Rokok

BAKTI TNI

Kamis | 18 Oktober 2018 | 14:00

Pak Dukuh Kebagian Rokok dari Satgas TMMD

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sleman- Sarana untuk mendekatkan diri ke warga masyarakat banyak hal yang bisa dilakukan, salah satu yang diimplementasikan Satgas TMMD adalah dengan berbagi rokok kepada warga sasaran TMMD Reguler ke 103 Kodim 0732/Sleman. Rabu, 17 Oktober 2018.

Dikatakan Pasilog TMMD, Kapten Inf Widada ”Banyak cara dan kesempatan selalu kami gunakan untuk membangun komunikasi dengan warga desa Temuwuh Kidul sasaran TMMD Reguler Ke-103 . Misalnya dengan ronda bersama, berolahraga bersama, mancing bersama bahkan dengan ngobrol di saat istirahat kerja. Dengan jembatan ini, pengerahan warga besok akan lebih maksimal lagi karena merasa” ungkapnya.

Dari segi kesehatan memang rokok tidak baik, namun ternyata barang yang mengandung nikotin ini adalah senjata yang cukup ampuh dalam menjalin kekraban dengan warga.

”Seperti saat bergotong-royong dengan warga dilokasi pekerjaan TMMD, cara yang paling efektif adalah dengan menawarkan, membagi bahkan menyulutkan rokok kepada warga. Dengan cara itu warga merasa bahwa Satgas TMMD seperti teman atau saudara sendiri” pungkasnya. Terlihat juga Kepala Dukuh, Widiyanto juga mendapatkan servis memuaskan dari para Satgas, bukan hanya mendapat rokok gratis, namun juga disulutkan.(Zhoel)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ariel Tatum sengaja memposting foto saat dirinya merokok. Sepertinya, Ariel Tatum memang sudah siap dengan hujatan yang akan diterimanya dari netizen karena pose itu.

“Untuk yang rela lenyap terbakar api, setiap ku hirup dan ku hela asapmu kembali,” tulis Ariel Tatum seperti dilihat Jumat, 8 Juni 2018.

Di foto itu, Ariel Tatum terlihat sedang duduk santai bersandar di jendela. Ia terlihat mengembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya.

Netizen pun langsung bereaksi. Banyak yang mencoba mengingatkan Ariel Tatum soal kesehatannya.

“Sayang sama cantiknya kak, sayang juga sama tubuhnya,” kata salah satu netizen.

“Merokok tak baik bagi kesehatan kak, jangan merokok,” timpal yang lain.

Sebelumnya Ariel Tatum juga sempat membuat heboh gara-gara mengaku kembali merokok dengan bubuhan kata-kata kasar. Pengakuan itu diposting di Instagram pada Desember 2017.

“Setelah dua minggu berenti dan kemaren mendadak ngerokok lagi, gw baru inget alasan kenapa gw harus banget berenti. Yaitu krn rokok kretek ngebolongin semua baju dan celana gw,” tulis Ariel sambil memajang foto celananya yang bolong.

Tak berapa lama, postingan itu dihapus. Ariel Tatum minta maaf dan menyebutkan bahwa postingan itu seharusnya dikirim sebagai private story untuk temannya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – IR (38) dan AN (30) diduga miliki narkotika jenis sabu dengan berat 0,42 gram dibekuk Satres narkoba Polres Karimun di Jalan Nusantara, Kecamatan Karimun, Minggu, 11 Maret 2018 sekitar pukul 16.45 WIB.

Kasat Narkoba Polres Karimun AKP Nendra Madya Tias mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa adanya seseorang tanpa hak melawan hukum, memiliki, menyimpan atau melakukan transaksi narkotika jenis sabu di jalan Nusantara Pelabuhan KPK.

“Setelah mendengar informasi tersebut anggota kita bergerak cepat ke TKP, ternyata benar kita temukan ciri-ciri yang dimaksud dan kita langsung lakukan penangkapan,” kata Nendra, Senin, 19 Maret 2018.

Nendara mengatakan, tersangka IR sempat menjatuhkan topi miliknya yang di dalamnya diduga tersimpan 1 paket kecil narkotika jenis sabu. Setelah dilakukan interogasi lebih lanjut, barang haram tersebut benar miliknya yang didapat dari AN

Dari hasil interogasi yang didapat dari IR, keesokan harinya sekira pukul 15.45 WIB, anggota Sat Resnarkoba Polres Karimun melakukan penangkapan terhadap AN di depan kedai kopi 388, Kecamatan Karimun.

