Puncak

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sri Warsini (27) terkesiap saat wajahnya tak sengaja memandang ke arah puncak Merapi, Jumat, 11 Mei 2018.

Sesaat ia tak mampu bergerak menyaksikan asap pekat bergulung-gulung cepat membubung ke angkasa. Rumput di pondongan tangannya nyaris jatuh saking ia gemetar.

“Jlegurrrrr….langsung bergulung-gulung asap membubung di puncak. Sangat menakutkan Mas,” kata Warsini di rumahnya, dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.

Warsini dan adiknya, Tri Wartini (26), saat itu tengah menyabit rumput di lereng barat bukit Kukusan. Mereka berangkat naik gunung sekitar pukul 06.30.

Jarak tempat ia dan adiknya “mugut” atau mencari rumput untuk pakan ternak sekitar satu kilometer saja dari puncak Merapi. Letusan freatik Merapi terjadi pukul 07.43

Dari tempat ia berdiri, Warsini bisa sangat jelas menyaksikan puncak Gunung Merapi yang pagi itu cuaca di sekitarnya sangat cerah. Tidak ada kabut menghalangi.

“Setelah agak sadar karena saya ini “kamitenggengen” (terpaku), rumput dan sabit saya lempar. Saya lari turun, teriak-teriak panik dan nangis” kata Warsini yang sore itu masih tampak syok dan kelelahan.

Bukit Kukusan adalah bagian punggungan bukit yang puncak sebelah timurnya disebut Gunung Kendil. Bentang bukit tinggi itu terlihat jelas dari gardu pandang Klangon.

Di lokasi itu hanya ada Warsini dan adiknya. Tiga pencari rumput lain warga Kalitengah Lor, yaitu Mbah Ratno, Bejo dan Rami, ada di lereng berbeda, dan lebih dulu datang sehingga kemungkinan sudah turun.

Perjalanan turun Warsini dan adiknya dari puncak bukit bukan masa-masa yang mudah. Mereka panik dan ketakutan, harus cepat turun, namun yang ada hanya jalan setapak selebar dua telapak kaki.

Sebelah kanan lereng berujung jurang sangat dalam, hulu Kali Gendol. Warsini yang gemetaran jatuh bangun sampai lima kali. Ia juga sempat terguling-guling di turunan curam.

“Saya hanya bisa bertakbir, Allahu Akbar! Allahu Akbar, kata saya, dan kami berusaha secepat mungkin turun. Gumpalan tebal itu seolah mengejar kami,” ungkap Warsini diamini adiknya.

Tri Wartini yang lebih muda, jauh lebih gesit ketimbang kakaknya. Beberapa kali ia jauh meninggalkan kakaknya.

Terpaksa balik lagi naik, dan menolong kakaknya yang ternyata jatuh bangun.

Tanpa menghiraukan semak, rumput berdaun tajam di sepanjang perjalanan turun, kakak adik ini akhirnya sampai di dekat tower air di kawasan Klangon.

Di lokasi itu terparkir dua sepeda motor mereka. Jarak dari lahan merumput ke parkiran motor sekitar satu kilometer. Dari situ ke rumah mereka juga sekitar satu kilometer.

Tenaga mereka nyaris habis. Ternyata mereka sudah dijemput suami Warsini yang menyusul dari rumah. Selain mereka sudah tidak ada seorangpun lainnya.

Setelah istrahat sebentar, Warsini memancal motornya ke sekolah anaknya di Srunen. Rupanya murid-murid SD Srunen sudah diungsikan ke Jambon, jauh di bawah dari dusun mereka.

Warsini pulang sebentar, tapi penduduk dusun sebagian sudah mengungsi.

Situasi pagi itu sangat mencekam, panik, dan tangis terdengar bersahut-sahutan.

Ia lalu pergi menyusul anaknya bersama suaminya. Sesudah situasi kembali tenang, mereka pulang ke rumah di Dusun Kalitengah Lor.

