Obat

KEPRI

Kamis | 13 September 2018 | 8:49

Nurdin: Racik Obat yang Terjangkau Rakyat

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kepri – Gubernur H Nurdin Basirun mempromosikan pesona wisata Kepri kepada 1.851 peserta Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan Rakernas Hisfarsi se-Indonesia yang sedang berada di Batam.

Di sela-sela rapat kerja dan pertemuan ilmiah, pesona Kepri harus dijelajahi.

“Wisata alam, wisata kuliner, wisata belanja, banyak di sini. Bolehlah dimanfaatkan waktu di antara pertemuan dan rapat kerja,” kata Nurdin saat membuka PIT dan Rakernas Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit Indonesia (Hisfarsi) di Hotel Harmoni One, Batam, Rabu, 12 September 2018.

Sebelum bercerita tentang pesona Kepri, Nurdin berpesan tentang pentingnya peran apoteker dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Karena obat yang tepat, membuat pasien cepat sembuh.

“Saya akan terus memberi dorongan agar penyedia obat bisa menghasilkan kebutuhan yang terjangkau rakyat untuk cepat sehat,” kata Nurdin.

Peserta Rakernas dan PIT kali ini mengalami jumlah terbanyak dari acara sebelumnya. Sampai pembukaan, tercatat ada 1.851 peserta yang sudah meregistrasikan diri di panitia.

Menurut Nurdin, jika pun harus menyebrang dari Batam, di Bintan, dengan pesona Lagoinya juga menyajikan kawasan wisata yang indah. Sebelum rakernas berakhir, Nurdin mengajak untuk menikmati wisata Kepri.

Menu makanan yang enak-enak, kata Nurdin, juga banyak. Apalagi dengan kesegaran seafood sehingga menggugah selera.

Karena itu, dengan bercanda, Nurdin mengatakan Kepri siap menjadi tuan rumah kembali Rakerna dan PIT jika tak ada daerah yang mau.

Untuk wisata MICE, Kepri memang menyediakan tempat-tempat yang representatif.

Pada kesempatan itu, hadir juga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tjetjep Yudiana, dan sejumlah FKPD Provinsi Kepri.

Sebelumnya, Sekjen Hisfarsi Elrisma Andalusia mengatakan dalam era digitalasasi pelayanan kesehatan harus disambut dengan positif. Para apoteker harus bekerja secara hebat dan profesional.

“Kita harus membenahi layanan dan meningkatkan kemampuan. Kita perlu terus maju dan berubah,” kata Andalusia.

Menurut dia, para apoteker harus meningkatkan kemampuan dalam mengantisipasi segala kebutuhan dan perkembangan saat ini.

Pihaknya pun akan selalu berupaya meningkatkan kemampuan apoteker rumah sakit.

Nurul Falah, Ketua Ikatan Apoteker Indonesia menekankan tentang pentingnya pelayanan informasi obat kepada pasien dan harus dijalankan dengan baik. Tantangan era sekarang harus dijawab dengan apoteker yang praktiknya profesional. (***)

sumber: humaskepri.id

 

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Bupati Karimun, Aunur Rafiq meninjau persiapan Kampung Toga di Kelurahan Harjosari, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Rabu, 5 September 2018.

Kampung toga Asuhan Mandiri Kunyit Asam, Kecamatan Tebing, Karimun, juga sedang dalam persiapan untuk ikut perlombaan tingkat Nasional. Di mana untuk penilaian akan dilakukan 14 September.

Bupati Karimun, Aunur Rafiq mengatakan bahwa, kampung Toga merupakan program dari Kementerian Kesehatan dengan tujuan agar bisa mendorong masyarakat dapat mengolah tumbuhan atau tanaman obat.

“Melalui kampung Toga ini, bisa mendorong masyarakat untuk mengolah tumbuhan dan tanaman obat, sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Rafiq.

Dijelaskan Rafiq, pada 2017 lalu, Desa Selat Mendaun yang mewakili Kabupaten Karimun berhasil meraih juara diperlombaan tingkat Provinsi Kepulauan Riau, sementara di tingkat Nasional meraih juara tiga.

“Tahun lalu di tingkat Provinsi, Selat mendaun dapat juara satu, untuk tingkat Nasional juara tiga, tahun ini juga diadakan lagi dan semoga kita menjadi yang terbaik,” ucap Rafiq. (kmg/Parulian Turnip)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Banyak orang mengonsumsi beberapa pil sekaligus setiap hari untuk menjaga kondisi kesehatan mereka. Namun, mereka tidak tahu berbagai obat ini mungkin bereaksi satu sama lain dan menyebabkan efek buruk yang lebih mengkhawatirkan.

