INDRA

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Ketua Umum Pemuda Batam Indra mengatakan bahwa seluruh Pemuda Batam mendukung ketua umumnya untuk terjun ke dunia politik. Meski demikian, sahabatnya di pemuda Batam sempat menitipkan sebuah pesan kepada Indra.

“Mereka cuma titipkan pesan yaitu gayanya tetap anak muda ya dan selalu blusukan untuk mebantu rakyat,” kata Imron Iskandar Sekjend Pemuda Batam di Kantor DPC Partai Hanura Rakyat (HANURA), Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis, 12 Juli 2018.

Memegang pesan dari para sahabatnya itu, Indra akhirnya memilih Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) sebagai kendaraan Politiknya di 2019 ini.

“Makanya sampai hari ini saya selalu turun kemasyarakat khususnya anak muda dan selalu mengadakan program-program yang bermanfaat untuk mereka. Tetap yang saya bawa (kesan) anak muda dengan gaya apapun yang mau menyuarakan dan mencoba melakukan sebuah hal agar Indonesia khususnya Kota Batam lebih baik lagi,” kata dia.

Sebelum benar-benar terjun menjadi caleg, Indra yang juga akrab disapa Daeng Indra meminta doa serta dukungan terlebih dahulu dari seluruh keluarganya dan seluruh Pemuda Batam. (bayu)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Indra akhirnya terpilih sebagai Ketua Pemuda Batam Futsal Club (PBFC) Kota Batam melalui Mubes Luar Biasa untuk periode 2017-2020 di Sekretariat PEMUDA BATAM, Gang Hang Jebat III M1 No.15, Bengkong Sadai Kota Batam, Jumat, 16 Februari 2018.

Indra menggantikan posisi Agus Fuadi yang mengundurkan diri dari jabatannya dan kembali menjadi Pelatih Kiper di PBFC.

Indra berharap dengan kepercayaan yang telah diberikan bisa menjadikan futsal di Kota Batam bisa lebih baik dan mencetak pemainnya berprestasi sampai ke Liga Profesional di Jakarta seperti tahun 2017 yaitu The Champions Of The Liga Batam.

“Saya memang diminta beberapa voter maupun pemain PBFC Kota Batam untuk memimpin Pemuda Batam Fc. Tentu ini sebuah kepercayaan yang besar karena saya sendiri diminta untuk menukangi futsal yang merupakan olah raga favorit saya sekrang ini,” kata Indra ke awak media ini.

Indra bersama pengurus Pemuda Batam Futsal Club menggelar rapat untuk menoreh prestasi. (bayu wasono)

Adapun terget Pemuda Batam Fc Kota Batam, Indra berharap pemain futsal kami bisa berprestasi di Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) tahun 2018 ini.

“Itu merupakan program jangka pendek, tentu kami persiapan ke PORPROV. Untuk jangka panjang tentu saja kompetisi, pembinaan, kemudian pelatihan, pembenahan prestasi, dan bisa saja kami mengadakan kompetisi seperti Trofeo dll. Selain itu tentunya mengembangkan sarana dan prasarana di cabang futsal di setiap kecamatan,” ujar Indra.

Ia pun berharap ke depannya futsal Batam semakin berkembang dan bisa sejajar dengan cabor sepak bola yang selama ini menjadi olah raga nomor satu di Indonesia dan bisa membantu pemerintah dan Asosiasi Futsal Daerah Kota Batam.

Sementara itu, Ketua Bidang Olahraga di Pemuda Batam, Gusti Riono mengatakan pemilihan ketua baru harus dilakukan untuk memantapkan persiapan tim PBFC Batam, terutama jelang Tournament ATB CUP Tahun 2018 ini.

“Sebenarnya saya memiliki rasa optimisme yang besar untuk meraih Juara di ATB CUP di 2018. Karena tim futsal hampir 90 persen adalah Pemuda Batam bukan dari luar Batam. Hanya mungkin tinggal mengurus kesolidan saja,” kata Gusti Riono. (bayu wasono)

OLAHRAGA

Sabtu | 09 Desember 2017 | 21:16

Daeng Indra Berharap Roda Organisasi Lufti Sesuai Aturan FFI

Ketua AFD Batam Ingin Rebut Emas di PON

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Lufti Andi Saputra secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Asosiasi Futsal Daerah (AFD) Batam periode 2017-2021.

Lutfi menjadi calon tunggal setelah kandidat calon ketua lainnya dari Pemuda Batam FC, Daeng Indra mengundurkan diri dan memilih Lutfi jelang kongres yang digelar di Gedung Kepri Mall, Batam, Rabu, 6 Desember 2017.

Sandro, Lutfi, Prilly dan Daeng Indra (dari kiri ke kanan)

Daeng Indra yang memberikan suaranya untuk ketua terpilih adalah sebuah bentuk kepercayaan.  Dimana dengan kepemimpinan Lufti, ia berharap mampu menjalankan roda organisasi sesuai dengan aturan yang telah diatur oleh Federasi Futsal Indonesia (FFI).

