Massa

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau (Kepri) serius melakukan pengamanan agar aksi buruh yang merayakan Hari Buruh Internasional (May Day) berjalan tertib dan lancar.

Polda Kepri dan jajaran kerahkan sebanyak 1.582 personil Polri untuk pengamanan kegiatan aliansi serikat pekerja/serikat buruh. Jumlah personil yang diturunkan ini setengah lebih dari jumlah buruh yang ikut merayakan May Day atau sebanyak 2.700 orang.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol. Erlangga mengatakan Hari Buruh Internasional di Wilayah Hukum Polda Kepri, terdapat 6 (enam) rencana aksi oleh 12 elemen aksi. Adapun total perkiraan massa sebanyak 2.700 orang dengan rincian aksi 4 Aksi Unjuk Rasa (AUR), 1 (satu) Bakti Sosial, dan 1 (satu) Family Gathering.

Dijelaskannya, Batam ada 2 aksi unjuk rasa dengan total massa sebanyak 1.500 orang. Dalam aksi ini ada 8 elemen aksi, yakni LEM SPSI, FSPMI, SBSI Lomenik, TSK SPSI, PAR SPSI, FPBI, SPM, dan KASBI.

Selanjutnya, Tanjungpinang ada satu aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh KM BEM Umrah Tanjungpinang dan Bakti sosial oleh Aliansi Serikat Buruh, massa 250 orang.

Lalu di Bintan, katanya, May Day dilaksanakan dengan melakukan kegiatan Family gathering PC FSPMI Bintan dan FPSI Reformasi dengan massa 750 orang. Untuk di Karimun ada 1 aksi unjuk rasa FSPMI Karimun dengan massa 200 orang.

“Natuna, Lingga dan Anambas tidak terdapat kegiatan aksi,” katanya.

Dijelaskannya, untuk keseluruhan kegiatan pada hari Buruh Internasional telah selesai dilaksanakan, kondisi kamtibmas di wilayah hukum Polda Kepri hingga saat ini masih dalam keadaan aman dan kondusif.

“Polda Kepri dan jajaran mengucapkan Selamat Hari Buruh Internasional dan telah memberikan pelayanan serta pengamanan kegiatan saudara-saudara pekerja/buruh dalam memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), Dan diucapkan terimakasih kepada seluruh saudara-saudara pekerja/buruh, dan masyarakat Provinsi Kepri pelaksanaan peringatan Hari Buruh dapat berjalan aman, lancar dan kondusif sesuai dengan harapan kita bersama,” ujarnya mengakhiri. (humaspoldakepri)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tiga putri almarhum Presiden Soeharto mendapat sambutan istimewa ratusan ribu pendukung dan simpatisan capres/cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang memadati Kampanye Akbar di Stadion Utama GBK Jakarta, Minggu 7 April 2019.

Massa serentak bertepuk tangan ketika Prabowo menyebut nama Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, Siti Hediati alias Titiek Soeharto, dan Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek. Tepuk tangan panjang, yang disertai acungan ibu jari dan jari telunjuk, dan baru berhenti setelah Prabowo memulai orasi.

Mbak Tutut tiba lebih awal. Ia memasuki Stadion Utama GBK pukul 03.45. Saat master of ceremony (MC) menyambutnya dengan menyebut nama Mbak Tutut, massa di dalam stadion serempak berteriak Allahu Akbar.

Lautan manusia berbaju putih di Stadion BGK tercipta sejak Sabtu 6 April 2019 sore. Tidak ada kursi kosong. Yang tak kebagian kursi, lesehan di lantai.

Bagian tengah stadion menjadi arena shalat tahajud dan subuh. Ada pembacaan qunut Nazillah untuk saudara Muslim teraniaya di Myanmar, Uighur, Palestina, Taman, Libya, Suriah, dan terutama Indonesia.

Di luar Stadion Utama GBK, ratusan ribu orang berusaha masuk stadion. Mereka tak memaksa karena tahu bagian dalam stadion sedemikian padat oleh massa putih.