Secara medis hal ini disebut sebagai polifarmasi. Itu artinya seseorang meminum lima obat atau lebih dalam sehari.

“Menyatukan obat dapat menyebabkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan,” kata Sushila Kataria, dokter penyakit dalam di Medanta, dikutip dari Indian Express, Kamis, 16 Agustus 2018.

Kataria menambahkan, pasien tunggal sering menemui dokter dan spesialis. Semua dokter itu meresepkan obat yang berbeda. Hal ini terutama menonjol pada populasi lansia.

Beberapa lansia mengonsumsi obat-obatan untuk kondisi jangka panjang seperti diabetes, arthritis, dan tekanan darah bersama dengan obat untuk menyembuhkan sakit demam. Menurut konsultan senior di RS Idraprastha Apollo, Tarun Sahni, fakta pasien harus mengambil beberapa obat tidak dapat diabaikan.

Kadang-kadang pasien menggunakan obat tanpa henti untuk masalah ringan seperti pilek. “Mereka tidak tahu obat tersebut dapat mengganggu obat yang sedang berlangsung. Ini mengarah ke reaksi yang merugikan,” ujar Sahni.

Selain itu, ada beberapa cara meminimalkan risiko polifarmasi. Pertama, penting bahwa setiap orang sadar akan kondisi kesehatan mereka. Kedua, konsultasikan pada dokter.

Dokter dapat mengawasi semua obat, menawarkan saran yang komperhensif dan jika perlu berkoordinasi dengan dokter dan spesialis tertentu. Ketiga, simpan catatan semua obat. Pasien tidak perlu melacak obat mereka pada setiap kunjungan ke dokter.

Mereka harus memeriksa apakah penggunaan obat perlu dilanjutkan. Setiap kali kondisi baru berkembang, dokter harus diberitahu tentang semua obat yang diminum, termasuk suplemen. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banjarmasin – Gusti Maulita Indriyana, Kasi Layanan Informasi Konsumen Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Banjarmasin, mengatakan, kegunaan Mis sebagai obat maag.

“Obat itu untuk mencegah dan mengobati tukak lambung, serta dapat juga mencegah terjadinya tukak pada usus halus,” jelas dia dihubungi pekan tadi.

Yang jelas, sebut dia, obat maag itu termasuk obat keras yang penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter, dan dijual di sarana distribusi yang legal seperti apotek dan rumah sakit.

Kata Maulita, merek dagang obat dengan kandungan zat berkhasiat Mis di antaranya Gas dan Cyt yang telah terdaftar di BPOM sebagai obat maag.

Mis hanya dikonsumsi untuk orang dewasa dan dikontraindikasikan bagi wanita hamil.

“Obat-obat itu tidak boleh dikonsumsi oleh wanita hamil, berencana hamil ataupun wanita menyusui,” ucapnya.

Namun, dia mengakui tidak jarang Gas dan Cyt disalahgunakan karena maag itu memiliki efek samping dapat menggugurkan kandungan, kelahiran prematur dan kecacatan pada bayi.

Maulita mengimbau masyarakat lebih berhati-hati di media online karena banyak tersedia informasi menyesatkan tentang penyalahgunaan Gas dan Cyt.

“Obat maag yang disalahgunakan sebagai obat aborsi memiliki efek sangat membahayakan kesehatan bahkan dapat mengancam jiwa yang mengonsumsinya,” Maulita mengingatkan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Berkumur dengan cairan antiseptik disarankan untuk melengkapi kebiasaan menyikat gigi.

Namun demikian, bukan berarti setelah memakai obat kumur kemudian sikat gigi ditinggalkan.

“Ingat obat kumur itu pelengkap bukan pengganti, jadi Anda tetap wajib sikat gigi,” kata Dedy Yudha Rismanto, Dokter Gigi Spesialis Periodontik.

Obat kumur sering digunakan untuk menyegarkan napas serta membersihkan bakteri di rongga mulut.

Kedua cara ini memang bisa memutus rantai pembentukan kuman yang berkoloni.

“Kuman itu bisa menempel di mulut dalam hitungan menit. Mengapa sikat gigi dua kali sehari ditambah dengan berkumur? Ini untuk mencegah kuman berkoloni dan menjadi matang di mulut,” jelas

Obat kumur penting untuk menetralisir kadar PH atau keasaman mulut dan mencegah peradangan gusi.

