Penipuan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Taput –  Banjir Simanjuntak Balon Bupati Taput (Tapanuli Utara) Pilkada 2014 berencana melaporkan Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan ke Bareskrim Mabes Polri atas dugaan melakukan penipuan dan atau penggelapan (pelanggaran Pasal 378 KHUP) sebanyak Rp 5,9 miliar lebih dengan alasan pembelian sebuah apartemen di Jakarta.

Dipaparkan kepada awak media, Kamis, 2 Agustus 2018 awal adanya transaksi permintaan uang bernilai Rp 5,9 miliar lebih adalah atas pertimbangan persahabatan baik Banjir dan Nikson sejak 2014 silam, yang mana Banjir Simanjuntak yang gagal diputaran pertama dan atas mediasi David Hutabarat kala itu mengajak Banjir Simanjuntak bergabung mendukung Nikson Nababan pada putaran kedua.

“Desember 2015 pertama sekali melakukan pembicaraan yang sangat serius dengan Nikson Nababan. Nikson Nababan menyampaikan ada niat untuk membeli apartemen di Jakarta, alasannya apabila Nikson Nababan berangkat ke Jakarta selalu dikerumuni teman-temannya di hotel”,ucap Banjir.

“Berikan Pak Banjirlah dulu uang kepada Indra Simaremare biar[cut] dapat saya belikan apartemen dan Bapak sampaikan kepada Indra Simaremare ini pesan dari saya,” terang Banjir Simanjuntak menirukan percakapan Banjir Simanjuntak dengan Nikson Nababan pada tanggal 14 Desember 2015.

“Keesokan harinya saya menemui Indra Simaremare ke kantor Bappeda. Saya menceritakan perbincangan dengan Nikson Nababan. Pada saat itulah Indra Simaremare meminta Rp500 juta rupiah”,tutur Banjir kepada awak media.

Selanjutnya dipaparkan Banjir Simanjuntak pada tanggal 31 Desember 2015, Kepala Dinas PUPR Ir Anggiat Rajagukguk meminta Rp 50 Juta dan hal ini dia pertanyakan kepada Indra Simaremare karena belum ada perintah dari bupati Nikson Nababan kepadanya.

“Kemudian Indra Simaremare mengatakan kepada saya agar diberikan saja. Dan pada 15 Juni 2016 Kepala Bappeda Taput, Indra Simaremare, meminta kepada saya sebesar Rp 500 juta melalui pengiriman Bank Sumut. Begitulah terus berlanjut sehingga terkumpul sebesar Rp 4.625.000.000 melalui Indra Simaremare,” ungkapnya.

“Dana Rp 5,9 miliar lebih mengalir kepada sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah atas persetujuan Nikson Nababan selaku bupati Tapanuli Utara”,tutup Banjir mengakhiri keterangannya kepada awak media. (***)

sumber: topinformasi.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Missed call misterius dari nomor internasional bukan hanya dialami sejumlah warga di Indonesia, tapi juga di dunia. Fenomena yang sudah beberapa kali terjadi ini dinamakan Wangiri.

Seperti dilansir Global News, sejumlah warga Kanada pada Februari 2018 melaporkan missed call dari nomor misterius. Nomor telepon itu memakai kode dari negara Albania, Makedonia, hingga Seychelles.

Seorang warga Kanada bernama Ebun Adewole menerima missed call misterius itu pada pukul 02.00 dan sempat mengira itu berasal dari kerabat di luar negeri. Sejak saat itu, dia kerap mendapat missed call serupa dari macam-macam negara.

Calgary Better Business Bureau (BBB) menyebut fenomena itu adalah penipuan bernama Wangiri. Wangiri adalah kata dalam bahasa Jepang, yang berarti ‘sekali dering dan tutup’.

Seperti dilansir abc.net.au, sejumlah warga Australia ternyata mengeluhkan hal yang sama pada Februari 2018, panggilan telepon misterius dari nomor internasional yang berujung missed call. Saat itu, warga Australia melapor dapat missed call dari nomor Papua Nugini, Kongo, Slovenia, hingga Belgia.

“Ini adalah penipuan telepon premium. Mereka menelepon Anda, membiarkan telepon berdering 1 kali dan mematikannya. Mereka melakukan itu berulang kali agar Anda menelepon balik,” kata Komisi Kompetisi Usaha dan Konsumen Australia Delia Rickard seperti dilansir dari ABC.