Usai shalat subuh, massa bershalawat, dipimpin Cawapres Sandi aga Uno. Massa di luar dan dalam Stadion Utama GBK mengikuti. Emak emak, yang datang dan tak tidur semalam suntuk, terus menggumamkan shalawat dan membiarkan air mata menuruni pipi. Ada yang tersedu dan terisak.

Usai shalawat, Capres Prabowo dan Cawapres Sandiaga Uno tak ingin kehilangan kesempatan menyapa semua. Bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, keduanya berkeliling bagian luar stadion. Seluruh orang berpakaian putih berusaha mendekat seraya meneriakkan nama Prabowo…. Prabowo.

Di atas panggung, Prabowo mengawali orasi dengan ucapan terima kasih kepada Allah, yang memberi kesempatan melawan ketidakadilan dan dekat dengan rakyat.

“Ibu PERTIWI sedang diperkosa. Kekayaan alam kita diperas terus dan hak hak rakyat diinjak indah, Kepala desa dipanggil dan diancam. Kyai dan ulama juga diancam,” kata Prabowo, yang disambut teriakan Allahu Akbar.

Kampanye Akbar pasangan Prabowo Subianto Sandiaga Uno ini juga dihadiri oleh seluruh petinggi partai pendukung, yakni partai Gerindra, partai Demokrat, PAN, PKS dan Partai Berkarya, partai dengan nomor urut 7 di pemilu 2019 ini. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sebuah video berisi adegan kekerasan tersebar di media sosial, Facebook, di video itu terlihat seorang ibu dihajar segerombolan pria.

Terbaring di tanah ibu tersebut menerima pukulan dan tendangan.

Ibu itu diperlakukan layaknya hewan, tangan dan kakinya diikat seutas tali berwana kuning.

Seorang pria yang ada di dalam video tersebut, mengatakan bila ibu itu mencuri kain di pasar Horas, Pematang Siantar, Sumatera Utara.

“Ada maling di Pasar Horas, mencuri kain,”

“Maling, maling kain, di Pasar Horas, dekat penjual daging babi,” tambah pria tersebut.

Sementara itu dengan badan penuh tanah ibu tersebut ditendang seorang pria berbaju merah tepat dibagian vitalnya.

Di video itu terdengar juga suara seorang wanita yang memerintahkan segerombolan pria itu untuk mengikat tangan ibu tersebut.

“Ini ikat tangannya,” ujar seorang wanita.

Selesai diikat Ibu itu digotong segerombolan pria, ntah ingin dibawa kemana.

Suara pengujung pasar yang lain terdengar memaki ibu tersebut.

“Mati kau, kaya babi,”

“Bawa-bawa,” suara yang terdengar di video itu.

Baru satu jam tayang, video tersebut telah dilihat sampai lebih dari 80 ribu orang.

Video diunggah oleh akun Facebook Eris Riswandi.

Di akun Facebook Bintang C MeLody, video yang sama dengan gambar ibu yang dikeroyok juga ia unggah.

Hanya saja dia menulis kalau ibu itu kedapatan mencuri sepatu.

Sampai berita ini ditulis, belum jelas apa sebenarnya dicuri oleh ibu tersebut dihakimi oleh massa.

Belum jelas juga bahwa ibu tersebut terbukti telah mencuri.

Namun, video ini mendapat reaksi keras dari netizen.

“Ya Allah, nggak harus begitu kali, dia kan perempuan…” tulis akun mamah Aan Polepel.

“Kenapa ga langsung di laporin pihak berwajib? Pas gebukin pada sombong, pas tercyduk main hakim sendiri nanti nunduk, sok sok nyesel ah payah lu jadi laki beraninya sama ibu2.. wew..,” tulis akun Marya Shanty.

“Cuman maling kain aj..diamuk masa..,” tulis akunAbud.