Sampai sore, rumput dan sabit serta kain gendong mereka masih tertinggal di puncak bukit Kukusan.

“Biar saja lah, nanti kalau sudah kuat ke sana,” lanjut ibu satu putri ini.

Menurut Warsini dan Wartini, pagi sebelum berangkat merumput, mereka sebenarnya merasakan ada keganjilan di puncak gunung.

“Ada suara ngosrong (seperti tiupan angin kencang). Jelas sekali suaranya, dan pepohonan di puncak sana tak bergerak,” kata Warsini.

Pengakuan ini dikuatkan pendengaran dan penglihatan yang sama oleh ayahnya, Wardi (57).

“Saya juga mendengar suara kemrongsong, seperti dari tubuh gunung,” aku Wardi.

Tanda lain, asap yang keluar dari kawah Merapi juga terlihat lebih tebal dari biasanya.

“Tebal dan pekat cokelat,” tambah Warsini. Keganjilan itu malah jadi bahan candaan mereka saat akan berangkat.

“Adik saya sempat nanya, nanti kalau njebluk piye, saya bilang, ya lari,” lanjutnya.

Candaan itu ternyata jadi kenyataan.

Keduanya mengalami peristiwa yang sangat menyeramkan tak jauh dari puncak Merapi.

Bahkan nyaris merenggut nyawa mereka.

Warsini mengaku saat lari turun tak pernah lagi menengok ke belakang.

Ia benar-benar ketakutan jika gulungan asap dari Merapi memburu dan melibas mereka.

“Takut kaya kejadian 2010,” timpal Wartini, sang adik.

Saat berbincang-bincang dengan Tribunjogja.com di dekat kandang ternak keluarga Wardi, mereka masih menyuguhkan wedang teh dan krupuk beras di tengah suasana yang panik setelah erupsi.

Keluarga itu memiliki empat ekor sapi perah dan simetal (pedaging). Warsini dan Wartini jadi tulang punggung keluarga tiap pagi, yaitu mencari rumput ke lereng Merapi.

Suami-suami mereka ikut buruh padat karya atau kadang mencari pasir di Kali Gendol.

“Biasanya selesai merumput sekitar pukul 8,” kata Warsini.

Sebelum tugas mereka tunai, ternyata pagi tadi mereka dipaksa lari lintang pukang mencari selamat saat Merapi “batuk” memuntahkan material vulkanik.

Pada 2010, keluarga itu kehilangan semua harta benda. Rumah mereka di Kalitengah Lor ludes tersapu awan panas.

Mereka akhirnya kembali membangun rumah di atas puing-puing, di Kalitengah Lor. Tawaran pindah ke hunian tetap di lokasi baru, ditolak sebagian besar warga.

Waktu itu mereka menolak karena takut kehilangan tanah temoat tumpuan hidup mereka jika pindah ke permukiman relokasi.

Peristiwa 2010 masih meninggalkan memori kuat yang membuat trauma. “Tadi gak ada sirine bunyi atau pengumunan mengungsi,” kata Wardi.

Pengungsian dilakukan mandiri, inisiatif masing-masing warga dengan sarana seadanya. Khusus untuk murid SD Srunen, dievakuasi menggunakan truk pengangkut pasir.

Menurut Tini, warga Kalitengah Lor yang membuka warung di Klangon, sempat terjadi beberapa kecelakaan kecil saat proses pengungsian.

“Tabrakan dan jatuh dari motor karena berebut jalan. Semua panik, dan ada yabg naik ada yang turun. Situasi ruwet pokoknya,” kata Tini.

Saat Tribunjogja.com tiba di Klangon tengah siang hari, sejumlah warga terlihat turun dari perbukitan membawa rumput. Situasi bergerak normal. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Carstensz adalah puncak tertinggi Indonesia di Papua, satu dari Seven Summit dunia. Inilah Maximus Tipagau, putra asli Papua yang akan membawa kamu ke sana.

