TKI

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bintan – Kapal berpenumpang tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal tenggelam di perairan antara Johor, Malaysia dan Bintan, Indonesia, Kamis (19/4/2018) pagi tadi sekitar pukul 08.45 WIB.

Dari ratusan penumpang kapal naas itu, petugas mengamankan sebanyak 96 orang. Dan diperkirakan masih ada sekitar lima orang lagi yang menjadi penumpang di kapal tersebut masih dalam pencarian.

Komandan Lantaman IV Tanjungpinang, Laksamana Pertama TNI R. Eko Suyatno mengatakan begitu mendapat informasi mengenai musibah tersebut langsung mengintruksikan kepada jajarannya untuk melakukan pencarian.

“Laporan yang masuk ke kami, jumlah penumpangnya mencapai 100 orang,” katanya.

Insiden kapal tenggelam dengan muatan 100 lebih orang ini menjadi perhatian aparat terkait, mulai dari Lantaman IV Tanjungpinang, Tim SAR, KPLP dan Syahbandar semua bergerak mengumpulkan data-data dan mencari para korban.

Bahkan Tim SAR menurunkan tiga kapal pencarinya, mulai dari KN Baladewa, KN Saritama, hingga KN SAR 101 Purworejo.

Sedangkan Lantamal IV Tanjungpinang menurunkan dua kapal cepat KAL Anakonda dan KAL Mapor.

Informasi terakhir, KN SAR Baladewa yang membawa 96 orang penumpang menuju ke Pelabuhan Makobar, Batuampar. Sedangkan kapal lain yang turun masih menyisir lokasi tenggelamnya kapal.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) Klas A Tanjungpinang, Budi Cahyadi menjelaskan penumpang kapal yang diselamatkan masih trauma.

“Ada lima orang yang tejun, karena takut kapal tenggelam, empat diselamatkan oleh Coast Guard Singapura dan satu lagi belum ketemu,” sebutnya.

Selain itu, juga ada lima penumpang yang tak terlihat dan tak diketahui keberdaannya.

“Infonya mereka berangkat dengan jumlah 105, sekarang yang ada di KN Baladewa hanya 96, di pihak Singapura 4, orang, yang lima ini kita masih telusuri,” paparnya.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum diketahui penyebab Tenggelamnya Kapal pengangkut diduga TKI yang berjumlah ratusan tersebut.(kmg)

sumber: batampro.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Tim Gabungan WFQR Lantamal IV dan Lanal Batam dengan Patkamla Sea Rider 1 telah menangkap speedboat tanpa nama bermesin Yamaha 250 PK sebanyak 3 unit.

Dimana speedboat yang membawa TKI Ilegal itu diamankan di perairan Teluk Mata Ikan Nongsa Batam pada koordinat 1° 11′ 20.2956″ N – 104° 6′ 39.1428″ E, Selasa, 17 April 2018 lalu.

Penangkapan berawal dengan adanya informasi Intelijen bahwa akan adanya aktifitas pengiriman TKI illegal dari Batam dengan tujuan Malaysia.

Selanjutnya Tim WFQR IV dengan menggunakan Patkamla Sea Rider 1 Lanal Batam melaksanakan patroli penyekatan di beberapa titik yang kemungkinan akan dilalui oleh kapal pengangkut TKI ilegal tersebut.

Pada saat Tim WFQR Lanal Batam Patkamla Sea Rider 1 melaksanakan penyekatan, terdeteksi secara visual terlihat adanya speedboat yang mencurigakan dari arah Teluk Mata Ikan Nongsa Batam menuju ke arah Malaysia. Selanjutnya dilaksanakan pengejaran.

Patkamla Sea Rider 1 berhasil menghentikan speedboat. Lalu, petugas lakukan pemeriksaan terhadap speedboat dan muatannya. Setelah dilaksanakan pemeriksaan diketahui speedboat tersebut bermuatan TKI Ilegal sebanyak 49 orang terdiri dari WNI 40 orang (laki-laki 36 dan perempuan 4) serta WNA 9 orang warga negara Banglades dengan ABK 4 orang. Para TKI tersebut akan diberangkatkan ke Malaysia.

