TANGGUNG

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Mantan suami Ayu Ting Ting lagi-lagi bermasalah dengan seorang perempuan. Kali ini, dia disomasi oleh perempuan yang meminta perjanggungjawaban untuk bayi yang di kandungnya.

Surat somasi tersebut diposting oleh akun gosip Lambe Turah. Dalam surat tersebut dilihat detikHOT, Rabu, 28 Maret 2018 tertulis jelas nama Henry Baskoro Hendarso.

“Bahwa tujuan dari Surat Undangan Klarifikasi No: 120/M&P/Klarifikasi/30.11.2017 tersebut adalah untuk meminta klarifikasi dari Bapak bahwa apakah benar anak yang dikandung oleh klien …. adalah anak biologis dari bapak?” begitu kutipan poin satu dalam surat somasi tersebut.

Nama perempuan itu sengaja disensor. Di situ juga dituliskan kalau perempuan tersebut ingin menyelesaikan masalahnya dengan cara baik-baik.

Di situ juga dijelaskan perempuan tersebut tidak melakukan hubungan intim dengan pria lain selain Enji. Kemudian perempuan tersebut juga bersedia melakukan tes DNA dan jika hasilnya menyatakan benar anak yang di kandungnya adalah anak Enji, dia ingin meminta pertanggungjawaban.

Pada poin keenam dituliskan perempuan tersebut tidak memaksakan kehendaknya pada Enji untuk dinikahkan. Akan tetapi, dia hanya meminta Enji untuk menanggung biaya semasa kehamilan hingga melahirkan dan membesarkan anak yang di kandungnya sampai selesai pendidikan perguruan tinggi jika benar anak tersebut adalah anak Enji.

Ada sekitar 8 poin yang dituliskan dalam somasi tersebut. pada poin ketujuh, dinyatakan bahwa usia kehamilan perempuan tersebut sudah mendekati masa melahirkan.

“Berdasarkan hal-hal di atas, kami sangat berharap apabila Bapak Henry Baskoro Hendarso dapat menanggapi sebagaimana seharusnya guna dapat menyelesaikan permasalahan ini,” tulis kata-kata dalam surat tersebut.

“Untuk itu kami memberikan PERINGATAN KERAS kepada Bapak Henry Baskoro Hendarso agar menujukan itikad baik. Kami memberikan waktu selama 7 (tujuh) hari untuk menanggapi SOMASI…,” lanjutnya.

Enji sudah dua kali bercerai. Petualangan cinta Enji memang jadi sorotan. Mulai dari menjalin hubungan dengan Ayu Ting Ting dan menikah diam-diam sampai bercerai, Enji juga sempat dikabarkan dekat dengan Anggita Sari, dan menikah dengan Rosmanizar kini pernikahan keduanya itu berakhir di meja perceraian Pengadilan Agama Jakarta Timur. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Bupati Karimun, Aunur Rafiq mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di pesisir laut sepanjang Jalan Tengku Umar Kecamatan Karimun hingga Kecamatan Meral untuk tidak membuang sampah di laut. Soalnya, laut milik kita bersama yang harus dijaga semua elemen masyarakat.

Rafiq menambahkan, dengan adanya gerakan Karimun bebas sampah dengan memasang baleho di setiap sudut kota, bertujuan agar masyarakat sadar untuk membuang sampah. Jadikan kebersihan menjadi sebuah budaya sejak dini.

“Apalagi dengan gerakan Karimun bebas sampah ini tidak bisa hanya gerakan dari pemerintah, namun juga kerja sama dari masyarakat. Kita juga telah memasang baleho-baleho, spanduk, serta baner bertujuan mendorong perilaku masyarakat kita agar membudayakan hidup bersih ini,” ujarnya.

Dikatakannya, dirinya telah menurunkan petugas kebersihan pantai untuk membersihkan tumpukan sampah yang ada di pinggiran laut kawasan Jalan Nusantara.

Hal tersebut disampaikannya menanggapi terkait tumpukan sampah yang berada di pinggiran laut di pesisir kawasan jalan Nusantara.

“Ini adalah sampah-sampah yang dibawa oleh air laut, pasang surut air memang sangat berpengaruh, namun dalam hal ini kita sudah siapkan petugas pantai,” kata Rafiq.