“Setelah kita kembangkan berdasarkan pengakuan dari IR ini, besoknya kita langsung melakukan penangkapan terhadap AN, dan barang tersebut benar miliknya yang diberikan kepada Ir,” ujarnya.

Kemudian, setelah dilakukan interogasi lagi terhadap AN, ternyata barang tersebut didapat dari KAY yang saat ini menjadi DPO.

“Sabu ini mereka dapatkan dari KAY. Saat kita lakukan pengembangan lebih lanjut ternyata nomor selulernya sudah tidak aktif lagi,” ucapnya.

Untuk tersangka dan barang bukti berupa, 1 paket kecil narkotika diduga jenis shabu, 1 buah kotak rokok luffman, 1 buah topi warna hitam, 1 buah plastik pembungkus shabu, 3 unit handphone berbagai merek telah kita dibawa ke Polres Karimun untuk pengembangan lebih lanjut. (kmg/riandi)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bintan – Berdasarkan kajian, Badan Pengusahaan (BP) Bintan sudah menentukan kebutuhan rokok free trade zone (FTZ) untuk tahun 2018.

Berdasarkan perhitungan tersebut kemudian BP Kawasan Bintan menetapkan jumlah kebutuhan rokok Tahun 2018 sebanyak 119.045.234 bungkus atau setara 29.761 karton.

“Jumlah penduduk FTZ sebanyak 78.029 jiwa, dengan kunjungan wisatawan nasional ke wilayah FTZ, sebanyak 268.043 orang. Sedangkan, wisman sebanyak 374.012 orang dan tenaga kerja wilayah FTZ 9.984 orang,” ujar Ketua BP Kawasan Bintan, Saleh Umar kepada media, Selasa, 13 Maret 2018.

Dia mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan kajian dengan menyebar kuisioner dilapangan terhadap 100 perokok aktif. Hasilnya, rata-rata perokok aktif masing-masing mampu menghabiskan 4 bungkus rokok.

“Rata-rata perokok aktif bisa menghabiskan 4 bungkus perhari”, ujar Saleh.

Saleh menjelaskan bahwa tidak semua penduduk masuk dalam kategori usia perokok. Adapun perbandingannya adalah 1 banding 4. Dimana dari 4 penduduk terdapat 1 yang merokok.

”Kawasan FTZ, seperempat penduduknya merokok,” katanya.

Saleh menambahkan, pihaknya dalam mengeluarkan izin kuota rokok tidak hanya menggunakan data perokok lokal. Penerapan kuota rokok juga mengacu pada kebutuhan rokok wisatawan mancanegara (wisman). Rata-rata, wisman hanya merokok satu bungkus. Namun uniknya, rokok Kawasan FTZ kerap dijadikan oleh-oleh atau sebagai souvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke Bintan. (***)

sumber: wartakepri.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Canberra – Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan para orang tua di Australia ternyata lebih mengkhawatirkan penggunaan media sosial dan teknologi pada anak-anak ketimbang narkoba, alkohol atau merokok.

Layanan dukungan kesehatan mental remaja ‘ReachOut’ mensurvei orang tua dari anak berusia 12 sampai 18 tahun mengenai kekhawatiran mereka dan mendapati bahwa 45 persen dari mereka khawatir tentang penggunaan media sosial oleh anak-anak mereka.

Kekhawatiran mengenai teknologi menyusul ketat sebesar 42 persen.

Sebagai perbandingan, 25 persen orang tua khawatir anak-anak mereka menggunakan narkoba, alkohol atau merokok.

Direktur Eksekutif ReachOut, Jono Nicholas, mengatakan bahwa orang tua mengkhawatirkan penggunaan media dan teknologi sosial sehari-hari.

“Media sosial adalah bagian penting dari jaringan sosial mereka namun dalam banyak kasus mereka tidak yakin apakah mereka aman saat menggunakan situs media sosial,” kata Nicholas.

Poin inti:
ReachOut mensurvei 890 orang tua dengan anak-anak berusia antara 12 dan 18 tahun
45 persen orang tua mengkhawatirkan media sosial, 42 persen tentang teknologi
25 persen khawatir tentang anak-anak mereka yang menggunakan narkoba, alkohol, merokok

“Tidak seperti beberapa produk lain, yang saya kira dari sudut pandang orang tua, setidaknya Anda bisa mencoba dan menjauhkan mereka.”

