Penyelundupan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Bareskrim Polri dan Bea dan Cukai mengungkap temuan sabu di perairan Anambas, Kepri.

Sebuah kapal yang bergerak dari Malaysia menuju Taiwan disergap. Kapal ini diketahui membawa 1,6 ton sabu. Kini total sabu yang berhasil diungkap di perairan itu bila digabungkan bersama temuan BNN dan TNI AL beberapa waktu lalu menjadi 3 ton.

“Hari ini Bareskrim dan Bea Cukai di tempat yang sama berhasil tangkap lagi, (jadi) 3 ton,” kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa 20 Februari 2018.

1 Ton Sabu yang Diselundupkan Kapal Sunrise Glory Diserahkan ke BNN Polisi Tangkap Pengedar Sabu di Mangga Besar

Menurut Buwas, kapal ini diketahui bolak-balik di perairan itu sejak Desember 2017. ” Yang pasti kita belum tahu, tapi sudah bolak -alik sejak Desember. Dan ini sedang ditelusuri,” tegas dia. Kapal ini kini dibawa menuju ke Pelabuhan Sekupang, Batam, dari kawasan Anambas.

Berikut Kronologisnya :

Diawali dengan penangkapan KM 61870 berbendera taiwan tidak memiliki sama sekali dokumen resmi yang dibawa saat berlayar,kapal memiliki spesifikasi dengan jenis kapal merupakan kapal ikan, memiliki anak buah kapal sebanyak 4 orang dan tidak.memiliki Paspor

KM 61870 berbendera Taiwan bermuatan jaring pukat ikan saat diperiksa muatan kapal kosong, namun di kapal ditemukan jaring trawl

Pukul 10.30 Patroli Bae Cukai 20007 menarik kapal KM 61870 berbendera Taiwan ke Dermaga Zetty Kawasan Logistik Sekupang dan rencana pihak Bea Cukai akan memeriksa isi kapal KM 61870 Pukul 12.15 Tim dari Bea cukai Batam berjumlah 15 orang melakukan pemeriksaan isi Kapal KM 61870 yang berbendera Taiwan .

Tersangka 4 ABK Kapal diperiksa oleh Tim Mabes Polri melalui Trannslate dan didapat data sbb :

a. Nama ABK

Than may Chan, umur 69 th
Than Yiie, umur 33thn
Than Chun wiu , umur 43 thn
Shei Leui hua , umur 63 thn

b. KM 61870 Berbendera Taiwan berlayar dari pelabuhan Wu zhung Neagara RRC China dan kapal ini milik Mr.Lau kapal KM 61870 ini sudah berlayar selama 40 hari dari RRC untuk mencari kepiting.

c. ABK kapal KM 61870 ini diberi gaji.sama.pemilik kapal sebesar 15.000 yen dan mereka baru bekerja di Pakal tersebut.

Sampai saat ini KM 61870 berbendera Taiwan masih berada di Dermaga Zetty Kawasan Logistik Sekupang dan dalam pengawasan pihak Bea Cukai Batam

Pukul 13.30 Tim gabungan Bea dan Cukai dan Mabes Polri melakukan pemeriksaan dengan anjing pelacak Bea Cukai ditemukan 86 karung diduga Narkoba sabu sabu dipalka KM 61870.(***)

Sumber: kmg

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kepri dan Bea Cukai Tipe B Batam menggagalkan jaringan penyelundup narkotika jenis sabu di Bandara Hang Nadim Batam. Tindakan tim gabungan ini mampu menjegal sabu seberat 66,043 kg asal Singapura.

Kapolda Kepri Irjen Pol Didid Widjanardi mengatakan, sabu tersebut terdeteksi saat pemeriksaan x-ray oleh petugas BC di kargo Bandara Hang Nadim, 16 Januari 2018.

Dari pemeriksaan itu ditemukan barang bukti narkotika diduga sabu sebanyak dua koli barang ekspedisi milik PT IDL Batam, yang belum diketahui siapa pemiliknya. Alamat tujuan barang tersebut yakni PT DC yang beralamatkan di Jalan Pancoran 2 no 3, Jakarta Selatan.