Jika ‘korban’ menelepon balik, tagihan telepon akan membengkak. Tagihan itu sebagian besar akan masuk ke kantong penipu yang menelepon tersebut.

Seorang bocah berusia 10 tahun di Brisbane, Australia, pernah jadi korban. Bocah bernama Leo Carrington itu dibombardir missed call dari kode telepon Pulau Ascension yang ada di Afrika.

Orang tuanya yang curiga lalu menelepon balik nomor tersebut. Telepon kemudian diangkat oleh seorang perempuan yang tidak berbahasa Inggris dan tidak menjawab teleponnya.

Regulator di Kongo sendiri sudah pernah mengeluarkan peringatan terkait Wangiri. Seperti dilansir africanews, Badan Komunikasi Elektronik dan Perwakilan Pos (ARPCE) di Republik Kongo telah mencatat peningkatan penipuan yang melibatkan panggilan tidak terjawab di negara tersebut pada Februari 2018.

“Selama beberapa bulan terakhir, bentuk penipuan telepon telah merajalela di Kongo adalah Wangiri, juga dikenal sebagai penipuan panggilan tidak terjawab,” demikian keterangan dari ARPCE.

ARPCE menyebut para penipu biasanya mendapat nomor telepon korban dari informasi yang diberikan korban saat melakukan sign up untuk aplikasi atau kontes secara online.

Penipuan dengan modus ini pernah beberapa kali terjadi di Indonesia. Yang terbaru, sejumlah warga mendapat missed call dari nomor Kongo hingga Madagaskar sejak kemarin sampai hari ini. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Elvy Sukaesih dituduh oleh Mega Makcik, seorang penyanyi asal Singapura, yang mengaku tidak menerima royalti dari lagu berjudul ‘Lengket’ yang berada di salah satu kompilasi lagu milik Elvy Sukaesih.

Sebuah produksi EMMI Pro milik Elvy Sukaesih telah menjanjikan untuk mengorbitkan dirinya setelah membayar Rp 60 juta lima tahun yang lalu.

“Aduh Masya Allah apa kabar Mega Makcik? Nggak sangka nih kamu kayak gini ya, luar biasa,” ujar Elvy saat ditemui usai mengisi acara ‘Rumpi No Secret’ di Gedung TRANS TV, Tendean, Jakarta Selatan, Kamis, 29 Maret 2018.

Elvy pun mengaku telah banyak saksi yang bisa menyatakan bahwa pernyataan Mega Makcik itu tidak benar.

“Saksinya banyak. Nggak, nggak bisa aku nggak bisa kasih komentar. Lagian kalau buat album pasti ngeluarin uang kan?” tambah Elvy.

Mega Makcik merasa tidak diberikan royalti berikut dengan beberapa janji yang diperuntukan baginya, seperti mengunggah video klipnya di YouTube.

“Umi itu belum tau permasalahannya itu apa. Jadi tentunya Umi tidak bisa berkomentar. Betul kan? Jadi nanti kalau udah tau permasalahannya apa baru Umi berkomentar, oke,” tukas Fitria Elvy, putri Elvy Sukaesih.

Pihak Mega Makcik telah melayangkan somasi pada tanggal 22 Maret 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Masih maraknya penipuan bermodus hadiah mengatasnamakan Go-Jek, menandakan perlunya peningkatan kesadaran pengguna terkait data-data sensitif agar tidak disebarluaskan begitu saja.

Pakar keamanan internet dari Vaksincom, Alfons Tanujaya mengungkapkan, pelaku kejahatan akan berupaya semaksimal mungkin untuk melancarkan aksinya. Hal itu dilakukan agar korban lengah dan percaya.

Terlebih dengan tingginya popularitas Go-Jek, kemungkinan besar pelaku akan berusaha menghubungi korban dan berpura-pura sebagai petugas dari Go-Jek.

“Bagi orang awam, informasi nomor telepon, nama, email, dan kredit balance, value-nya mungkin biasa saja. Tetapi di tangan orang yang ahli, data-data ini menjadi harta karun,” sebut Alfons dihubungi detikINET, Jumat 16 Februari 2018.

Alfons mengungkapkan pada 2016, database Go-Jek pernah bisa diakses begitu saja karena tidak terproteksi. Ketika itu, kekhawatiran muncul karena database tersebut bisa disalahgunakan.