ReachOut mensurvei 890 orang tua pada bulan Desember 2017, sebulan sebelum Amy Dolly Everett, seorang gadis berusia 14 tahun melakukan bunuh diri karena menjadi korban perundungan atau bullying di dunia maya dan menjadi agenda nasional.

Nicholas mengatakan bahwa orang tua khawatir tentang anonimitas di media sosial.

“Mereka benar-benar khawatir tentang sifat intimidasi yang mungkin terjadi di situs media sosial dan betapa mudahnya mengingat bahwa ini adalah produk yang kemungkinan akan digunakan remaja setiap hari,” katanya.

“Bahwa kerugian dan terutama bahaya psikologis bisa sangat signifikan.”

Jika Anda atau orang yang Anda kenal memerlukan bantuan:
Lifeline pada 13 11 14
Kids Helpline di nomor 1800 551 800
MensLine Australia pada tahun 1300 789 978
Bunuh Diri Call Back Service di nomor 1300 659 467
Beyond Blue di nomor 1300 22 46 36
Headspace di nomor 1800 650 890
ReachOut ingin perusahaan teknologi berbuat lebih banyak untuk melindungi kaum muda.

“Platform tersebut adalah satu-satunya yang dapat memperbaiki beberapa kontrol keselamatan tersebut,” kata Nicholas.

“Kami tentu saja meminta perusahaan media sosial untuk berbuat lebih banyak agar lingkungan lebih aman terutama untuk anak-anak dan remaja.”

“Perusahaan-perusahaan ini memiliki beberapa pemikiran terpintar di dunia. Kami benar-benar ingin mereka juga terlibat mengatasi hal ini dan mengatakan ‘inilah langkah selanjutnya’.”

Nicholas membandingkan kemunculan media sosial dengan penemuan mobil karena keduanya membuka kemungkinan baru namun membawa bahaya baru.

“Mereka membawa risiko yang sangat signifikan dan yang kami desak adalah membuat perangkat itu seaman yang kami bisa,” katanya.

Perhatian orang tua terhadap anak mereka adalah pendidikan dan tekanan belajar.

“Apa yang ditunjukkan Anda adalah bahwa bagi banyak keluarga, ini adalah masalah sehari-hari, apa yang akan kita sebut sebagai masalah kesehatan mental yang biasa dibicarakan banyak orang tua dan yang paling membuat mereka stres,” kata Nicholas.

Dia mengatakan bahwa sekolah dan sistem pendidikan telah membuat perubahan untuk mengurangi tekanan pada siswa namun lebih banyak yang harus dilakukan.

ReachOut mengatakan bahwa penelitiannya terwakili secara nasional. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lhokseumawe – MIRIS. Tim Star Polres Lhokseumawe mengamankan seorang ibu kandung yang diduga melakukan penganiayaan terhadap anaknya di kawasan Mongeudong Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, Sabtu, 3 Maret 2018 sekitar pukul 00.30 WIB.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman, SH, S.Ik, MH melalui Kabag Ops Kompol Ahzan, S.Ik, S.Ik, MSM mengatakan, UG (32) ibu kandung korban diduga melakukan penganiayaan terhadap anaknya, sebut saja mawar (11 tahun) dan Bunga (8 tahun). Selain itu, petugas turut mengamankan MI (37) yang merupakan calon suami ibu kandung.

Sebelumnya tim menerima informasi dari masyarakat bahwa telah terjadi penganiayaan terhadap anak yang dilakukan orang tua kandungnya di lokasi tersebut.

“Saat itu UG (32 tahun) menunggu anaknya Mawar, setelah menenui anaknya UG (ibu kandung) memukuli mawar bahkan menurut keterangan warga sekitar UG menyolok wajah mawar dengan sebatang rokok yang menyala,” ungkap Ahzan.

Selanjutnya datang Warga sekitar melerai dan mengamankan mawar dari UG serta melaporkan hal tersebut kepada Tim STAR.

“Tim STAR yang datang ke lokasi langsung mengamankan orang tuanya ke Mapolres Lhokseumawe untuk proses pemeriksaan lebih lanjut,” papar Ahzan.

sumber: galamedianews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kelakuan pasangan suami-istri di Desa Tlomar, Bangkalan, M (36) dan U (18) tak pantas ditiru. Keduanya dengan sengaja memberikan buah hati mereka yang berusia 9 bulan rokok. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berang!