“Kita lakukan pengejaran. Lalu anggota Ditresnarkoba Polda Kepri dan Petugas BC berangkat ke Jakarta untuk penyelidikan lebih jauh,” ujar Didid, Senin, 29 Januari 2018.

Disebutkannya ada dua orang yang berusaha mengambil barang haram ini. Lalu, kedua tersangka berinisial Bw (27) dan Za (28) ditangkap. Dan pengakuan kedua tersangka mereka menjalani perintah pelaku yang dutetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) berinisial B.

“Dari keterangan BW dan Z, mereka mengambil 66,043 kg sabu itu atas perintah dan arahan tersangka inisial B, yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO),” ucap Didid.

Didid menjelaskan, selain jalur Batam-Jakarta, dari hasil pengembangan, pelaku kerap menggunakan jalur Medan-Jakarta, Jakarta-Surabaya, Palembang-Surabaya, Pekanbaru-Surabaya, Pontianak-Surabaya, Batam-Tangerang, serta Jakarta-Banjarmasin.

“Selain dikemas di bungkusan deterjen, pengiriman juga kerap dilakukan dengan dikemas di dalam mesin cuci dan dikirimkan via kargo,” imbuh Didid.

Saat ini kedua tersangka dan sejumlah barang bukti sudah berada di Polda Kepri. Kedua tersangka, dijerat pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 112 ayat (2) junto pasal 132 ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman pidana mati atau seumur hidup.

Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Tipe B Batam, Susila Brata mengatakan, kecurigaan bermula saat dilakukan x-ray. Citra atau gambarnya saat diperiksa terlihat mencurigakan, termasuk dengan analisis pemberitahuan pabeanannya meragukan.

“Dari sanalah dilakukan pemeriksaan dan diketahuilah dari bukti fisik barang mengarah ke arah narkoba,” tutur Susila Brata.

Namun, hal ini tidak bisa dipastikan melalui kasat mata. Hingga pihaknya berkoordinasi dengan Polda Kepri dan petugas BC di Cangkareng, hingga pelaku bisa dibekuk di PT DC saat akan mengambil barang haram tersebut.

Polisi menangkap seorang pemasok sabu kepada artis yang berstatus tersangka penyalahgunaan narkotika Jennifer Dunn. (bayu wasono/int)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bintan- Misteri dibalik 2 kontainer minuman keras golongan A (miras-red) ilegal yang di tangkap KPPBC Tipe Madya Pabean B Tanjungpinang di Kijang, Kecamatan Bintan Timur, Jumat (25/8/2017) lalu masih menjadi tanda tanya besar bagi awak media. Pasalnya, penanganan kasus miras ilegal golongan A  tersebut terkesan ada yang ditutup-tutupi.

Ribuan kardus berisi miras dengan berbagai merek itu hingga saat ini pihak BC bungkam bagaikan di lem “altico”, alasan mereka karena masih melakukan penyelidikan. Diketahui, bahwa jasa transportasi untuk pengiriman barang haram itu milik PT Maratus Line (PT ML) cabang Tanjungpinang. Informasinya, PT ML sebagai penyewa 2 kontainer itu pengusaha dari Tanjungpinang.

Anehnya, saat pihak BC melalui Kepala Seksi (Kasi) Penyuluhan dan Komunikasi KPPBC Tipe Madya B Tanjungpinang Marlion bungkam saat di konfirmasi awak media Jumat (08/09/2017). Marlion selalu berdalih masih dalam penyelidikan, sambil bergegas meninggalkan awak media saat beberapa wartawan menanyakan prihal siapa pemilik miras tersebut.

“Siapa pemiliknya sekali lagi saya jelaskan, masih dalam penelitian dan penyelidikan. Saya tak bisa sampaikan siapa pemiliknya, memang minuman miras ilegal itu berusaha diselundupkan ke Jakarta. Penanganan kasus ini akan dilimpahkan ke Kantor Pusat Dirjen Bea Cukai, kerena kasus ini ada kaitannya dengan penangkapan yang di Jakarta,” ujar Marlion

Ironisnya, di saat awak media di sibukan dalam konfimasi di kantor Bea dan Cukai di Tanjungpinang, dua kontainer berisi miras ilegal tersebut diangkat untuk di kirim ke Jakarta melalui Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kecamatan Bintan Timur, Jumat (08/09/2017) sekitar pukul 15.00 WIB, menuju pelabuhan Sri Bintan Pura Hingga naik ke kapal Maratus Sibolga.

