Oleh-Oleh Haji di Tanah Air

NEWS

Jumat | 15 September 2017 | 21:15

Oleh-Oleh Haji di Tanah Air

MEDIAKEPRI.CO.ID,JAKARTA-Rangga dan ibunya baru saja sampai di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa 12 September 2017. Layaknya jamaah yang baru pulang dari Tanah Suci, mereka pun membawa buah tangan yang dibeli dari pasar di Makkah, Madinah, atau Jeddah.

Rangga mengaku membawa kurma, tasbih, pakaian Muslim, hingga air zam zam. Hanya, untuk mengantisipasi batas kuota barang, jamaah pada umumnya membeli oleh-oleh di Tanah Air.

Salah satunya di sentra oleh-oleh haji di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Pada musim haji, kios oleh-oleh yang terdapat di lantai LG Blok B cukup laris dibanjiri pembeli dibandingkan hari biasa.

Kepada Republika.co.id, belum lama ini, salah satu pen jaga kios oleh-oleh haji, Septi Wibowo, meng akui, ada peningkatan pembeli ke tika masuk musim haji. Namun, jika di ban dingkan musim haji tahun se be lum nya, pembeli mengalami penurunan cu kup signifikan. “Tahun ini menurun, beda jauh, saya tidak tahu kenapa,” kata Septi.

Menurut dia, pembeli biasanya banyak mencari kurma, kismis, dan kacang. Jika musim haji, mereka membeli dalam jumlah banyak, misalnya kurma bisa membeli satu hingga tiga kardus. Untuk hari-hari biasa, pembeli lebih banyak membeli dalam jumlah kiloan.

Sudah tujuh tahun Septi berdagang oleh-oleh haji. Namun, ia baru tiga tahun berjualan di Pasar Tanah Abang. Barang yang dijualnya mayoritas produk impor, terutama yang tidak mungkin didapatkan di Indonesia, seperti kurma dan air zamzam.

Dari pantauan Republika.co.id, kios milik Septi menjual puluhan jenis oleh-oleh haji, seperti kurma, kismis, kacang, minyak wangi, guci, tasbih, dan gelas. Di samping kios Septi, terdapat delapan kios lainnya yang juga menjual oleh-oleh haji.

Ragil, pedagang lainnya, juga mengakui, geliat masyarakat membeli oleh-oleh haji pada musim ini menurun dras tis dibandingkan tahun sebelumnya. Ta hun lalu, pendapatannya pada Sabtu dan Ahad bisa mencapai Rp 10 juta setiap harinya. Tahun ini, menurut Ragil, jauh di bawah angka tersebut. “Kalau seka rang jauh sekali, enggak nyampe Rp 10 juta per harinya,” kata Ragil.

Ragil memulai usaha ini sekitar dua tahun lalu. Ia berharap, dengan masih banyaknya jamaah haji di Tanah Suci, penjualannya bisa lebih meningkat. Untuk mendongkrak omzet penjualan, beberapa toko mencoba berdagang di dunia maya alias daring (online).

Sumber : Republika