Carstensz Pyramid atau yang biasa disebut Puncak Carstensz berada pada ketinggian 4.884 mdpl. Lokasinya berada di rangkaian Pegunungan Tengah, Papua. Carstensz pun masuk dalam daftar 7 puncak tertinggi di 7 benua alias Seven Summit.

Puncak Carstensz Pyramid (Istimewa)

Namun menuju ke Puncak Carstensz bukanlah barang mudah. Puncak yang sering dihujani salju ini adanya di lokasi yang sulit terjamah, butuh 7 hari jalan kaki dari Desa Ugimba di Kabupaten Intan Jaya menembus hutan rimba yang tidak dihuni manusia.

Untuk menuju ke Puncak Carstensz, hanya ada beberapa operator pendakian saja. Salah satu operator pendakiannya ternyata ada yang dibuat oleh putra Papua asli yaitu Adventure Carstensz, oleh Maximus Tipagau.

Perjalanan pendakian ke Puncak Carstensz (Istimewa)

“Saya mendirikan Adventure Carstensz di tahun 2004. Awalnya, saya suka foto-foto di sekitar Puncak Carstensz dan banyak teman saya yang suka dan memotivasi untuk membuat operator pendakian ke sana. Ah, benar juga,” kata Maximus memulai perbincangan kepada detikTravel di salah satu restoran di Jakarta Pusat, Kamis 10 November 2016

Di tahun yang sama, Maximus masih bekerja di PT Freeport. Kemudian dia mengumpulkan modal untuk membuat operator pendakian yang akhirnya diberi nama Adventure Carstensz.

Maximus membuka memorinya, mengingat masa kecilnya. Siapa sangka, umur 6 tahun dia sudah mendaki sampai ke kaki Puncak Carstensz bersama bapaknya.

“Saya dulu cuma pakai koteka sampai ke kaki Puncak Carstensz bersama bapak saya untuk berburu. Sekarang mana berani kalau cuma pakai koteka,” ucapnya sembari tertawa.

Motivasi untuk mendirikan Adventure Carstensz rupanya juga berasal dari dirinya sendiri. Karena dia pikir, pariwisata adalah salah satu cara untuk menyejahterakan masyarakat di Desa Ugimba dan sekitarnya.

“Pariwisata itu mendatangkan uang. Saya bisa memperkerjakan orang-orang Ugimba menjadi porter. Mereka juga bisa berjualan suvenir, menjadi pemandu dan lain-lain. Pendaki yang datang membawa uang dan uangnya itu akan langsung dirasakan oleh kami sendiri,” paparnya.

Porter sebagai pengangkut barang pendaki (Istimewa)

Selain modal untuk mendirikan Adventure Carstensz, Maximus turut mengajak orang-orang Ugimba untuk sadar wisata. Status dirinya sebagai anak panglima perang Suku Moni yang mendiami Desa Ugimba memudahkan jalannya. Orang-orang setempat diberi pelatihan untuk melayani pendaki dan wisatawan.

Hingga kini, Adventure Carstensz sudah membawa sekitar 200 pendaki per tahun ke Puncak Carstensz. Hampir 80 persen pendaki berasal dari luar negeri seperti dari AS, Australia, Inggris, Belanda, Prancis hingga China.

“Biayanya USD 10.000 untuk pendaki mancanegara dan Rp 50 juta untuk pendaki dalam negeri. Khusus dalam negeri saya kasih harga murah, walau harga segitu tetap saja dinilai mahal. Tapi mau bagaimana lagi, masa orang Indonesia sendiri tidak bisa menikmati Carstensz,” urainya.

Harga pendakian tersebut belum termasuk tiket pesawat ke Timika. Harganya sudah termasuk biaya porter Rp 7 juta per hari, makanan selama pendakian, pemandu dan lain-lain. Bagi yang berminat, silakan kunjungi langsung website Adventure Carstensz.