Pantauan di lapangan, pengiriman dua kontainer berisi miras ilegal tersebut menggunakan kapal Maratus Sibolga. Pengangkutan kedua kontainer tersebut disaksikan pihak Bea dan Cukai pada saat dimuat ke kapal.

Diduga, dua kontainer miras ilegal tersebut di lindungi oleh pihak KPPBC Tipe Madya Pabean B Tanjungpinang?

Bungkamnya Bea dan Cukai terkait kepemilikan barang haram miras ilegal golongan A itu, menjadi pertanyaan besar bagi awak media siapa sebenarnya pemilik miras dua kontainer tersebut.

Dalam hukum yang berlaku di Indonesia pemilik miras ilegal tersebut terancam Undang Undang nomor 39 tahun 2007 atas perubahan UU no 11 tahun 1995 tentang Cukai. (karmila/bob)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Puluhan aktivis mendatangi kantor Bea dan Cukai Batam untuk mempertanyakan mengenai tangkapan ribuan handphone dan rokok, Kamis (7/9/2017). Mereka minta BC untuk melanjutkan proses hukum penyelundupan milik pengusaha berinisial Ah.

Aksi diikuti sekitar 30 orang, alat yang digunakan dalam aksi diantaranya Megaphone dan spanduk yang bertuliskan meminta Kepala BC Batam yang baru untuk mencopot Kabid p2 dan kasi P2 Batam, meminta agar menangkap pelaku dan pemilik puluhan ribu hp xiomi yang diduga milik pengusaha AH dari Batam.

Pendemo juga minata BC Kepri, tangkap dan penjarakan mafia rokok yang sangat merugikan negara, karena terbukti berbagai merk rokok non cukai yang diselundupkan keluar Batam dan banyak yang sudah tertangkap di Kuala Tungkal.

Selain itu pendemo minta BC bongkar mafia penyelundup minuman keras oplosan di Batam diduga milik pengusaha dari Karimun.

Adapun tuntutan yang disampaikan pada saat aksi, meminta Kejari Batam memproses secara hukum terhadap tangkapan Bea Cukai. Meminta klarifikasi Bea Cukai Batam terkait penangkapan kontainer ballpress dari China, dan meminta Dirjen Bea Cukai Batam menginvestigasi modus penyelundupan di Batam dan menghentikan mafia rokok non cukai.

Pada saat orasi massa aksi melemparkan telor busuk dan tomat busuk sebagai simbol bobroknya kinerja BC Batam dan sempat terjadi aksi dorong pagar serta membakar spanduk karena tidak ada perwakilan dari BC Batam yang menemui massa aksi.

‎Edi Susilo selaku Koordinator aksi dalam orasinya mengatakan prihatin dengan kinerja Bea dan Cukai Batam dalam menangani perkara barang-barang yang masuk ke Batam secara ilegal dan adanya kerjasama yang ilegal dengan para penyelundup sehingga penyelundupan barang terus marak terjadi.

Disisi lain, Bea dan Cukai Batam hingga saat ini tidak pernah mengklarifikasi dan mempublikasikan terhadap hasil tangkapan kepada masyarakat Batam dan kepada kepala BC Batam yang baru untuk memecat kasi P2 dan kasi pengawasan untuk di copot dari jabatannya

Disamping itu, BC Batam telah terbukti lalai dalam kerjanya karena lolosnya 3 Kontainer yang berisi pakaian bekas (balpres) yang di tangkap oleh polsek Batam Kota yang akan di kirim ke Jakarta dan tertangkapnya penyelundupan HP oleh BC Kepri ini menunjukan bahwa Batam surganya bagi penyelundup.(agus)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Indonesia-Malaysia melakukan operasi patroli terkoordinasi yang disebut dengan operasi Patkor Kastima, Kamis (7/9/2017). Kegiatan ini adalah tindakan untuk penguatan untuk mengantisipasi tindak kejahatan penyelundupan.