“Jika ada sudut di dalam mulut yang sulit dibersihkan dengan sikat gigi, bisa menggunakan obat kumur. Berkumur dengan air putih atau obat kumur bisa mengurangi aktifnya kuman karena kondisi pH yang netral,” terangnya.

Yudha mengatakan, penggunaan obat kumur tidak harus dengan cara dikumur.

Untuk mengurangi rasa perih, Anda hanya perlu merendam cairan tersebut dan mendiamkanya selama beberapa detik, sesuai petunjuk pada obat kumur yang digunakan.

“Artinya kumur itu tidak boleh diminum jadi digenangi atau direndam di titik yang diinginkan saja cukup. Biarkan beberapa detik agar efektivitas senyawa kimianya bekerja,” tuturnya.

Jenis obat kumur pun berbeda-beda sesuai kandungannya.

Contohnya, Antimikrobial untuk mengurangi plak, gingivitis, serta peradangan gusi, Astringent salt untuk menyamarkan bau mulut, dan yang mengandung iodin dan fluoride untuk mencegah gigi berlubang.

“Supaya lebih efektif, dibaca dulu penggunaanya berapa kali sehari. Disertai dengan teknik sikat gigi sesuai arah gigi dan tidak menyikat dengan arah horizontal. pungkasnya. (***)

sumber: tribunnews.com

Obat ini bisa dikonsumsi dengan mudah oleh masyarakat luas.

MEDIAKEPRI.CO.ID – Diabetes melitus merupakan penyakit mematikan nomor tiga di Indonesia setelah stroke dan serangan jantung. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan kencing manis.

International Diabetes Federation menyatakan di tahun 2014 terdapat 9, 1 juta kasus diabetes di Indonesia dengan prevalensi 5,81 persen. Jumlah penderita diabetes yang meninggal pada rentang usia 20-79 tahun di Indonesia berjumlah 176 ribu jiwa.

Pengendalian gula darah sangat penting dilakukan untuk mencegah komplikasi dari diabetes. Hal inilah yang mendorong mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Fauziyyah Dityaningtiastuti melakukan penelitian ekstrak cacing Siphonosoma australe sebagai obat antidiabetes dan bisa dikonsumsi dengan mudah oleh masyarakat luas.

Penelitian ini di bawah bimbingan Prof Sri Purwaningsih dan Prof Ekowati Handharyani.

Siaran pers IPB yang diterima Republika.co.id menyebutkan, obat yang sering digunakan dalam terapi diabetes adalah terapi insulin dan Obat Hipoglikemik Oral (OHO).

Penggunaan obat tersebut dapat menimbulkan efek samping dan membutuhkan biaya yang mahal. Hal ini mendorong banyak orang untuk beralih pada pengobatan alami dalam mengatasi diabetes.

“Salah satu sumber alam yang memiliki potensi untuk dikembangkan untuk pengobatan diabetes adalah cacing laut Siphonosoma australe. Penelitian terdahulu menunjukkan cacing S. australe memiliki aktivitas antihiperglikemik dan dapat menurunkan rata-rata kadar glukosa darah saat diujicobakan pada tikus,” kata Fauziyyah.

Namun, ia menambahkan, pengembangan lebih lanjut mengenai potensi ini belum dilakukan.

“Ekstrak cacing Siphonosoma australe terbukti memiliki aktivitas antihiperglikemik. Saya mencoba memformulasikan ekstrak cacing ini dalam bentuk kapsul agar mudah dimanfaatkan,” ungkap Fauziyyah.

Fauziyyah melakukan penelitian dengan judul “Aktivitas Antihiperglikemik Kapsul Ekstrak Cacing Laut Siphonosoma australe pada Tikus Galur Sprague Dawley yang Diinduksi Streptozotocin”. Dalam penelitiannya, Fauziyyah mengujikan kapsul ekstrak cacing S. australe ke hewan uji tikus galur Sprague Dawley.

Pengamatan dilakukan untuk melihat pengaruh cacing laut terhadap kadar gula darah, bobot badan, jumlah konsumsi air, SGOT, dan SGPT. Kapsul pada penelitian ini diformulasikan pada dosis 22,5 dan 45 miligram per kilogram berat badan.

Hasil penelitiannya menunjukkan ekstrak cacing S. australe memiliki kandungan bioaktif alkaloid, flavonoid, steroid, saponin, dan triterpenoid. Pengamatan kadar gula darah menunjukkan ekstrak S. australe dosis 45 miligram per kilogram per berat badan dapat menurunkan kadar gula darah tikus sebesar 117,33 mg/dL dan memperbaiki fungsi hati dengan nilai SGOT dan SGPT sebanyak 314 U/L dan 200 U/L.