Selanjutnya speedboat tanpa nama beserta muatan TKI Ilegal dibawa menuju dermaga Lanal Batam untuk proses lebih lanjut. Setibanya di Dermaga Lanal Batam dilanjutkan pemeriksaan terhadap ABK dan para TKI Ilegal serta barang bawaannya untuk mengetahui apakah ada barang-barang terlarang.

Sedangkan untuk ABK kapal dilaksanakan tes urine dengan hasil 2 orang ABK positif mengkonsumsi narkoba jenis ekstasi.

Tindak lanjut terhadap speedboat dan ABK kapal akan dikenakan undang-undang pelayaran, sedangkan para TKI Ilegal akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI), Imigrasi dan BNN kota Batam sebagai instansi yang berwenang.

Sedangkan dugaan pelanggaran yang dilakukan adalah tindak pidana pelayaran, keimigrasian, penyalahgunaan Narkotika dan perlindungan pekerja imigran Indonesia.(rilis)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Petaling Jaya – Majikan dari warga negara Indonesia (WNI) Suyanti, menghilang setelah dinyatakan bersalah melakukan penyiksaan. Pemerintah Malaysia mengeluarkan larangan bepergian ke luar negeri bagi Datin Rozita Mohamad Ali.

Sejak selasa Datin Rozita Mohamad Ali tidak dapat ditemui. Saat itu pihak berwenang Malaysia hendak menjemputnya, tapi Rozita bersama penjaminnya tidak terlihat.

Pencekalan yang dilakukan diumumkan oleh Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia Datuk Seri Mustafar Ali. Menurutnya, pihak imigrasi sudah menerima perintah pengadilan untuk menyertakan nama Rozita di daftar cekal.

“Kami memeriksa apakah dia berupaya untuk meninggalkan negara ini,” ujar Mustafar, seperti dikutip The Star, Kamis 22 Maret 2018.

Munculnya surat cekal ini dipicu laporan jaksa penuntut Muhammad Iskandar bahwa mereka tiba di rumah Rozita di Mutiara Damansara, Petaling Jaya namun tidak menemukan Rozita. Kemudian pencarian juga dilakukan di rumahnya di Melaka serta penjamin Rozita, hasil nihil juga didapatkan.

Upaya untuk memberikan surat pemberitahuan kepada Rozita pun akhirnya gagal, setelah hingga Selasa 20 Maret tengah malam tidak bisa ditemukan keberadaan Rozita.

Pada Kamis 15 Maret 2018, Mahkamah Petaling Jaya menjatuhkan vonis ringan terhadap Rozita Mohamad Ali, yang terbukti melakukan penganiayaan keji terhadap Suyanti, seorang TKI asal Sumatera Utara. Suyantik disiksa hingga mengalami luka-luka permanen.

Disebutkan bahwa Datin Rozita Mohamad Ali hanya divonis denda 20 ribu Ringgit Malaysia atau setara Rp70,3 juta. Datin Rozita juga hanya perlu menunjukkan perilaku baik selama lima tahun tanpa harus menjalani hukuman penjara.

Vonis ringan ini tentu saja melukai rasa keadilan terhadap korban. Suyantik ditemukan dalam keadaan mengenaskan di selokan rumah majikan dengan luka-luka legam di sekujur tubuhnya.

Rozita menggunakan berbagai benda seperti pisau, tongkat pel dari besi hingga payung. Penyiksaan terhadap Suyanti itu terjadi di rumah Rozita di Mutiara Damansara pada 21 Juni 2016.

Suyanti menderita berbagai luka termasuk di bagian mata, kedua kaki, tangan bahkan organ dalamnya. Suyanti juga menderita patah tulang bahu serta cedera bagian paru. Pembekuan darah di dekat otak dan retak di dagu turut terdiagnosa di tubuh Suyanti.

Pada awalnya Rozita didakwa dengan percobaan pembunuhan. Namun dakwaan itu diubah berdasarkan pasal 326 undang-undang Malaysia atas tuduhan menyebabkan cedera dengan menggunakan senjata atau benda berbahaya.

