SAHABAT

KRIMINALITAS

Senin | 09 Oktober 2017 | 10:10

Sahabat: Novel akan Kembali ke KPK November 2017

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Novel Baswedan direncanakan menjalani operasi terhadap mata kirinya pada bulan Oktober ini. Setelahnya, Novel direncanakan akan kembali ke Jakarta untuk bertugas lagi di KPK.

“Insyaallah Novel sudah bisa kembali ke Tanah Air dan bertugas di KPK pada awal atau pertengahan November 2017 nanti,” kata sahabat Novel, Dahnil Anzar Simanjuntak, dalam rilisnya, Senin 9 Oktober 2017.

Dahnil yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah itu menyebut Novel sudah tidak sabar kembali ke KPK. Novel disebut Dahnil ingin segera menuntaskan kasus-kasus yang dia tangani.

“Novel, tentu, sudah tidak sabar kembali bertugas sebagai penyidik KPK, untuk menuntaskan berbagai PR kasus-kasus korupsi yang ia tangani,” ucap Dahnil.

Sebelumnya Novel dikabarkan akan kembali menjalani operasi pada bulan Oktober ini. Operasi itu merupakan operasi tahap dua terhadap mata kiri Novel yang disiram air keras oleh pelaku yang sampai saat ini belum terungkap.

“Alhamdulillah, perkembangan kesehatan dan proses penyembuhan mata Novel Baswedan menunjukkan tanda-tanda positif. Novel tidak perlu menunggu 3-4 bulan lagi untuk melakukan operasi tahap kedua dan akan dilakukan operasi tahap kedua pada sekitar pertengahan bulan Oktober ini,” sebut Dahnil.

Namun, menurut Dahnil, perkembangan kesehatan Novel berbanding terbalik dengan pengusutan teror air keras terhadapnya. Dahnil menyebut sudah lebih dari 6 bulan kasus itu tak juga terungkap.

“Berbeda dengan kondisi kesehatan mata Novel yang mengalami percepatan penyembuhan dan Insyaallah semakin terang untuk melihat. Kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang ditangani kepolisian, setelah 180 hari atau lebih dari 6 bulan, justru sampai detik ini terasa semakin gelap dan tidak jelas,” kata Dahnil.

Novel mengalami teror penyiraman air keras pada 11 April 2017. Novel mengalami luka bakar di kedua matanya, tetapi mata sebelah kiri lebih parah dan diperlukan tindakan operasi. Kini, Novel masih berada di Singapura untuk menjalani perawatan terhadap matanya tersebut.

Sumber : detik

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Sejak mulai diusulkan pada pertengahan tahun 2015, polemik kenaikan tarif Listrik Batam memasuki babak baru, keputusan DPRD provinsi Kepri yang meyetujui kenaikan tarif sebesar 45,4 persen (hampir mencapai 50%) sontak memancing penolakan keras dari berbagai elemen masyarakat. Jika sebelum ini penolakan hanya terlihat melalui pemberitaan media cetak, portal berita dan media sosial, kali ini penolakan itu tunjukkan dalam bentuk aksi nyata.

Tentu saja penolakan itu harus dilakukan, sebab memiliki kelemahan-kelemahan mendasar, baik dari sisi rasa keadilan dan kemanusiaan, maupun dari mekanisme pengambilan keputusan di DPRD serta melabrak aturan perundang-undangan yang menjadi acuan dalam menaikkan tarif listrik.

Indra, sebagai founder SAHABAT INDRA, group media sosial (medsos) di Batam, yang juga kordinator Aliansi Masyarakat Perduli Listrik (AMPLI) untuk wilayah Bengkong dan Batuampar mengemukakan tiga alasan utama, kenapa menolak kenaikan tarif listrik sebesar 45,4 persen yang sudah disetujui oleh DPRD Provinsi.

Pertama, besaran persentase kenaikan tarif. Bagi masyarakat kecil, yang rata-rata masuk katagori rumah tangga 6 amper (1.300va), angka 45.4 persen sangat fantastis. Dalam perspektif masyarakat ke bawah, yang menjadi mayoritas penduduk Batam, angka ini dianggap tidak rasional, bandingkan dengan dengan kenaikan UMK di Batam yang hanya 8,25 persen. Sudah terbayang berapa pengeluaran ekstra tiap bulan akibat kenaikan ini.

“Kami menilai, besaran persentase kenaikan yang di setujui DPRD Prov Kepri, adalah bentuk penindasan atas masyarakat kecil di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit. Ironisnya, DPRD Provinsi Kepri menganggap wajar. Kami anggap DPRD Prov Kepri lebih memihak kepada PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (Bright PT PLN Batam), ketimbang rakyat yang diwakilinya,” ujar Indra.