“Saya menghimbau kepada masyarakat khususnya yang menempati rumah atau ruko berada di pesisir laut sepanjang jalan Tengku Umar sampai jalan Meral, buanglah sampah pada tempatnya dan jangan dibuang ke laut. Laut adalah bagian dari milik kita yang harus dijaga bersama,” ucapnya.(kmg/riandi)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang teman saya yang tinggal di Kalimantan mengeluhkan kualitas sekolah di kotanya, yang menurut dia buruk. “Perlukah saya mengirim anak sekolah ke Jawa?” tanyanya pada saya. Saya balik bertanya, “Siapa yang akan mendidik anakmu selama dia tinggal di Jawa?”

Bagi banyak orang, mendidik anak itu adalah memasukkan mereka ke sekolah. Pendidikan yang baik artinya memasukkan anak-anak ke sekolah yang baik, atau dikenal dengan sekolah favorit. Maka, orangtua rela menitipkan anaknya ke tempat lain, agar mereka mendapat pendidikan yang baik, alias mendapat sekolah yang baik.

Apakah itu sebuah pilihan yang buruk? Tidak. Hanya saja menimbulkan pertanyaan soal tanggung jawab pendidikan anak. Ketika anak kita titipkan pada orang lain, lantas apa peran kita sebagai orangtua dalam pendidikannya?

Pendidikan anak itu tanggung jawab orangtua. Saya kira tidak ada yang menyangkal pandangan ini. Lalu, apa peran sekolah? Sekolah, bagi saya, hanyalah institusi yang membantu setiap orangtua dalam mendidik anak. Peran orangtua tetap yang utama. Jangan sampai terbalik, seolah sekolah memegang peran utama, sehingga orangtua bisa lepas tangan kalau sudah memasukkan anak ke sekolah.

Artinya, bila tidak ada sekolah yang baik, atau sekolah yang ada tidak memuaskan, orangtua sebenarnya harus mengisi kekurangan itu dengan peran mereka. Dengan prinsip itu maka ada sejumlah oran tua yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak ke sekolah formal, cukup menempuh pendidikan dengan cara homeschooling.

Saya tidak menempuh cara homeschooling, tapi menempatkan diri sebagai pemeran utama pendidikan anak. Dalam hal pelajaran akademik, saya terlibat langsung mengajari anak-anak saya berbagai pelajaran yang mereka terima di sekolah. Saya bantu anak-anak untuk memahami dengan lebih baik, ketika mereka masih kesulitan memahami materi yang diajarkan di sekolah. Ada bagian yang saya luruskan, ketika konsep yang diajarkan guru-guru menurut saya keliru. Ada pula bagian yang saya tambahkan, untuk pengayaan terhadap materi yang sudah diajarkan.

Itulah yang harus dilakukan oleh orangtua. Bila sekolah sudah cukup memenuhi kebutuhan anak kita, maka kita tinggal memperkayanya. Tapi ketika sekolah kita anggap tidak memadai, maka kita harus melengkapinya. Bila diperlukan, kita harus mengambil peran utama dalam pengajaran materi-materi akademik itu.

Pendidikan tentu bukan hanya soal materi akademik. Materi pelajaran itu sesungguhnya hanya bagian yang sangat kecil dari seluruh komponen pendidikan anak-anak kita. Yang lebih penting dari itu adalah pembentukan karakter, seperti gigih dan tangguh, tertib, bersih, hormat dan menghargai orang lain, dan sebagainya. Sebagian dari kebutuhan itu tentu saja bisa kita harapkan dipenuhi oleh sekolah. Tapi sekali lagi, peran terbesar dalam pembentukannya harus ada pada orangtua.

Porsi terbesar dalam pendidikan anak sebenarnya tidak melalui proses pengajaran, tapi melalui interaksi. Kita berinteraksi dengan anak setiap hari, dari situ kita menanamkan nilai-nilai. Interaksi itu dimulai dari sapaan, sentuhan, dan berbagai aktivitas yang kita lakukan bersama. Pembangunan karakter tadi tidak bisa hanya melalui nasihat verbal saja. Karena itu, interaksi adalah pusat dalam pendidikan anak kita. Nah, ketika anak-anak justru kita jauhkan dari kita, bukankah itu menghilangkan komponen terbesar tadi?