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pamudi mengatakan, Operasi ini melibatkan dua negara serumpun antara Indonesia dan Malaysia. Dimana, katanya, kegiatan guna mengamankan perairan Selat Malaka dari tindakan ilegal yang merugikan dan mengancam kedua negara.

“Operasi kali ini merupakan yang ke-23 kalinya yang terbangun sejak tahun 1994. Ini adalah bukti eratnya hubungan bilateral dalam bidang Kepabeanan dan Cukai,” katanya usai upacara peresmian kegiatan ini yang dihadiri Kastam (Bea Cukai) Malaysia, Kejaksaan, TNI, POLRI, dan BAKAMLA, di pangkalan sarana operasi Bea Cukai Tipe A, Tanjung Baloi Karimun – Provinsi Kepulauan Riau.

Untuk mendukung operasi ini, Bea Cukai Indonesia mengerahkan 10 kapal patroli dengan 140 personel dan Kastam Diraja Malaysia mengerahkan 9 kapal patroli dengan 90 personel. Dari 10 kapal patroli operasi PATKOR KASTIMA yang dikerahkan Bea Cukai Indonesia, terdiri dari 4 speed boat, 5 fast patrol boat 28 meter, dan 1 fast patrol boat 60 meter.

Kapal tersebut akan beroperasi dari tanggal 7 September hingga 21 September 2017, mulai dari perairan (Indonesia) Kuala Langsa, Belawan, Tanjung Balai Asahan, Tanjung Sinaboy, Tanjung Parit hingga Batam, perairan (Malaysia) Langkawi, Pulau Pinang, Lumut, Pelabuhan Klang, Port Dickson, Muar hingga Sungai Pulai. (iskandar)

TANJUNG PINANG

Kamis | 07 September 2017 | 1:01

Ada Gudang Kosmetik Ilegal di Tanjungpinang, BPOM Langsung Gerebek

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Batam menggrebek gudang tempat penyimpanan kosmetik iilegal di Jalan Sutan Mahmud, Gang Tanjung, Tanjungunggat, Rabu (06/09/2017). Penggrebekan dilakukan BPOM Batam dibackup Polda Kepri, Kodim Bintan, Kejati Kepri, Dinkes Kepri dan Satpol PP Kepri.

Dalam penggrebekan tersebut ditemukan ratusan jenis dan merk kosmetik illegal tanpa ijin BPOM yang diduga mengandung bahan berbahaya. Selain itu kosmetik tersebut pada umumnya berasal dari luar negeri, seperti China, Thailand, Malaysia, Taiwan.

Beberapa kosmetik illegal tersebut seperti cream pemutih wajah, sabun mandi, pensil alis mata, salap kulit, vitamin tubuh.

Kepala BPOM Batam Alex Sander, S.Farm, Apt mengatakan dari hasil penemuan di gudang tersebut semua kosmetik tidak memiliki ijin dari BPOM dan tidak memiliki ijin untuk mengedarkan maupun menjual. Selain itu juga tidak memiliki ijin impor, yang mana kebanyakan kosmetik ini didatangkan dari luar negeri.

“Kita sudah pantau gudang ini selama dua bulan, pemiliknya berinisial WA. Kosmetik ini didistribusikan ke beberapa toko yang ada di Tanjungpinang. Dari kasat mata kosmetik ini mengandung bahan berbahaya seperti zat merkuri yang tentu sangat berbahaya bila digunakan,” ujar Alex Sander.

Lebih lanjut Alex Sander mengatakan pemilik kosmetik illegal tersebut akan dikenakan dengan undang-undang 36 tahun 2009 pasal 197 tentang kesehatan dengan ancaman 15 tahun penjara.

Sementara itu pemilik gudang WA tidak diketahui keberadaannya. Sedangkan toko tempat menyimpan kosmetik sebelum di pasarkan berada di jalan Tambak. (bobi)

NEWS

Selasa | 05 September 2017 | 22:39

Modus Bawa Kelapa yang Isinya Ganja

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banda Aceh – Penyelundup narkoba, tidak pernah kehabisan akal. Dua pria membawa kelapa ke Rutan Kelas II B Sigli, Aceh. Ternyata isinya adalah ganja. Kacau!