Lufti, Manager Anugerah FC Kota Batam, yang juga pengusaha muda ini langsung menyusun perencanaan paska terpilih sebagai ketua AFD Batam. Untuk rencana jangka panjang, ia akan menyolidkan tim futsal Batam untuk memenuhi target emas pada PON kedepannya.

Selain itu, katanya, membenahi organisasi olahraga untuk meningkatkan pembinaan, kepelatihan, kewasitan, dan kompetisi.

“Tadi saya juga dipesankan untuk membuat liga untuk tim putra dan putri. Karena animo yang besar tapi klubnya belum masuk kategori profesional bahkan amatir. Tim yang adanya hanya untuk suka-suka. Makanya kami akan bedakan tim yang profesional, amatir dan main-man nantinya,” ujar Lutfi.

Sedangkan rencana jangka panjang, Lutfi mengaku akan menjadikan futsal sebagai olah raga yang menyenangkan. Artinya, olah raga futsal juga harus membangun karakter masyarakat selain meraih prestasi.

“Jadi bermain futsal itu harus gembira,” ujar lutfi.

Dalam kongres tersebut dihadiri oleh ketua Asosiasi Futsal Provinsi (AFP) Kepri, Sandro Megio Budiman dan beberapa voter juga turut hadir untuk memilih ketua baru AFD Batam.

Beberapa voter yg turut hadir itu terdiri atas klub dan asosiasi terafiliasi. Selain itu, beberapa klub futsal di kota batam menjadi peninjau Kongres tersebut. (bayu wasono)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Presenter Indra Herlambang turut hadir dalam acar pernikahan puteri Jojowi Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution kemarin. Namun, ada momen lucu sekaligus tidak biasa yang dialaminya saat itu.

Indra sendiri, hadir sebagai host untuk salah satu program infotainment di salah satu televisi swasta.

Selain meliput jalannya pesta pernikahan, dia juga mewawancarai sejumlah artis dan publik figur yang datang.

Namun, cerita lucu didapatkannya setelah mewawancarai Menteri Susi Pudjiastuti. Indra mengakui sempat ditampar Susi usai wawancara. Namun, tamparan itu hanya sekedar candaan saja.

“Salah satu momen paling berkesan di acara akad nikah Kahiyang dan Bobby tadi pagi, adalah saat ngobrol dengan Ibu Susi Pudjiastuti.

Bukan cuma cara bicara beliau yang super asik dan penampilannya yang cantik manglingi, tapi karena setelah interview usai, saya.. ditabok! Haha.

“Ngerjain aja, lo..” canda beliau saat beranjak pergi. Nggak apa-apa deh ya.

Mending ditabok daripada ditenggelamkan,” tulisnya dalam akun instagramnya.

Indra juga sempat mengabadikan momennya bersama Menteri Susi yang sedang diwawancarai, dan dia berusaha selfie sendiri. (***)

 

sumber: life&style

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Sejak mulai diusulkan pada pertengahan tahun 2015, polemik kenaikan tarif Listrik Batam memasuki babak baru, keputusan DPRD provinsi Kepri yang meyetujui kenaikan tarif sebesar 45,4 persen (hampir mencapai 50%) sontak memancing penolakan keras dari berbagai elemen masyarakat. Jika sebelum ini penolakan hanya terlihat melalui pemberitaan media cetak, portal berita dan media sosial, kali ini penolakan itu tunjukkan dalam bentuk aksi nyata.

Tentu saja penolakan itu harus dilakukan, sebab memiliki kelemahan-kelemahan mendasar, baik dari sisi rasa keadilan dan kemanusiaan, maupun dari mekanisme pengambilan keputusan di DPRD serta melabrak aturan perundang-undangan yang menjadi acuan dalam menaikkan tarif listrik.

Indra, sebagai founder SAHABAT INDRA, group media sosial (medsos) di Batam, yang juga kordinator Aliansi Masyarakat Perduli Listrik (AMPLI) untuk wilayah Bengkong dan Batuampar mengemukakan tiga alasan utama, kenapa menolak kenaikan tarif listrik sebesar 45,4 persen yang sudah disetujui oleh DPRD Provinsi.

Pertama, besaran persentase kenaikan tarif. Bagi masyarakat kecil, yang rata-rata masuk katagori rumah tangga 6 amper (1.300va), angka 45.4 persen sangat fantastis. Dalam perspektif masyarakat ke bawah, yang menjadi mayoritas penduduk Batam, angka ini dianggap tidak rasional, bandingkan dengan dengan kenaikan UMK di Batam yang hanya 8,25 persen. Sudah terbayang berapa pengeluaran ekstra tiap bulan akibat kenaikan ini.

“Kami menilai, besaran persentase kenaikan yang di setujui DPRD Prov Kepri, adalah bentuk penindasan atas masyarakat kecil di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit. Ironisnya, DPRD Provinsi Kepri menganggap wajar. Kami anggap DPRD Prov Kepri lebih memihak kepada PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (Bright PT PLN Batam), ketimbang rakyat yang diwakilinya,” ujar Indra.

