JAWAB

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kepri – Gubernur Kepulauan Riau H Nurdin Basirun membuka pertemuan Akademik dan Forum Komunitas Bidang Ilmu Seminar Nasional di Auditorium Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Istana Kota Piring, Pulau Dompak, Tanjungpinang, Selasa, 23 Oktober 2018.

Nurdin mengajak para akademisi dan mahasiswa dijajaran perguruan tinggi untuk dapat berperan aktif dalam mencapai salah satu tujuan Indonesia untuk kembali meraih kedaulatan di bidang kemaritiman.

“Tujuan itu harus dijawab dengan semangat mengambil peluang dan celah yang ada serta mampu menerjemahkan tantangan dengan baik dan tepat sasaran,” kata Nurdin.

Selain itu, menurut Nurdin menjaga Kedaulatan Kemaritiman bukanlah perkara yang mudah.

Keberadaan Indonesia diantara negara-negara lain yang salah satunya menjadi persilangan perdagangan dunia memiliki beragam dampak yang positif, tentu terdapat dampak negatif yang mengiringi.

“Daerah pesisir menjadi fokus kita untuk dijaga, serta masyarakat secara umum agar tidak mudah goyah dalam masuknya era modernisasi ini,” lanjut Nurdin.

Kedepan ditambahkan Nurdin, selain dari segi pemikiran dan pemantapan sumber daya manusia, masih ada satu tantangan lain kedepan terkait kedaulatan kemaritiman yakni tentang regulasi.

“Regulasi itu penting sebagai arah dalam menjalankan tujuan dengan baik, saat ini kami terus menggesa kepusat agar progres UU Daerah Kepulauan teralisasi,” tambah Nurdin lagi.

Menurut Nurdin, pemilihan lokasi seminar di Kepri searah dengan tema seminar yakni “Peluang dan Tantangan Pembangunan Kedaulatan Maritim Indonesia”.

Karna Kepri sebagai garda terdepan diwilayah barat Indonesia, letaknya yang strategis itu dengan ciri Kepulauan, banyak hal yang dapat dipelajari berkaca dari hal tersebut.

“Selamat datang para peserta seminar, gali potensi yang ada di Kepri ini sebagai bekal untuk memantapkan dan memperkuat pemahaman dibidang kemaritiman,” tutup Nurdin.

Seminar sendiri diselenggarakan, merupakan agenda dari Konvensi Nasional IX Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) yang mana peserta seminar berjumlah 163 orang yang terdiri dari 52 Universitas yang tergabung dalam AIHII.

Hadir pada kesempatan tersebut Asisten I Pemko Tanjungpinang Ahadi, Perwakilan FKPD, Rektor UMRAH Syafsir Akhlus, Dewan Pertimbangan UMRAH Huzrin Hood, beserta tamu undangan lainnya. (***)

sumber: humaskepri.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Gubernur H Nurdin Basirun menghadiri rapat paripurna dengan agenda jawaban pemerintah terhadap pemandangan fraksi-fraksi atas Ranperda tentang Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan ABPD 2017 di Kantor DPRD, Pulau Dompak, Istana Kota Piring, Tanjungpinang, Selasa, 3 Juli 2018.

Dalam sambutannya Nurdin menyampaikan ucapan rasa terimakasihnya kepada pihak dewan yang telah memberikan pandangan nya.

“Penyusunan laporan tersebut telah kami pedomani berdasarkan aturan yang berlaku,” ujar Nurdin di awal sambutannya.

Setelah mempelajari jawaban dari para fraksi pada paripurna minggu lalu, Nurdin menjawab secara garis besar terdapat 4 tema yang di susun antara lain: pertumbuhan ekonomi dan inflasi, pendapatan daerah, belanja daerah dan pengelolaan keuangan daerah.

Secara umum Nurdin menjelaskan bahwa terkait pertumbuhan ekonomi dan inflasi bahwa meskipun secara komulatif menurun pemerintah tetap mengupayakan peningkatan.

“Seperti mengembangkan sektor maritim, agrobisnis dan pariwisata serta melakukan sejumlah peningkatan pembangunan infrastrkur,” ujar Nurdin.