Kasus ini mendapat perhatian besar dari media internasional. Jaksa Penuntut Umum VV Suloshani menyebutkan kasus ini juga mempengaruhi hubungan antara Indonesia dan Malaysia. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Malaysia – Pengadilan di Petaling Jaya, Malaysia, membebaskan perempuan bernama Datin Rozita Mohamad Ali dari hukuman penjara, dalam kasus penyiksaan terhadap tenaga kerja asal Sumatera Utara, Suyanti.

Putusan itu dianggap janggal karena sebelumnya dakwaan yang diajukan kepada Datin berubah-ubah.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, menyebut Rozita sebelumnya didakwa pasal percobaan pembunuhan dengan sanksi maksimal 20 tahun penjara atau hukuman mati.

Namun, kata Wahyu, pasal itu diubah dengan ketentuan tentang kekerasan yang menimbulkan luka parah, dengan ancaman hukuman penjara selama tiga tahun.

“Ini memperlihatkan adanya upaya memperingan putusan. Terbukti di vonis akhir, pelaku lolos dari hukuman penjara,” kata Wahyu melalui pesan singkat, Sabtu 17 Maret 2018

Pada putusannya, hakim di Petaling Jaya, Mohammed Mokhzani Mokhtar, mewajibkan Rozita berbuat baik selama lima tahun dan denda 20.000 ringgit Malaysia atau sekitar Rp70,3 juta.

Ia tidak harus mendekam dalam penjara.

Penganiayaan Rozita terhadap Suyanti terjadi Desember 2016. Suyanti yang kala itu berusia 19 tahun dilaporkan disiksa menggunakan peralatan rumah tangga seperti pisau dapur, gagang pel, dan payung.

Polisi menyebut Suyanti mengalami cedera serius pada mata, tangan dan kaki, pendarahan di kulit kepala serta patah tulang.

Mengutip laporan media setempat, jaksa penuntut umum meminta hakim memenjarakan Rozita. Alasannya, kasus tersebut menuai kecaman publik.

Foto dan video Suyanti penuh luka usai penganiayaan itu pun sempat beredar di internet.

Wahyu Susilo mendesak pemerintah Indonesia mempertanyakan independensi pengadilan Malaysia. Menurutnya, vonis ringan ini dapat menjadi preseden buruk penanganan kasus kekerasan terhadap TKI.

“Harus ada investigasi mendalam atas kejanggalan kasus dan proses peradilan ini,” tuturnya.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia pada Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, menyebut pemerintah telah mengadvokasi Suyanti sejak kasus itu mencuat pada akhir 2016.

Lalu mengatakan upaya untuk memperberat hukuman terhadap Rozita telah dilakukan jaksa penuntut umum dengan mengajukan banding.

“KBRI di Kuala Lumpur akan terus mengawal proses hukum itu dengan tetap menghormati hukum di Malaysia,” ujarnya kepada BBC Indonesia.

Selain kasus Suyanti, Februari lalu, TKI bernama Adelina Lisau tewas di rumah majikannya di Malaysia. Video penyiksaan itu juga beredar di media sosial.

Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana, menyebut penyiksaan itu ‘perbuatan binatang’. Ia pun mendorong pemerintah menghentikan sementara pengiriman TKI ke Malaysia.

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato’ Seri Zahrain Mohamed Hashim, meminta maaf atas penyiksaan tersebut.

Ia mengatakan kepolisian Malaysia ‘berkomitmen menuntaskan perkara itu’. (***)

sumber: utusankepri.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Usai Magrib, warga Cendana Blok D4 Tahap 5, RT 3 RW 09 Batam Centre, sudah tidak sabar, Sabtu, 17 Maret 2018.

Lalu mereka beramai-ramai mendatangi rumah yang digunakan untuk menampung calon tenaga kerja Indonesia (TKI).

Kedatangan warga ini adalah suatu bentuk keprihatinan terhadap salah seorang calon TKI yang berada di penampungan.

Soalnya menyebar informasi, bahwa salah seorang calon TKI yang berada di dalam rumah yang digerebek itu mengalami kekerasan.

Hari Ketua RW menjelaskan awalnya terungkap karena ada kekerasan, dimana satu penghuni keluar dan ingin beli pulsa, tapi dikejar oleh diduga pihak yang menampung korban.