Apa yang Maximus lakukan, patut diacungi jempol. Dengan keringat dan isi dompet pribadi, dia membangun pariwisata di Desa Ugimba. Dia juga yang memudahkan jalan pendaki untuk menuju Puncak Carstensz. Baginya, lebih baik dia sendiri yang turun tangan daripada harus terus menunggu bantuan pemerintah.

Kalau bukan orang Papua sendiri, maka siapa lagi yang memajukan pariwisata Papua. Tidak terasa, dari pedalaman rimba Papua, Maximus kini bekerja di Istana Kepresidenan untuk membantu Lenis Kogoya, Staf Khusus Presiden untuk masalah Papua. Meski begitu, promosi pariwisata Papua tidak dia tinggalkan.

“Belum ada perhatian dari pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata. Puncak Carstensz itu salah satu Seven Summit dunia, ada salju tropis di sana. Ini keajaiban dunia, maka jangan sampai disia-siakan. Aneh kan, kalau Kementerian Pariwisata tidak melirik Puncak Carstensz,” tutup Maximus yang juga baru menerbitkan buku ‘Maximus & Gladiator Papua’. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Penampilan tim putri Indonesia di penyisihan grup Z melawan Tiongkok berakhir dengan kemenangan Indonesia dengan skor 3-2. Indonesia pun menduduki puncak klasemen dan menyandang status juara grup.

Kemenangan ini diapresiasi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti.

Strategi mengambil dua kemenangan di ganda dan satu di tunggal disebutkan Susy dapat berjalan dengan baik. Fitriani yang turun di tunggal pertama, punya rekor sekali kemenangan atas Chen Yufei, tunggal putri andalan Tiongkok.

Sementara Gregoria Mariska dan Ruselli Hartawan diturunkan karena belum memiliki catatan rekor pertemuan dengan He Bingjiao dan Chen Xiaoxin. Dari tipe permainan pun Gregoria dan Ruselli dinilai yang paling sesuai untuk menghadapi lawan.

“Ini baru langkah awal, kami harus tetap fokus dan konsisten di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Kemenangan ini menjadi satu penyemangat untuk tim putri,” kata Susy yang dijumpai di Stadion Abdul Halim seperti dirilis badmintonindonesia.org.

“Dari tiga tunggal, Fitri yang dapat poin. Setelah di Indonesia Masters dia bisa mengimbangi Ratchanok (Intanon), sepertinya ini menambah keyakinan dia,” ujar Susy.

Di nomor ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu dan Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris dapat menjalankan tugas dengan baik meskipun laga Rizki/Della diwarnai ketegangan karena harus berakhir dengan tiga game dan adu setting melawan pasangan muda Tiongkok.

“Ganda putri memang mengemban tanggung jawab yang berat. Ini team event, Rizki/Della jadi penentu pula. Saya lihat memang ada ketegangan, lawannya pasangan muda yang permainannya cukup alot. Rizki/Della akhirnya bisa lepas dari ketegangan itu,” tutur Susy.

“Saya lihat kali ini tim putri bisa main tanpa beban, tapi masih punya kemauan untuk menang. Semangat dan kerja keras yang ditunjukkan membuahkan hasil. Setelah sekian lama terpuruk, saya rasa kemenangan atas tim Tiongkok ini bisa jadi modal bagi pemain-pemain putri kita untuk memperbaiki diri untuk bisa masuk ke jajaran elit,” jelasnya.

Susy sempat melontarkan kritik tajam kepada para pemain tunggal putri. Dituturkan Susy, hal ini sedikit membawa perubahan, namun Susy tak ingin perubahan itu hanya terjadi di turnamen ini saja, melainkan di turnamen-turnamen selanjutnya.

“Saya hanya bisa kasih masukan, kritik membangun yang menyemangati, bukan maksudnya mengintimidasi. Saya bilang, ayo bangkit, nggak mungkin kita capai prestasi kalau nggak kerja keras, nggak mungkin kalau di zona nyaman terus. Kita harus akui kalau masih kalah dengan negara lain. Kalau kalah otomatis kerjanya harus dobel untuk bisa menang,” cerita Susy.