Disebutkannya, kenaikan angka ini tidak disosialisasi dengan baik oleh DPRD Prov Kepri. Sehingga, tambahnya, banyak masyarakat tidak mengetahui, kendati DPRD Provinsi telah menyetujuinya dan mengirim surat persetujuannya ke Gubernur Provinsi Kepri untuk disahkan.

Kedua, katanya, mekanisme pengambilan keputusan di DPRD Provinsi Kepri hanya melalui Rapat Pimpinan, tidak melalui Rapat Paripurna. Mekanisme ini, tambahnya, dianggap cacat prosedur untuk memutuskan kenaikan tarif yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Sebab rapat pimpinan DPRD, katanya lebih jauh, hanyalah terdiri dari anggota pimpinan (yang hanya beberapa orang), yang hasil keputusan rapatnya hanya ditetapkan dalam keputusan pimpinan DPRD. Seyogyanya, menyangkut soal hajat hidup orang banyak, mekanisme yang digunakan adalah rapat Paripurna. Sebab, keputusan yang dihasilkan dari Rapat paripurna dapat dituangkan dalam bentuk peraturan atau keputusan DPRD sebagai lembaga, bukan hanya keputusan beberapa orang unsur pimpinan DPRD Provinsi saja.

“Namun, terlepas dari apakah itu, berdasarkan keputusan DPRD(Paripurna) maupun keputusan pimpinan (Rapim) DPRD, juga tidakboleh bertentangan dengan kepentingan umum dan ketentuan peraturan perundangundangan yang ada seperti yang tertuang dalam PP No.16/2010,” sebutnya.

Lebih jauh dikatakannya, jika persetujuan kenaikan tarif listrik Batam hanya diputuskan dalam rapat Pimpinan saja, ada hal yang berusaha disembunyikan dari seluruh anggota DPRD Provinsi yang lain.

Ketiga, persetujuan DPRD Provinsi Kepri, untuk menaikkan tarif listrik Batam melabrak PP Nomor 14 Tahun 2012, tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Dimana dalam Pasal 42 ayat 2 huruf (b) menjelaskan menetapkan tarif tenaga listrik harus memperhatikan kepentingan dan kemampuan masyarakat.

“Pertanyaannya. Apakah DPRD Prov Kepri, dalam hal ini Komis II dan III, yang melakukan pembahasan teknis, sudah melakukan kajian mendalam atas kemampuan masyarakat, termasuk daya beli masyarakat?,” tanya Indra.

Dijelaskannya, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, mencatat sepanjang tahun 2016 ini terdapat sebanyak 67 perusahaan yang tutup. Jumlah ini mengalami peningkatan, jika dibandingkan dengan tahun 2015, yang jumlahnya hanya 54 perusahaan (Batampos, Senin, 26 Desember 2016)

Tercatat selama 2016 sebanyak 24.342 mendaftarakan diri ke Disnaker sebagai pencaker. Ironisnya jumlah TKA hingga akhir 2016, terus bertambah hingga mencapai angka sekitar 280 ribu orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat di 2017 ini. (batampos, Senin, 20 Februari 2017)

Tercatat Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terdapat peningkatan keluarga miskin di Batam yang tersebar di 12 kecamatan. Sementara dari komoditas bukan makanan, penyumbang angka kemiskinan dipengaruhi perumahan dan biaya listrik. (Sindo, kamis 5 Januari 2017).

BI juga merilis bahwa Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan IV 2016 berada di posisi 5,24% (yoy), (Batamtoday, Senin, 20-02-2017)

Banyaknya jumlah pengangguran membuat sejumlah usaha rumah makan dan kosan tutup seperti banyak yang terjadi di kawasan Tanjung Uncang. Diluar itu, sejumlah tempat-tempat penjualan baju bekas juga menjamur dimana-mana. Pertanyaannya apakah masyarkat kita memang lebih suka membeli baju bekas ketimbang baju baru? Atau memang daya beli masyarakat yang menurun?

Fenomena seperti ini tidak pernah dikaji oleh Komisi II dan III DPRD Provinsi Kepri. Dalam membuat keputusan kenaikan tarif,  hanya konsen mengkaji data B’right PLN Batam.

Saat ini kondisi makro ekonomi Kepri saat ini juga sedang lagi lesu. Meskipun B’right PLN Batam menyatakan bahwa kenaikan hanya ditujukan kepada pelanggan rumah tangga, akan tetapi imbasnya bisa menyasar dunia usaha, terutama masyarakat kecil dan menengah yang juga menjadi pelaku Usaha Kecil dan Menengah. Selain berdampak bagi masyarakat, kenaikan tarif listrik Batam juga akan berdampak pada semakin tingginya komponen biaya hidup untuk listrik yang tentunya juga akan memberi dampak kepada kesejahteraan tenaga kerja di Batam. (Wartakepri, 12-01-2017).

“Sebentar lagi, kita juga akan menghadapi dicabutnya biaya subsidi gas melon 3 kilogram. Selain itu, melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok,” jelasnya mengakhiri.