Hingga saat ini berita masih diungkap siapa pihak bertanggung jawab atas kejadian ini. (eddy/kmg)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bukitmertajam – Majikan yang menyiksa Adelina Sau, Tenaga Kerja Indonesia ( TKI) yang tewas di Malaysia, terancam mendapat hukuman sangat berat.

Hal itu terungkap ketika S Ambika menjalani persidangan di Pengadilan Bukit Mertajam Rabu 21 Februari 2018.

BACA: Disiksa Majikan dan Disuruh Tidur dengan Anjing, TKI Ini Tewas Mengenaskan

Diwartakan The Star Online, Hakim Muhamad Anas Mahadzir membacakan dakwaan kepada perempuan 59 tahun tersebut.

Ambika didakwa telah menyiksa Adelina, TKI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) sehingga dia meninggal 11 Februari lalu.

Ambika dianggap melanggar Pasal 302 Hukum Pidana dengan ancaman maksimal vonis mati jika terbukti bersalah.

Adapun Bernama via The Malay Mail Online melansir, Ambika datang ke ruang sidang tanpa diwakili oleh kuasa hukumnya.

“Terdakwa tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membela dirinya,” ujar Malay Mail dalam reportasenya.

Sementara anak Ambika, R Jayavartiny, didakwa telah mempekerjakan imigran ilegal sejak Maret 2017 hingga 10 Februari 2018.

Perempuan 32 tahun tersebut dianggap melakukan pelanggaran terhadap Pasal 55 B ayat 1 Hukum Imigrasi.

Jika terbukti bersalah, Jayavartiny bakal dihukum selama satu tahun, dan denda maksimum 50.000 ringgit, atau sekitar Rp 173 juta.

Jayavartiny langsung membantah tuduhan tersebut. Meski, dia mengaku kalau mengetahui bahwa Adelina datang tanpa izin resmi.

Adelina Lisao tidur di beranda rumah di Taman Kota Permai, Penang, Malaysia, ketika ditemukan Sabtu 10 Februari 2018. TKI asal Nusa Tenggara Timur itu ditemukan dengan berbagai luka di wajah dan kepala. Perempuan 21 tahun itu meninggal dunia sehari berselang 11 Februari 2018.

Pengadilan lanjutan dilaporkan bakal digelar 19 April mendatang dengan agenda laporan hasil laboratorium, forensik, dan post-mortem.

Sebelumnya, sehari sebelum meninggal 10 Februari 2018, Adelina tampak terlalu takut untuk merespons kehadiran tim penyelamat yang berupaya mengevakuasinya. Dia hanya melirik dan menggelengkan kepala.

Sementara anjing jenis Rottweiler berwarna hitam yang terikat tali dan berada di sampingnya terus menyalak kepada petugas.

Tetangga rumah tersebut mengklaim perempuan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu tidur dengan seekor anjing di beranda rumah selama sebulan terakhir, sebelum ditemukan pada Sabtu.

Menurut keterangan dokter, Adelina menderita memar di kepala dan wajahnya. Dia juga menderita kegagalan multi organ sekundar akibat anemia.

Artinya, organ tubuhnya gagal bekerja karena kekurangan darah di tubuhnya. Adelina meninggal di rumah sakit pada Minggu 11 Februari 2018

Ambika dan Jayavartiny langsung ditangkap kepolisian Penang sehari setelah Adelina tewas 12 Februari 2018. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Hal tragis menimpa seorang TKI yang bekerja di Malaysia.

Sehari sebelum meninggal, Adelina (21) yang duduk di teras tampak ketakutan menghadapi tim penyelamat.

Tetangga mengklaim wanita asal Medan itu telah dipaksa tidur dengan anjing di teras selama lebih dari sebulan sebelum ditemukan Sabtu 10 Februari 2018.

Adelina meninggal pada hari berikutnya di rumah sakit.

Kini, majikan dan kakaknya sedang diselidiki atas pembunuhan itu.

Dilansir dari Asia One pada Senin 12 Februari 2018, tim penyelamat, asisten anggota parlemen Bukit Mertajam, Steven Sim mendatangi sebuah rumah bertingkat dua di Taman Kota Permai.

Tim menyelamat datang setelah diberitahu oleh seorang wartawan.