Banyak orangtua berdalih bahwa mereka tidak mampu melakukan itu semua. Kalau tidak mampu, artinya Anda merasa tidak mampu mendidik anak bukan? Lalu, kenapa punya anak? Dalam banyak kasus, para orangtua itu bukan tidak mampu, tapi tidak tahu atau tidak sadar. Mereka mengira pendidikan identik dengan sekolah. Yang sudah tahu, tidak punya cukup keinginan untuk melaksanakannya. Yang tidak mampu, tidak punya keinginan belajar, agar menjadi mampu.

Ya, setiap orang perlu belajar untuk menjadi orangtua. Menjadi orangtua bukan sekadar memenuhi hasrat seksual, yang akibat biologisnya adalah punya anak. Juga bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan psikologis, menikmati interaksi dengan anak hanya pada bagian yang kita sukai saja. Juga bukan untuk memenuhi kebutuhan sosial, punya anak karena orang lain punya anak.

Saat anak sudah hadir di kandungan, pasangan orang tua harus tahu bagaimana ia harus diperlakukan. Salah perlakuan bisa membuat bayi tadi terancam jiwanya, atau lahir cacat. Saat bayi sudah lahir, maka orangtua harus tahu bagaimana cara merawatnya. Perawatan diperlukan tidak hanya untuk fisik saja, tapi juga untuk kebutuhan psikisnya. Demikian pula seterusnya. Orangtua tidak boleh berhenti belajar, guna memenuhi kebutuhan untuk mendidik anak-anaknya.

Nah, banyak orangtua enggan melakukan itu. Makin besar anak tumbuh, makin kompleks kebutuhan pendidikannya. Artinya, makin kompleks hal-hal yang harus dipelajari. Guna mendorong anak saya agar tertarik belajar program komputer, saya harus belajar ulang tentang dasar-dasar pemrograman, misalnya. Kita harus terus belajar, karena kebutuhan anak kita yang sangat dinamis.

Jadi, sebenarnya tidak ada istilah tidak bisa dalam mendidik anak kita sendiri. Yang ada hanyalah tidak mau.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia. (***)

sumber: Detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Gunungkidul – Polres Gunungkidul, DI Yogyakarta, menangkap dua orang dan menetapkannya sebagai tersangka perampokkan. Perampokan terjadi di kawasan Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul pada Minggu, 31 Desember 2017.

Kapolres Gunungkidul, AKBP Ahmad Fuady mengungkap dua tersangka tersebut berinisial Fd, 17 dan Rh, 18. Keduanya merupakan warga Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman.

Keduanya terbukti melakukan pencurian disertai kekerasan. Namun, petugas hanya menahan Rh. “Fh tidak kami tahan karena masih di bawah umur,” katanya di Gunungkidul pada Selasa, 2 Desember 2017.

Fh dan Rh merampok dua wisatawan asal Kemalang, Jawa Tengah. Mereka merampok tas berisi uang Rp600 ribu serta dua helm miliki wisatawan tersebut.

Saat kejadian, kedua wisatawan berteriak minta tolong kepada warga sekitar. Kedua pelaku kemudian diamankan warga di Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, dan diserahkan ke polisi.

Dari keduanya, polisi menemukan barang bukti sebuah tas berisi uang serta helm korban. Selain itu, polisi menjerat keduanya dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian disertai kekerasan dengan ancaman pidana penjara sembilan tahun.

Polisi mengambil tindakan tegas meski pelaku masih pelajar. Ia berharap tindakan tegas itu menjadi efek jera dan pembelajaran bagi pelajar yang lain.

Fuady berharap guru maupun orang tua bisa ikut peduli pada anak-anak sekolah agar terhindak dari tindakan negatif. Kepolisian, lanjutnya, juga akan terus menyosialisasikan pencegahan tidak kejahatan kepada para pelajar. (***)

sumber: metrotv.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Karena kesal, warga beramai-ramai menghakimi seorang remaja tanggung di Bengkong Palapa, Bengkong, Batam, Kepri, Kamis, 21 Desember 2017 sekitar pukul 14.00 WIB.