Menurut Fauziyyah, kandungan senyawa aktif yang terdapat pada ekstrak S. australe mampu menormalkan kerusakan yang ada di hati. Kandungan alkaloid dan flavonoidnya memiliki aktivitas hipoglikemik dan dapat menghambat kerja enzim alfa glukosidase sebagai antidiabetes.

Fauziyyah berharap hasil penelitiannya ini dapat menjadi sumber informasi bahan nutraseutika maupun farmaseutika. “Saya juga berharap penelitian ini bisa diaplikasikan untuk pengobatan diabetes,” tambahnya. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID – Agar lebih efektif menyembuhkan penyakit, sebagian besar obat dianjurkan diminum dengan air putih.
Tapi, tak jarang banyak orang yang minum obat dengan minuman lain, misalnya teh.

Padahal, hal itu dapat mengurangi penyerapan dan khasiat obat karena kandungan dalam minuman tersebut dapat mengubah sifat dan kerja obat di pencernaan.

Seperti yang dilansir oleh Foodsafetynews, pada dasarnya memang terdapat interaksi antara beberapa jenis antibiotika dan obat sejenis obat maag (antasida) dengan sejumlah minuman.
Bisa saja, obat-obatan tersebut membentuk gumpalan yang akan menganggu penyerapan obat yang akan menjadikan kadar obat dalam tubuh menurun.

Untuk itulah, sebaiknya Anda tidak mengonsumsi obat bersama 4 jenis minuman berikut:

1.Susu

Dapat menghambat penyerapan di dalam usus maupun lambung jika diminum bersama obat antibiotik berikut: Tetrasiklin, Siprofloksasin, Ofloksasin.

2.Kopi

Kafein pada kopi dapat meningkatkan efek samping obat seperti rasa gugup, gangguan tidur, dan peningkatan denyut jantung. Jenis obat apa yang sebaiknya tidak diminum bersama kopi? Obat anti asma yaitu Albuterol dan Teofilin juga obat-obat yang merangsang susunan saraf pusat seperti Klozapin.

3.Teh

Mengandung senyawa tanin yang dapat mengikat zat besi dan kandungan beberapa obat seperti Efedrin dan Kolsikin. Akibatnya dapat mengurangi atau menghambat penyerapan obat dalam tubuh. Selain itu, teh juga mengandung kafein.

4.Alkohol

Jangan sekali-kali minum alkohol pada saat menggunakan obat. Oleh karena itu, sampaikan kepada dokter atau apoteker jika sebelumnya Anda mengonsumsi alkohol. (***)

sumber: grid.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Purwakarta – Akibat mengkonsumsi obat batuk secara berlebihan, Abdurahman (24) warga Cipinang, Cibatu, Purwakarta, akhirnya meninggal dunia.

Sebelum meninggal, ia berkumpul bersama keempat temannya pada Senin 8 Januari 2018 malam, di saung yang berada di kebun karet dekat rumahnya.

Pada saat berkumpul itulah, ia meminum obat yang diperuntukan bagi orang yang menderita sakit batuk.

Bersama seorang temannya, Fahri Satyarajbani (16), Abdurahman mengkonsumsi obat batuk itu secara berlebihan.

Korban selamat, Fahri pun kini dirawat di Rumah Sakit Bhakti Husada sejak tadi malam.

Menurut Fahri, Abdurahman diketahui meminum 15 bungkus obat batuk sekaligus.

“Abdurahman minum 15 bungkus obat batuk sekaligus,” kata Fahri saat ditemui di ruang perawatan RS Bhakti Husada, Jalan Raya Sadang-Subang, Cikumpay, Purwakarta, Selasa 9 Januari 2018 siang.

Masih dalam keadaan lemas, Fahri mengaku meminum 10 bungkus obat batuk sekaligus.

Dimasukan kedalam satu gelas, belasan bungkus obat batuk itu langsung diminum secara bergantian.

Tanpa dicampur dengan apapun, keduanya menenggak obat batuk tersebut.

Melihat Abdurahman tidak sadarkan diri tak lama setelah meminum obat batuk, temannya yang bernama Yunus dan Sugih sempat mengantar korban ke klinik.

Dari Klinik Umum dan Bersalin Ravina Medika tak jauh dari rumah korban, korban langsung dibawa menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Bhakti Husada.

Fahri mengaku sudah dua kali membeli puluhan bungkus obat batuk di sebuah agen di wilayah Subang.