Ketua KPAI Susanto sangat menyesalkan tindakan keji pasangan tersebut. Untuk diketahui, keduanya mengaku iseng memberikan rokok ke anaknya.

“Kami mengecam keras atas tindakan tersebut. Ini tak dibenarkan!” ujar Susanto saat dimintai tanggapan, Jumat 23 Februari 2018.

Menurut Susanto, mengasuh anak tak boleh serampangan. Dia lalu memberi pesan kepada pasangan asal Desa Tlomar itu tentang cara mendidik anak yang benar.

“Mendidik anak itu perlu pembiasaan baik. Dari hal-hal sederhana sekalipun (harus diajarkan) sejak usia dini,” tutur Susanto.

“Ini harus menjadi pelajaran kita semua, tak boleh main-main dalam mengasuh anak,” pesan dia.

Aksi memberi rokok pada bayi dilakukan pada Sabtu 17 februari 2018 malam. Kemudian diambil fotonya dan diunggah ke facebook. Netizen mengecam. Tindakan itu dinilai tak pantas dilakukan.

Pasangan itu sempat diamankan polisi sebelum diberi peringatan keras dan diminta tak mengulangi perbuatan itu.

“Yang bersangkutan mengaku iseng,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera.
(***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Dua orang pria mendatangi sebuah minimarket di Kampung Cipatuguran, RT 03 RW 06 Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Sukabumi, Jabar pada Selasa malam 19 Februari 2018.

Mereka mengancam pegawai minimarket, aksi mereka terekam kamera telepon seorang pegawai minimarket.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 21.00 WIB, dua orang pegawai minimarket yang saat itu bertugas dikagetkan dengan kedatangan dua orang pria yang langsung masuk dan meminta izin untuk ikut buang air kecil setelah itu mereka minta diberikan dua bungkus rokok.

Dalam rekaman video yang viral di media sosial terlihat satu orang pelaku bertelanjang dada memakai topi berwarna putih sementara seorang lagi berkaos hitam.

“Mereka masuk ke dalam minimarket awalnya bilang mau ikut ke air, saya bilang di air ada orang dia langsung marah-marah. Dia lalu ngambilin snack dam minta diberi rokok dua bungkus,” kata FS, salah seorang pegawai minimarket kepada detikcom, di lokasi kejadian, Kamis 22 Februari 2018.

Tidak sampai d situ, keduanya kemudian mengancam akan berbuat kasar apabila pegawai melaporkan hal itu ke warga. Diduga, kedua pelaku dalam keadaan mabuk.

“Sebelum pergi mereka ngancam mau membunuh kalau sampai laporan ke warga. Setelah itu mereka langsung pergi,” lanjut FS.

Saat kejadian FS sedang bersama rekannya seorang perempuan yang merekam kejadian saat kedatangan dua pria tersebut. “Kami tidak bisa apa-apa karena memang saat itu sudah sepi,” ujarnya.

Selepas kedua orang itu pergi, FS kemudian melaporkan hal itu ke Arid Kurnia, Ketua RW 06. Bersama warga mereka kemudian melakukan pengejaran.

“Saat itu juga kami melakukan pengejaran, sekitar 3 jam pencarian sampai ke daerah Jayanti, pesisir sampai pertigaan cempaka ratu mereka tidak ditemukan,” terangnya. (***)

sumber: detik

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polres Jakarta Selatan membongkar kasus rokok palsu yang diedarkan di Setiabudi. Rokok palsu yang dijual di Setiabudi memiliki kemiripan dengan rokok asli, lantas bagaimana membedakannya?

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto, mengatakan, rokok palsu dijual dengan harga yang lebih murah. Rokok palsu yang diedarkan di Pasar Mencos Setiabudi juga mempunyai perbedaan rasa.

“Kasus ini diketahui awalnya salah seorang penjual toko korban ketika dia menjual rokok ternyata konsumen mengembalikan karena rokok yang dijualnya terasa pahit,” kata Kombes Mardiaz di Polsek Setiabudi, Jalam Setiabudi, Jaksel, Senin 12 Februari 2018.

