Pertanian

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Gubernur H Nurdin Basirun menyatakan banyak potensi pertanian bernilai ekspor yang harus digali bersama agar meningkatkan devisa dan pendapatan daerah. Melepas ekspor produk pertanian senilai Rp49 miliar ke berbagai negara menunjukkan potensi itu sangat besar.

“Ini kekuatan dan kerjasama yang dimiliki oleh seluruh anak bangsa. Malam ini bukti kerja keras bisa kita lakukan bersama-sama ekspor yang bernilai cukup fantastis dan meningkatkan devisa negara serta pemasukan bagi daerah,” kata Nurdin saat Pelepasan Ekspor Produk Pertanian di Dermaga Utara Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Selasa, 19 Maret malam.

Produk-produk itu dilepas Nurdin bersama Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian RI Ali Jamil. Hadir juga Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Batam Suryo Irianto Putro, Kepala Dinas Pertanian Kepri Ahmad Izhar, Kepala Biro Humas Protokol dan Penghubung Kepri Nilwan, Asisten Ekonomi Pembangunan Febrialin dan Wadir Binmas Polda Kepri AKBP Edi Suryanto.

Adapun komoditi ekspor yang dilepas malam itu yakni Cocoa Butter (PT Asia Cocoa Indonesia), Cocoa Powder (PT Asia Cocoa Indonesia), Daging Kelapa (PT Heng Guan), Rumput Laut (PT Kencana Bumi Sukses) dan Minyak Sawit (PT Synergy Oil Nusantara).

Negara tujuan ekspor yakni Cocoa Butter (Jerman, Amerika Serikat, Estonia), Cocoa Powder (Vietnam, Meksiko), Daging Kelapa (Malaysia), Rumput Laut (China), Minyak Sawit (Tanzania).Nilai ekspor Cocoa Butter dan Cocoa Powder (Rp46,6 miliar), Daging Kelapa (Rp338 juta), Rumput Laut (Rp110 juta), Minyak Sawit (Rp2,3 miliar). Dari semua itu, total ekspor yang dilepas berjumlah Rp49,4 Miliar.

Nurdin mengatakan, ekspor kali ini hendaknya dijadikan motivasi untuk meningkat nilai ekspor. Sehingga bisa lebih dikenal negara luar dan pasar semakin besar. Potensi pertanian sangat berpeluang untuk dikembangkan di Kepri. Wilayah yang dimiliki juga tidak kalah saing dan subur seperti Lingga, Natuna, Anambas, Karimun dan lainnya.

“Kami juga mengajak seluruh stake holder agar bisa bersama-sama dan bersinergi dengan bergandengan tangan agar hambatan yang menghalang bisa diselesaikan. Rentang waktu harus dikurangi. Pangkas birokrasi tanpa melanggar aturan dan peraturan,” kata Nurdin.

Menurut Nurdin, ekspor ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan neraca perdagangan Indonesia dan Kepri khususnya. Karena itu, pihaknya terus bersinergi dengan pemerintah pusat dan kabupaten kota untuk terus meningkatkan infrastruktur dibidang pelabuhan untuk mendukung ekspor tersebut.

“Pesan Presiden RI Joko Widodo yang menginginkan Indonesia pada tahun 2045 menjadi negara keempat terkuat perekonomiannya di dunia dan sebagai negara lumbung penghasil pangan,” kata Nurdin.

Nurdin pun memaparkan banyak potensi pertanian dan kelautan Kepri. Seperti rumput laut yang diekspor dari Pulau Pauh – Moro sebanyak 40 Ton. Untuk itu perlu dikuatkan hubungan antara pengusaha dengan petani sehingga terus berjalan. Nanas dan Pisang juga merupakan komoditi yang diekspor ke Singapura, sementara Kelapa bulat diekspor ke Thailand yang berasal dari Karimun.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan RI Ali Jamil mengatakan akselerasi sangat perlu dilakukan untuk menguatkan ekspor khususnya sektor pertanian.

Karena itu dia menegaskan agar keseluruhan UPT untuk berkoordinasi dengan pimpinan daerah agar meningkatkan sektor pertanian yang diminta/unggulan oleh Negara Tujuan ekspor bisa ditingkatkan.