“Belinya 25 bungkus. Uangnya patungan harganya seribu satu bungkusnya,” ucapnya.

Diduga over dosis karena mengkonsumsi obat batuk secara berlebihan, Abdurahman pun meninggal dunia di Rumah Sakit.

Setelah sempat dirawat dan dinyatakan tewas, korban langsung dibawa ke rumahnya untuk dimakamkan.

Pada Selasa 9 Januari 2018 siang, jenazah Abdurahman dikuburkan di tempat pemakaman umum diantar oleh keluarga dan kerabat korban.

Tangis haru mengiringi pengantaran jenazah anak bungsu dari pasangan Jejen dan Yayah itu. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Artis sekaligus presenter Fitri Tropica sempat berjuang menghadapi penyakit yang dideritanya.

Artis dengan nama panggilan Fitrop ini setahun yang lalu didiagnosis mengalami penyakit TBC kelenjar.

Penyakit tersebut membuatnya harus menjalani pengobatan yang cukup panjang yakni harus mengonsumsi obat selama satu tahun penuh.

Setelah genap satu tahun, ia pun mememberikan kabar yang menggembirakan.

Dalam channel Youtube miliknya, Fitrop menceritakan bahwa dirinya akan kontrol ke dokter untuk mengetahui penyakitnya tersebut.

Tak disangka Fitrop mendapatkan kebahagiaan karena dinyatakan sembuh dan tidak perlu mengonsumsi obat lagi.

Tidak hanya senang tak perlu minum obat lagi, kondisi Fitrop yang telah sembuh ini juga berarti ia boleh merencanakan kehamilan.

Sebab, obat yang ia konsumsi dapat menganggu tumbuh kembang janin sehingga oleh dokter ia tidak diperbolehkan hamil terlebih dahulu.

Penyakit TBC sendiri memang membutuhkan pengobatan yang intense jika ingin sembuh dengan optimal.

Menurut dr. Judi Januadi Endjun, Sp.OG., perempuan yang terkena TBC memang sebaiknya tidak hamil terlebih dahulu.

Salah satu alasannya karena penyakit ini cukup rentan menyebar pada orang lain sehingga jika tidak diobati dengan benar akan berbahaya bagi kesehatan Moms.

“Selain itu, TBC dapat juga menyerang organ kandungan, misalnya selaput lendir rahim (endometrium) dirusak sehingga embrio tidak dapat tumbuh,” ujarnya dalam tabloid Nakita Edisi 792.

Sebenarnya apa ya yang menyebabkan penyakit TBC ini?

Dilansir dari Mayo Clinic, tubuh kita sangat mungkin menyimpan bakteri penyebab TBC.

Namun, sistem kekebalan tubuh yang baik membuat kita tak terserang TBC.

Pada saat tertentu, bakteri ini bisa berubah menjadi aktif atau kita mungkin saja mendapatkan bakteri tersebut dari orang lain.

Kadang kali Moms juga tidak menyadari bahwa terpapar TBC.

Hal itu pulang dialami Fitrop sebab ia sendiri tak mengetahui darimana datangnya bakteri tersebut masuk ke dalam tubuhnya.

Salah satu gejala yang ia rasakan adalah munculnya benjolan di daerah leher.

Gejala lain yang mungkin terjadi antara lain batuk berkepanjangan yang juga disertai nyeri dada atau pernapasan.

Penurunan berat badan yang tidak disengaja diikuti dengan kelelahan yang berlebihan juga bisa sebagai tanda bahwa kita mengalami TBC. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lamongan – Wanto (53), tewas sesaat usai berhubungan intim dengan perempuan di sebuah hotel, di Jalan Panglima Sudirman, Lamongan, Jawa Timur, Selasa 2 jnuari 2018.

Warga Dusun Sekaran RT 06 RW Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur itu diduga tewas karena over dosis mengkonsumsi obat kuat, sebelum melakukan hubungan badan dengan pasangan selingkuh.

Sebelum diketahui meninggal, korban diketahui masuk sekamar dengan seorang perempuan bernama Janatun (44), yang masih satu RW dengan korban di Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio.

Keduanya sebenarnya sama-sama sudah berkeluarga.

Pasangan selingkuh ini melakukan check in sejak pukul 11.00 WIB dan menempati kamar hotel nomor 202.

Selama di dalam hotel, mereka langsung melakukan hubungan layaknya suami istri.

Menurut Saksi Janatun, sebelum melakukan hubungan badan dengannya, korban mengonsumsi pil kuat.