Dua pria yang diduga hendak menyelundupkan ganja ke Rutan Kelas II B Sigli ditangkap. Pelaku menyembunyikan barang haram tersebut dalam dua batok kelapa.

Kedua pelaku yang berhasil dibekuk berinisial RD (21) dan AF (28). Keduanya berasal dari Kecamatan Muara Tiga Kabupaten Pidie, Aceh. Penangkapan pelaku berawal saat seorang pegawai Rutan Kelas II B Sigli bernama Zikri bersama personel Sat Sabhara Polres Pidie Bripda Muhammad Fauzan merazia barang bawaan tamu Rutan.

Seperti yang dilansir oleh detiknews, Ketika menggeledah barang bawaan kedua pelaku, petugas menemukan ganja yang dimasukkan ke dalam dua batok kelapa. Pelaku juga membungkus barang baram tersebut dengan plastik putih.

“Pelaku memasok ganja sebanyak 500 gram dan modusnya dimasukkan ke dalam batok kelapa,” kata Kasat Resnarkoba Polres Pidie AKP Raja Amiruddin Harahap kepada wartawan, Selasa (5/9/2017).

Mereka ditangkap pada Jumat (1/9) lalu. Saat diperiksa petugas, kedua pelaku mengaku ganja tersebut hendak diserahkan kepada seorang napi berinisial IR (32). Pelaku dan IR merupakan warga satu kampung. Usai dibekuk, ketiganya kini diboyong ke Mapolres Pidie untuk menjalani pemeriksaan.

“Pelaku kita tahan di Polres guna penyelidikan lebih lanjut,” ungkap Raja. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai DJBC Khusus Kepri dilaporkan kembali menangkap sekitar 30-an ribu unit handphone.

Penangkapan dilakukan di sekitar perairan Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Rabu (30/8/2017) malam. Handphone dengan pelbagai merek tersebut diduga milik pengusaha Batam, AH.

Belum ada tanggapan resmi dari Kanwil Khusus DJBC Kepri perihal tangkapan tersebut. Saat Tribun Batam mendatangi Kanwil Khusus DJBC Kepri di Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Rabu siang, tidak ada satu pejabat pun yang bersedia memberikan klarifikasi.

“Pak Kabid (Fuad Fauzi, Kabid Penindakan dan Sarana Operasi DJBC Kepri, red) lagi tidak bisa diganggu,” ujar Kasi Penindakan I, Hendri Levi Sunarta, Rabu (30/7/2017).

Saat disinggung perihal informasi tangkapan ribuan handphone tersebut, Levi tidak membantah dan tidak membenarkan. Ia hanya mengatakan ekspos kasus akan digelar pada 7 September mendatang yang akan dihadiri Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

“Saya tidak tahu, yang jelas instruksi dari pimpinan kami akan gelar ekspos kasus yang ada pada 7 September mendatang sama Bu Menteri,” kata Levi.

Saat disinggung kasus apa saja yang akan diekspos pada 7 September tersebut, Levi kembali tidak bersedia membeberkannya. Begitu juga saat wartawan ingin bertemu Kabid atau Kakanwil, Levi kembali menegaskan tidak bisa dikarenakan ada acara internal.

“Harap kawan-kawan media bersabar. Nanti saya sampaikan keluhan kawan-kawan kepada pimpinan tapi kalau sekarang mau ketemu, tidak bisa karna kami fokus ke acara internal dulu,” elaknya.

Tidak hanya handphone, DJBC Kepri juga dikabarkan menangkap dua kontainer minuman beralkohol di Tanjungpinang, namun lagi-lagi DJBC Kepri masih tertutup perihal informasi tersebut.

Sementara itu, atas penangkapan ini, menjadi ramai pembicaraan dikalangan group WA, dan bertanya tanya apakah benar ada penangkapan tersebut. Dan, melalui sejumlah group WA, beredar foto foto penangkapan tersebut.(***)

KARIMUN

Kamis | 31 Agustus 2017 | 14:54

Penyelundupan Bawang dan Garam Malaysia Digagalkan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Karimun mengamankan puluhan ton Bawang Merah dan Garam ilegal asal Malaysia yang diangkut Kapal KM Mesya II GT 30 di Pantai Sawang Kecamatan Kundur Barat Kabupaten Karimun, Senin (21/8).