Saat ini ada 3 UPT di Kepri yakni UPT Tanjungpinang, UPT Batam dan UPT Tanjung Balai Karimun “Mari kita maksimalkan pelabuhan Batu Ampar untuk mendorong ekspor ke Negara Tujuan dan seperti UPT Tanjung Balai Karimun melakukan ekspor melalui pelabuhan Batu Ampar ke Malaysia dan China.

Senergi dengan seluruh stake holder perlu dilakukan agar tidak terjadi permasalahan di lapangan,” kata Ali Jamil yang pernah bertugas di Kepri dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012 ini.

Suryo Irianto Putro mengatakan tahun 2018 sebanyak 49 komoditi (diantaranya Kakao, Sawit, Sarang Burung Walet dll) diekspor ke 20 negara seperti Amerika Serikat, India, Angola, Banglades, Belanda, Kamboja.

Nilai eskpor selama 2018 mencapai Rp19,32 Triliun.Suryo menambahkam pada Januari sampai dengan Februari 2018 terdapat ekspor 59.224,57 ton (senilai Rp839,17 M).

Sedangkan pada periode sama tahun 2019 sebesar 73.425,9 ton (senilai Rp. 936,57 M) “Perlunya dilakukan akselerasi eskpor untuk meningkatkan nilai eskpor dan Tercatat dari sistim otomasi perkarantinaan di Batam pada awal 2019 terjadi kenaikan jumlah ekspor dibandingkan tahun lalu sebesar 24 persen,” kata Suryo. (humaskepri)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Bupati Karimun, Aunur Rafiq didampingi Kantor Karantina Pertanian Kelas II Tanjungbalai Karimun melepas ekspor 45 ton bungkil kelapa asal Kundur, Rabu, 20 Maret 2019.

Komoditi yang dieksport perdana adalah bungkil kelapa dan air kelapa. PT Saricotama Indonesia yang terletak di Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, sebagai pelaksana usaha sekaligus eksportirnya.

Pada kesempatan ini, Kepala Karantina Kelas II Tanjungbalai Karimun, Priyadi mengatakan bahwa sebelum dilakukan ekspor, pihaknya telah melakukan monitoring untuk menjamin keamanan kesehatan pangan layak dikonsumsi.

“PT Saricotama ini kan memproduksi bungkil dan air kelapa dalam bentuk fresh, jadi kita jamin kesehatan supaya nanti aman kemudian layak dikonsumsi dan terstandar sampai di negara tujuan,” kata Priyadi.

Priyadi menyebut, jaminan agar bahan pangan yang diekspor terstandar merupakan tugas dari Kantor Karantina sehingga mencegah terjadinya penolakan ekspor dari negara tujuan.

“Karena kalau yang dieskpor tidak terstandar ada penyakit maupun tidak layak konsumsi, tentunya ada penolakan dari negara tujuan, ini kan harga diri bangsa dan kita berusaha agar itu tidak terjadi,” ujarnya.

Melalui ekspor ini, Priyadi berharap aktifitas ekspor dari komoditi lain dapat meningkat. Dirinya juga menyampaikan Karantina siap membantu eksportir yang ingin melakukan kegiatan ekspor.

Sementara itu, Aunur Rafiq pada kesempatan tersebut menyampaikan terima kasihnya kepada Karantina Pertanian yang mendorong akselerasi ekspor komoditi kepala berupa bungkil dan air kelapa dari Kabupaten Karimun tersebut.

Adanya dorongan akselerasi ekspor seperti ini, katanya, akan mendorong ekportir bisa melakukan ekpansi ke depannya agar lebih besar lagi.

“Ini memberikan motivasi dan dorongan kepada komoditi yang lain, seperti nanas, pisang dan rumput laut. Mudah-mudahan ada eksportir yang bisa kita sounding-kan,” ucap Rafiq.

Selain itu dikatakan Rafiq, pemerintah daerah berkomitmen membantu para petani agar ketersediaan bahan baku tetap baik. Hal ini dapat dilakukan dengan pengembangan bibit unggul, bantuan bibit dan pupuk.