Pun terkait inflasi didaerah, Pemerintah terus mengupayakan menekan lajunya seperti membentuk Tim TPID untuk menciptakan stabilitas ekonomi.

Terkait pendapatan daerah, Nurdin melanjutkan bahwa pada tahun 2017 pendapatan meningkat sebesar 11.57 persen sebesar Rp3.2 Triliyun itu mengindikasikan bahwa ini mengalami peningkatan.

“Pemerintah telah melakukan upaya strategis seperti optimalisasi PAD dan pajak, pelayanan samsat serta peningkaktan SDM melalui Bimtek,” terang Nurdin.

Kemudian penjabaran tentang belanja daerah yang sebesar Rp. 3,27 Triliyun serta pengelolaan keuangan daerah Nurdin menjelaskan bahwa pemerintah akan berupaya mempertahankan penyusunannya akan sesuai kaidah yang berlaku.

“Alokasi belanja juga kami akan upayakan dapat terus meningkat,” tutup Nurdin.
Paripurna sendiri dilanjutkan dengan Laporan Panitia Khusus terhadap Ranperda Pengelolaan Barang Milik Daerah sekaligus persetujuan DPRD menjadi Perda.

Nurdin mengatakan dengan telah disahkan nya Ranperda tersebut maka pemerintah lebih dapat memanfaatkan kepemilikan barang daerah lebih maskimal lagi serta tak lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada Pansus DPRD yang telah menyelesaikan ranperda ini.

“Sebagai regulasi yang jelas dan sesuai aturan. Keteraturan dan kertertiban pengelolaan barang tersebut dapat menjadikan pendapatan daerah lebih meningkat,” ucap Nurdin.

Dalam laporan Tim Pansus secara umum Rudi Chua menyampaikan bahwa pembahasan ranperda sendiri telah melalui berbagai tahapan serta didalam dokumen tersebut terdapat rekomendasi tertulis dari pansus untuk perbaikan ranperda tersebut

“Ranperda sendiri dibuat untuk menjadi pedoman agar kedepan pengadministrian terhadap aset daerah lebih baik lagi,” kata Rudi.

Paripurna ditutup dengan penandatangan dokumen Perda secara sombolis oleh Ketua DPRD Jumaga Nadeak dan Gubernur Nurdin untuk kemudian berkas dapat ditindaklanjuti, adapun peresmian perda tersebut tertuang dalam surat keputusan nomor 7 Tahun 2018.
(humas)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Ratih (30), dari balik jeruji di rumah tahanan (rutan) Tanjung Balai Karimun mengaku bingung.

Ibu satu anak berusia 3 tahun jadi warga binaan di rutan karena seorang pengusaha ternama di Karimun menuduh dirinya menggelapkan uang perusahaan. Tak tanggung-tanggung, nilai uang perusahaan yang digelapkan sebesar Rp273 juta.

Saat dilakukan pemeriksaan awal, Ratih tidak mengakui adanya penggelapan uang perusahaan dengan nilai uang yang dituduhkan kepadanya. Namun, ia tetap dipaksa untuk mengakui kejahatan yang tak dilakukannya.

“Saya sudah tidak sanggup lagi. Apapun yang disampaikan, saya ia kan saja. Soalnya apapun yang saya sampaikan sepertinya tidak ada gunanya. Saya jawab lupa polisi bilang kok lupa, saya terangkan tidak diterima,” ucap Ratih kepada wartawan, Jumat, 6 April 2018.

Ratih menceritakan, awal kejadian adanya tuduhan dirinya menggelapkan uang perusahaan bermula pada 10 Februari 2018 siang. Saat itu, ia ditelpon salah seorang supervisor ditempat ia bekerja bernama Sandi. Saat itu, ia ditanya tentang tagihan dan menyuruhnya datang ke kantor.

Selang sepuluh menit usai dipanggil managemen di tempat ia bekerja, sekira pukul 12.30 WIB, Polisi langsung tiba di kantornya dan langsung melakukan pemeriksaan terhadap Ratih. Kemudian, selang 5 jam dirinya langsung digiring ke polsek Tebing.