Salah satu dari tim penyelamat, Por Chang Han (29) mengatakan, tetangga telah mengungkapkan, Adelina dianiaya lebih dari sebulan dan dipaksa tidur dengan anjing Rottweiler di teras.

“Kami tiba dan melihatnya di teras. Dia tidak menanggapi kami dan hanya menggelengkan kepala,” ujarnya.

“Kami berbicara dengan tetangga yang mengatakan, mereka sering mendengar majikannya mengomelinya dengan keras dari dalam rumah,” imbuhnya.

Dia juga mengungkapkan telah melihat nanah pada bekas luka bakar di kaki Adelina.

“Ada seorang wanita berusia 60-an di rumah saat kami tiba,” terang Por.

Menurut Por, wanita itu menolak membawa pembantunya ke rumah sakit dan menyuruk mereka untuk mengurus urusan mereka sendiri.

Sebagai gantinya, Por mengatakan, dia diberi nomor telepon anak perempuannya yang merupakan majikannya yang telah menyiksa pembantunya itu dan menyuruh mereka menunggunya kembali.

Dia mengatakan, mereka kemudian menghubungi Tenaganita, sebuah LSM yang didedikasikan untuk melindungi pekerja asing dari kekerasan.

Menurut Por, ketika majikan itu datang, dia mengatakan, dia tidak menganiaya pembantunya tersebut.

Namun, wanita mengaku telah menamparnya di masa lalu.

Majikan tersebut mengatakan, dia telah membeli pembersih dari bahan kimia setelah pembantunya itu buang air besar di saluran pembuangan dapur dan menyebabkannya tersumbat.

“Dia mengklaim, pembantunya tidak sengaja menumpahkan bahan kimia di kaki dan lengannya saat menuangkannya ke saluran pembuangan, menyebabkan luka bakar dan meski diberi obat, dia tidak berhenti mengelupas luka-lukanya membuatnya menjadi lebih buruk.” terang Por.

Por mengungkapkan, sebelum relawan Tenaganita tiba, wanita itu membawa Adelina ke mobilnya dan pergi dari rumah, polisi lalu dipanggil.

Petugas kepolisin, Nik Ros Azhan Nik Abdul Hamid mengatakan, wanita berusia 36 tahun dan saudara laki-lakinya yang berusia 39 tahun telah ditahan.

Nik Ros mengungkapkan Adelina yang telah bekerja di Malaysia sekitar dua tahun lalu itu kepala dan wajahnya bengkak serta ada luka di kakinya.

“Upaya untuk mencatat pernyataan darinya tidak berhasil karena dia masih dalam katakutan,” ujarnya.

“Kami mengirimnya ke Bukit Mertajam Hospital di mana dia meninggal,” imbuhnya.

Wanita dan saudara laki-lakinya itu kini ditahan hingga 14 Februari untuk diselidiki. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Madiun – Suasana duka tampak menyelimuti keluarga Mariman (42) dan Katini (47), warga Jalan Singoludro RT18/RW5 Desa/Kecamatan Mejayan, Caruban, Kabupaten Madiun.

Pasangan suami istri ini baru saja kehilangan anak pertama mereka Titik Katinengsih (27) yang meninggal akibat kecelakaan bus di kilometer 47, Lebuh Utara Selatan, Pulau Penang, Malaysia, pada Selasa 24 oktober 2017 kemarin.

Dua tenda besar dipasang di depan rumah mereka.

Sebuah karangan bunga dari BPJS dipajang di depan rumah.

Sekitar pukul 11.00 WIB, suara sirine dari ambulans terdengar dari kejauhan dan semakin terdengar keras.

Puluhan pelayat yang sebelumnya duduk di kursi segera berdiri.

Mata para pelayat yang sebagian besar perempuan itu, tampak berkaca-kaca.

Sementara, orangtua korban sudah menunggu di pinggir jalan

Beberapa menit kemudian, mobil ambulans yang membawa jenazah Titik Katinengsih (27) tiba di rumah duka.

Di dalam mobil tampak, Roni Nasution (25) histeris dan menangis tak kuasa menahan kesedihan.

Ia terus saja memeluk peti putih yang berisi jasad istrinya, meski mobil ambulans sudah berhenti.