“Sehingga para patani ini dapat terayomi,” ujar Rafiq. (kmg)

kekuatan pangan

RILIS

Senin | 21 Januari 2019 | 18:49

Fadholi: Infrastruktur Pertanian Harga Mati!

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Untuk lebih meningkatkan hasil pertanian dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan, maka perlu diberikan perhatian khusus terhadap infrastruktur sarana dan prasarana pertanian.

Anggota DPR RI dari Fraksi NasDem, Fadholi menilai pembangunan infrastruktur pertanian adalah hal yang paling penting dalam memajukan hasil tani dalam negeri.

Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI dengan Kementerian Pertanian dan sejumlah direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pertanian untuk mengevaluasi anggaran tahun 2018 dan rancangan tahun 2019, Senin, 21 Januari 2019.

“Saya akan mendorong adanya alokasi dana untuk perbaikan infrastruktur termasuk jalan usaha tani, sebab masih banyak petani kita ketika membawa hasil pertanian mengalami kesulitan. Ketika hal ini diringankan, maka kita dapat meningkatkan pendapatan dari petani” ujar Fadholi saat rapat berlangsung.

Revitalisasi, rehabilitasi dan replanning cluster pertanian di berbagai infrastruktur jaringan irigasi pertanian adalah langkah kerja yang bisa membawa perubahan pada kehidupan petani menjadi lebih sejahtera.

“Tak hanya infrastruktur, optimasi pertanian di Indonesia sebaiknya didukung pula dengan program sarana penunjang pertanian. Beberapa di antaranya merupakan sarana produksi seperti benih, pupuk, pestisida, serta obat tanaman yang dibutuhkan petani” tegas politisi asal Kendal ini.

Selain itu, Fadholi juga menegaskan pentingnya peran BULOG untuk lebih optimal menyerap gabah dari petani. Sehingga bisa mengurangi impor beras yang dilakukan pemerintah selama ini.

“Kalau BULOG bisa membeli gabah di musim penghujan, hal ini sama dengan mengamankan stok beras kita. Masalahnya, BULOG mampu menyerap berapa banyak gabah dari petani. Saat ini, gudang penyimpanan BULOG yang ada di daerah belum modern. Sehingga gabah yang dibeli tidak bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama” ungkap politisi NasDem Dapil Jawa Tengah ini.

Sementara itu, rapat yang berlangsung selama tiga jam tersebut menghasilkan kesimpulan, yakni pertama mengapresiasi kinerja serapan APBN Kementan tahun 2018, menerima penjelasan atas peningkatan pagu alokasi APBN 2019.

Kemudian, menyetujui anggaran subsidi pupuk APBN tahun 2019 sebesar Rp 29 triliun atau setara dengan 9.550.000 ton. Serta, menyetujui dana alokasi khusus tahun 2018 bidang pertanian.

“Komisi IV meminta Kementan melakukan koordiansi dengan pemerintah daerah melakukan verifikasi dan konfirmasi luas lahan baku sawah. Keenam meminta revisi Inpers nomor 5 tahun 2015 tentang kebijakan pengadaan gabah atau beras,” bunyi kesimpulan tersebut. Terakhir, menyetujui pelaksanaan kegiatan pinjaman hibah luar negeri dan meminta pemerintah melakukan pembayaran kekurangan subsidi pupuk 2015 sampai 2017. (mediacentre fraksi nasdem dpr ri)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kepri – Gubernur H Nurdin Basirun mengajak para petani untuk terus semangat mengembangkan potensi pertanian yang ada di daerah. Apalagi keberadaan lahan dengan kontur tanah yang tepat, sarana dan fasilitas yang memadai maka akan menghasilkan produk terbaik.

“Tinggal bagaimana kemampuan kita untuk mengelola hasilnya menjadi berdaya guna dari semua sisi, apalagi dengan teknologi akan semakin memudahkan, yang nantinya upaya ini kembali akan mempertajam perekonomian Kepri,” ujar Nurdin di sela-sela perbincangannya bersama kelompok Tani dalam kunjungan kerjanya ke Tanjung Batu, Kundur, Kabupaten Karimun, Senin, 22 Oktober 2018.

Pemerintah Daerah, dikatakan Nurdin juga selalu mendukung dan berusaha untuk melakukan upaya-upaya untuk ikut meningkatkan kemajuan hasil produksi yang di kerjakan oleh para petani.