“Memang ibu itu salah tapi liat dunk dia seorang ibu kalau salah ya bawa aja langsung ke kantor polisi biar proses, jangan malah dipukuli,” tulis akun Anie Zoebir.

Netizen kebanyakan tidak tega melihat ibu yang diikat bahkan ada yang menendangnya saat kejadian tersebut terjadi. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Seorang pemuda asal Desa Tangga Baru, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dikabarkan tewas dibakar massa setelah kepergok mencuri kambing.

Peristiwa main hakim sendiri itu terjadi Selasa 20 Februari 2018 sekitar pukul 13.00 Wita.

Akibatnya, pemuda yang belakangan diketahui bernama Julkifli (20), meninggal dunia dengan kondisi tubuh hangus terbakar.

Camat Monta, Muhktar SH membenarkan jika seorang warganya tewas mengenaskan setelah dibakar massa di lapangan sepak bola, Desa Tangga Baru, siang tadi.

“Ya, benar. Korban tewas bernama Julkifli. Cerita dari warga, korban ditangkap dan dibunuh karena diduga mencuri kambing,” ujar Muhktar.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, kata Muhktar, peristiwa pembakaran bermula ketika Julkifli bersama satu pelaku lainnya kepergok saat hendak mencuri kambing milik warga di sekitar kawasan Dusun Tanjung Baru, Desa Tangga Baru, Kecamatan Monta.

Warga yang mengetahui aksi pencurian kemudian meneriakinya maling. Mendengar hal itu, warga beramai-ramai melakukan pengejaran.

Akibatnya, salah satu dari terduga pelaku pencurian yakni Julkifli berhasil ditangkap warga saat berusaha kabur menggunakan sepeda motor.

Sementara satu pelaku lain yang telah diketahui identitasnya dengan inisial MH (21), lolos dari kejaran warga.

“Setelah ditangkap, korban dibawa ke lapangan sepak bola. Massa kemudian membakarnya. Akibat kejadian itu, korban meninggal di TKP dengan kondisi tubuh terbakar,” ucapnya.

Selain itu, kendaraan yang digunakan mereka juga hangus dibakar.

Tak lama kemudian, polisi tiba di lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara.

Korban langsung divisum tim medis di rumah keluarganya.

“Bahkan keluarganya sepakat, jenazah korban mau dimakamkan malam ini juga,” tutur Muhktar.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Humas Polres Bima, AKP Kaharudin Thalib membenarkan kejadian seorang terduga pelaku pencurian ternak tersebut tewas dihakimi warga tersebut.

“Benar, pak. Kami masih menunggu kronologi kejadiannya. Nanti kalau sudah ada perkembangan lebih lanjut, saya informasikan pak,” ucap Kaharudin.

Kompas TV Polres Metro Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menetapkan dua tersangka pelaku kasus main hakim sendiri yang berakibat korban tewas. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Semalam, Sabtu 25 november 2017 publik dibuat heboh lewat berita soal Dewi Persik.
Bukan lagi soal kasus pernikahan, kini Dewi Persik hampir diamuk masa bersama suaminya Angga Wijaya.
Dewi Perssik bersama rombongan hampir diamuk masa lantaran mobil yang mereka tumpangi berada di jalur Busway.

Sudah kita ketahui bersama bahwa kendaran pribadi dilarang untuk melintas di jalur khusus ini.

Lantas mengapa mobil Dewi bisa berada di sana?

Merasa difitnah dan tidak didengar Dewi lantas menceritakan kronologi yang sebenarnya melalui instagram pribadi miliknya.

1. Akan ke rumah sakit

Malam itu, Dewi bersama rombongan akan pergi ke Rumah Sakit Fatmawati.
Dewi berniat mengantarkan asistennya yang terkena asma dan harus segera mendapat penanganan.

Oleh karenanya, Dewi meminta bantuan dari patwal untuk mengantar mereka ke rumah sakit.