Ratih mengaku langsung diperiksa kembali dan menunjukkan berbagai bukti yang diadukan oleh pengusaha tersebut, namun dirinya tetap membantah tidak melakukan perbuatan tersebut.

Besok harinya pemeriksaan dilakukan kembali, dirinya merasa semakin bingung karena penyidik terus melakukan desakan terkait yang dituduhkan, namun dalam pemeriksaan ini nilainya langsung turun fantastis menjadi Rp16 juta.

“Saya harus bagaimana? Begitu ada kejadian ini, polisi sudah langsung ada dan saya tidak ada kesempatan untuk menjelaskan,” katanya sambil meneteskan air mata.

Ratih mengaku pasrah akan nasip yang menimpanya. Dirinya hanya berharap agar mendapat keadilan dari para penegak hukum, karena ia menyadari orang tidak mampu seperti dirinya tidak akan sanggup melakukan perlawanan karena disadari orang yang melaporkannya merupakan salah satu pengusaha terbesar di Kabupaten Karimun

“Saya memang berharap keadilan ada, tapi waktu saya di periksa di kantor tempat bekerja, bos saya sudah mengancam saya “Kamu mau dilaporkan di mana? kamu tinggal pilih” kata Ratih menirukan ucapan pengusaha tersebut. (kmg/ian)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Mantan suami Ayu Ting Ting lagi-lagi bermasalah dengan seorang perempuan. Kali ini, dia disomasi oleh perempuan yang meminta perjanggungjawaban untuk bayi yang di kandungnya.

Surat somasi tersebut diposting oleh akun gosip Lambe Turah. Dalam surat tersebut dilihat detikHOT, Rabu, 28 Maret 2018 tertulis jelas nama Henry Baskoro Hendarso.

“Bahwa tujuan dari Surat Undangan Klarifikasi No: 120/M&P/Klarifikasi/30.11.2017 tersebut adalah untuk meminta klarifikasi dari Bapak bahwa apakah benar anak yang dikandung oleh klien …. adalah anak biologis dari bapak?” begitu kutipan poin satu dalam surat somasi tersebut.

Nama perempuan itu sengaja disensor. Di situ juga dituliskan kalau perempuan tersebut ingin menyelesaikan masalahnya dengan cara baik-baik.

Di situ juga dijelaskan perempuan tersebut tidak melakukan hubungan intim dengan pria lain selain Enji. Kemudian perempuan tersebut juga bersedia melakukan tes DNA dan jika hasilnya menyatakan benar anak yang di kandungnya adalah anak Enji, dia ingin meminta pertanggungjawaban.

Pada poin keenam dituliskan perempuan tersebut tidak memaksakan kehendaknya pada Enji untuk dinikahkan. Akan tetapi, dia hanya meminta Enji untuk menanggung biaya semasa kehamilan hingga melahirkan dan membesarkan anak yang di kandungnya sampai selesai pendidikan perguruan tinggi jika benar anak tersebut adalah anak Enji.

Ada sekitar 8 poin yang dituliskan dalam somasi tersebut. pada poin ketujuh, dinyatakan bahwa usia kehamilan perempuan tersebut sudah mendekati masa melahirkan.

“Berdasarkan hal-hal di atas, kami sangat berharap apabila Bapak Henry Baskoro Hendarso dapat menanggapi sebagaimana seharusnya guna dapat menyelesaikan permasalahan ini,” tulis kata-kata dalam surat tersebut.

“Untuk itu kami memberikan PERINGATAN KERAS kepada Bapak Henry Baskoro Hendarso agar menujukan itikad baik. Kami memberikan waktu selama 7 (tujuh) hari untuk menanggapi SOMASI…,” lanjutnya.

Enji sudah dua kali bercerai. Petualangan cinta Enji memang jadi sorotan. Mulai dari menjalin hubungan dengan Ayu Ting Ting dan menikah diam-diam sampai bercerai, Enji juga sempat dikabarkan dekat dengan Anggita Sari, dan menikah dengan Rosmanizar kini pernikahan keduanya itu berakhir di meja perceraian Pengadilan Agama Jakarta Timur. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Bupati Karimun, Aunur Rafiq mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di pesisir laut sepanjang Jalan Tengku Umar Kecamatan Karimun hingga Kecamatan Meral untuk tidak membuang sampah di laut. Soalnya, laut milik kita bersama yang harus dijaga semua elemen masyarakat.