“Kita juga akan mencoba ke Kementrian untuk membantu dalam upaya perluasan lahan yang masih belum terbuka. Pemprov bersama Pemkab juga akan terus berkoordinasi melalui pihak terkait untuk kelancaran proses kegiatan bertani,” lanjut Nurdin.

Nurdin juga berujar, dirinya berkeinginan untuk melakukan semenisasi pada jalan masuk menuju lahan pertanian. Karena sepanjang 5 Km saat Nurdin masuk kedalam lokasi, jalanan tanah merah yang dilalui dalam keadaan yang tidak rata dan banyak lobang serta genangan air.

“InsyaAllah kedepan akan kita upayakan pengembangan jalan masuk agar mobilitas keluar masuk menjadi lebih lancar,” tambah Nurdin lagi.

Setibanya di Kundur, Gubernur beserta rombongan merapat di Pelabuhan Urung, Tanjung Berlian untuk kemudian menuju ke Masjid Besar Al Furqan, Kundur Utara untuk menunaikan shalat dzuhur.

Selanjutnya Gubernur menuju ke Desa Teluk Radang, Kecamatan Kundur Utara untuk melakukan penyerahan Alat dan Mesin Pertanian kepada Kelompok Tani Kabupaten Karimun yang dipusatkan di Kawasan Bioindustri padi di wilayah perbatasan, Gudang Rice Milling Unit (RMU), Gapoktan Mega Buana.

Secara simbolis Nurdin menyerahkan sebanyak 21 unit alat dan mesin tani kepada 16 Kelompok Tani/ Gapoktan yang tersebar di Kundur. Adapun rincian bantuan antara lain 10 unit Handtraktor, 9 unit Cultivator dan 11 unit Minitraktor. Selain itu Nurdin juga berkesempatan untuk berbincang bersama kelompok Tani juga meninjau Gudang Rice Milling Unit (RMU), Gapoktan Mega Buana.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Karimun Muhammad Aftan menyampaikan, bahwa kawasan pertanian sendiri seluas 278 Hektar yang mana saat ini sudah dibuka lahan seluas 100 Hektar dan dalam proses penanaman padi. Direncanakan untuk tahun kedepan akan dilakukan pembukaan lahan lagi seluas 128 Hektar untuk cetak sawah baru.

“Kita meminta arahan juga bantuan dari Pemerintah Provinsi agar rencana kami tahun depan terealisasi ,” kata Aftan.

Kemudian mewakili Kelompok Tani setempat Nasir menyampaikan ucapan terimakasih atas penyerahan alat tani yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Kepri.

“Alhamdulillah dengan diberikan nya sejumlah bantuan alat dan mesin tani ini semakin memudahkan dan mempercepat pekerjaan kami,” kata Nasir.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Pertanian Ahmad Izhar, Kepala Dinas Kelautan Eddy Sofyan, Kepala Dinas Kepemudaan Maifrizon dan Kepala Biro Humprohub Nilwan. (***)

sumber: humaskepri.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Rencana pemkab Karimun melalui Dinas Pangan dan Pertanian untuk mengekspor buah nanas akan segera terwujud.

Bupati Karimun, Aunur Rafiq yang diwawancarai wartawan beberapa hari lalu di Coastal Area mengatakan ekspor nanas tersebut akan dilakukan, Sabtu 20 Oktober.

“Ekspoe nanas tanggal 20 insya allah. Mudah-mudahan sampai hari H tidak ada perubahan,” kata Rafiq saat diwawancarai pada kegaitan HUT ke 19 Kabupaten Karimun di Coastal Area.

Singapura menjadi negara pertama tujuan ekspor buah nanas hasil para petani di Kundur ini. Namun disampaikan Rafiq, untuk ekspor pertama itu Pemkab Karimun tidak akan membesar-besarkannya.

Alasannya tak lain, adalah karena ekspor pertama merupakan penjajakan.

“Kita secara lokal dulu. Gaungnya kita tidak sampai undang menteri dulu. Kita khawatir baru pertama gaungnya saja yang besar,” jelasnya.