Namun berdasarkan pantauan Vaksincom, celah keamanan itu sudah ditutup oleh Go-Jek dan data sudah tidak bisa diakses lagi dari luar.

Meski demikian, Alfons memberi catatan, ketika celah keamanan itu ditemukan, butuh waktu lama bagi Go-Jek untuk mengatasinya.

Dengan asumsi tidak ada celah keamanan baru pada rentang saat menambal celah tersebut, bisa jadi ada pihak yang sudah mendapatkan database Go-Jek dalam jumlah cukup besar di 2016.

Namun jika ada celah keamanan baru (pasca celah yang terungkap di 2016), maka data pengguna terbaru lah yang di dapatkan para pelaku penipuan.

“Lalu, data tersebut dijual. Dan pihak yang membeli data tersebut, yang saat ini melakukan eksploitasi dengan melakukan rekayasa sosial menelepon satu per satu pemilik akun Go-Jek yang datanya bocornya kemarin,” sebutnya.

Alfons mengatakan, hal itu harus bisa dideteksi oleh pihak Go-Jek dengan memperhatikan siapa saja korbannya yang menjadi rekayasa sosial ini.

“Apabila korbannya adalah pelanggan lama (datanya sudah ada sejak dua tahun yang lalu) dan tidak ada korban dari akun baru, bisa jadi ini benar. Kalau tidak, berarti hipotesisnya salah,” sebutnya.

Alfons menyebutkan, ada baiknya Go-Jek mengindentifikasi database lama yang kemungkinan pernah bocor dan melakukan tindakan preventif yang perlu dilakukan.

“Salah satunya adalah menginformasikan secara selektif kepada pelanggan lama yang datanya mungkin bocor untuk tidak mudah percaya dengan telepon rekayasa sosial,” kata Alfons.

“Kalau perlu membentuk tim task force untuk mengidentifikasi dan memburu pelaku penipuan ini karena ini mencoreng nama Gojek. Tentunya dalam hal ini perlu kerjasama dan komunikasi aktif dengan pihak berwenang,” tutupnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banjarmasin – Anda pelanggan kartu pra bayar atau pasca bayar Telkomsel? Sebaiknya cermati dan waspada terhadap penipuan yang atas namakan Telkomsel.

Terkait maraknya penipuan yang mengatasnamakan Telkomsel, Telkomsel mengimbau kepada pelanggan untuk selalu waspada.

Modus penipuan seringkali dilakukan melalui telepon, SMS, atau pesan instan dengan mengatasnamakan Telkomsel dan kemudian meminta informasi password atau kode verifikasi MyTelkomsel yang dikirimkan melalui SMS.

Pelanggan tidak perlu menanggapi permintaan tersebut dan tidak menginformasikan kode tersebut kepada siapa pun.

Dijelaskan General Manager External Corporate Communications Telkomsel Denny Abidin, Telkomsel tidak pernah meminta password atau kode verifikasi kepada pelanggan untuk alasan apapun. Kode ini harus selalu dijaga kerahasiaannya seperti halnya PIN ATM atau bank.

Dengan memberikan password atau kode verifikasi kepada orang lain sama saja dengan memberikan akses kepada orang lain untuk melakukan aktivitas apapun melalui aplikasi MyTelkomsel.

Selain meminta password atau kode verifikasi aplikasi MyTelkomsel, modus penipuan juga seringkali meminta pelanggan untuk memberikan kode verifikasi atas pembelian layanan Telkomsel yang terkirim melalui SMS.

“Apabila pelanggan merasa tidak melakukan aktivitas yang disebutkan dalam SMS, pelanggan tidak perlu menanggapi SMS tersebut dan tidak menginformasikan kode verifikasi tersebut apabila diminta oleh pihak tidak dikenal,” kata Denny.

Dalam menyampaikan segala informasi untuk pelanggan, baik mengenai program, layanan, produk, ataupun promosi berhadiah, Telkomsel selalu menggunakan mekanisme pemberitahuan resmi.

Yaitu seperti melalui surat, pemberitaan di media massa nasional, informasi di GraPARI terdekat atau di Call Center Telkomsel, serta situs resmi perusahaan www.telkomsel.com, termasuk untuk pengumuman pengumuman pemenang undian Pesta Blanja Poin Telkomsel.

Informasi lebih lanjut mengenai penipuan yang mengatasnamakan Telkomsel dapat dilihat di https://www.telkomsel.com/support/waspada-penipuan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Adik kandung Julia Perez, Anggitha Perez baru saja terkena musibah menyebalkan.

