Masyarakat Indonesia

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Menyatukan potensi yang dimiliki seluruh anggota, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), meluncurkan saluran donasi dan sedekah melalui program PWI Peduli di Hall Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.

Menurut Ketua PWI Pusat, Atal S Depari, program PWI Peduli untuk menyatukan potensi yang dimiliki semua anggota PWI untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

Dikatakan Atal, PWI Peduli dibentuk karena selama ini pola saling membantu di antara anggota PWI dengan patungan atau sumbangan ketika peristiwa yang membutuhkan bantuan terjadi.

“Kita pernah melihat satu kejadian kawan kita yang mengalami sakit cukup kritis, kita sesama anggota PWI keluar uang masing-masing Rp 1 juta, dalam hitungan menit bisa terkumpul Rp 40 juta,” jelasnya.

“Ada 14 ribu anggota PWI, kalau dalam satu waktu setiap anggota mengeluarkan Rp 10 ribu saja, maka sudah terkumpul Rp 140 juta. Sehingga kalau rutin dilakukan, semua sedekah itu terkumpul di PWI Peduli,” Atal menambahkan.

Selain itu, Atal juga menjelaskan dana anggota dan donatur yang ada di PWI Peduli tidak hanya dimanfaatkan untuk membantu sesama anggota, tetapi juga untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

Peluncuran itu juga dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Sekjen PWI Mirza Zulhadi, Ketua Dewan Kehormatan Ilham Bintang dan pengurus teras PWI lainnya. (r/eddy)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bogor – Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Prof Dr Didin Saefuddin Buchori menjadi khatib saat salat Idul Fitri di Kebun Raya Bogor.

Didin berpesan agar pemerintah maupun masyarakat menjadikan Alquran sebagai kiblat kehidupan.

“Hadirin kaum muslimin marilah di hari baik dan bulan baik 1 Syawal 1439 H di dalam suasana fitri kita lanjutkan program Ramadan dengan Alquran jadikan hidup sehari-hari. Lebih dari itu Alquran dijadikan kompas kehidupan baik aspek ekonomi, aspek politik, sosial, budaya dan aktivitas masyarakat,” kata Didin.

Didin menyampaikan khotbahnya ini usai salat id yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Lapangan Astrid, Kebun Raya Bogor, Jumat, 15 Juni 2018.

Khotbah yang disampaikannya bertema ‘Meraih Kemuliaan Hidup Pasca Ramadhan’.

Ia menjelaskan beberapa aspek yang seharusnya dipatuhi pemerintah dan masyarakat yakni dari aspek ekonomi, politik, dan sosial. Dalam aspek ekonomi ia meminta agar pemerintah memperhatikan kesenjangan sosial rakyatnya.

“Aspek ekonomi Alquran mengajarkan bahwa aspek ekonomi tidak boleh hanya beredar di kalangan orang kaya saja, hal ini tentunya akan sebabkan kesenjangan yang makin lebar antara kaya dan miskin dalam beberapa kasus akibat kesenjangan ini dapat menimbulkan gejolak sosial,” jelas dia.

Selain kesenjangan ekonomi, dalam aspek ekonomi juga ia menganjurkan agar tidak ada kecurangan dalam transaksi jual beli di kehidupan bermasyarakat. Sebab agama melarang umat berbuat curang.

“Quran juga melarang kecurangan transaksi dengan menipu dalam penjualan seperti menaikkan timbangan. Kekuasaan wajib mendengarkan keadilan, adil bahkan harus diperlihatkan siapapun dia kawan atau lawan cintai atau benci, Allah melarang kita berperilaku tidak adil,” sambungnya.

Lanjut, ia mengingatkan aspek politik kekuasaan. Ia berpesan kepada pemerintah yang mempunyai peran sebagai penguasa harus memperlihatkan keadilan baik kepada lawan ataupun kawan. Didi berpesan kepada pemerintah untuk dapat berlaku adil kepada siapapun.

Selain itu, ia juga menjelaskan aspek sosial yang diajarkan Alquran. Ia mengingatkan agar sesama manusia dapat membantu kaum fakir miskin dan seseorang yang teraniaya. Sehingga dapat membantu pergerakan masyarakat dan membangun peradaban antarmanusia.

“Kemudian dalam aspek sosial Alquran mewajibkan kaum muslimin memperhatikan kaum fakir miskin orang-orang teraniaya ini bisa seperti menumbuhkan manusia dengan manusia dan kesejahteraan, membangun peradaban, membangun keadilan, menggerakkan masyarakat dan juga bisa untuk membantu orang miskin,” tutur dia.

Terakhir, ia menyampaikan kepada semua jemaah salat id untuk menyebarkan perdamaian di Indonesia. Menurutnya tindakan kekerasan sesama manusia tidak dibenarkan Islam.

“Bapak presiden, Ibu dan hadirin, Alquran juga mendorong untuk hidup di tengah masyarakat secara tenteram dan damai-mendamaikan masyarakat dan santun dan toleran di tengah kemajemukan. Karena Islam adalah seluruh rahmat bagi alam semesta. Islam mengutuk keras segala bentuk kekerasan dan kekejaman baik yang bersifat individu atau yang terorganisir atas dasar ideologis seperti terorisme yang baru terjadi berupa bom bunuh diri di Surabaya, Markas Mako Brimob Depok, dan Riau serta lainnya,” ujar dia.

Didin juga meminta agar di hari yang fitri ini masyarakat dapat membersihkan diri dari perilaku yang kurang baik dan yang dapat dibenci oleh Allah.

“Bersihkanlah hari ini dari perbuatan kita dari segala hal yang bisa bawakan kita keniscayaan jangan gadaikan iman kita bila itu yang terjadi maka saya khawatir bangsa ini menjadi bangsa yang dibenci Allah. Kita jadi bangsa munafik tidak berani mendemonstrasikan kejujuran, lempar kesalahan orang menjadi kontes kehidupan, memutar janji menjadi retorika yang di propagandakan seolah tak akan bersentuhan, alangkah ruginya bangsa model seperti ini,” ungkapnya. (***)

sumber: detik.com