“Empat sektor sudah membuktikan, saya bilang, kenapa tunggal putri belum? Saya juga penasaran, alangkah baiknya kekuatan merata di semua sektor. Ini yang membuat saya berikan perhatian lebih dan kritik lebih kepada tunggal putri. Kalau tidak dikritik, mereka akan, yah sudah begini saja. Tapi kan sayang, mereka punya kemampuan. Toh kalau juara mereka juga yang menikmati,” beber Susy.

“Mereka mendengarkan dan mungkin terpacu untuk membuktikan. Saya senang, tapi saya harap perubahan ini tidak untuk kali ini saja, masih banyak pertandingan lain yang harus dibuktikan,” pungkasnya.

Selanjutnya tim Indonesia akan menunggu calon lawan yang ditentukan dari undian pada siang ini. Pertandingan babak perempat final beregu putri akan dilangsungkan besok, kamis 8 Februari 2018. (***)

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Padang – PT Angkasa Pura (AP) II Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman, Sumatra Barat (Sumbar) mencatat menjelang puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 pada 9 Februari sebanyak lima jet pribadi akan mendarat di bandara itu.

Kelima jet pribadi ini membawa para tamu yang akan mengikuti rangkaian acara HPN 2018.

Peswat jet pribadi ini membawa para tamu undangan Hari Pers Nasional (HPN) 2018.

“Berdasarkan data yang masuk hingga saat ini ada lima jet pribadi konfirmasi akan mendarat di BIM,” kata Humas PT Angkasa Pura II BIM di Padang, Rabu 7 Februari 2018.

Ia merinci jet pribadi pertama berangkat dari Malaysia dengan tipe Bombardier Global 5000 dengan operator PT Berjaya Air mengangkut rombongan Datuk Seri Md Saleh . Kemudian dari Jakarta tipe Gulfstream 4 dengan operator Transwisata Prima Aviation mengangkut rombongan Artha Graha Network.

Lalu dari Pekanbaru dengan tipe CL 600 dioperatori Kharisma Flight Support atas nama James T Riadi. Selanjutnya dari Jakarta dengan tipe Gulfstream 5 dengan operator Asian Corporate Aviation mengangkut rombongan Oesman Sapta.

Berikutnya dari Surabaya menuju Padang dengan tipe Legacy 650 dioperasikan PT Wira Adirajasa Dirgantara.

Sebelumnya Kepala Biro Humas Sumbar, Jasman mengatakan pihaknya membenarkan sejumlah tokoh penting akan hadir pada puncak HPN di Padang. “Sejumlah pemilik media dan tokoh pers nasional memilih menggunakan jet pribadi, ujar dia.

Ia menyebutkan nama-nama yang akan hadir antara lain Hari Tanoe Sudibyo, Aburizal Bakrie, James T Riady, dan Chairul Tanjung. Selain itu juga ada Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang dan sejumlah tokoh nasional lainnya. (***)

Sumber : republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Padang – Presiden Jokowi insya Allah akan berada di Padang untuk acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 8 dan 9 Februari 2018.

Istimewa

“Ya jadwalnya seperti itu, ” kata panitia HPN dari PWI pusat, Mhd Ihsan, di Jakarta, Selasa 16 Januari 2018.

Pada Selasa pagi Gubernur Irwan Prayitno dan sejumlah staf serta Ketua PWI pusat Margiono dan panitia HPN pusat diterima Mensesneg Pratikno.

Acaranya, mematangkan kunjungan kepala negara ke Padang.

Dalam pertemuan itu Mensesneg menyebut Presiden Joko Widodo ke Padang 8 dan 9 Februari.

Di Padang selain menghadiri acara para wartawan itu, presiden akan meninjau dan meresmikan beberapa proyek.