Rafiq menambahkan, dengan adanya gerakan Karimun bebas sampah dengan memasang baleho di setiap sudut kota, bertujuan agar masyarakat sadar untuk membuang sampah. Jadikan kebersihan menjadi sebuah budaya sejak dini.

“Apalagi dengan gerakan Karimun bebas sampah ini tidak bisa hanya gerakan dari pemerintah, namun juga kerja sama dari masyarakat. Kita juga telah memasang baleho-baleho, spanduk, serta baner bertujuan mendorong perilaku masyarakat kita agar membudayakan hidup bersih ini,” ujarnya.

Dikatakannya, dirinya telah menurunkan petugas kebersihan pantai untuk membersihkan tumpukan sampah yang ada di pinggiran laut kawasan Jalan Nusantara.

Hal tersebut disampaikannya menanggapi terkait tumpukan sampah yang berada di pinggiran laut di pesisir kawasan jalan Nusantara.

“Ini adalah sampah-sampah yang dibawa oleh air laut, pasang surut air memang sangat berpengaruh, namun dalam hal ini kita sudah siapkan petugas pantai,” kata Rafiq.

“Saya menghimbau kepada masyarakat khususnya yang menempati rumah atau ruko berada di pesisir laut sepanjang jalan Tengku Umar sampai jalan Meral, buanglah sampah pada tempatnya dan jangan dibuang ke laut. Laut adalah bagian dari milik kita yang harus dijaga bersama,” ucapnya.(kmg/riandi)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Dua orang pria berinisial Ha (35) dan To (36) diamankan polisi karena memiliki beberapa paket narkoba jenis sabu di sebuah indekos di Jalan Pertambangan, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Sabtu, 3 Februari 2018 sore.

Saat dilakukan penangkapan keduanya tidak melakukan perlawanan, dari dua pria tersebut polisi menemukan sebanyak empat paket besar lima paket kecil narkoba jenis Sabu.

Penangkapan berawal pada hari Sabtu sekira pukul 17.00 WIB, anggota Unit IV Satuan Intelkam Polres Karimun mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya peredaran narkoba jenis sabu di indekos komplek pemakaman Tionghoa dan Kristen, jalan Pertambangan.

Selanjutnya sekira pukul 20.00 WIB anggota Unit IV Satuan Intelkam Polres Karimun yang di pimpin oleh Kanit IV Sat Intelkam Polres Karimun mendatangi lokasi dan melakukan penangkapan terhadap Ha dan To.

Selain menemukan lima paket narkoba, polisi juga menemukan barang bukti terkait lainnya seperti alat hisab sabu (bong), timbangan digital, plastik pembungkus sabu dan barang bukti lainnya. Setelah dibawa ke Mapolres Karimun, keduanya dilimpahkan ke Satuan Reserse Narkoba Polres Karimun pada Sabtu dini hari untuk diproses lebih lanjut.

“Kita menerima limpahan sekira pukul 01.00 WIB dari Sat Intelkam Polres Karimun yang mengamankan dua orang tersangka diduga melakukan tindak pidana narkotika di jalan Pertambangan,” kata Satuan Reserse Narkoba Polres Karimun, AKP Nendra Madyatias, Senin, 5 Februari 2018.

Nendra menjelaskan barang bukti sabu dari Ha yang diperoleh berupa dua paket besar sabu dengan berat kotor, 1,51 gram, tiga paket kecil sabu dengan berat kotor 0,51 gram, uang tunai sebesar Rp 663.000 dan beberapa barang bukti lainya. (kmg/ian)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang teman saya yang tinggal di Kalimantan mengeluhkan kualitas sekolah di kotanya, yang menurut dia buruk. “Perlukah saya mengirim anak sekolah ke Jawa?” tanyanya pada saya. Saya balik bertanya, “Siapa yang akan mendidik anakmu selama dia tinggal di Jawa?”