Selain rasa, perbedaan rokok palsu juga terletak pada bungkus. Di bagian cukai rokok terlihat lebih pudar di bagian aslinya.

kertas lebih pudar warnanya (Istimewa)

Tak hanya itu, lintingan rokok juga terlihat kurang padat. Warna rokok pun tampak berbeda. Rokok palsu ini tetap berbahan dari tembakau. Namun kualitas tembakaunya adalah kualitas rendah sehingga rasa rokok berbeda dengan yang asli.

“Ini perbedaan juga terlihat dari bungkus rokok. Sekilas terlihat sama namun beda,” ujar Mardiaz.

Sementara itu, polisi saat ini masih memburu satu orang tersangka lain yang terlibat dalam peredaran rokok palsu. Orang tersebut memberikan baju palsu merek salah satu perusahaan. Baju itu yang digunakan pengedar untuk mengelabui pedagang.

“Satu pelaku DPO bekerja sama dengan mereka yang memberikan baju asli ini,” tutur Mardiaz.

Dalam kasus ini, polisi menangkap empat orang tersangka. THG alias Gino berperan sebagai pembuat rokok palsu, BS sebagai penyuplai barang, dan BS serta MZ mengedarkannya ke toko-toko.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan pasal 386 KUHP dan pasal 62 ayat 1 UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayana Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B Tanjungbalai Karimun, Benhard Sibarani menyampaikan awal Januari 2018 jajarannya sudah lima kali melakukan penegahan. Itu diungkapkannya saat ekspos penegahan yang dilaksanakan di kantor KPPBC Tanjungbalai Karimun, Selasa, 23 Januari 2018 sore.

“Awal Januari ini kita sudah lakukan lima kali penegahan,” kata Benhard Sibarani.

Penegahan pertama dilakukan, Minggu, 7 Januari 2018 terhadap Barang Kena Cukai (BKC) berupa 12 botol Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) golongan B merek Gingseng dan 12 botol merek SL. Minuman berakohol 19 persen ditemukan di pelabuhan Domestik Tanjungbalai Karimun. Adapun perkiraan nilai barang sekitar 1.200.000 dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 487.000.

Penegahan kedua mengamankan sebanyak 40 kaleng bir merek Tiger dan 20.000 batang rokok khusus kawasan bebas merk Ina Bold. Barang larangan atau pembatasan tersebut juga diamankan di Pelabuhan Domestik Tanjungbalai Karimun. Adapun perkirakan nilai barang sekitar Rp 11.936.000 dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 7.547.000.

Penegahan ketiga dilakukan di Pelabuhan Kolong, Kelurahan Sei Lakam pada Senin, 15 Januari 2018 terhadap 609 karung pakaian bekas dengan perkiraan nilai barang sekitar Rp 121.800.000. Meski ditangkap di sebuah kapal, namun petugas tidak menemukan pemilik barang ataupun kru kapal.

“Kita sudah menunggu semalaman tapi tidak ada yang datang,” jelas Anggota Seksi P2 KPPBC Tanjungbalai Karimun, Jangka.

Penegahan keempat yakni menegah 32.000 batang rokok khusus kawasan bebas merk Bro Mild dan 120 kaleng minuman MMEA. Penegahan keempat ini kembali dilakukan di Pelabuhan Domestik Tanjungbalai Karimun. Perkiraan nilai barang tersebut sekitar Rp 14.240.000 dengan potensi kerugian negara sekitat Rp 13.354.800.

Untuk penegahan kelima terjadi Minggu, 21 Januari 2018 di perairan Selat Durian Tanjungbalai Karimun. Adapun barang larangan atau pembatasan yang diamankan petugas berupa dua colly atau 101 kotak asesoris ponsel, dan 18 colly atau 115.360 batang rokok kawasan bebas berbagai merk. Perkiraan nilai barang yang ditegah ini sekitar Rp 100.503.700 dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 48.043.548. (kmg/ian)

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan didesak memeriksa ulang pos-pos pengeluaran yang menyebabkan neraca keuangan mereka selalu defisit dalam tiga tahun terakhir.

Sudaryatmo dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, BPJS sebaiknya mengecek kembali kesesuaian penanganan medis dan ongkos yang mereka bayar kepada rumah sakit swasta.

Menurut Sudaryatmo, penyedia layanan medis ‘berpotensi melakukan kecurangan’ (fraud) yang dapat menguras keuangan BPJS.