Menurut Ihsan, kehadiran presiden di acara HPN harus dimanfaatkan oleh daerah setempat untuk pembangunan.

Pratikno berpesan agar gubernur dan PWI menyiapkan acara sebaik-baiknya sehingga kehadiran kepala negara membawa manfaat bagi rakyat.

Jokowi sudah beberapa kali ke Sumatera Barat dalam sejumlah rangkaian acara.

Pada setiap HPN sejak dulu presiden selalu datang, kecuali HPN di Batam.

Yang hadir Wapres Jusuf Kalla. Ketua PWI Sumbar Heranof dan Humas Pemprov Jasman menyebut persiapan di Padang sudah hampir rampung.

“Kita mulai hitung mundur,” kata Jasman yang hadir dalam pertemuan dengan Mensesneg. (***)

 

sumber: smsi

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karang asem – Warga sekitar Desa Besakih melihat asap di Puncak Gunung Agung lebih tebal dari biasanya, Kamis 2 november 2017 malam pukul 21.00 Wita.

Penampakan Gunung Agung dari Pura Kiduling Kerteg juga menebal.
Bahkan penampakan asap kali ini dianggap paling tebal dari penampakan asap sebelumnya.

Inilah yang kemudian membuat mereka kembali menuju ke pos pengungsian masing-masing.

Dua jam berselang, kabut tebal kemudian menutup gunung sehingga tak terlihat lagi.

Namun, masih tetap ada warga yang bertahan di Besakih, karena warga menganggap kepulan asap seperti itu akhir-akhir ini sering terjadi.

Dan juga status gunung sudah di level 3, turun dari level sebelumnya.

Ada dari mereka yang mengungsi ke pos pengungsian Banjar Pande Galiran (Klungkung), pos pengungsian di Banjar Besang, pos Puri Boga Bukit Jambul Pesaban Rendang (Karangasem), dan beberapa yang lain pergi mengungsi ke rumah sanak saudara yang ada di Rendang. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan potensinya, yang terpenting adalah niat. Begitu juga yang dilakukan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lingga untuk memperkenalkan alam wisata gunung dari Lingga.

Ketua DPD KNPI Lingga, Saparuddin mengatakan ingin memperkenalkan potensi alam di daerahnya. Dan cara yang digunakan adalah memperingati sumpah pemuda di puncak gunung. Untuk merealisasikan kegiatan itu, baru-baru ini KNPI Lingga sudah menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah pemuda untuk persiapan pelaksanaan kegiatan tersebut. Rapat koordinasi teknis digelar Sekretariat DPD KNPI Lingga.

“Kita bahas persiapan pendakian Bukit Permata,” katanya.

Dikatakan Sapar, persiapan pendakian Bukit Permata, nantinya akan di koordinir oleh Komunitas Pecinta Alam Lingga (KePAL). Dalam hal ini, secara teknis akan dilakukan oleh KePAL, baik perlengkapan kemah, logistik sampai pada perlengkapan pribadi peserta pendaki.

Peringatan HUT Sumpah Pemuda di Lingga, kata Sapar bukan hanya pendakian Gunung Sepincan. Meski dirinya sendiri ikut untuk mendaki puncak permata yang terkenal indah tersebut.

“Kita memperkenal negeri di atas awan. Katanya di puncak permata awan semakin dekat,”ujarnya. (meteo)

MEDIAKEPRI.CO.ID – Tim Ekspedisi Bhinneka Tunggal Ika dengan misi pendakian puncak Jaya dan Carstensz Pyramid terbang malam ini dari bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jakarta menuju Timika, Papua.

“Jadwalnya jam 9.30 pagi tiba di Timika, lalu bermalam satu hari di Ridge Camp, Tembagapura,” ujar Wakil Ketua Ekspedisi, Dar Edi Yoga di Bandara Soetta, Rabu, 27 September 2017.