Bagi banyak orang, mendidik anak itu adalah memasukkan mereka ke sekolah. Pendidikan yang baik artinya memasukkan anak-anak ke sekolah yang baik, atau dikenal dengan sekolah favorit. Maka, orangtua rela menitipkan anaknya ke tempat lain, agar mereka mendapat pendidikan yang baik, alias mendapat sekolah yang baik.

Apakah itu sebuah pilihan yang buruk? Tidak. Hanya saja menimbulkan pertanyaan soal tanggung jawab pendidikan anak. Ketika anak kita titipkan pada orang lain, lantas apa peran kita sebagai orangtua dalam pendidikannya?

Pendidikan anak itu tanggung jawab orangtua. Saya kira tidak ada yang menyangkal pandangan ini. Lalu, apa peran sekolah? Sekolah, bagi saya, hanyalah institusi yang membantu setiap orangtua dalam mendidik anak. Peran orangtua tetap yang utama. Jangan sampai terbalik, seolah sekolah memegang peran utama, sehingga orangtua bisa lepas tangan kalau sudah memasukkan anak ke sekolah.

Artinya, bila tidak ada sekolah yang baik, atau sekolah yang ada tidak memuaskan, orangtua sebenarnya harus mengisi kekurangan itu dengan peran mereka. Dengan prinsip itu maka ada sejumlah oran tua yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak ke sekolah formal, cukup menempuh pendidikan dengan cara homeschooling.

Saya tidak menempuh cara homeschooling, tapi menempatkan diri sebagai pemeran utama pendidikan anak. Dalam hal pelajaran akademik, saya terlibat langsung mengajari anak-anak saya berbagai pelajaran yang mereka terima di sekolah. Saya bantu anak-anak untuk memahami dengan lebih baik, ketika mereka masih kesulitan memahami materi yang diajarkan di sekolah. Ada bagian yang saya luruskan, ketika konsep yang diajarkan guru-guru menurut saya keliru. Ada pula bagian yang saya tambahkan, untuk pengayaan terhadap materi yang sudah diajarkan.

Itulah yang harus dilakukan oleh orangtua. Bila sekolah sudah cukup memenuhi kebutuhan anak kita, maka kita tinggal memperkayanya. Tapi ketika sekolah kita anggap tidak memadai, maka kita harus melengkapinya. Bila diperlukan, kita harus mengambil peran utama dalam pengajaran materi-materi akademik itu.

Pendidikan tentu bukan hanya soal materi akademik. Materi pelajaran itu sesungguhnya hanya bagian yang sangat kecil dari seluruh komponen pendidikan anak-anak kita. Yang lebih penting dari itu adalah pembentukan karakter, seperti gigih dan tangguh, tertib, bersih, hormat dan menghargai orang lain, dan sebagainya. Sebagian dari kebutuhan itu tentu saja bisa kita harapkan dipenuhi oleh sekolah. Tapi sekali lagi, peran terbesar dalam pembentukannya harus ada pada orangtua.

Porsi terbesar dalam pendidikan anak sebenarnya tidak melalui proses pengajaran, tapi melalui interaksi. Kita berinteraksi dengan anak setiap hari, dari situ kita menanamkan nilai-nilai. Interaksi itu dimulai dari sapaan, sentuhan, dan berbagai aktivitas yang kita lakukan bersama. Pembangunan karakter tadi tidak bisa hanya melalui nasihat verbal saja. Karena itu, interaksi adalah pusat dalam pendidikan anak kita. Nah, ketika anak-anak justru kita jauhkan dari kita, bukankah itu menghilangkan komponen terbesar tadi?

Banyak orangtua berdalih bahwa mereka tidak mampu melakukan itu semua. Kalau tidak mampu, artinya Anda merasa tidak mampu mendidik anak bukan? Lalu, kenapa punya anak? Dalam banyak kasus, para orangtua itu bukan tidak mampu, tapi tidak tahu atau tidak sadar. Mereka mengira pendidikan identik dengan sekolah. Yang sudah tahu, tidak punya cukup keinginan untuk melaksanakannya. Yang tidak mampu, tidak punya keinginan belajar, agar menjadi mampu.