Demikian disampaikan Wakapolres Karimun Kompol Harry Andreas didampingi Kasat Reskrim Polres Karimun, AKP Lulik Febriyantara S.I.K Rabu (23/8) di Mapolres Karimun.

Dikatakan, penangkapan Kapal KM Mesya II GT 30 itu berdasarkan adanya informasi dari masyarakat, bahwa kapal tersebut membawa Barang Merah dan Garam diduga ilegal menuju Pantai Sawang Kecamatan Kundur Barat Kabupaten Karimun.

Berdasarkan laporan itu, personil Satreskrim Polres Karimun yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polres Karimun, AKP Lulik Febriyantara S.I.K langsung menuju lokasi. Namun setiba dilokasi, petugas tidak menemukan ABK maupun Nakhoda Kapal.

“Mendapat informasi, kita langsung bergerak kelokasi, karena kita duluan sampai, kita tidak menemukan ABK maupun Nakhodanya, melainkan hanya 5 orang kuli panggul yang sedang memindahkan Bawang dan Garam dari kapal ke darat” papar Lulik.

Dari dalam Kapal, tambah lulik, kita  temukan Bawang Merah sebanyak 1000 Karung @10 Kg dengan total 10 ton dan Garam sebanyak 150 Karung @50 Kg dengan total berat 7.5 ton. Selain itu, kelima orang buruh panggul yang sedang melakukan bongkar muat diloksi, akan dijadikan sebagai saksi.

“Untuk sementara, belum ada tersangka dalam kasus ini, belum diketahui siapa pemilik dan penerima barang tersebut, namun berdasarkan informasi dari masyarakat, nakhoda kapal tersebut adalah Rafiq Mustiar dan kini kita sudah masukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO)” jelasnya.

Dijelaskan, dalam kasus ini, pihaknya akan terus melakukan penyelidikan dan memburu para pelaku. Selanjutnya, barang tangkapan maupun kapal tersebut, akan diserahkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Khusus DJBC Kepri untuk proses lebih lanjut.

“Selanjutnya, barang maupun kapal tersebut akan kita serahkan ke Kanwil Khusus DJBC Kepri untuk proses lebih lanjut dan untuk para pelaku akan terus kita buru” tukasnya.

Sementara itu, Kakanwil DJBC Khusus Kepri, Parjiya yang diwakili Taufik, mengatakan sangat mengapresiasi pengungkapan kasus penyelundupan yang dilakukan oleh Polres Karimun. Untuk barang-barang tersebut, kemungkinan akan di hibahkan ke masyarakat. (hasian)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) 4 Lanal Batam tangkap puluhan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di perairan Karang Galang, Selasa (22/8 2017) sekitar pukul 02.30 WIB.

Sebanyak 27 orang TKI yang diamankan, dengan rincian 20 Laki-laki dan 7 orang perempuan. Petugas juga mengamankan seorang bayi laki-laki berumur 2 bulan. Mereka menggunakan boat pancung panjang 9 m lebar 1,5  bermesin Yamaha 85 PK X 2 buah pemilik  berinisial “B” yang beralamat di Punggur.

Menurut Danlanal Batam Kolonel Laut (P) Ivong Wicaksono upaya pengiriman ke 27 orang TKI illegal tersebut mereka menggunakan jalur laut dan berangkat dari Batam dengan route Punggur Batam tujuan Pantai Desaru Johor Malaysia.

Pada pukul 03.00 Wib boat pancung dan TKI Illegal tiba di Dermaga Lanal Batam Dikawal oleh Sea Rider Lanal Batam dan diterima oleh Pasintel Lanal Batam, Danunit Intel Lanal Batam dan Kaurlid Lanal Batam beserta seluruh anggota Intel Lanal Batam guna pemeriksaan lebih lanjut.

Sampai saat ini Tim WFQR Lanal Batam masih terus melakukan pendalaman untuk membongkar jaringan pengiriman TKI illegal ke Malaysia tersebut, Karena disinyalir komplotan ini merupakan pemain lama pengiriman TKI illegal diwilayah Batam.(Dispen Lantamal IV)