Perjalanan lanjut menuju zebrawall (3.800 meter) pada Jumat, 29 September 2017 untuk pelepasan tim ekspedisi oleh Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Teguh Santosa.

Lebih lanjut Dar Edi menjelaskan, tim yang digagas TNI AD dengan melibatkan pelajar, mahasiswa, dan 11 jurnalis berbagai media di Indonesia ini akan mengibarkan sang saka Merah Putih di tanah tertinggi NKRI yang juga masuk tertinggi di dunia, Carstensz Pyramid atau Jaya Wijaya bertepatan HUT ke-72 TNI pada 5 Oktober 2017.

“Empat pelajar yang terlibat dalam tim ini akan memecahkan rekor pertama menginjakkan kaki di puncak tertinggi benua Austronesia,” ucap Dar Edi Yoga.

Masih kata Dar Edi, ekspedisi ini sekaligus mengingatkan bahwa setiap jengkal tanah di Papua adalah wilayah NKRI yang harus dipertahankan dan dijaga demi generasi bangsa di masa mendatang.

Adapun empat pelajar dimaksud dari SMA 68 Jakarta yang tergabung dalam organisasi pecinta alam Elpala yakni Geas Aldino (16), M. Salman Alkufy (21), M. Iqbal Putra Sabila (17), Shafira Dinda Ariefty (17).

Kegiatan ini turut didukung Artha Graha Peduli. (***)

Sumber: SMSI

Untuk Rayakan HUT Ke 72 TNI

MEDIAKEPRI.CO.ID – Dalam rangka HUT ke 72 TNI, Kodam XVII/Cenderawasih akan melakukan  pendakian masal ke puncak tertinggi Indonesia, Puncak Carstensz Pyramid 4.884 mdpl yang berada di Provinsi Papua.

Hal itu disampaikan Aster Kasdam XVII/Cenderawasih Kolonel Kav. Edward Sitorus kepada wartawan beberapa saat yang lalu, Selasa, 19 September 2017.

“Dalam pendakian nanti, turut juga para pendaki dari kalangan pelajar, mahasiswa, pemuda, dan wartawan dari berbagai media Indonesia,” terang alumnus Akmil 90 ini.

Ditambahkannya, pendakian kali ini selain dalam rangka memperingati HUT ke 72 TNI, juga bertujuan untuk menanamkan semangat patriotisme dan cinta tanah air, serta menggalang soliditas dan keakraban antar TNI, pelajar, mahasiswa, pemuda, media dan masyarakat lainnya.

“Pendakian gunung dapat menjadi sarana perekat toleransi keberagaman di Indonesia,” tegas Aster Kasdam XVII/Cenderawasih yang dikenal dekat dengan masyarakat Papua.

Dikatakannya pula, pendaki tunadaksa dunia asal Kota Solo, Sabar Gorky, juga akan terlibat dalam pendakian ke Puncak Carstensz Pyramid.

Sementara itu, salah satu anggota tim pendaki dari kalangan wartawan, Dar Edi Yoga mengatakan, bahwa pendakian di salah satu gunung tertinggi di dunia ini akan melibatkan para wartawan dari Kantor Berita Politik RMOL, Reportasenews, Lampungtoday, Nextrip, Reuters, Harian Papua, CNN Indonesia, Transtv, MNC, RMTV, juga anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).

“Para pendaki sipil bersama anggota TNI akan mengibarkan bendera Merah Putih di kedua puncak Jayawijaya, dan akan membentangkan banner logo HUT ke 72 TNI,” jelas Dar Edi Yoga yang sehari-hari menjabat sebagai Pimpinan Perusahaan RMOL.

Dengan pendakian ini, tegas Manager Sabar Gorky ini, sekaligus ingin membuktikan bahwa setiap jengkal dan titik yang ada di wilayah pendakian merupakan bagian dari NKRI yang tidak terpisahkan. Untuk itu harus menjadi perhatian kita bersama, sehingga wajib dijaga dan dirawat demi kehidupan kita bersama. (***)