Ya, setiap orang perlu belajar untuk menjadi orangtua. Menjadi orangtua bukan sekadar memenuhi hasrat seksual, yang akibat biologisnya adalah punya anak. Juga bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan psikologis, menikmati interaksi dengan anak hanya pada bagian yang kita sukai saja. Juga bukan untuk memenuhi kebutuhan sosial, punya anak karena orang lain punya anak.

Saat anak sudah hadir di kandungan, pasangan orang tua harus tahu bagaimana ia harus diperlakukan. Salah perlakuan bisa membuat bayi tadi terancam jiwanya, atau lahir cacat. Saat bayi sudah lahir, maka orangtua harus tahu bagaimana cara merawatnya. Perawatan diperlukan tidak hanya untuk fisik saja, tapi juga untuk kebutuhan psikisnya. Demikian pula seterusnya. Orangtua tidak boleh berhenti belajar, guna memenuhi kebutuhan untuk mendidik anak-anaknya.

Nah, banyak orangtua enggan melakukan itu. Makin besar anak tumbuh, makin kompleks kebutuhan pendidikannya. Artinya, makin kompleks hal-hal yang harus dipelajari. Guna mendorong anak saya agar tertarik belajar program komputer, saya harus belajar ulang tentang dasar-dasar pemrograman, misalnya. Kita harus terus belajar, karena kebutuhan anak kita yang sangat dinamis.

Jadi, sebenarnya tidak ada istilah tidak bisa dalam mendidik anak kita sendiri. Yang ada hanyalah tidak mau.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia. (***)

sumber: Detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Selasa 12 Desember 2017, akun Facebook bernama Sylendra Gaunk Sunardi mengunggah cerita yang kemudian menjadi viral.

Dalam unggahan itu, Sylendra memposting 5 buah foto.

Foto pertama memperlihatkan seorang pemuda tengah berfoto bersama ular berbisa.

Foto kedua, tampaknya merupakan capture dari postingan pemuda yang berfoto dengan ular itu.

Terlihat tangan pemuda itu berdarah seperti usai digigit ular.

“Antara hidup dan mati,” tulisnya sebagai keterangan foto.

Foto ketiga hingga kelima memperlihatkan kondisi memprihatinkan pemuda tersebut.

Terlihat ia sudah tak lagi bernyawa.

Diduga ia meninggal karena digigit oleh ular yang ia ajak berfoto tadi.

“Innalillahi…..

Semoga tenang kau sekrng Nak…paling tidak ya gak merasa kesakitan lagi.

Dr alammu sana…sampaikan kabar dan pengalamanmu saat musibah ini terjadi…

sampaikan kepada semua yg mash saja bermain2 dengan maut…kami sudah berusaha memberi tau….menasehati…merangkul dengan kasih sayang….

tp nasehat2 kami dibungkam…dilecehkan atas nama “hak asasi” “bukan urusan lu” “resiko resiko gw” “gw gak pernh tunduk dan takut sama pihak manapun”

Huuufffttttt……

Kasih tau nak…bisikin hati mereka bahwa…apa yg mereka lakukan hanya berujung petaka…jauuuhhh dr kata “keren…wah…master”

Sebelum Tuhan menegur mereka…kami sahabat dan saudara2nya sudah lelah,sudah enggan rasanya untuk mencoba lagi menghentikan langkah mereka,” tulis akun Facebook Sylendra Gaunk Sunardi, mengiringi 5 foto yang ia unggah.

Postingan itu rupanya menyulut perhatian warganet.

Hingga artikel ini dibuat, postingan tersebut telah dibagikan hingga 3 ribu kali.

Beragam komentar netizen pun dituliskan.

Banyak yang menyuarakan keprihatinan karena apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut dianggap menggambarkan keinginan generasi muda saat ini untuk tampil eksis.

Keinginan untuk eksis itu terkadang justru membuat mereka bertindak di luar batas hingga mampu menghilangkan nyawa.