Disebutkannya, kenaikan angka ini tidak disosialisasi dengan baik oleh DPRD Prov Kepri. Sehingga, tambahnya, banyak masyarakat tidak mengetahui, kendati DPRD Provinsi telah menyetujuinya dan mengirim surat persetujuannya ke Gubernur Provinsi Kepri untuk disahkan.

Kedua, katanya, mekanisme pengambilan keputusan di DPRD Provinsi Kepri hanya melalui Rapat Pimpinan, tidak melalui Rapat Paripurna. Mekanisme ini, tambahnya, dianggap cacat prosedur untuk memutuskan kenaikan tarif yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Sebab rapat pimpinan DPRD, katanya lebih jauh, hanyalah terdiri dari anggota pimpinan (yang hanya beberapa orang), yang hasil keputusan rapatnya hanya ditetapkan dalam keputusan pimpinan DPRD. Seyogyanya, menyangkut soal hajat hidup orang banyak, mekanisme yang digunakan adalah rapat Paripurna. Sebab, keputusan yang dihasilkan dari Rapat paripurna dapat dituangkan dalam bentuk peraturan atau keputusan DPRD sebagai lembaga, bukan hanya keputusan beberapa orang unsur pimpinan DPRD Provinsi saja.

“Namun, terlepas dari apakah itu, berdasarkan keputusan DPRD(Paripurna) maupun keputusan pimpinan (Rapim) DPRD, juga tidakboleh bertentangan dengan kepentingan umum dan ketentuan peraturan perundangundangan yang ada seperti yang tertuang dalam PP No.16/2010,” sebutnya.

Lebih jauh dikatakannya, jika persetujuan kenaikan tarif listrik Batam hanya diputuskan dalam rapat Pimpinan saja, ada hal yang berusaha disembunyikan dari seluruh anggota DPRD Provinsi yang lain.

Ketiga, persetujuan DPRD Provinsi Kepri, untuk menaikkan tarif listrik Batam melabrak PP Nomor 14 Tahun 2012, tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Dimana dalam Pasal 42 ayat 2 huruf (b) menjelaskan menetapkan tarif tenaga listrik harus memperhatikan kepentingan dan kemampuan masyarakat.

“Pertanyaannya. Apakah DPRD Prov Kepri, dalam hal ini Komis II dan III, yang melakukan pembahasan teknis, sudah melakukan kajian mendalam atas kemampuan masyarakat, termasuk daya beli masyarakat?,” tanya Indra.

Dijelaskannya, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, mencatat sepanjang tahun 2016 ini terdapat sebanyak 67 perusahaan yang tutup. Jumlah ini mengalami peningkatan, jika dibandingkan dengan tahun 2015, yang jumlahnya hanya 54 perusahaan (Batampos, Senin, 26 Desember 2016)

Tercatat selama 2016 sebanyak 24.342 mendaftarakan diri ke Disnaker sebagai pencaker. Ironisnya jumlah TKA hingga akhir 2016, terus bertambah hingga mencapai angka sekitar 280 ribu orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat di 2017 ini. (batampos, Senin, 20 Februari 2017)

Tercatat Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terdapat peningkatan keluarga miskin di Batam yang tersebar di 12 kecamatan. Sementara dari komoditas bukan makanan, penyumbang angka kemiskinan dipengaruhi perumahan dan biaya listrik. (Sindo, kamis 5 Januari 2017).

BI juga merilis bahwa Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan IV 2016 berada di posisi 5,24% (yoy), (Batamtoday, Senin, 20-02-2017)

Banyaknya jumlah pengangguran membuat sejumlah usaha rumah makan dan kosan tutup seperti banyak yang terjadi di kawasan Tanjung Uncang. Diluar itu, sejumlah tempat-tempat penjualan baju bekas juga menjamur dimana-mana. Pertanyaannya apakah masyarkat kita memang lebih suka membeli baju bekas ketimbang baju baru? Atau memang daya beli masyarakat yang menurun?

Fenomena seperti ini tidak pernah dikaji oleh Komisi II dan III DPRD Provinsi Kepri. Dalam membuat keputusan kenaikan tarif,  hanya konsen mengkaji data B’right PLN Batam.

Saat ini kondisi makro ekonomi Kepri saat ini juga sedang lagi lesu. Meskipun B’right PLN Batam menyatakan bahwa kenaikan hanya ditujukan kepada pelanggan rumah tangga, akan tetapi imbasnya bisa menyasar dunia usaha, terutama masyarakat kecil dan menengah yang juga menjadi pelaku Usaha Kecil dan Menengah. Selain berdampak bagi masyarakat, kenaikan tarif listrik Batam juga akan berdampak pada semakin tingginya komponen biaya hidup untuk listrik yang tentunya juga akan memberi dampak kepada kesejahteraan tenaga kerja di Batam. (Wartakepri, 12-01-2017).

“Sebentar lagi, kita juga akan menghadapi dicabutnya biaya subsidi gas melon 3 kilogram. Selain itu, melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok,” jelasnya mengakhiri.