Meskipun demikian, karena kualitas hasil pertanian serta proses yang sudah ditempuh selama ini dalam mengupayakan eskpor, Rafiq merasa optimis Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun dapat melakukannya dengan baik dan lancar.

“Jika sudah lancar dan rutin satu atau dua kali baru kita undang Menteri. Kita juga menjaga image, jangan sampai baru mulai sudah dibesar-besarkan. Namun meski demikian kita optimis,” ungkapnya. (kmg)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Wakil Gubernur Kepulauan Riau H. Isdianto sangat yakin beberapa tahun mendatang sektor pertanian di Kabupaten Lingga yang saat ini sedang dirintis akan membuahkan hasil.

Bahkan tidak hanya di sektor pertanian saja, melainkan juga sektor pariwisata dan perikanan.

“Saya melihat Lingga memiliki potensi unggulan di bidang pertanian, pariwisata dan perikanan. Mari bahu-membahu menggali potensi itu agar bisa dijadikan sumber PAD yang baru,” kata Isdianto saat memimpin rapat koordinasi bersama Wakil Bupati Lingga M. Nizar, Sekda Lingga Juramadi Esram, jajaran OPD Lingga dan para pengurus LAM Lingga di Gedung Daerah Kabupaten Lingga, Senin, 6 Agustus 2018.

Potensi di bidang pariwisata, pertanian dan perikanan, menurut Isdianto adalah sektor yang tidak pernah habis bahan bakunya. Tidak seperti bidang pertambangan yang suatu saat bahan bakunya akan berkurang dan musnah.

“Alhamdulillah Kepri punya semua potensi unggulan. Daerah lain belum tentu punya seperti ini. Sekarang di Lingga sedang gencar mengolah pertanian, dan tentu kalau dinilai sekarang memang belum ada hasilnya. Karena pertanian adalah investasi jangka panjang. Dan suatu saat, apapun yang sudah ditanam akan dituai oleh masyarakat Lingga. Tentu sekarang harus bersabar,” kata Isdianto.

Jika Pemerintah Daerah tidak mampu menggali potenai PAD-nya sendiri, lanjut Isdianto, maka tunggulah masa kehancurannya. Selain itu, Isdianto juga mengajak Pemerintah Daerah rajin menjolok dana dari pusat.

“Sekarang ini Indonesia sedang defisit, termasuk Kepri mengalaminya. Makanya ayo kita jolok dan kejar dana pusat. Jangan ditunggu, tapi di kejar. Karena dikejar aja belum tentu dapat, apalagi cuma ditunggu,” tegasnya.

Sementara itu Wakil Bupati Lingga M. Nizar menyampaikan sambutan selamat datang dengan menjelaskan gambaran umum Kabupaten Lingga.

Lingga memiliki 604 pulau dalam posisi air surut. Namun jika pasang tinggal 531 pulau yang nampak. Memiliki warga 102 ribu jiwa yang tersebar di 10 kecamatan, 75 desa dan 7 kelurahan.

“Seperti yang Bapak Wakil Gubernur katakan. Kami sedang galak-galaknya menggenjot sektor pertanian. Dan ini proses jangka panjang. Sektor pertanian, perikanan dan peternakan adalah memang sudah jadi kerja masyarakat disini hari-hari. Jadi ini wajib kita jaga,” ujar Nizar. (*)

sumber: humaskepri.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Wakil Gubernur Kepri H Isdianto bangga melihat hasil keterampilan dan kreativitas warga binaan Lapas Kelas II Batam.

Walau harus terkurung di bui, para Napi tak patah semangat untuk menghasilkan karya yang nantinya menjadi modal usaha saat kembali ke tengah masyarakat.

Isdianto hadir membuka Bazar dan Pameran Hasil Produksi Pertanian Lapas Kelas II A dan Kelompok Tani Se-Kota Batam Bersamaan Dengan Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-54 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Batam, Selasa, 24 April 2018.

Tema yang diangkat “Dengan Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-54 Kita Tingkatkan Daya Guna & Produktifitas Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Kelas II Batam Menuju Lapas Produksi”.

Bazar tersebut menampilkan hasil pertanian dan perkebunan dari kreativitas Napi binaan.