“Sekitar 80% biaya manfaat habis untuk rumah sakit, bisa pemerintah dan swasta. Khusus rumah sakit swasta, perlu dilihat lebih rinci, wajarkah klaim mereka,” kata Sudaryatmo melalui telepon, Senin 27 november 2017.

“Kalau rumah sakit pemerintah kan dananya keluar dari BPJS, masuk ke pemerintah. Kalau swasta, potensi fraud cukup tinggi. Misalnya kehamilan bisa normal, tapi justru diambil tindakan sesar yang lebih mahal,” ucapnya menambahkan.

Di luar itu, Sudaryatmo menyebut pemerintah sebaiknya memperketat regulasi untuk peserta jaminan kesehatan dalam kategori mandiri atau warga negara bukan penerima upah.

Sebagian peserta mandiri, kata Sudaryatmo, mendaftar BPJS ketika sudah mengidap penyakit atau saat membutuhkan penanganan medis.

“Di asuransi komersial, nominal premi peserta yang sudah mengidap penyakit tinggi. Di BPJS, setelah mendapat tindakan, mereka justru tidak aktif membayar iuran,” kata Sudaryatmo.

Selama tiga tahun terakhir keuangan BPJS selalu negatif. Pada tahun 2014 defisit anggaran perusahaan publik itu mencapai Rp3,3 triliun.

Angka itu membengkak menjadi Rp5,7 triliun tahun 2015 dan Rp9,7 triliun pada 2016.

Adapun, hingga semester pertama 2017, defisit BPJS Kesehatan telah mencapai Rp5,8 triliun dan diperkirakan akan bertambah menjadi sekitar Rp9 triliun di akhir tahun.

Dana di luar iuran?

Sebagai solusi ‘besar pasak daripada tiang’, pemerintah tahun 2016 menyuntikkan penyertaan modal negara (PNM) sebesar Rp6,8 triliun kepada BPJS. Modal itu dicairkan untuk menambah aset bersih.
Namun Oktober lalu pemerintah menyatakan tidak akan memberikan modal baru untuk BPJS pada tahun 2017.

Dalam rapat dengar pendapat dengan DPR pekan lalu, jajaran direksi BPJS berbicara tentang skema cost sharing sebagai salah solusi pencegah defisit anggaran yang diterapkan sejumlah negara.

Di berbagai pemberitaan, muncul pula isu BPJS bakal mengurangi pembiayaan untuk penyakit katastropik atau penyakit berongkos tinggi.

“BPJS bukan regulator. Kami tidak dalam kapasitas mengusulkan, tapi hanya memberikan gambaran yang terjadi di negara lain,” ujar Nopi kepada BBC Indonesia.

Nopi menuturkan, penyakit katastropik, yakni gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hepatitis, thalassemia, leukimia, dan hemofilia, selama ini menyedot sebagian besar anggaran BPJS.

Sampai September 2017, biaya perawatan penyakit katastropik yang telah dikeluarkan BPJS mencapai Rp12,29 triliun. Nominal itu setara 19,68% dari total pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS selama periode yang sama.
Untuk membiayai penyakit katastropik, Nopi menyebut pemerintah sejak 2003 hingga 2013 memberikan subsidi kepada BPJS. Tahun 2014, ketika PT Askes (Persero) diubah menjadi BPJS, subsidi itu tak lagi dicairkan.

Selain penyakit katastropik, Nopi menyebut defisit juga muncul dari selisih antara beban nyata yang ditanggung BPJS dan iuran yang dibayar peserta jaminan kesehatan.

Untuk kelas 3 misalnya, nilai aktuaria kesehatan sebenarnya Rp53.000, tapi peserta BPJS hanya ditarik iuran sebesar sekitar Rp45.000.

‘Pajak dosa’

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah belum memutuskan jalan keluar untuk menghadapi defisit anggaran BPJS. Rapat tingkat menteri Oktober lalu telah digelar di Kemeko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Merujuk UU 28 Tahun 2009, pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut pemerintah pusat dan disetor ke pemerintah daerah secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.

Beleid itu mengatur, 50% dari pajak rokok digunakan untuk pelayanan kesehatan, sebagai ganti penyakit yang ditimbulkan rokok.

Sebagian dari pajak rokok itulah yang diwacanakan akan diberikan ke BPJS untuk menutup defisit. (***)

sumber: tribunnews.com

RAGAM

Jumat | 10 November 2017 | 10:24

BPOM Tidak Berikan Izin Edar Rokok Elektrik, Ilegalkah?

