Bukan yang penting dapat gaji, tapi ada tujuan saat melangkah ke kantor,” ujar Ala.

Pesan ini juga yang ingin dia sampaikan Ala kepada anak-anak muda generasi Y. “Kamu (Gen Y) harus benar-benar tahu alasan kamu melakukan sesuatu, selalu awali dengan “why?”, dan yakin sama diri kamu sendiri.”***