“Saya tentu sangat bangga dengan pembinaan keterampilan dan pelatihan yang telah dilakukan Lapas Kelas II A Batam selama ini kepada warga binaan. Karena ini akan sangat berguna saat mereka nantinya kembali ke tengah-tengah masyarakat.Mereka bisa memperoleh penghasilan dari keterampilan itu nantinya,” ungkap Isdianto.

Isdianto juga berharap agar kedepan warga binaan bisa menjalani kehidupan dengan baik layaknya masyarakat lainnya. “Lupakan dan tinggalkan masa kelam, jangan ulangi lagi kesalahan. Jadilah orang baik yang bisa berguna bagi diri dan keluarga, ” pesan Isdianto.

Pada kesempatan tersebut, Isdianto menyempatkan meninjau sejumlah stand pameran hasil pertanian. Stand pertanian tersebut merupakan hasil karya warga binaan dan sejumlah petani se-Kota Batam. Tak lupa saat melakukan peninjauan, Isdianto membeli sejumlah hasil pertanian seperti sayur mayur, pepaya nangka terong hingga pisang.

Sementara itu, Walikota Batam Muhammad Rudi sangat mengapresiasi seluruh hasil kreativitas warga binaan Lapas Kelas II A Batam. Rudi juga berjanji untuk terus memberikan bantuan apa saja sepanjang itu dibolehkan oleh aturan.

“Saya sangat mengapresiasi seluruh usaha pembinaan dan hasil keterampilan yang dibuat warga binaan. Saya berjanji akan memberikan bantuan apa saja asal tidak melanggar aturan. Bantuan yang sudah kami lakukan selama ini seperti layanan Kesehatan misalnya,” ungkap Rudi.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkuham Kepri Dedi Handoko menjelaskan pelaksanaan bazar dan pameran bersempana dengan Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-54 tersebut juga bertujuan untuk mempromosikan produksi hasil pertanian berbasis kreatif yang selama ini dibina oleh Lapas Kelas II Batam.

Dedi berharap, melalui bazar dan pameran bisa terjalin kerjasama yang lebih erat antara Lapas dengan instansi terkait termasuk kelompok tani se- Kota Batam.

“Tujuan kami, Bazar dan Pameran ini sebagai sarana untuk mempromosikan dan pengenalan warga binaan Lapas Kelas II A Batam . Dari hasil pertanian ini warga binaan bisa menghasilkan uang nantinya, dan tentu saja punya keterampilan saat kembali ke masyarakat nanti,” tutupnya. (humas)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pati – Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, panen raya padi di Desa Wotan Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, Rabu 7 februari 2018.

Amran mengatakan, saat ini perhatiannya tertuju pada harga gabah yang turun

Menurut Amran, harga gabah saat panen raya ini turun antara Rp 700-Rp 1.000/kilogram (kg).

“Ini harga sudah turun antara Rp 700 sampai Rp 1.000/kg. Disini harga sudah turun sampai Rp 4.200/kg.

Ini harus kita jaga agar tidak turun lagi. HTt baru setelah kita rapat kemarin Rp 4.070 per kilogram. Jangan sampai harga di bawah HTt (Harga Tertinggi), nanti petani bisa rugi. Kalau mereka merugi, nanti tidak mau menanam lagi,” imbuhnya.

“Ini saya hari kedua setelah kemarin di Jawa Barat, sekarang di Jawa Tengah, dan setelah ini saya langsung meluncur ke Jawa Timur. Kami ingin memastikan langsung di bawah sepertu apa kondisinya,” lanjut Amran.

Dalam kegiatan tersebut nampak hadir Bupati Pati Hariyanto, jajaran pejabat Kementan, Aster KSAD, dan jajaran Forkopimda Pati.

Sementara, Hariyanto menjelaskan, di Pati terdapat lahan pertanian seluas 59.000 hektare. Ia pun mengklaim panen di Pati kali ini mengalamu surplus jika dibanding tahun 2016 dan 2017.

“Dari luas lahan, bisa ada 108 ribu hektare luasan lahana panen, karena perkiraan dua kali musim tanam dan panen.