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan tidak memberikan izin edar untuk rokok elektrik (Vape) seperti halnya dengan rokok konvensional, melainkan hanya mengawasi nikotin dan tar.

“Vape itu kami golongkan sama dengan rokok, itu rokok elektrik ada alat dan cairan. Untuk rokok BPOM tidak pernah memberikan izin edar, selama ini tidak pernah izin edar rokok dikeluarkan BPOM,” ujar Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM Ondri Dwi Sampurno dikutip dari Antara, Jumat 10 November 2017.

Ondri mengatakan BPOM mengawasi nikotin dan tar yang ada sesuai dengan persyaratan. Saat menemukan kandungan nikotin dan tar yang tidak sesuai dengan persyaratan, BPOM juga tidak mengambil tindakan, tetapi melaporkan ke Kementerian Kesehatan.

“Sekiranya ada yang tidak sesuai kami melaporkan ke Kemenkes, nanti Kemenkes menganalisis dan menindaklanjuti,” ucap Ondri.

Selain itu, BPOM juga melakukan pengawasan terkait iklan rokok yakni jika ditemukan iklan yang tidak sesuai, maka BPOM akan melakukan tindakan. Untuk rokok elektrik, BPOM akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kesehatan.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menuturkan cairan rokok elektrik wajib mengantongi izin dari BPOM serta rekomendasi dari Kementerian Kesehatan. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) resmi berlaku mulai 7 November 2017.

Aturan tersebut diharapkan lebih melindungi masyarakat karena menurut Mendag, vape berpotensi lebih berbahaya daripada rokok karena cairan vape tidak hanya mengandung nikotin, tetapi juga bisa dicampur dengan bahan kimia. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Maraknya rokok tanpa pita cukai “Madein BUMD Kota Tanjungpinang” yang diduga dipasarkan oleh PT Megatama Pinang Abadi bertempat di Dompak dengan membawa merek UN asal Kota Batam itu mampu “merajai” pasar edar di luar kawasan FTZ Dompak untuk penjualannya.

Rokok yang terkenal murah meriah itu mampu menarik para pecinta rokok dengan ciri khas wangi dan rasa manisnya. Imam salah seorang penggemar rokok UN, yang awalnya perokok Sampoerna kini kecantol rokok merek UN.

“Rokoknya sih lumayan enak juga dan wangi. Yang buat betah, murah meriah dan gampang carinya di kedai kelontong di Tanjungpinang,” ujar Imam berceloteh pada media ini tentang rokok UN.

Lain halnya yang di sampaikan oleh Rasid (62) warga Tanjungpinang Timur yang dari dulu tidak menyukai rokok, Rasid mengatakan akibat ada rokok-rokok murah meriah ini, anak-anak sekolah sekarang pandai merokok karena harga murah mungkin.

Terkait banjirnya pemasaran rokok merek UN di luar Kawasan FTZ untuk daerah Dompak, Daen Yelta selaku Kepala BP Kawasan untuk Kota Tanjungpinang susah untuk dijumpai guna konfirmasi lebih lanjut mengenai kuota rokok merek UN dan pengendalian pemasaran yang “merajai” pasar jual diluar kawasan FTZ.

Selain itu tempat gudang milik rokok UN tersebut tidak layak di sebut gudang karena, tempat penyimpanan rokok UN ini berupa tempat tinggal manusia (rumah hunian). (bobi)

KESEHATAN

Senin | 02 Oktober 2017 | 0:05

Buruknya kualitas sperma pecandu rokok

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat merupakan keharusan bagi pasangan suami istri yang sedang melakukan program kehamilan. Berhenti merokok merupakan hal pertama yang sebaiknya masuk dalam daftar Anda.

Jika pasangan Anda belum juga sadar tentang bahaya rokok, coba berikan hasil studi terbaru yang diterbitkan di jurnal BJU International yang menyoroti hubungan antara merokok dan kualitas sperma.

Setelah mengamati 20 pria perokok dan 20 pria yang tidak merokok, peneliti menemukan kerusakan DNA yang lebih besar pada orang-orang yang merokok dibanding dengan bukan merokok.