Usai ‘bermain’, nafas korban terdengar berdegup kencang. Jantungnya terpacu dan nafasnya menjadi tersengal-sengal.

Melihat kondisi tak wajar tersebut, Janatun mengaku tidak bisa berkata banyak dan hanya kebingungan.

Tak lama setelah itu, korban tidak lagi merespon dan tubuhnya diam saja saat dibangunkan Janatun.

Wanto meninggal dalam posisi membujur dengan kepala berada di utara di atas ranjang kamar hotel itu. Diliputi rasa panik, Janatun pun melaporkan kejadian tersebut ke petugas.

Sebelum evakuasi jenazah korban usai, Janatun dibawa ke Polres Lamongan ruang Unit I Pidum untuk dimintai keterangan.

Selama dimitai keterangan, perempuan itu tampak bersikap tidak kooperatif terhadap penyidik.

Bahkan dia berusaha menyembunyikan diri di pojok ruangan sambil menutup wajahnya dengan kerudung warna putih.

Janatun yang mengenakan pakaian kebaya warna coklat, baju lengan panjang putih dan kerudung putih kerap beringsut menyela di sofa. “Pulang Pak, pulang,” pintanya Janatun kepada penyidik.

Namun untuk proses penyelidikan, Janatun tetap harus mengikuti proses pemeriksaan. Beberapa kali Surya mengintip Janatun, dia selalu beringsut berusaha menutupi wajahnya dengan kerudung yang dikenakannya.

Polisi kini tengah membuat surat pengantar untuk visum korban.

Hingga berita ini dikirim pukul 16.30 WIB, Janatun masih menjalani pemeriksaan intensif sebagai saksi. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karimun membatasi penjualan obat batuk jenis komix ke toko obat/apotik di Karimun. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan obat jenis tersebut di kalangan masyarakat khususnya remaja dan anak-anak untuk mabuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, Rachmadi mengatakan obat jenis komix dapat menyebabkan efek ketergantungan dan ternganggunya sistem saraf apabila dikonsumsi dengan berlebihan.

“Namanya penyalahgunaan obat, pastinya akan menyebabkan terganggunya sistem saraf sehingga berbahaya sekali apabila dikonsumsi secara berlebihan,” kata Rachmadi seperti yang dilangsir di lendoot.com (group mediakepri.co.id).

Untuk mencegah penyalahgunaan obat tersebut, Rachmadi menyampaikan bahwa, pihaknya telah menyebarkan surat edaran terhadap pembatasan penjualan obat jenis komix di Apotik-apotik di Karimun dan sekitarnya serta toko-toko yang tidak mempunyai kewenangan untuk menjual obat.

Rachmadi juga meminta kepada pemilik toko, apabila ada oknum yang ingin menyalahgunakan obat tersebut agar tidak menjual kepada oknum tersebut.

“Biasanya obat dikonsumsi itu minimal tiga hari, apabila dibeli sampai berbox-box sebaiknya jangan dikasi,” pinta Rachmadi.

Seperti diketahui, beberapa waktu belakangan, banyak temuan anggota kepolisian terhadap penyalahgunaan obat batuk komix untuk mabuk oleh anak-anak remaja di beberapa tempat yang sering dijadikan tempat tongkrongan. (kmg)

KRIMINALITAS

Jumat | 22 Desember 2017 | 15:30

Nekad! Suami Tak Kerja 2 Ibu Jualan Obat Terlarang

MEDIAKEPRI.CO.ID, Gowa -Dua orang ibu rumah tangga ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polres Gowa karena mengedarkan obat daftar G jenis tramadol. Keduanya memilih berjualan obat terlarang itu karena suaminya tidak bekerja.

“Mereka tidak bekerja dan suaminya juga tidak kerja, butuh uang sehingga nekat menjual tramadol,” kata Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga, Rabu 20.

Kedua tersangka yakni Ny. Ida dan Ny. Marsinah ditangkap di Pallanga, Kabupaten Gowa pada 9 Desember 2017 lalu. Penangkapan keduanya dilakukan setelah polisi mendapatkan informasi terkait penjualan tramadol yang dilakukan oleh keduanya.

Polisi kemudian menindak lanjuti informasi tersebut dengan melakukan penggeledahan. Saat digeledah di dalam rumahnya masing-masing, ditemukan sejumlah tramadol.

“Ketika digeledah, ada satu tersangka yang menyimpan tramadol di atap rumahnya,” sambungnya.

Lanjut Shinto, kedua tersangka memperjual belikan tramadol secara terselubung. Tramadol dijual dalam kemasan plastik kecil dengan isi 10 butir per plastik.