Dibanding tahun 2017, lebih surplus pada tahun 2018 ini. Tahun 2017 kemarin saya menerima penghargaan dadi pak Mentan dan Presiden, karena Pati ketahanan pangan nomor 3 tingkat nasional,” paparnya. (***)

sumber: detik.com

Gubernur Hadiri Panen Perdana di Gunung Bintan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Gubernur H Nurdin Basirun menyarankan pemanfaatan teknologi pertanian agar kualitas dan kuntitas produksi terus meningkat. Apalagi pasar pertanian di Kepri masih cukup besar. Kebutuhan beberapa produk pertanian tidak perlu kagi didatangkan dari luar.

“Enak dan manis ini jagungnya. Pasar pasti senang dengan produk seperti ini. Semoga ke depan bisa semakin banyak panennya,” kata Nurdin saat mengikuti panen perdana jagung dan cabe di Kawasan Gunung Bintan, Kilometer 47, Kabupaten Bintan, Senin, 6 November 2017.

Nurdin melakukan panen jagung milik kelompok tani Budi Luhur. Di lokasi yang tidak jauh, Nurdin juga melakukan panen perdana cabe milik Kelompok Tani Tunas Jaya. Gubernur senang dengan banyaknya kelompok tani yang fokus dengan produk unggulan. Apalagi yang ditanam berbeda-beda.

“Manajemen dalam mengelola hasil-hasil pertanian juga penting, sehingga hasil di pasar tidak anjlok ketika musim panen tiba,” kata Nurdin.

Kehadiran Gubernur pada panen perdana ini, selain untuk mendorong produksi terus meningkat, juga memperkuat silaturahmi dengan petani. Nurdin juga menjemput aspirasi kelompok tani sehingga dapat meningkatkan produksi mereka.

Pada kesempatan itu, para petani menyampaikan harapan mereka agar mendapat bantuan untuk peningkatan hasil panen. Di antara yang disampaikan adalah mesin hand traktor, bantuan pupuk subsidi, pupuk kandang dan bibit. Mereka juga minta bantuan mobil pikc up sehingga mudah mengangkut ke pasar dan alat-alat penyiraman.

Pada kesempatan itu Nurdin mengatakan pihaknya segera memberi bantuan. Namun, bantuan-bantuan peralatan pertanian yang diberikan nanti harus dijaga. Sehingga pemanfaatannya bisa lama.

“Kita sama-sama menjaga agar ekonomi masyarakat bergerak dan inflasi terus menurun. Petani nelayan dengan perannya demikian juga pemerintah. Kalau sudah bersama, tak ada masalah yang tak terselesaikan,” kata Nurdin.(humas)

LINGGA

Sabtu | 04 November 2017 | 10:00

Awe Marah, Pejabat Kepri Remehkan Program Pertanian Lingga

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Bupati Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), Alias Wello mengaku kecewa dan marah atas pernyataan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Kepri, Syamsul Bahrum yang meremehkan program pertanian Pemerintah Kabupaten Lingga pada saat memberikan sambutan pada acara Focus Discussion Group (FGD) Kebijakan Pengelolaan Pangan Beras di Daerah Perbatasan yang diadakan Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian RI di Hotel Nagoya Hill, Batam, 2 November 2017.

Dalam FGD yang dihadiri Asisten Deputi Pangan Kemenko Perekonomian RI, Elias Payong Kerar, Kepala Bidang Konsumsi dan Cadangan Pangan, Syarifah Indah Megawati, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pertanian RI, Kasdi Subagyono, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepri, Mizu Istianto, Kadivre Bulog Riau Kepri, Awaluddin Iqbal, sejumlah pejabat teras Kementerian dan Lembaga, serta Kepala Dinas Pertanian se – Kepri itu, Syamsul tak henti – hentinya melontarkan pernyataan pesimisme tentang program pertanian di Lingga.

Syamsul beranggapan kultur masyarakat Melayu yang merupakan nelayan secara turun temurun sulit diubah ke kultur pertanian. Karena itu, Ia meragukan program pertanian yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Lingga bisa berhasil seperti yang diharapkan.