Tim peneliti juga mengamati 422 protein dalam sperma peserta dan mencatat beberapa kelainan pada protein sperma dari perokok. Setelah menganalisis protein ini, tampak bahwa merokok dapat menyebabkan respons inflamasi pada saluran reproduksi pria.

“Semakin banyak penelitian yang menunjukkan efek berbahaya dari merokok terhadap kesuburan pria. Hasil penelitian kami menunjukkan adanya perubahan semen yang penting, air mani perokok memiliki sifat inflamasi, terkait dengan penurunan kapasitas sperma untuk mencapai pembuahan dan menghasilkan kehamilan yang sehat,” kata Ricardo Pimenta Bertolla, PhD, penulis senior studi tersebut.

Ia mengatakan, salah satu yang perlu diperhatikan adalah peningkatan fragmentasi DNA pada sperma pria perokok. Ini berarti risiko munculnya gangguan genetik pada bayi juga ikut meningkat.

Sumber : kontan.co.id

Penentuan Diduga Berdasarkan Asumsi

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Kuota rokok khusus kawasan bebas yang dikeluarkan oleh kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) FTZ Tanjungpinang wajib direvisi. Sebab, peredaran rokok tersebut merembes hingga di luar kawasan berikat. Sedangkan penentuan kuota diduga kuat hanya berdasarkan asumsi.

Hal ini tentunya sangat merugikan negara dari sektor pajak Kepabeanan. Sebab kouta rokok yang dikeluarkan untuk perusahaan pendistribusian rokok khusus kawasan bebas tidak mengacu pada formulasi dan jelas-jelas sangat merugikan negara.

Potensi terjadinya kebocoran dari kuota rokok tanpa cukai yang dikeluarkan sangat jelas. Karena kawasan berikat di Kota Tanjungpinang, hanya berada di dua wilayah yakni Senggarang di Kecamatan Tanjungpinang Kota dan juga Dompak di Kecamatan Bukit Bestari. Namun, tidak seluruh kawasan Dompak dan Senggarang masuk dalam kawasan perdagangan bebas.

Beberapa waktu yang lalu, Kepala PTSP FTZ Tanjungpinang, Den Yelta, pernah mengatakan penentuan kouta rokok tersebut dilakukan pihaknya berdasarkan peraturan Menteri Keuangan nomor 147 tahun 2016. Selain itu penentuan kuota juga berdasarkan data dari dinas dan instansi terkait.

“Memang ada enam perusahaan yang mendapatkan kuota yang kita keluarkan pada bulan Februari lalu,” kata Den Yelta, beberapa waktu lalu.

Sementara terkait beredarnya rokok diluar kawasan bebas, Den Yelta menyebutkan bahwa pengawasan itu bukan wewenang pihaknya. Karena pihaknya hanya mengawasi peredaran yang ada didalam kawasan FTZ.

“Kita hanya lakukan pengawasan didalam. Seperti pengecekan dokumen saat rokok itu masuk ke dalam kawasan FTZ. Serta surat jalan yang dikeluarkan dari pabrik rokok itu sendiri” sebutnya.

Sementara itu, Kepala KPPBC Tanjungpinang, Duki Rusnadi, yang dikonfirmasi terkait pengawasan rokok non cukai yang beredar diluar kawasan FTZ. Enggan berkomentar. Hal tersebut karena saat dihubungi meski ponselnya dalam keadaan aktif namun tidak dijawab.

Sama halnya dengan Duki Rusnadi. Kasi Penegahan dan Penindakan KPPBC Tanjungpinang, Agus Tris. Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan media ini belum membuahkan hasil. Karena ponsel yang bersangkutan tidak aktif.

Seperti diketahui, kuota tersebut diberikan kepada enam perusahaan, yakni CV Three Star Bintan sebanyak 1.400 karton, PT Bintan Aroma Sejahtera 9.400 karton, PT Sarana Dompak Jaya 600 karton, PT Pratama Dompak Karya 1.744 karton, PT Bintan Adikarya Jaya 400 karton dan PT Megatama Pinang Abadi 5.300 karton. Yang manan total keseluruhan yang dikeluarkan yakni sebanyak 18.844 karton atau bertambah sebanyak 3.394 karton. Hal itu karena kuota yang diberikan kepada PT Bintan Aroma Sejahtera sebanyak 8.250 karton rokok dan PT Cahaya Terang Mitra Utama 7.200 karton atau berjumlah 15.450 karton rokok beraneka rokok.(bobi)