Ia mengalami penipuan kala hendak membeli sebuah ponsel melalui Bukalapak.

Melalui akun Instagramnya, ia pun mengunggah kronologis kejadian tersebut.

Unggahan Anggitha (Instagram)

“Hallo Semua, Saya mau infokan nih telah terjadi PENIPUAN belanja online di @bukalapak

Kronologis ceritanya begini; semalam sy Niat hati mau beliin hp seken buat pembantu dirumah yg hpnya lagi rusak,

akhirnya sy cari2 via online shooping dan dapetlah harga yg sesuai dng budget di @bukalapak dng penjual/seller yg bernama: HERRY

kami komunikasi via inbox chat @bukalapak yg akhirnya berlanjut via whatsapp.

Sy langsung bayar barangnya malam itu juga melalui M-banking dan setelah bayar penjual minta nomer pribadi saya (sy pikir utk info nomer resi pengiriman barangnya) jd sy kasih.

Nah akhirnya kita chat via WA dan si penjual mengirimkan Link dng alesan itu harus diisi buat diskon(sbnrnya sih sy sdh agak2 curiga)

dan katanya sudah harus diisi krn itu perjanjian antara penjual dan @bukalapak klo tidak barang tidak akan dikirim.

Akhirnya dng kebegoan sy sy isi juga itu link yg dikirimin si penjual dan akhirnya pagi ini pas sy check status pengiriman barang di aplikasi @bukalapak ternyata statusnya “sudah diterima”

lucunya seolah2 sy juga memberikan komen kpd si penjual atas pengirimannya. saya lsg kaget dan berusaha menghubungi si penjual via wa dan tidak ada jawaban bahkan nomer saya di blocked!!

Fixed Saya kena PENIPUAN!!!

Sy sdh hubungi @bukalapak via nomer tlp customers service dan jawaban dari si Mbak CC adalah; tunggu dari kami info selanjutnya

pas sy tanya apakah uang sy akan sikembalikan?

Mbak [email protected] bilang; utk masalah itu kami belum bisa jawab!

bahkan si mbak costumer servicenya bilang kenapa mau isi link yg dikasih?

Ya sy akui saya salah dng itu tapiii sy tidak menyangka bahwa belanja online sekelas @bukalapak yg sy sdh percayai bisa terjadi Penipuan????!

Dan sy transaksinya via @bukalapak loh jadi bukan sy kirim uang lsg ke sellernya.

Makanya yg terjadi dng sy isi data itu si penjual bisa dng “bebas” ngehack ke aplikasi @bukalapak sy saat sy terlelap tidur

(bisa dilihat masa jam terkirim barang jam 4:30 pagi? Itu pake ekspedisi apaan ya subuh2 nganterin barang?!

Saya sudah iklas dng kejadian ini, saya ceritakan disini agar untuk teman2 lainnya WASPADA dlm berbelanja online dan semoga hal ini tidak terjadi lagi ke yg lainnya.

Terimakasih,” tulis Anggita.

Kejadian yang menimpa adik Jupe itu pun langsung mendapat beragam komentar dari netizen.

“Yang sabar ya kaka @anggitheperez niat baik selalu ada jalannya kok. Yang penting kaka ikhlasin aja uangnya. Orang jahat nanti juga ketangkep. Semoga dibalaskan selalu rezeki kaka @anggitheperez aminnn,”

“Sabar kk @anggitheperez nanti akn ada blesanya Aaminn,”

“Omg…skrg mmg Gk aman Blnj online…dy jg pernah ketipuuuu,”

“Sabar kak skrg kalo gak kerja begitu mungkin gak dapet uang nanti allah yg akan bales semuanya dan semoga allah mengganti rezeki kak nia amin . Tlg @bukalapak diselesaikan dengan baik,”

“Iyah jam pengiriman sama penerimaan masa beda satu menit ckckck,” (***)

 

sumber: tribunnews.com

 

MEDIAKEPRI.CO.ID, Ponorogo – Berhati-hatilah bila melamar lowongan pekerjaan yang ditawarkan melalui media sosial. Alih-alih mendapat pekerjaan, justru bisa kehilangan uang.