2. Patwal memberikan pilihan jalan di jalur busway

Polisi pengawal kemudian menyarankan rombongan untuk melewati jalur busway karena darurat.

Tepat pukul 19.30 WIB di depan Mall pejanten Village, petugas busway yang bertugas enggan untuk membukakan pintu.

3. Tanggapan tak enak dari penjaga busway

Tak mendapat jawaban yang enak, petugas busway itu justru menyuruh suami Dewi Persik, Angga Wijaya untuk turun dengan nada tinggi.
Suami Dewi kemudian menjelaskan bahwa mereka di dalam pengamanan polisi.

Namun petugas busway justru menuduh mereka berbohong karena tidak melihat keberadaan polisi di dekat mereka.

Petugas busway justru membusungkan dadanya dan didorongkan ke dada Angga Wijaya.

Berbeda dengan penjaga busway, polisi lain yang berada di sana lebih bersikap kooperatif dan mau untuk menunggu polisi pengawal Dewi yang tertinggal di belakang.

Diketahui bahwa polisi pengawal rombongan Dewi melalui jalur arteri dan tidak melalui jalan bus.

4. Penjaga busway makin menjadi-jadi

Parahnya, penjaga busway justru semakin menjadi saat warga setempat dan ojek online masuk ke jalur busway bersamaan.

Mereka judtru menghakimi rombongan Dewi secara sepihak.

Bahkan Angga Wijaya yang saat itu ada di luar mobil hampir jadi sasaran amuk masa.

Tak terima sang suami dikepung, Dewi lantas turun dari mobil dan meminta warga mendengar penjelasan mereka.

Dewi langsung menjelaskan bagaimana mereka bisa di sana.

Dewi sangat menyayangkan apa yang dilakukan para warga tidak mencerminkan etika yang baik karena Dewi merasa apa yang ia lakukan tidaklah salah.

Dalam postingan lanjutan Dewi, ia dan suami sudah menyerahkan perkara itu para pihak pengacara. (***)

 

sumber: tribunnews.com

KRIMINALITAS

Selasa | 17 Oktober 2017 | 15:40

Akibat Pertengkaran, Yosef Katoda Tewas Dianiaya Massa

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kupang – Yosef Katoda (25) tewas usai dikeroyok dan dianiaya sekelompok orang di di Desa Pero Konda, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Senin 16 oktober 2017.

Warga lainnya, Petrus Rapote Ulle menderita luka menganga di kaki akibat dipotong korban.

Demikian laporan polisi yang diterima wartawan Pos-Kupang.com melalui WA, Senin16 oktober 2017 malam.

Ceritanya, pada hari Senin 16 oktober 2017 berlangsung pesta Wolek di Kampung Markiyo, Desa Pero Batang, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Entah kenapa, terjadi pertengkaran lalu korban memotong kaki kanan Petrus Rapote Ulle, seorang petani dari Kampung Waikahumbu, Desa Pero Batang, Kecamatan Kodi.

Tak terima dengan tindakan pemotongan, keluarga Petrus Rapote Ulle mengejar korban dan teman-temannya.

Kemudian melempari korban dengan batu hingga terjatuh.

Massa pun kemudian menganiaya korban menggunakan parang hingga meninggal dunia.

Korban meninggal dunia diduga akibat luka potong dan kehabisan darah.

Kasus ini sedang ditangani polisi.

Sejumlah saksi dimintai keterangan untuk menemukan akar masalah dan duduk perkara.(***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Warga Daik sempat memanas dengan kejadian kecelakaan tunggal dua pelajar SMKN 2 Lingga di Polsek Daik. Mereka tetap bertahan, meskipun sejumlah tokoh sudah menjelaskan panjang lebar, yang intinya sudah jalan baik dari kejadian ini.