Sejumlah keluarganya berusaha membujuknya agar melepaskan peti berisi jasad istrinya itu.

Roni yang tampak lemas, kemudian digotong oleh sejumlah keluarganya ke dalam rumah.

Sebab, masih memiliki anak kecil berusia tiga tahun bernama Naira Mauzara.

Meski telah dinasehati ayahnya, Titik tetap bersikeras pergi lagi ke Malaysia mencari bekerja mencari nafkah.

Selain itu, Titik juga ingin agar lebih dekat dengan suaminya yang sudah satu tahun bekerja di Malaysia.

Namun, takdir berkata lain. Baru sekitar sebulan bekerja di Malaysia, tuhan telah memanggil nyawanya. Titik mengalami kecelakaan saat berangkat bekerja, sebuah bus menabrak bus yang dia tumpangi.

Jenazah korban diantar dari bandara Adi Sucipto Jogjakarta sekitar pukul 06.40 WIB, oleh perwakilan dari BP3TKI Yogyakarta, perwakilan staf Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia Kementrian Luar Negeri, dan PT. Adila Prezkifarindo Duta Cabang Yogyakarta.

Sementara itu, kedua orangtua korban Mariman dan Katini, serta adik korban Andi Saputro (19) tampak sangat terpukul atas kepergian anggota keluarga mereka.

“Sangat sedih, tetapi sudah saya iklhaskan. Ini kan musibah,” kata Mariman saat ditemui beberapa jam sebelum jenazah anaknya datang, Jumat 27 oktober 2017 pagi.

Ia menceritakan, putrinya merupakan anak sulung dari dua bersaudara.

Titik mengenyam pendidikan terakhir di SMK Bhakti Mejayan.

Dikatakannya, sebelum menikah, putrinya juga sudah pernah menjadi TKI di Malaysia selama empat tahun.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kuli angkut di pertokoan di Jalan Ahmad Yani Mejayan ini mengaku sempat menasehati agar anaknya tidak kembali ke Malaysia menajadi TKI. (***)

 

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tanjungpinang – Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang mengamankan sebanyak 27 orang TKI yang baru pulang dari Malaysia tanpa melalui prosedur di Perairan Kawal, Bintan, Sabtu, 16 September 2017. Mereka, sebanyak 27 TKI illegal tersebut yang terdiri dari 23 pria, 3 wanita dan seorang anak berusia 4 tahun rencananya akan menuju Batu Besar, Nongsa, Batam.

Diamankan 27 TKI Illegal tersebut berdasarkan laporan yang diterima Intel Lantamal IV Tanjungpinang mengenai adanya spedboat yang akan membawa TKI illegal dari Malaysia dengan tujuan Batam. Saat dilakukan pengintaian oleh Tim WFQR, ditemukan speedboat kayu dengan mesin double 115 PK yang sedang sandar di kelong ikan milik nelayan karena kehabisan minyak.

Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan 27 orang penumpang yang mengaku dari Malaysia tanpa memiliki identitas.

Turut diamankan dua orang yang diduga sebagai ABK spedboat yang membawa TKI illegal. Sedangkan kapten spedboat atau tekong tidak berada ditempat. Dari keterangan ABK diketahui tekong naik ke darat membeli minyak.

Dari keterangan para TKI illegal yang diamankan, mereka pulang ke Indonesia melalui Batam karena sudah tidak memiliki identitas selama berada di Malaysia. Untuk sampai ke Batam, para TKI mengaku membayar dengan jumlah bervariasi.

Seperti yang dikatakan Dora wanita asal Flores, NTT yang pulang bersama anaknya yang berumur 4 tahun. Dora mengaku membayar 600 ringgit Malaysia atau sekitar Rp. 1,8 juta kepada tekong untuk sampai ke Batam. Wanita yang mengaku di Malaysia sudah 3 tahun ikut suaminya.

Mahdi, pemuda asal Lombok ini mengaku membayar 1300 ringgit Malaysia atau sekitar Rp. 3,9 juta kepada pengurus yang berada di Malaysia.

Saat ini ke 27 TKI illegal beserta dua orang ABK spedboat diamankan di Lantamal IV Tanjungpinang untuk penyelidikan lebih lanjut. (bob/wok)