“Yang beli rata-rata usia remaja. Tersangka beli harga Rp 1.200 per butir, kemudian dijual lagi harga Rp 2.000 per butir,” lanjutnya.

Dari kedua tersangka ini, polisi menyita 671 butir tramadol. Keduanya dipersangkakan UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 196 dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda Rp 1 miliar. (***)

sumber: hariansib.co

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Citra Abelian (5) dirawat di Rumah Sakit Imelda Medan.
Dia menderita luka bakar di tubuhnya yang terus mengeluarkan lendir bercampur darah.

Citra hanya bisa berbaring ke arah kiri.

Hal itu dilakukan agar punggungnya yang melepuh tak menempel ke sprei tempat tidur.

Grid.ID melansir dari Tribun Medan, Citra menderita luka bakar sehingga kulitnya melepuh setelah diberi obat oleh dokter.

“Awalnya Citra demam tinggi sekitar seminggu lalu. Rabu 15 november 2017 malam, kami bawa dia ke dokter di Jalan Metal,” kata ibunda Citra, Yanti (29).

Saat diperiksa, dokter mengatkan Citra mengalami demam biasa.
Kemudian, dokter berinisial FRD memberikan obat termasuk sirup antibiotk.

Namun, setelah itu muncul bintik merah kehitaman di tubuh Citra.
Karena khawatir, keesokan harinya Yanti kembali bertanya pada dokter FRD.

Dokter mengatkan bintik merah kehitaman di tubuh anaknya muncul karena alergi makanan.
Tak kunjung membai, luka di tubuh Citra kian parah dan kulitnya mengelupas.

Nah, mendapati luka anaknya semakin parah, Yanti mebawa Citra ke Rumah Sakit Imelda Medan pada Jumat 17 november 2017.

Dari keterangan pihak rumah sakit, Citra mengalami penyakit Sindrom Steven-Johnson atau kelainan kulit.
Citra hanya bisa mengerang kesakitan akibat luka yang ada di tubuhnya itu.

Kembali dilansir Grid.ID dari Tribun Medan, saat dokter FRD ditemui dia mengatakan awalnya Citra dan orangtuanya datang dengan keluhan badan panas.

Dokter FRD memang memberikan obat.

“Dia itu (orangtua Citra) terprovokasi karena masalah obat. Sebenarnya bukan salah obat, tapi alergi obat,” kata FRD.

Dokter juga menambahkan bahwa obat itu tak pernah diprediksi.

“Bisa saja memang (penyakit itu muncul) karena obat. Tapi bisa jadi tidak,” katanya.

FRD meyebutkan bisa saja kondisi tubuh pasiennya itu yang tidak sehat.

“Kalau betul-betul alergi, gimana dokter bisa disalahkan. Dokter enggak bisa disalahkan. Kita harus punya pengetahuan dulu tentang obat. Bisa saja gangguan di pribadi, bukan salah di obatnya,” tambah FRD.

Dia mengatkan hal itu karena bulan lalu dia memberikan obat yang sama pada seorang pasien,
Tapi kata dokter pasienya tak ada masalah sama sekali setelah itu.

Dokter mengatkan munculnya penyakit pada Citra buka karena dirinya.

“Jadi jangan bilang salah obat. Kalau alergi obat iya. Memang obat itu dari saya,” kata Fredy. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi menyebut NW (30) tega membunuh anaknya, GW (5), karena sering mengompol.
Menurut polisi, NW merasa kesal sehingga melakukan tindakan tersebut.

“Keterangan tersangka, korban sering ngompol atau aktif, sehingga pelaku kesal, sehingga melakukan tindakan atau (memberi) hukuman yang berakibat fatal,” kata Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Roycke Harry Langie kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Barat, Jalan S Parman, Palmerah Jakarta Barat, Minggu 12 november 2017.

Saat kejadian pada Sabtu 11 november 2017 pada pukul 17.30 WIB, di Jalan Asem Raya, Kebon Jeruk Jakarta Barat, di rumah kos pelaku. Selain dipukul, korban diikat dan disemprot oleh obat nyamuk.

Setelah melihat korban lemas, NW panik dan memesan ojek online. Korban langsung dibawa ke RS Graha Kedoya.

“Keterangan dokter, sampai di RS sudah meninggal,” ujar Roycke.