Wakil Bupati Lingga M Nizar turun langsung ke Mapolsek Daik untuk menenangkan aksi kerumunan warga di Mapolsek. Dihadapan Kapolsek Iptu Sugianto, dia menegaskan permasalahan ini segera diambil solusi sebab proses pengobatan akan menganggu proses belajar ke sekolah.

baca: Ketakutan, Kaki Pelajar Itu Patah setelah Terkapar di Parit di Simpang Tiga Tande

“Kepada keluarganya saya minta tolong dikondisikan secepatnya. Kalau kemungkinan ada luka patah tulang dan sebagainya, mengingat anak ini pelajar karena akan terganggu sekolahnya, nanti kita cari solusinya bagaimana. Yang jelas pihak kepolisian sudah mau bertanggung jawab,” ucap dia kepada Kapolsek, Jumat (13/10) malam.

Diketahui memang pasca insiden itu, Mapolsek Daik sesak dengan puluhan warga. Warga tidak terima razia tertib lalulintas di Daik diterapkan sistem bergerak (hunting), apalagi telah memakan korban. Banyak interpretasi warga akibat dari aksi kejar-kejaran anggota dengan kedua korban hingga menyebabkan kecelakaan. Mereka datang memenuhi Mapolsek meminta pertanggungjawaban pihak kepolisian dan penyampaian maaf dari anggota yang bertugas tadi.

Wakil Bupati Lingga usai berbicara dengan Kapolsek, dihadapan puluhan warga menjelaskan untuk persoalan pertanggungjawaban terhadap dua pelajar itu akan diakomodir pihak Polres Lingga lewat Polsek Daik. Kemudian dengan tegas dia juga sampaikan jika ada kemungkinan-kemungkinan patah tangan atau patah kaki akan ada upaya-upaya dari kepolisian. Apalagi korban diketahui merupakan tulang punggung keluarga maka upaya itu akan diberlanjutkan nanti minimal menjadi tenaga honor di Polsek.

“Apalagi dia menjadi tulang punggung keluarga misalnya, ini salah satu hasil yang ditawarkan tetapi nanti setelah proses pengobatan berjalan nanti. Saya rasa ini cukup, tidak ada apa-apa lagi pihak keluarga juga sudah ditemui,” jelas dia.

Tetapi kerumunan warga masih belum usai. Selang beberapa menit, keluarga korban datang ke Mapolsek didampingi anggota DPRD Lingga, Seny. Ibu korban atas nama Juanda yang sempat histeris mendengar kabar kecelakaan itu dengan tenang dihadapan Kapolsek meminta maaf karena kesalahan anaknya. Dia juga berterimakasih pihak kepolisian dan pemerintah serta masyarakat tidak lepas tangan meski diketahui secara prosedur hukum anaknya telah melanggar aturan lalulintas.

Melihat kerumunan warga yang tidak kunjung bubar dan situasi semakin genting, dari keluarga korban angkat bicara. Dengan dibantu pengeras suara ibu korban menegaskan masalah ini telah selesai dan tidak diperpanjangkan.

“Kami merasa berterimakasih karena sudah membantu. Tetapi kami tidak ingin masalah ini menjadi besar seperti ini. Kami dari keluarga sudah merasa dibantu karena kesalahan anak kami. Jadi tidak ada lagi kesalahpahaman,” jelas dia.

Namun warga masih belum puas. Mereka ingin mendengar secara langsung permintaan maaf dari petugas kepolisian yang menjalankan operasi tadi. Dengan banyak pertimbangan akhirnya kepolisian bersama Wakil Bupati Lingga menyanggupi.

“Jadi pak Kapolres mengizinkan orang yang bertugas hari ini. Mereka bertugas menjalankan tugas. Ketika ada kejar-kejaran itu interpretasi banyak orang menilai itu kejar-kejaran. Tetapi mereka menjalankan tugas,” tegas Wakil Bupati lagi dihadapan warga.

Akhirnya setelah lima anggota yang menjalankan tugas tertib lalulintas tadi dihadirkan menyampaikan permintaan maaf, satu demi satu warga meninggalkan Mapolsek Daik. (***)

sumber: marwahkepri.com