“Jadikan semua ni pelajaran , makasih kawan , doa kita kan slalu mengiringi langkah mu d sana , ..
Moga d terima d sisih nya,”

“Fatality !!! Wkakwkakwka ud di ksh tau ama keluarga terdekat msh ngeyel … Biar supaya di lihat hebat aja ampe begini .. aneh aneh,”

“Kid zaman now gx sayang sama nyawa sendiri, mungkin mrka pikir ada nyawa cadangan kali ya, ni klo ditanya malaikat matinya knpa, jawabnya mati konyol,”

“Inilah akibat keegoisan gk mau dengar kata org tua dan org lain, kalo udh gini cuma bisa berdoa dan Al-fatihah, semoga tenang disana innalillahiwainnalillahi. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Samarinda – Pagi tadi senin 27 november 2017, sekitar pukul 09.30 Wita, Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Satreskrim Polresta Samarinda melakukan pemeriksaan terhadap pemeran wanita di video mesum, yang dibuat oleh remaja Samarinda.

Didampingi orangtua dan keluarganya, NA (18) si pemeran wanita, menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 1 jam.

Dari informasi yang didapat, video berdurasi 5 menit direkam pada 20 Juli tahun lalu, di salah satu hotel berbintang.

Parahnya lagi, pembuatan video itu dilakukan setelah acara perpisahan sekolah si pemeran pria, RA (19).

NA yang pada saat itu adik tingkat RA, juga hadir dalam acara perpisahan itu, yang berujung pada sebuah kamar hotel.

NA pun mengakui, jika di dalam video itu merupakan dirinya dan mantan kekasihnya (RA), namun dirinya menyangkal jika ia mengetahui kalau pada saat itu, RA tengah merekam adegan yang mereka tengah lakukan.

NA berdalih, dirinya tidak mengetahui secara jelas, pada saat melihat ponsel yang digunakan untuk merekam, karena dirinya mengidap minus pada matanya, dan saat itu dirinya tidak menggunakan kacamata.

Saat menjalani periksaan, NA sudah terlihat lebih sehat, kendati masih harus rawat jalan di rumah sakit.

Penyebab kesehatan NA menurun sendiri karena depresi, bahkan dikabarkan NA sempat mencoba untuk bunuh diri, akibat video tersebut tersebar ke media sosial.

“Dengan si pemeran wanita, berarti sudah dua yang dilakukan pemeriksaan terhadap kasus persetubuhan anak di bawah umurnya,” ucap Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Sudarsono, Senin 27 november 2017.

“Untuk kasus penyebaran videonya sudah selesai, ini kasus persetubuhan anak di bawah umurnya,” tambahnya.

Selanjutnya, pihaknya akan memeriksa saksi ahli guna memastikan kebenaran dari video itu, serta menunggu hasil visum rumah sakit.

“Kita akan periksa juga hotel tempat mereka melakukan dan membuat video, termasuk saksi ahli,” ungkapnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID,Jakarta – Pimpinan DPR RI menyayangkan sikap sekelompok orang yang menyerbu kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada Minggu 17 September 2017 malam.
Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan menyayangkan sikap masyarakat yang mudah terprovokasi dengan isu komunisme. Apalagi, dalam kasus YLBHI masyarakat secara sepihak menyebut YLBHI sedang berupaya membangkitkan kembali PKI.

Politisi PAN ini mengimbau kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri jika menemukan dugaan-dugaan kemunculan PKI.

“Bahwa itu adalah tanggung jawab kita untuk melarang bahwa PKI itu yang sangat menyakitkan dan menyedihkan kita semua dan jangan terulang lagi. Adanya konflik horizontal kita serahkan ke Polri dan TNI,” tukasnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan. Selasa 19 September 2017.

Taufik menjelaskan bahwa negara ini sudah melarang keberadaan PKI. Pelarangan itu sebagaimana termaktub dalam TAP MPR 25/1966.

“Harus sadari bahwa PKI sebagai partai terlarang itu diakui dengan ketetapan MPR. Sepanjang itu belum dicabut itu tetap menjadi keputusan bangsa dan negara,” jelasnya.

Sumber : Rmol.co