NW dijerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014 Pasal 80 ayat 3, dan pasal 76 c. “Ancaman maksimal 15 tahun penjara,” ucap Roycke. (***)

 

sumber: detik.com

 

 

MEDIAKEPRI.CO.ID, Boyolali – Kondisi wajah Mbah Jiyem digerogoti kanker.

Meski sudah pernah dioperasi, kondisinya tak semakin membaik. Mbah Jiyem tidak bisa menjalani kemoterapi karena tidak ada yang mendampingi. Selama ini hanya bertahan dengan obat dari Puskesmas.

Sebagian wajah Mbah Jiyem telah mengalami kerusakan. Bahkan, hidungnya sudah hilang. Mata kanannya juga sudah kena dan tidak bisa melihat. Sedangkan yang kirinya juga mulai terganggu. Untuk bisa melihat, kelopak mata kirinya harus dibuka menggunakan jari.

Mbah Jiyem sudah pernah menjalani operasi di RSUD Pandan Arang, Boyolali. Seusai operasi, saat itu dokter menyarankan agar menjalani perawatan lanjutan dengan kemoterapi. Namun karena tidak ada yang mendampingi, Jiyem tidak melakukannya.

Mbah Jiyem hidup sebatang kara, kini dia dirawat oleh Pujiati, keponakannya.

Saat Mbah Jiyem diminta melakukan kemoterapi, Pujiati sendiri juga mengalami musibah harus dirawat karena patah tulang tangannya.

Karena itu dia tidak bisa mengantar bibinya itu rutin menjalani kemoterapi.

Selanjutnya saat itu Mbah Jiyem hanya mengandalkan pengobatan rawat jalan. Selanjutnya dia hanya dibelikan obat dari Puskesmas terdekat.

“Kalau obatnya habis, beli sendiri ke Puskesmas. Alhamdulillah, sekarang sudah punya BPJS. Jadi beli obat gratis,” kata Pujiati, Kamis 19 oktober 2017

Petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kemusu, Agus Sugiyarto, membenarkan Mbah Jiyem sudah memiliki kartu BPJS. Sebenarnya pengobatan lanjutan melalui kemoterapi juga ditanggung BPJS.

“Persoalannya, pihak kerabat kesulitan mendampingi serta mengantar ke rumah sakit,” katanya.

Sementara itu Camat Kemusu, Supana, mengaku sudah melakukan koordinasi dengan jajaran terkait guna mencari solusi terbaik terkait perawatan Jiyem.

“Mudah-mudahan ada solusi secepatnya untuk mengurangi penderitannya,” harapnya. (***)

 

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta- Obat-obatan hampir menjadi hal yang tak bisa dipisahkan dari kebutuhan sehari-hari kita. Baik obat untuk sekadar mengusir flu atau demam hingga penggunaannya untuk menangani penyakit yang jauh lebih serius.

Selain jenis dan fungsinya, sarana distribusi obat juga cukup beragam mulai dari warung, supermarket, hingga toko obat.

Toko obat dan apotek merupakan dua sarana yang memang khusus menjual obat-obatan. Kendati memiliki fungsi yang sama dan sama-sama memerlukan izin untuk bisa memperjualbelikan obat, tahukan Anda kedua tempat ini memiliki perbedaan?

Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan DKI Jakarta Dewi Prawitasari menjelaskan bahwa toko obat, kendati sudah diberi izin usaha, hanya boleh menjual obat bebas dan bebas terbatas yang memang sudah terdaftar di Balai POM.

Obat terbatas merupakan obat yang bisa dijual secara bebas tanpa memerlukan resep dokter dan memiliki dot hijau pada kemasannya.

Sementara itu, untuk obat bebas terbatas, kendati konsumsinya tidak memerlukan resep dokter, memiliki peringatan khusus pada kemasannya terkait cara penggunaan.

Adapula syarat lain yang harus dipenuhi okeh toko obat resmi yang diizinkan beroperasi yakni adanya penanggung jawab dari kalangan praktisi.

“Toko obat harus punya izin dan penanggung jawab tetapi cukup asisten apoteker,” katanya.

Adapun untuk apotek, selain harus memiliki izin juga harus memiliki penanggung jawab berupa tenaga ahli yang disebut apoteker.

Apotek, selain menjual obat bebas dan bebas terbatas, juga diberi kewenangan untuk menjual obat keras serta obat berjenis psikitropika tetapi harus dengan resep dokter.

Untuk bisa mengenali, obat keras merupakan obat yang memiliki dot merah dengan huruf K pada kemasannya.

Adapun pembelian obat-obatan di tempat-tempat selain kedua tempat ini tidak dianjurkan.

Sumber : kabar24.com