Aksi ‘penghakiman’ ini dilakukan warga karena pemuda yang belum diketahui identitasnya ini ketangkap mencuri tabung gas. Dan warga sudah sering kehilangan tabung.

“Seminggu ini udah tida yang hilang, belum lagi yang kemarin-kemarin,” kata pemilik pangkalan gas dengan nada kesal.

Beruntung sejumlah tokoh masyarakat setempat, sigap dan mengamankannya, dengan membawa dia ke salah satu warung. Andai saja tidak, mungkin remaja tanggung berambut ikal gondrong itu sudah menjadi pecel ulek.

Agar tidak terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan, akhirnya maling tabung gas di Bengkong Palapa ini diserahkan ke Mapolsek Bengkong.

Hingga saat ini, Kapolsek Bengkong, Iptu Erdinal, belum menjawab konfirmasi yang dilayangkan batamclick.com melalui pesan WA. (hariati)

Berita ini sudah terbit di batamclick.com dengan judul ‘Panas, Warga Bringas, Maling Tabung Gas di Bengkong Ditinju Terhempas’

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Polsek Batam Kota terus bekerja untuk mewujudkan situasi dan kondisi aman. Untuk itu, agenda rutin yang dilakukan yakni gelar Cipta Kondisi.

Untuk kegiatan Cipta Kondisi, Sabtu 9 Desember 2017 pukul 23.00 Wib hingga Minggu 10 Desember 2017 pukul 00.39 WIB, Polsek Batam Kota membuahkan hasil. Ada ratusan botol minuman keras (miras) berbagai merek dan dua unit sepeda motor tanpa dokumen yang diamankan.

Kapolsek Batam Kota, Kompol Firdaus menjelaskan ratusan miras itu didapat dari warung milik Sihombing yang terlerak di Simpang Helm, Legenda Belakang.

Polsek Batam Kota menggelar kegiatan rutin dengan melakukan Cipta Kondisi. Salah satu warung yang dijadikan untuk tempat pesta miras. (istimewa)

“Warung itu menjadi tempat ngumpul-ngumpul dan mabuk-mabukan,” ungkap orang nomor satu di Polsek Batam Kota ini seraya merincikan ratusan minuman keras tersebut terdiri dari 82 botol mikok merk Anggur merah, 38 botol mikol merk Columbus dan 18 botol mikol merk ‎Topi Miring.

Selain merazia warung Sihombing, perwira melati satu itu beserta jajarannya juga membubarkan grombolan anak-anak tanggung yang sedang ngumpul-ngumpul di plataran Alun-alun Engku Putri, Masjid Agung Batam dan seputaran Welcome to Batam.

“Kita juga mengamankan dua unit sepeda motor tanpa dokumen dari anak-anak tersebut,” kata Firdaus seraya berkata keinginan masyarakat Batam Kota merasa aman, baik yang sudah berada di rumah, maupun yang masih dalam perjalanan menuju rumah. (bayu wasono)

Berita ini telah terbit di batamclick.com dengan judul ‘Ratusan Botol Miras Diamankan Polsek Batam Kota’

MEDIAKEPRI.CO.ID,Jakarta – Pimpinan DPR RI menyayangkan sikap sekelompok orang yang menyerbu kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada Minggu 17 September 2017 malam.
Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan menyayangkan sikap masyarakat yang mudah terprovokasi dengan isu komunisme. Apalagi, dalam kasus YLBHI masyarakat secara sepihak menyebut YLBHI sedang berupaya membangkitkan kembali PKI.

Politisi PAN ini mengimbau kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri jika menemukan dugaan-dugaan kemunculan PKI.

“Bahwa itu adalah tanggung jawab kita untuk melarang bahwa PKI itu yang sangat menyakitkan dan menyedihkan kita semua dan jangan terulang lagi. Adanya konflik horizontal kita serahkan ke Polri dan TNI,” tukasnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan. Selasa 19 September 2017.

Taufik menjelaskan bahwa negara ini sudah melarang keberadaan PKI. Pelarangan itu sebagaimana termaktub dalam TAP MPR 25/1966.

“Harus sadari bahwa PKI sebagai partai terlarang itu diakui dengan ketetapan MPR. Sepanjang itu belum dicabut itu tetap menjadi keputusan bangsa dan negara,” jelasnya.

Sumber : Rmol.co