Mantan pejabat Pemerintah Kota Batam ini juga mencontohkan beberapa kasus kegagalan program transmigrasi di Kepri disebabkan oleh pengaruh kultur masyarakat setempat. Ia menyebut kasus transmigran yang didatangkan dari Jawa untuk menggarap sektor pertanian di Kabupaten Natuna dan Lingga, gagal karena mereka ikut – ikutan jadi nelayan.

“Orang Jawa saja yang dasarnya petani di daerah asalnya, begitu sampai di Kepri tak ada yang mau jadi petani. Kenapa? Karena, mereka merasa status sosialnya malah tidak lebih baik,” katanya.

Bupati Lingga, Alias Wello yang dimintai komentarnya terkait pernyataan Syamsul tersebut, tak dapat menyembunyikan kemarahannya. Raut wajahnya langsung memerah begitu dikonfrontir dengan pernyataan Syamsul.

“Saya kecewa dan marah. Bagaimana daerah ini mau maju kalau pejabat kita pemikirannya sempit begini?” tanya Awe, sapaan akrab Bupati Lingga ini.

Kultur masyarakat Melayu yang menjadi alasan Syamsul sebagai penghambat berkembangnya sektor pertanian di Lingga, jelas Awe, bukanlah sesuatu haram atau mustahil untuk diubah. Ia berharap Syamsul lebih baik berdebat dengannya dari pada mengembangkan opini sesat yang dapat menghambat daya pikir dan kreatifitas masyarakat yang sedang belajar mengembangkan sektor pertanian.

“Basic saya memang bukan pertanian, tapi saya siap adu konsep dengan Syamsul Bahrum. Sekarang bukan saatnya bicara teori, tapi waktunya bekerja secara nyata. Saya teringat waktu zaman mahasiswa dulu, kita sering teriak berantas otak mandul. Supaya apa? Supaya kita bisa bisa berpikir jauh ke depan,” celotehnya.

Meski tak didukung Pemerintah Provinsi Kepri, Awe mengaku bangga, sektor pertanian yang dikembangkannya di Lingga mampu mengangkat citra Provinsi Kepri yang selama tidak masuk dalam base pertanian nasional sejajar dengan daerah pertanian lainnya di Indonesia.

“Waktu saya baru dilantik, saya langsung ke Jakarta minta dukungan program pertanian. Di sana saya kaget, ternyata Kepri ini tidak masuk dalam base pertanian nasional. Bahkan, Kementerian Pertanian tak percaya di Lingga ada lahan pertanian. Kenapa? Karena pada zaman itu, tidak ada pejabat yang berani bicara soal pertanian. Nah, kenapa baru sekarang dia mau bicara pertanian? Ada apa,” tanya Awe berapi – api. (rilis)

NEWS

Senin | 11 September 2017 | 20:37

Kekeringan di Sejumlah Lahan Pertanian Siklus Normal

MEDIAKPERI.CO.ID, Jakarta — Kekeringan kembali membuat lahan pertanian puso. Meski demikian, pengamat pertanian Dwi Andreas menyatakan, kekeringan tersebut merupakan siklus alamiah yang tidak perlu dikhawatirkan.

Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, “Tapi kalau dibilang tidak ada masalah ya salah besar,” ujar Dwi, Senin (11/9).

Dwi melanjutkan, perlu diperhatikan pada panen musim kedua serangan hama yang meluas menjadi penyebab jatuhnya produksi. Hal tersebut seharusnya menjadi catatan pemerintah yang perlu diperhatikan. Sedangkan, pada musim panen ketiga ini jatuh akibat kekeringan.

Jatuhnya produksi akibat kekeringan membuat banyak petani yang tidak melakukan penanaman padi. “Kecuali di daerah irigasi teknis,” ucap Dwi.

Sementara, lahan irigasi non-teknis tidak akan bisa dilakukan penanaman lagi. Terkait irigasi teknis, lanjut Dwi, pemerintah pun gencar melakukan pembangunan infrastruktur guna mengairi sawah warga.

Adapun program asuransi petani diakui guru besar IPB ini berjalan cukup baik. Sebab, dapat membantu para petani seandainya terjadi gagal panen. Sedikitnya petani akan menerima Rp 6 juta per hektare jika puso. “Tapi karena belum banyak yang mengikutinya jadi dampaknya tidak signifikan,” kata Dwi.(***)