Seperti dialami empat orang asal Ponorogo ini. Mereka menjadi korban penipuan dengan modus operandi penawaran lowongan pekerjaan yang ditawarkan melalui facebook oleh pelaku bernama Eko Sumarno (30), warga Dukuh Tugunongko, Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Ponorogo.

Empat orang korban penipuan tersebut bernama Devila Rosa, Dika Pipit Novita, Doni Irawan, dan Agung Suryanto.

Mereka terlanjur, menyerahkan sejumlah uang sebagai syarat bila ingin menjadi karyawan di koperasi yang ditawarkan pelaku.

Kasubbag Humas Polres Ponorogo, AKP Sudarmanto, mengatakan Eko Sumarno ditangkap polisi di rumah makan Kampung Dawet, Desa Demangan, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Selasa 17 oktober 2017siang.

Penangkapan tersangka berdasarkan laporan dari korban bernama Dika Pipit Novita pada Senin 16 oktober 2017.

“Korban dijanjikan pekerjaan di koperasi, namun dengan syarat membayar sejumlah uang tunai kepada pelaku,” kata Sudarmanto saat dikonfirmasi, Rabu 18 oktober 2017.

Meski telah membayar sejumlah uang, namun korban tak kunjung dipanggil untuk bekerja.

Merasa ditipu, Devila Rosa yang telah menyerahkan uang Rp 5 juta kepada pelaku, akhirnya melapor ke polisi.

Selain menangkap pelaku, polisi jiga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya selembar kuitansi penyerahan uang tunai Rp 5 juta dari Devila Rosa yang diminta pelaku untuk jaminan masuk kerja, sebuah ID card KSP Primkoferi atas nama Devila Rosa, empat lembar surat perjanjian kerja , dan satu bendel dokumen persyaratan pelamar pekerjaan.

“Saat ini kami masih memeriksa sejumlah saksi dan pelaku.

Pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan dipenjara di rumah tahanan Polres Ponorogo,” kata Sudarmanto.

Sedang korban penipuan, Dika Pipit Novita, mengaku awalnya mengetahui lowongan pekerjaan itu dari Facebook. Karena tertarik, korban menghubungi pelaku dan melamar kerja di bagian administrasi.

Pada awalnya, ia diminta uang pendaftaran senilai Rp100.000. Setelah dinyatakan lolos, Dika kemudian diminta mendaftar BPJS Ketenagakerjaan tanpa mengisi formulir dan diminta menyetorkan uang senilai Rp 5 juta.

Uang Rp 5 juta itu, kata Dika, sebagai jaminan agar ia tidak ditempatkan bekerja di luar Ponorogo.

“Uang Rp 5 juta itu untuk memastikan agar ditempatkan kerja di Ponorogo. Kalau tidak membayar, ditempatkan di Kediri atau Nganjuk,” kata warga Kecamatan Sampung ini.(***)

 

MEDIAKEPRI.CO.ID,  Jakarta – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri masih mengembangkan kasus dugaan penipuan PT First Anugerah Karya Wisata atau First Tavel, pada puluhan ribu calon jemaah umrah.

Seperti yang dilansir oleh liputan 6, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, pihaknya mendapati adanya utang First Travel mencapai Rp 104 miliar.

Bos First Tavel, kata Setyo, berutang pada sejumlah pihak di antaranya pengurus tiket pesawat dan sejumlah hotel di Arab Saudi.

“Tersangka AH berutang kepada dua orang, kepada yang mengurus tiket (pesawat), itu Rp 80 miliar, dan kepada yang mengurus hotel dan konsumsi di Arab Saudi Rp 24 miliar. Jadi total ada utang Rp 104 miliar,” kata dia di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (20/8/2017).

Karena itu, Setyo menjelaskan pihaknya masih menelusuri aset dari tiga tersangka, yaitu Andika Surachman selaku direktur utama, Anniesa Desvitasari Hasibuan (AH) selaku direktur, dan Siti Nuraidah Hasibuan sebagai komisaris.

Sejauh ini, Setyo melanjutkan, pihaknya sudah menyita aset milik ketiga tersangka, mulai mobil mewah hingga rumah.

“Semoga kami bisa ketahuan aset-asetnya di mana. Baik aset bergerak maupun tidak bergerak,” Setyo menandaskan.

Dalam kasus First Tavel, polisi menduga ada tindak pidana money laundering atau pencucian uang dari dana jemaah umrah. Karena itu, polisi akan bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), untuk menelusuri dugaan pencucian uang.***